MENGINGAT-INGAT ORANG KUAT

Oleh Weinata Sairin

”Vir fortis neque praemiis vinci potest.

Orang kuat tidak bisa dikalahkan (dengan senjata) atau dengan hadiah-hadiah.”


Dalam kehidupan sehari-hari kita bertemu dengan istilah ”orang
kuat”. Pada tiap daerah dan/atau lembaga selalu ada yang dijuluki
”orang kuat”. ”Orang kuat” ini amat berpengaruh di komunitasnya.
Orang kuat ada di berbagai bidang. Ia ada di bidang politik, ekonomi,
sosial-budaya, militer, hukum, dan sebagainya. Ia disebut ”orang kuat”
karena banyak faktor: punya dana berlimpah, intelektualitasnya oke,
pengaruhnya besar, berdarah ”biru”, punya akses yang amat luas, dan pandai melobi.

Dalam sebuah organisasi, pengaruh orang kuat amat terasa. Waktu
rapat organisasi biasanya disesuaikan dengan keluangan waktu sang orang
kuat. Walaupun sudah saatnya rapat dimulai sesuai peraturan organisasi,
rapat bisa ditunda sampai sang orang kuat yang masih berada di luar negeri datang-kecuali ia mempersilakan organisasi berapat tanpa kehadirannya.

Pengaruh ”orang kuat” tidak sekadar itu. Ia bisa saja membatalkan
sebuah keputusan yang sudah ditetapkan dengan susah payah melalui debat dan diskusi panjang, apabila keputusan itu merugikan dirinya dan/atau diputuskan pada saat ia tidak ikut rapat. Dalam kasus tertentu, bisa terjadi orang kuat” itu akan mengusulkan sesuatu hal untuk dibahas dan diputuskan dalam rapat walaupun itu bukan tupoksi organisasi.
Dari banyak pengalaman, ternyata istilah ”orang kuat” cenderung
berkonotasi negatif karena perilaku orang tersebut sering menabrak UU
atau peraturan baku.

Meski begitu, ada juga orang yang terpelajar, kaya, dan berpengaruh,
tetapi tetap rendah hati, kita jumpai dalam komunitas-komunitas tertentu.
Ia tidak otoriter, tidak memaksakan kehendak, dan konsisten dalam men￾jalankan peraturan yang ada. Ia disebut sebagai tokoh yang berintegritas, berpengaruh, dan berkarisma. Wibawa dan karisma yang dimilikinya membawa kekuatan dan nama baik bagi organisasi komunitas itu. Orang dengan tipikal seperti itu masih cukup banyak kita jumpai dalam berbagai organisasi atau komunitas. Mereka biasanya low profile, ikut terlibat dalam aktivitas organisasi, dan tidak eksklusif.

Orang kuat juga ada di negeri lain, misalnya sosok seperti Margaret
Thatcher, Mandela, Lincoln, dan Castro—untuk menyebut beberapa
nama. Kita sebagai umat beragama bisa juga dijuluki ”orang kuat”, dalam arti orang yang taat beragama dan kuat menghadapi berbagai godaan. Pepatah yang dikutip di bagian awal tulisan ini menarik karena menyatakan bahwa ”orang kuat tak bisa dikalahkan dengan senjata atau dengan hadiah-hadiah”.

Kuat di sini adalah kuat dalam prinsip, orang yang tidak mudah tergiur atau tergoda oleh hal-hal negatif yang melawan hukum, yang bertentangan
dengan agama dan nirmoral. Sebagai bangsa yang beragama dan ber-Tuhan, kita pasti adalah orang kuat, tak bisa disuap dan disogok. Walau dibunuh oleh senjata atau dengan cara apa pun kita tak akan pernah berubah dari prinsip dan keyakinan kita akan suatu ide dan kebenaran.

Mari menjadi orang kuat: kuat beribadah, kuat beriman, kuat ber-Pancasila, kuat dan bertahan dari rayuan menyogok dan menyuap, kuat sebagai umat religius.

Selamat Berjuang. God bless!

Menanti Berujung Sukacita

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Rut 4:13

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki.”

Rut 4:13

Saudaraku, sebuah penantian yang dijalani dengan setia akan berujung pada kebahagiaan. Terlebih penantian di dalam Tuhan. Tuhan tidak membiarkan berakhir dengan sia-sia. Tuhan tidak membiarkan penantian berakhir dengan kekecewaan.

Rut mengalami langsung hal tersebut. Ditinggal suami dalam kemiskinan. Hidup berdua serba terbatas dengan Naomi, mertuanya. Modalnya, kerja keras dan pengharapan di dalam Tuhan.

Setiap hari, hidup dari memungut sisa-sisa gandum di ladang Boas. Pekerjaan berat dengan hasil yang minim. Tapi, ia tekuni dengan setia. Sebab, hanya itulah ketrampilannya dan dari situlah sumber nafkah satu-satunya. Hasil kerja keras itu, menghidupinya hari demi hari.

Selain menekuni pekerjaan yang berdasarkan kebaikan hati Boas, pemiliknya. Ia menyimpan harapan lain. Ada pria yang menyuntingnya. Pria yang bisa mengangkatnya dari lumpur kemiskinan. Tradisi waktu itu, Boaslah tumpuannya. Karena Boas masih kerabat. Dan berpeluang menjadikannya sebagai istrinya.

Menanti bersama Tuhan, tetap saja membutuhkan proses. Begitu juga diperlukan kesabaran. Akhirnya, momen penantian itu berujung pada kepastian. Boas meminangnya. Maka, Rut melihat dan mengalami sendiri, Tuhan memberi sesuatu indah pada waktunya. Dan kelak, dari pasangan Rut dan Boas ini lahir keturunan yang kelak menjadi cikal bakal yang memerintah Israel, yaitu Daud.

Saudaraku. Seorang psikolog, bernama Walter Mischel melakukan penelitian di kalangan anak2. Menarik hasil penelitiannya. Dia menemukan bahwa kelompok anak berusia 4 tahun yang langsung memakan kue yang ditawari. Kelak masa remajanya berbeda dengan anak-anak berusia 4 tahun, yang ditawari kue tapi memilih menunggu beberapa menit dulu.

Di mana perbedaannya? Anak-anak yang mampu menahan diri tidak langsung memakan kue yang ditawarkan, maka pada masa remajanya lebih berprestasi. Tidak sering bermasalah. Lebih disukai. Lebih mampu menyesuaikan diri dengan perasaan dan lingkungannya. Dan lebih berbahagia. Kesimpulan penelitian itu bisa dikatakan, kemampuan bersabar dalam menunggu punya dampak positif bagi kepribadian. Tegasnya, orang yang sabar kelak membawa hidup lebih baik, ketimbang orang yang tidak sabaran.

Saudaraku, hidup tidak lepas dari menanti. Banyak orang tidak tahan menanti, apalagi di bawah bayang-bayang ketidak pastian. Belajar dari potret hidup Rut, bersama Tuhan menanti berujung pada suka cita. Pengharapan disertai kerja keras akan diganjar Tuhan dengan keindahan luar biasa. Di sinilah, kesabaran diperlukan. Hidup itu proses. Perlu waktu. Tidak instan. Perlu waktu itu berarti perlu kesabaran. Seorang sabar selain dicintai Tuhan, juga dicintai sesamanya. Karena itu lebih disukai, bahkan lebih berbahagia daripada orang yang tidak sabaran. Semoga, itu kita miliki.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami tetap bersyukur dari ke hari. Setia kepada Tuhan dalam segala perubahan suasana kehidupan. Dan menghayati berkat yang datang, sekecil apapun. Karena Engkau memakainya bisa menjadi suka cita besar.

Kami berdoa buat saudara kami yang tengah bergumul dengan ujian hidup yang berat. Kiranya berkat terbaik Engkau tetap limpahkan atas mereka. Agar di tengah belitan kesulitan mereka masih punya hati yang gembira. Dan hati yang selalu takut akan Tuhan. Naungilah mereka dengan perhatian dan cinta kasih-Mu yang menguatkan mereka.

Kami berharap hari ini Tuhan tetap memberi nafas kehidupan buat kami semua. Semoga kami berbahagia hari ini. Tetapi juga kami membahagiakan orang-orang kami cintai. Sekecil dan sesederhana apapun yang dapat kami lakukan. Anugerahkan kesehatan, kesejahteraan dan suka cita dalam kehidupan kami.

Beri waktu, tenaga, kesehatan dan semangat hari ini. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Meninggalkan Jejak Kebaikan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 13:8-9

Selamat pagi, Saudaraku yang baik. Baik dalam keadaan sehat maupun sakit, kita bersyukur kepada Allah di pagi yang baru. Karena mengaruniakan kita kepercayaan menjakani hidup ini.

Petikan firman Tuhan pagi ini adalah, “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, (9) mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”

Lukas 13:8-9

Saudaraku, sebuah lagu berjudul ” Hidup adalah kesempatan”, sampai sekarang masih hit. Melodi dan iramanya terasa indah, dan isi pesannya sederhana serta mudah dicerna. Saya yakin Anda tahu lagu itu, atau jangan-jangan Anda juga pandai menyanyikannya dengan baik dan merdu.

Ya, hidup itu kesempatan. Kesempatan mengandung waktu yang dimiliki namun kelak akan berlalu. Waktunya bersifat singkat. Sehingga jika tidak segera dimanfaatkan kesempatan akan lewat dengan cepat.

Nah, siapa yang menyangkal bahwa hidup seseorang berada dalam kurun waktu tertentu. Kita hidup di bumi ini tidak kekal. Ada yang mencapai usia 20 tahun, 40 tahun sudah meninggal dunia. Ada pula yang bisa mencapai umur panjang, 80-an, baru menutup usia selama-lamanya. Berapapun usia kita sekarang, selama kita masih miliki itu merupakan kesempatan.

Setiap orang punya kesempatan tapi berbeda-beda memanfaatkannya. Ada yang memanfaatkan sebaik-baiknya, sayangnya ada pula orang yang membiarkan kesempatan berlalu tanpa mengisinya dengan hal bermakna secara optimal. Setiap orang punya orang tua, sekaligus Tuhan memberi kesempatan anak-anaknya untuk mengasihinya. Lalu, apakah setiap anak mengasihi sungguh-sungguh orang tuanya? Tentu ada, dan banyak mereka yang memperlakukan orang tua dengan cinta kasih. Cuma, tidak sedikit juga anak-anak yang gagal untuk itu. Sikap suka melawan orang tua, hidup ugal-ugalan, mengesalkan hati dan tidak menyantuni orang tua dengan cinta kasih, merupakan contoh- yang mudah ditemui. Jelaslah, anak dengan sikap seperti itu membiarkan kesempatan untuk mencintai orang tua gagal dilaksanakannya.

Pada kasus lain, orang tua yang mengabaikan kesempatan mencintai anak-anak juga tidak sedikit. Kita bisa lihat ada anak-anak yang haus perhatian dan cinta kasih ayah atau ibunya. Mereka melihat ayah atau ibunya lebih banyak menghabiskan waktu untuk orang lain, sedangkan buat mereka sendiri seakan hanya sisa-sisa waktu saja.

Tuhan Yesus memberi perumpamaan, yakni tentang sebatang pohon ara. Tiga tahun sudah pemiliknya berharap dapat memetik buahnya. Ternyata harapannya tidak terpenuhi. Tiga tahun harapannya sia-sia. Dia memutuskan memberi waktu tambahan satu tahun lagi, jika pohon ara itu tetap tidak berbuah pengurus kebunnya mengusulkan supaya ditebang saja pohon itu.

Selama ini tuan pemilik pohon ara sudah memberi kesempatan 3 tahun, ternyata 3 tahun itu ia harus pulang dengan tangan hampa. Maka, ia memberi kesempatan terakhir, dan jika tetap saja pohon aranya tidak berbuah maka akan ditebang.

Saudaraku, Kesempatan itu berharga, tidak bisa terulang. Hidup Anda dan saya di dunia ini tidak berulang, sebab kita tidak menganut reinkarnasi. Mengutip sepenggal puisi Chairil Anwar, ” sekali hidup. Lalu mati”.

Tentu banyak kesempatan yang dikaruniakan Tuhan buat Anda dan saya. Mengemban pelayanan di gereja, itu kesempatan. Hidup kita dilengkapi kesehatan itu juga kesempatan. Anak-anak kita tengah memasuki masa remaja itu juga kesempatan. Termasuk jika anak-anak masih tinggal serumah dengan kita, jelas itu pun kesempatan. Pada saatnya itu semua di atas akan lewat. Pelayanan akan selesai. Anak-anak kelak menikah dan tinggal terpisah. Suatu ketika kita sakit-sakitan.

Maka, jangan biarkan kesempatan yang kita miliki itu semua berlalu tanpa kita memberi makna. Dengan tidak memberi makna itu sama dengan pohon ara yang tidak berbuah. Anda dan saya tahu pesan firman Tuhan tadi, konsekuensi jika kita tidak berbuah, ditebang. Kasarnya, ” hidup kita percuma. Tidak bisa menghasilkan apa-apa. Maka, mandat kehidupan kita bisa berakhir.”

Dengan pertolongan Tuhan dan perawatan iman yang rutin dan tekun, percayalah dan bertekadlah bahwa kita bukan pohon ara yang tidak bisa berbuah. Kita berpotensi menghasilkan buah, bahkan bisa jadi telah berbuah lebat. Sekaligus potensi itu telah dan terus menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di hari baru. Apa yang Saudara nilai sebagai sebuah kesempatan? Pasangan kita masih hidup, itu musti kita tempatkan kesempatan untuk berbagi kasih. Karena siapa yang tahu, pasangan kita berakhir hidupnya di dunia ini, esok atau lusa. Selagi kita masih punya pita suara yang baik, itu kesempatan mengikuti paduan suara di gereja. Karena saat pita suara sudah rusak, pasti sulit bust bicara apalagi bernyanyi. Dan banyak macam lagi. Jangan biarkan kesempatan berlalu tanpa dan memberi kesan. Tidak boleh kesempatan berlalu sia-sia tanpa meninggalkan jejak kebaikan.

Mari kita berdoa, “Tuhan hendaklah Roh Kudus bekerja dalam diri kami agar kami tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup yang Engkau karuniakan.

Kami berdoa untuk para orang tua serta saudara kami yang telah lama sakit, agar kiranya Tuhan bersama mereka. Engkau Memulihkan kesehatan, memberikan harapan dan kesabaran bersama mereka dan keluarga mereka masing-masing.”. Dalam nama Yesus, doa ini kami naikkan kepada-Mu. Amin.

Rawat Alam Jadi Berkat

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Mazmur 24:1

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Mentari dengan setia terbit di timur setiap pagi. Terlebih Allah Sang Penciptanya, Dia setia dan selalu setia mendampingi kita. Puji syukur kepada-Nya di pagi baru.

Firman Tuhan menyatakan, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”

Mazmur 24:1

Saudaraku, setiap makhluk yang disakiti menjerit. Perlakuan sewenang-wenang pasti melahirkan erang kesakitan. Tidak semata-mata sebatas manusia, binatang, dan juga alam.

Selama ini, telinga kita selalu diarahkan atas korbannya manusia. Mata kita ditatapkan ke sana. Itu tidak salah, itu tanda simpati kita. Itu benar sebab menunjukkan empati kita. Telinga dan mata kita sangat sensitif mendengar erang kesakitan manusia yang diciderai manusia. Dari sana, dari telinga dan mata, kemudian tumbuhlah kesadaran untuk mencegah dan menghentikannya.

Manusia memang menjadi pusat kepedulian kita. Lalu, bagaimana dengan jeritan binatang yang dilukai, bahkan dieksploitasi berlebihan? Manusia rela membantai berlebihan binatang untuk memenuhi nafsu keserakahan manusia. Konon, setiap tahun puluhan malah ratusan spesies binatang punah oleh manusia.

Saya ingat masa kecil. Hidup dan dibesarkan di desa. Dan secara teratur pergi ke sungai menangkap ikan. Saya ingat betapa beragam ikan yang didapat. Ikan paray, beunteur, kancra, tawes, beureum panon, dan banyak lagi. Kini, telah puluhan tahun saya tidak pernah melihat jenis-jenis ikan itu, apalagi menyantapnya.

Lebih ekstrim, bagaimana pula dengan tumbuhan yang hidup di Indonesia, dan belahan dunia lain? Hutan-hutan tropis dengan keaneka ragaman hayati makin kehilangan kekayaannya.

Saudaraku, firman Tuhan hendak mengajak kita meresapi makna alam semesta ini. Bagaimanapun, manusia bukan pemiliknya. Allah Pencipta, Dialah Pemilik sesungguhnya. Manusia punya mandat terbatas untuk menguasai. Menguasai alam, binatang dan semesta yang harus dipertanggung jawabkan. Menguasai harus disertai sikap merawat dan melestarikan. Kemudian tidak boleh dilupakan, harus dipertanggung jawabkan kepada Allah.

Kenyataannya seperti apa? Seluruh bumi mengerang karena penyalahgunaan yang menguras sebanyak-banyaknya potensi alam dan segenap makhluk yang hidup di dalamnya. Alam sebagai anugerah Tuhan disakiti. Tidak sekali tapi berkali-kali. Terus dan terus tanpa jeda. Eksploitasi menjadi bahasa biasa yang menafasi praktik perbuatan manusia yang tidak kenal merasa cukup. Bumi dan isinya yang merupakan berkat Tuhan, dieksploitasi sewenang-wenang sehingga menjadi kutuk.

Saudaraku, telah berulang-ulang para peduli lingkungan menyatakan bahwa ada yang tidak beres dari sikap manusia atas bumi dan isinya. Ada praktik manusia yang tidak sesuai nafas agama dalam hal memperlakukan tanaman, binatang dan semesta ini. Perubahan cuaca secara global, banjir bandang, dll, itu sebenarnya dering alarm bahaya. Tapi, manusia, khususnya sang penguasa negara adi daya, penguasa rakus dan insan konsumtif, tuli. Mereka (termasuk kita pun) terus menutup mata-telinga dan kesadarannya.

Saudara, jangan-jangan virus corona adalah penjelmaan dari rusak parahnya alam semesta ini. Ia merupakan bentukan dari jeritan dan erangan dari alam dan semesta yang tersakiti. Keganasan mereka, virus corona, mencerminkan tindakan keganasan manusia atas alam semesta ini.

Jika, ya. Kita semua harus bertobat. Kita tidak menjalankan amanah Allah, mengelola alam ini jadi berkat tapi jadi laknat. Kita rawat, lestarikan agar kita bukan merusak dan menghancurkan alam. Bentuk sederhana, lebih banyak menanam tumbuhan daripada menebangnya. Kita merawat alam dengan bijak. Sebab, kita bukan pemilik. Dia, Allah adalah Pemilik sejatinya.

Kita berdoa, “ Tuhan, ampuni kami dengan tidak mengelola alam dengan tidak bijaksana.”

Kami juga berdoa agar semua diberi panjang umur. Setia pada Tuhan dan mencintai keluarga kami. Beri masa depan yang cerah dan terus tekun dalam bekerja. Kami tetap bersuka cita dan bersyukur”.

Tuhan, secara khusus kami ingin berdoa bagi pekerja di bidang kesehatan, para dokter, perawat dan tenaga medis lainnya. Lindungilah nyawa mereka. Kuatkan semangat dan energi mereka. Sampai saat ini, mereka berjuang untuk kami dan kepentingan kesehatan serta keselamatan kami semua. Kiranya virus corona pelan tapi pasti dapat diatasi.

Lindungilah kami dan segenap orang yang kami kasihi. Seluruh doa ini kami panjahatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Memetik Berkat Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan : Ester 2:17

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena cinta kasih Tuhan, kita dan keluarga kita masih diberi masih kehidupan ini.

Firman Tuhan pada hari ini, ”Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.”

Ester 2:17

Saudaraku, hidup itu misteri. Perjalanan hidup sulit ditebak. Kita tidak tahu seseorang akan mengalami peristiwa apa. Demikian juga, kita tidak bisa menduga seseorang kelak menjadi apa. Kita tidak punya alat teknologi secanggih apapun, yang bisa meramalkan dengan pasti dan akurat tentang kehidupan seseorang. Jangankan untuk orang lain, untuk diri kita sendiri saja kita tidak tahu perjalanan hidup kelak. Benarlah ungkapan nyanyian rohani, ”Ku tak tahu kan hari esok.”

Dalam Alkitab, kisah Ester sangat menarik menjadi contoh. Seorang gadis muda. Ayah dan ibunya telah meninggal. Seorang gadis yatim piatu, yang sehari-hari hidupnya bergantung pada kebaikan Mordekhai. Pria yahudi yang terdampar di sebuah negeri buangan. Ester pasti tidak pernah membayangkan atau bermimpi bisa menginjakkan kaki di istana. Apalagi bisa sebagai penghuni dengan posisi permaisuri dari seorang raja. Dalam hal ini, raja Ahasyweros yang kaya-raya. Raja dengan daerah kekuasaannya membentang luas hingga tanah Afrika.

Walau cuma sebatas mimpi, itu sudah berlebihan. Tidak realistis. Ester sebagai gadis Yahudi, identitasnya amat berbahaya jika diketahui penduduk negeri itu. Ya, bisa hidup tanpa gangguan saja, itu sudah merupakan kemewahan. Tinggal di istana tidak pernah dibayangkan. Khusus menjadi istri seorang raja itu sebuah kemustahilan. Imposible. Gak mungkin, deh.

Tapi, itulah hidup. Misteri kehidupan berlaku pada siapa saja, termasuk berlaku bagi Ester. Siapa menduga, suatu ketika muncul peristiwa yang belum pernah terjadi. Permaisuri raja, Wasti namanya, melakukan pembangkangan kepada raja. Dia tidak mau mengikuti keinginan raja. Wasti keberatan dan menolak hadir dalam perhelatan besar, untuk memamerkan kecantikannya.

Raja butuh pengakuan, dalam hal ini butuh pujian rakyat dalam selera memilih perempuan. Dengan berani Wasti tidak mau mengikuti pikiran raja. Sikap Wasti ini dari sisi martabat tentu baik. Perempuan tidak boleh dipajang bagaikan benda. Sebaliknya, pada sisi raja tindakan permaisurinya menampar mukanya di muka umum. Raja merasa dipermalukan Apa akibatnya? Wasti dihukum dan raja memerlukan seorang gadis yang menggantikan posisi permaisuri.

Dari sanalah, tiba-tiba terbentanglah karpet merah buat Ester memasuki istana. Siapa nyana, di antara banyak gadis rupawati, raja jatuh hati pada Ester. Hati raja terpaut pada kecantikannya. Dan raja tidak ragu-ragu menjatuhkan pilihan pada gadis Yahudi yang elok parasnya untuk dipinang.

Ester dari bukan siapa-siapa, menjadi seorang dara yang kemudian menghuni istana dan menjadi istri raja. Begitulah, Tuhan menjadikan perjalanan hidup seseorang. Luar biasa, sulit diduga. Dari sebuah kesalahan yang dibuat orang lain, ada seseorang yang kemudian memetik indahnya berkat Tuhan.

Saudaraku, hidup itu misteri. Tuntunan Tuhan Pemilik kehidupan sulit kita tebak. Bersama Tuhan misteri hidup itu berujung indah. Tuhan mengubah hidup seseorang tanpa pernah diduga siapapun. Termasuk tidak diketahui oleh yang bersangkutan.

Untuk kita, jangan gegabah dan berani-beraninya memastikan seseorang jadi apa kelak. Dan tidak sekali-kali merendahkan martabat hidup seseorang. Tidak boleh menyepelekan seseorang. Bisa jadi ada orang sekarang ini status sosialnya biasa saja. Kita tidak boleh menghinanya bahwa nasibnya akan terus demikian. Siapa tahu kelak ia jadi tokoh besar.

Di Indonesia, pernah hidup seorang yang pernah merajai usaha di dunia otomotif. Seorang yang gigih, saleh, rendah hati dan setia pada iman kristennya. Waktu ia masih muda, tidak akan pernah orang yang menyangka bahwa kelak ia menjadi pengusaha otomotif dan bisnis lainnya yang berhasil. Mengapa? Karena pada awalnya, ia berusaha mencari uang dari membersihkan botol.

Saudaraku. Karena itu, hanya Tuhan yang Maha Tahu tentang hari esok. Maka, bijaklah kita yang bersandar pada-Nya di tengah ketidak tahuan perjalanan hidup kita. Tugas dan panggilan kita, anak, cucu, adik, keponakan adalah bekerja dan belajar sebaik-baiknya. Dan Tuhan lebih tahu kelak kita akan diganjar dengan kebaikan seperti apa.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selalu bersama-Mu. Sehingga di tengah menjalani hidup yang penuh misteri, kami tidak perlu cemas. Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

Kami serahkan hidup kami, semoga aman, suka cita dan berkat yang indah menemani langkah kami hari ini.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.