Teguran Yang Membangun

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Amsal 28:23

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan.

Firman Tuhan pagi ini, “Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.”

Amsal 28:23

Saudaraku, kita mengenal dua jenis ungkapan komentar, yaitu kritik dan pujian. Di dalam sebuah kritik ada unsur yang menyingkapkan adanya kekurangan. Sedangkan pujian mengungkapkan kelebihan. Ketika mendengar kritik kebanyakan orang tidak siap. Seolah-olah ditafsirkan mau ‘menelanjangi’ keberadaan seseorang dan ingin mempermalukannya. Sementara itu pujian, dimaknai lebih sebagai bentuk ungkapan penghargaan. Pujian ditempatkan sebuah ungkapan pengakuan atas nilai positif kita.

Penempatan kritik seperti itu, tentu akhirnya orang tidak suka kepada seseorang mengajukan kritik. Orang yang mengkritik disamakan mau menyerang dan menjatuhkan orang lain. Dan bisa berakibat rusaknya relasi antara yang mengritik dan yang dikritik. Hubungan jadi tegang.

Sebaliknya, pujian lebih diterima. Relasi antara yang memuji dan dipuji menjadi lebih hangat. Apalagi, pada dasarnya setiap orang suka pujian. Taruhlah contoh sederhana. Anda pergi ke kebaktian minggu dengan busana batik. Lalu di gereja bertemu saudara seiman yang mengomentari, “wah, batiknya cerah sekali. Ibu kelihatan lebih cantik.” Spontan, pasti pujian itu meresap ke hati dan membuahkan rasa suka cita.

Saudaraku, kritik dimaknai juga sebagai teguran. Menyatakan kekurangan sambil mengarahkan ke arah yang benar. Dalam firman Tuhan tadi, justru orang yang menegur akan makin disayangi. Padahal, tadi saya utarakan banyak orang tidak suka ditegur. Sebab, dimengerti menyingkapkan kelemahan orang lain.

Mari kita mendudukan teguran atau kritik secara pas dan tepat. Saya ambil ilustrasi simpel. Jika Anda mengritik atau menegur orang yang suka judi, misalnya. Tentu, kita akan membeberkan akibat buruk berjudi. Kita memberitahu bahwa judi membuat orang malas, lupa waktu bahkan lupa keluarga, harta terkuras, dan berjudi itu membuat pikiran orang tidak berpikir jernih. Lalu, kita katakan judi itu jelek untuk orang itu. Judi itu merugikan. Bisa jadi, buat penjudi teguran itu bukan yang diharapkan.

Tapi, seandainya teguran disampaikan terus- menerus tanpa lelah, dan dengan motif murni. Akhirnya, suatu saat sang penjudi itu sadar. Terlebih sadar sebelum yang terburuk terjadi. Niscayalah, orang yang melakukan teguran yang pada awalnya dinilai suka ikut campur urusan orang lain. Pastilah, sang mantan penjudi itu berubah akan sangat berterima kasih atas tegurannya. Tegurannya menyelamatkan masa depannya. Dan, bukan tidak mungkin orang yang menegur bukan dibenci tapi dikasihi.

Adapun pujian tentu memberi efek rasa senang. Pujian akan membuat relasi antara yang memuji dan dipuji menjadi makin baik. Tapi, harus diingat. Itu bila pujian yang tulus. Murni mengungkapkan kelebihan orang lain dan mengapresiasi. Tapi, ada jenis pujian yang bagaikan racun. Perlahan-lahan bisa membinasakan jiwa orang. Yaitu menjilat. Menjilat itu pujian, tapi tidak tulus.

Ada ungkapan ABS, asal bapak senang. Itu kalau anak buah menjilat pimpinannya. Orang yang menjilat adalah orang penuh kebohongan. Hal jelak disebut bagus. Hal yang kurang dimanipulasi menjadi hal hebat. Jilatan memang bisa menyenangkan orang. Anda bisa bayangkan rasa senang seorang berusia 70 tahun, lalu dipuji dengan ucapan, “ wajah Anda sama seperti umur 50 tahun. Masih segar seperti Ade Rai. Jalan masih sigap. Hebat, ya”.

Saudara, kritik atau teguran memang kadang tidak populer. Sebab tidak menyenangkan. Tapi itu bagaikan obat, pahit namun menyehatkan. Kritik bermanfaat, membantu kita tahu sikap yang tepat dan arah hidup yang benar. Jadi, jika dalam sebuah kotbah Anda merasa dikritik, terimalah dengan lapang dada. Sebab itu sedang menyehatkan tubuh dan jiwa Anda. Karena kritik bersifat membangun. Hanya patut diingat, kritik atau teguran bukan kecaman. Kecaman hanya melihat kekurangan orang dengan niat menjatuhkan.

Demikian juga, Anda dan saya jangan cepat senang dan bangga saat mendapat pujian. Kita harus waspada, apakah itu pujian murni atau ungkapan orang yang mau menjilat. Menjilat terdengar menyenangkan, padahal ke depan bisa mencelakakan kita. Menjilat itu bungkus luarnya menyenangkan, namun isinya membahayakan jiwa dan mental kita.

Kita memuji orang tentu hal itu bagus. Tapi, hati-hati jangan menjilat. Karena kita berbohong dan orang lain bisa terantuk jatuh oleh pujian yang bersifat menjilat. Kasih yang sejati adalah setiap kata yang keluar niatnya selalu baik dan dilakukan tidak mencelakakan orang lain.

Mari kita berdoa, Tuhan, tanamkan dalam lidah kami kemauan menegur orang lain daripada menjilat orang lain yang menyebabkannya terjatuh.

Tuhan, kami ingin berjalan terus bersama-Mu. Peganglah tangan kami di sepanjang perjalanan kami hari ini. Yang sakit dipulihkan. Yang sehat tetap terjaga kesehatannya. Doa ini, kami mohon dalam Kristus Tuhan kami. Amin.

Menjadi Pasangan Yang Setia

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Ibrani 13:4

Selamat pagi, saudara-saudaraku yang dicintai Tuhan. Puji syukur atas pemeliharaan Tuhan kepada kita hingga pagi yang baru. Semoga berlanjut tak berkesudahan.

Kita merenungkan firman Allah,” Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.”

Ibrani 13:4

Saudara, dari hewan kita mendapat inspirasi atas hal yang mereka miliki. Dari semut kita memetik pelajaran tentang kerajinan. Dari anjing kita melihat kepatuhan kepada orang yang merawatnya. Kali ini saya mengajak untuk melihat hal baik tentang arti kesetiaan dari burung elang atau rajawali.

Burung elang paruhnya kuat dan kuku kakinya kokoh. Kedua kelebihan ini menjadi modal utamanya. Paruh untuk mencabik-cabik hewan sasarannya dan kuku untuk mencengkramnya. Dengan kuku yang kokoh itulah ia membawa hewan buruan tanpa terlepas.

Struktur tubuh elang atau rajawali itu tegap. Kalau singa dijuluki raja hutan. Bisa dikatakan elang adalah raja di angkasa. Tidak ada unggas lain yang dapat menandingi lebar sayapnya dan kecepatan terbangnya. Rasanya tidak ada jenis burung lain yang menyamai kehebatannya menukik langsung untuk mencengkram seekor ikan yang terlihat di permukaan air.

Banyak di antara kita yang tidak tahu, elang atau rajawali itu hewan yang paling setia pada pasangannya. Meski ia pergi menjelajah jauh, ia hanya mau berhubungan badan dengan elang betina pasangannya yang menunggu di sarangnya. Jadi, bukan hanya manusia yang mengenal monogami, elang juga. Bedakan dengan ayam jantan yang selalu mengejar-ngejar ayam betina manapun untuk ‘memadu kasih’. Atau hewan lainnya. Luar biasa. Hewan yang kelihatannya garang dan ganas, tetapi menyangkut pasangan, ia setia hanya kepada pasangannya.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan tentang arti kesetiaan kepada perkawinan. Kita punya pemahaman perkawinan itu sakral, karena itu harus dijaga sebaik-baiknya dan dirawat dengan tetap memelihara cinta dan kesetiaan. Inilah dunia kecil, di mana seorang laki-laki dan perempuan terikat komitmen membangun kehidupan bersama. Kehidupan bersama yang di dalamnya setiap pasangan hidup mengeskpresikan hal yang terbaik untuk satu sama lain.

Alkitab menyamakan relasi suami dengan istri dalam perkawinan, seperti relasi Kristus dengan Jemaat-Nya. Kita tahu hal menonjol dari relasi itu adalah Kristus yang mau berkorban dan Kristus yang menyayangi Jemaat-Nya. Jadi dua unsur itu, wajib ada dalam perkawinan kristen. Mutlak ada di antara kita yang terikat perkawinan. Tanpa itu, perkawinan tidak lebih hidup bersama yang hambar, kering dan membosankan.

Tanpa pengorbanan dan cinta maka tidak akan lahir kesetiaan. Lihatlah, perkawinan tanpa cinta, bisa jadi karena pelarian atau terpaksa ‘keadaan tertentu’, sulit berlangsung langgeng. Malah yang kerap ditemui berakhir berantakan. Mengapa? Anda tahu sayur tanpa garam hambar rasanya. Paling tidak, perkawinan tanpa cinta akan seperti itu juga.

Firman Tuhan mengajak agar kita yang terikat dalam perkawinan setia satu sama lain. Dengan menggunakan kiasan “ranjang atau tempat tidur”. Maksudnya tentu ranjang perkawinan. Sebuah tempat yang sangat pribadi. Tempat eksklusif dan hanya untuk tidur berdua dengan pasangannya. Dan itu tidak boleh dicemari. Artinya, tidak boleh ada pria atau wanita siapapun yang boleh memadu kasih selain pasangannya. Dalam bahasa populer dan lugas, “jangan membuat affair” dengan siapapun. Tidak boleh ada pria lain atau wanita lain.

Saudara, mengapa hari ini kita mengangkat kesetiaan dalam perkawinan? Karena kesetiaan itu penting. Dalam dunia di mana perjumpaan satu dengan yang lain begitu cair, maka kita tidak boleh tergelincir pada relasi kebablasan.

Terus terang, tren yang kita lihat adanya praktik yang kurang menghargai tentang sakralnya perkawinan. Sehingga lihatlah, betapa makin mudahnya perceraian, termasuk di kalangan kristen. Ungkapan,” apa yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia”, bagaikan kata-kata biasa. Yang bisa dilanggar oleh keinginan hati yang egoistik. Tak takut dihakimi Allah.

Betapa indah jika anda dengan perkawinan Anda, yang dulu dipersatukan Allah di altar sucinya, berjalan bahagia. Ya, siapa yang tidak ingin menjalani perkawinan bahagia? Untuk itu, harus tetap dijaga kesetiaan dengan pasangan. Kita optimis, kita bisa asal mau berkorban dan dibimbing kehendak Tuhan. Kita yakin, kita bisa. Elang atau rajawali saja bisa yang tidak pernah baca Alkitab dan mendengar kotbah pendeta.

Kita berdoa, Ya, Allah. Jadikanlah kami sebagai suami atau istri yang setia, dan terus setia kepada pasangan yang Engkau persatukan. Kami setia dengan pasangan kami hingga akhir hayat.

Kami berdoa dengan tugas, pekerjaan dan usaha kami hari ini. Mampukan kami melakukannya dengan sungguh-sungguh dan segenap hati. Sehingga kami menjalankannya dengan suka cita. Serta anak, cucu, keponakan Tuhan memberi perlindungan atas mereka dari segala bentuk yang membahayakan dan tanamkan cinta ilmu di dalam diri mereka.

Dalam nama Yesus yang selalu mencintai kami, doa ini kami panjatkan. Amin.

Gigih Karena Iman

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Markus 2:4-5

Selamat pagi, opa-oma, bapak-ibu, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Puji Tuhan, Allah tetap memberi kita nafas kehidupan. Demikian pula seluruh anggota keluarga kita. Terima kasih atas kebaikan dan kesetiaan Allah, yang tiada terkira.

Firman Tuhan di hari Senin ini, “Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

Markus 2:4-5

Saudaraku, kita mengenal berbagai tipe atau watak manusia. Salah satunya, tipe orang yang tidak kenal menyerah. Orang seperti ini tidak cepat patah semangat saat menginginkan sesuatu meski dihadang kesulitan. Kesulitan tidak menjadi alasan menghentikan usahanya. Tidak jarang, orang seperti ini tidak menempatkan kegagalan untuk menghentikan langkahnya. Dalam diri orang yang pantang menyerah terdapat sifat gigih. Gagal, coba lagi. Jatuh, bangun lagi. Dalam kamus hidupnya kesulitan dan kegagalan itu bukan akhir sebuah ikhtiar.

Sosok pendaki gunung termasuk orang yang memiliki karakter seperti di atas. Gunung tertinggi di dunia adalah Mount Everest. Berlokasi di Nepal, tingginya 8.850. Di sana terdapat salju abadi. Artinya salju tetap ada apapun musimnya. Medannya berat. Curam. Rute ke puncaknya berbahaya sekali. Oksigennya makin tinggi makin tipis, sehingga para pendaki gunung akan lebih cepat lelah. Sudah tidak terhitung yang mengalami kecelakaan, baik jatuh maupun mati kedinginan. Tapi, bagi para pendaki sejati mereka mencoba terus, sampai bisa menancapkan bendera kebangsaan negerinya di puncak gunung itu.

Pada tahun 1997, tiga orang anggota pasukan elit Kopassus kita, bisa mencapai mount Everest. Mereka orang Indonesia pertama yang menjejakkan kakinya di gunung yang legendaris tersebut. Dapat dipastikan, mereka punya fisik tangguh dan jiwa serta mental tidak cepat menyerah.

Dalam kehidupan iman perlu hadir pula sikap gigih. Dibutuhkan mental tidak cepat menyerah berhadapan situasi sulit. Meskipun dalam kehidupan nyata tidak banyak di antara kita yang pernah mendaki gunung, tapi kehidupan memperhadapkan kita dengan situasi yang menuntut kita tidak boleh cepat menyerah. Kisah Injil Markus di atas memberi contoh.

Seorang lumpuh punya kerinduan berjumpa dengan Tuhan Yesus. Ternyata tidak mudah. Kondisi tubuhnya membatasi ruang geraknya. Si lumpuh ini sangat mengandalkan topangan keempat temannya. Sementara itu, orang banyak juga berlomba untuk bisa dekat, melihat atau menyentuh tubuh Tuhan Yesus. Semua berdesakan. Bukan tidak mungkin, mereka tidak mau berbagi posisi yang nyaman dengan orang lain.

Tentu situasi ini tidak mudah buat si orang lumpuh dan kawan-kawan. diperhadapkan dengan demikian, bukan berarti mereka angkat tangan dan balik kanan, kembali pulang. Lewat jalur normal tidak bisa, mereka menempuh yang jalur tidak biasa. Lewat pintu, akses sudah tertutup. Maka, mereka lewat jalur lain, yakni empat orang itu menurunkan lewat atap agar si lumpuh itu menjumpai Tuhan Yesus.

Saudaraku. Dalam penilaian Tuhan Yesus, tindakan mereka mencerminkan adanya iman. Tindakan mereka bukan dikategorikan perbuatan yang melanggar kesopanan. Mereka masih dalam koridor tata krama. Bagi Tuhan Yesus tindakan itu didorong keyakinan dan iman. Kendala dan kesulitan mampu dilampaui karena kelima orang itu punya kegigihan. Mereka maju terus, sampai keinginannya terkabulkan. Itulah sebabnya, Injil menyebutnya “ ketika Yesus melihat iman mereka”. Ya, Tuhan Yesus melihat di balik jerih lelah dan perjuangan mereka yang tanpa kenal menyerah dan lelah, sesungguhnya ada iman. Akhirnya, Tuhan Yesus mengapresiasi mereka dan si lumpuh pun disembuhkan dan mampu berjalan.

Saudaraku, selalu ada aral melintang dalam kehidupan. Kita bisa jatuh. Menyerah dan kapok. Atau kita bersifat cengeng. Menangis dan takut mencoba lagi. Trauma. Takut tidak bisa mengatasi lagi. Kesulitan membuat kita tidak berdaya. Kesulitan dianggap lebih besar dari kekuatan kita. Di saat demikian, Allah kita yang lebih berkuasa dari kesulitan tidak dilibatkan. Akhirnya, kita tidak berbuat apa-apa. Jera.

Sedangkan pilihan lain terbentang di depan kita. Kita sadar hidup memang diwarnai kendala dan hambatan. Kita menyikapi sebagai bagian tantangan, yang justru mendewasakan dan mematangkan iman kita. Kendala dan kesulitan malah menempa iman kita makin kuat. Sehingga bila kita jatuh kita bagun lagi. Jika kita gagal tetap mencoba lagi. Terlebih, kita berjalan bukan sendirian melainkan bersama Tuhan. Tuhan yang siap menopang kita untuk tetap berdiri teguh, tidak goyah. Dan jangan lupa, pengalaman si lumpuh. Ada sahabat yang empatik dan setia mendampingi dalam perjuangan.

Mari kita berdoa, Allah yang baik, Kiranya kami memiliki kegigihan dan ketegaran manakala kami menginginkan sesuatu yang tidak mudah diraih.

Kami berdoa buat saudara kami yang Tuhan tambahkan usianya hari ini. Kiranya berkat kesehatan, suka cita dan kebersamaan dalam keluarga dilimpahkan atasnya.

Kami tetap berdoa bagi negeri kami. Kiranya tetap damai dan aman serta stabilitas politik terjaga. Karuniakan aparat kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugasnya. Dan presiden kami beserta kabinetnya tetap diberi ketegaran dan kesabaran namun juga ketegasan menegakkan hukum maupun undang-undang yang berlaku.

Kami berdoa buat yang terbaring sakit. Tubuh yang lemah, gerak terbatas dan rasa kesakitan yang harus ditanggung. Tuhan, Engkau adalah Tabib yang baik dan berkuasa. Kepada-Mu kami berharap dan meminta agar beban mereka diringankan, dan sakit mereka disembuhkan.

Berkati tugas, pekerjaan dan aktivitas kami masing-masing sepanjang hari ini. Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.

KERJA, KERJA DAN KERJA

Oleh Weinata Sairin

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi”

Pengkotbah 9:10

Kerja, bekerja mendapat tempat yang amat penting dalam konteks kehidupan sebagai umat beragama. Semua agama mengingatkan bahkan memotivasi manusia untuk bekerja, dan bukan menjadi seorang yang pemalas. Bekerja adalah tugas manusia. Di awal sejarah manusia ditempatkan Allah di tamam Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (Kej. 2:15). Tugas untuk bekerja, imperatif untuk berkarya, datang kepada manusia sebelum ia jatuh kedalam dosa. Kerja, bukan hukuman atas dosa. Bahwa sesudah manusia jatuh kedalam dosa kerja mendapat sebuah pespektif yang baru, mendapat underline itu soal yang lain. Bekerja dalam perspektif makro adalah menerlibatkan diri dalam proses penciptaan yang Allah lakukan ditengah sejarah. Bekerja sebab itu tidak sekadar jargon, tageline, atau ‘ideologi’ sang penguasa, bekerja adalah ekspresi religius dari sosok manusia beragama.

Bekerja tidak hanya sebuah istilah “sekuler”, bekerja juga memiliki dimensi teologi yang amat dalam. Di dalam bekerja ada aspek tanggungjawab dan kredibilitas manusia, ada urusan etik, ada kaitan dengan harkat dan martabat manusia. Yesus malah, sesuai dengan “tupoksi”nya telah mengelaborasi makna kerja dengan lebih apik dan cantik tatkala Ia merespons sebuah realitas dizamanNya. Ia nyatakan : “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal…….” (Yoh 6:27). Hal itu ditegaskan oleh Yesus ketika Ia melihat kecenderungan orang banyak mengejar Dia hanya untuk urusan perut dan tidak pertama-tama karena mujizat yang Yesus buat (bdk Yoh 6 : 25-26). Yesus mengajak orang banyak agar tidak terpukau pada roti terpenjara pada hasrat ekonomis, pada roti dan perut kenyang, pada gizi pada aspek luaran, (pada jargon politik). Ia ingin mengubah mindset para murid dan orang banyak hidup tidak berhenti pada roti dan perut kenyang; hidup adalah juga memahami tanda-tanda keajaiban yang Yesus presentasikan dan apa maknanya bagi hidup di keakanan.

Istilah yang Yesus gunakan “makanan yang akan dapat binasa” dan “makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” amat menarik oleh karena Ia secara langsung menetapkan “status” dan “kategorisasi” makanan yang selama ini agaknya luput dari sebuah burning issues. Disini Yesus bebar-benar menampilkan kecerdasan seorang pemimpin yang mampu secara tepat dan adequat melontarkan gagasan tentang “makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” ditengah adanya ‘rush’ dari publik terhadap roti yang merepresentasikan “makanan yang akan dapat binasa”.

Yesus selalu berupaya untuk mengubah concern orang dari hal-hal yang “kini dan disini” kepada hal-hal yang akan berlangsung di keakanan, hal-hal yang bernuansa eskatologis. Yesus mengajak orang berfikir makro-strategis dan visioner dan tidak mikro temporer. Hal itu nampak begitu jelas ketika Ia diperhadapkan dengan pertanyaan para murid tentang siapa yang berdosa sehingga ada orang buta sejak lahirnya (Yoh 9: 1-5 dst). Murid-murid tengah hidup dalam arus pemikiran (teologi) yang sedikit matematis yang populer di zaman itu bahwa “penyakit itu akibat dosa”. Murid-murid tentu berharap Yesus memberi respons afirmatif tentang hal itu dengan mengacu kepada trilogi yang tengah populer. Tapi Yesus pemimpin yang cerdas, clever dan cerdik. Ia tidak menjawab secara matematik. Yesus malah secara berani melawan dan menggugat pandangan populer yang tidak benar saat itu. KataNya : “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan didalam dia” (Yoh 9 : 3).

Dan sesudah Yesus menjawab diplomatis pertanyaan muridNya, maka Ia langsung menyampaikan butir pemikiran penting : “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku selama masih siang, akan datang malam dimana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja” (Yoh 9:4). Yesus menyadarkan para murid untuk tidak terpukau pada realitas kekinian yang dialami dalam kehidupan, berikut tafsir (teologinya) tetapi melihat segala sesuatu dalam perspektif masa depan. Yesus mendorong agar para murid mendayagunakan waktu yang ada sehingga optimal dalam menjalankan tugas pelayanan, karena waktu itu amat terbatas, dan ada saatnya kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Kitab Pengkhotbah 9:10 dalam nada yang tidak jauh berbeda dari ungkapan Yesus, menyadarkan dan mendorong umat agar melakukan pekerjaan itu sekuat tenaga. Bekerja itu adalah sebuah kesempatan terbaik selama masih ada nafas kehidupan. Dengan narasi yang cukup keras Pengkhotbah menyatakan bahwa dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat!

Selama masih hidup, masih bernafas lakukanlah pekerjaanmu. Penyadaran dengan narasi yang keras, karena dikaitkan dengan kematian, bisa tetap bermakna dan tidak vulgar, sejauh kita memahami bahwa-masa waktu kehidupan kita amat terbatas, pada kisaran 70-90 di dunia ini. Senyampang ada waktu, dan nafas masih berhembus marilah terus bekerja, memberi yang terbaik bagi Allah dan manusia sesuai dengan tuntunan agama, sejalan dengan teladan Yesus Kristus.

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

MENYIRAMKAN AIR AGAR RUMAH TIDAK TERBAKAR

Oleh Weinata Sairin

“Aquam infundere in cinerem. Menyiram air pada abu (rumah yang telah terbakar)”.

Air memiliki makna yang amat penting dalam kehidupan manusia. Setiap saat manusia membutuhkan air : untuk minum, mandi, mencuci, masak dan untuk keperluan lain dalam kehidupan. Sebagai sebuah negeri agraris maka air sangat diperlukan dalam pertanian. Menurut penelitian, dinegara-negara maju seorang membutuhkan 250 liter air per hari, sementara dinegara berkembang cukup hanya 150 liter.

Seseorang yang tersesat dihutan atau terdampar disuatu pulau tak berpenghuni hanya bisa bertahan hidup tanpa minum 4-5 hari saja. Banyak sekali manfaat air bagi kehidupan manusia. Untuk pembangkit tenaga listrik, untuk pendinginan pabrik, untuk irigasi yang akan mengatur alokasi air bagi pertanian, industri, hotel, restoran, peternakan dan sebagainya.

Air bersih, air untuk diminum dan kebutuhan hidup manusia memang amat penting sekali. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar konon terkendala karena sulitnya air bersih. Bagi sebuah rumah sakit, air bersih memang amat urgen sekali karena hal itu berkaitan erat dengan pelayanan terhadap pasien.

Pernah terjadi di beberapa wilayah negeri kita terjadi kekeringan yang amat parah. Ternak kesulitan air, padi dan tanam-tanaman lainnya mati sehingga menimbulkan dampak bagi kehidupan petani yang memang menggantungkan kehidupannya kepada hasil pertanian.

Bahkan ada juga wilayah di Tanah Air yang terus menerus mengalami kesulitan air bersih karena tanah yang memang tandus. Kondisi seperti itu acapkali dicarikan solusi dengan melibatkan mereka yang ahli dalam bidang teknologi air bersih, sehingga realitas kekeringan itu bisa diakhiri.

Air memiliki banyak aspek dalam hubungannya dengan kehidupan manusia, air menjadi sesuatu yang dibutuhkan, air menjadi “kawan” dan “pemberi hidup”; namun air juga bisa menjadi “musuh”. Tatakala kita mengalami haus, kekeringan, banyak tanaman dan hewan yang mati maka air menjadi ‘kawan’, menjadi sesuatu yang dibutuhkan.

Namun ketika air itu menyebabkan wilayah-wilayah kebanjiran, banyak korban berjatuhan dan menimbulkan kerugian yang tidak kecil maka air tidak lagi dalam posisi “kawan” tetapi “musuh”. Walaupun air yang banjir itu penyebabnya adalah manusia juga!

Pepatah yang dikutip diawal bagian ini menyatakan tentang “menyiram air pada abu rumah yang terbakar”. Air amat diperlukan pada saat terjadi kebakaran. Tetapi jika sesuatu rumah itu sudah terbakar habis dan menjadi abu, maka air tidak lagi punya makna untuk menyiram. Pepatah ini menyadarkan kita bahwa sikap terlambat sama sekali tidak punya arti dan tidak memiliki manfaat. Dalam konteks menghadapi kebakaran diperlukan kecepatan ekstra untuk menyiramnya. Ada sindiran yang sarkastis kepada (bangsa) kita yang selalu diulang-ulang. Jika terjadi bencana, kata sindiran itu, kita lebih sibuk membentuk panitia ketimbang segera bertindak mengecek on the spot ke lokasi. Kita harus segera meninjau locus delicti bukan mencari orang untuk ditetapkan menjadi Panitia.

Mari kita gunakan air untuk menyiram rumah yang terbakar secepatnya sebelum rumah itu jadi abu. Rumah besar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini menyemburkan hawa panas yang membuat hidup tidak nyaman. Semburan awan panas terutama sekali karena masih ada upaya untuk mengganti dasar negara Pancasila dengan dasar yang lain yang tidak sesuai dengan hakikat bangsa ini sebagai bangsa yang majemuk. Mari kita segera mengambil air agar hawa panas itu didinginkan sehingga tak sempat membakar jadi abu Rumah Besar ini. Semburan awan panas juga terjadi karena korupsi yang masih merajalela, DPO yang belum bisa ditangkap, kawin tangkap yang marak, KDRT, perdagangan orang, upaya pemakzulan kepala negara tanpa dasar,praktek intoleransi, berbagai peristiwa politik yang memboncengi kasus Covid 19, kesemuanya membuat bumi nusantara makin panas dan berpotensi membakar Rumah Besar Indonesia. Kita semua harus siap siaga menyiapkan air untuk menyiram situasi panas, sehingga Rumah Besar Indonesia, aman tidak terbakar.
Selamat Berjuang. God bless.