Allah Yang Menguatkan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yesaya 42: 3a

Selamat pagi, Saudaraku yang baik. Udara pagi hari di akhir pekan ini dapat kita hirup dan kita melanjutkan aktivitas harian di akhir pekan. Puji Tuhan. Halleluya.

Firman Tuhan di hari ini, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya…”

Yesaya 42: 3a

Saudaraku, ada saatnya kita mengalami kelelahan. Bagi siapa yang melakukan aktivitas dari Senin hingga Sabtu ini dengan kesibukan tinggi, pasti lelah. Kita namai kelalahan fisik. Tenaga kita terkuras. Tubuh rasanya perlu istirahat. Kelelahan fisik obatnya relatif mudah. Saudara yang didera kelelahan fisik, beristirahatlah dengan cukup, niscaya pulih kembali kesegaran tubuh. Simpel. Tidak butuh waktu lama memulihkan kembali kebugaran tubuh dari kelelahan fisik. Apalagi istirahatnya disertai makanan yang sehat dengan porsi memadai, pasti tubuh kita segar kembali.

Lain halnya, kelelahan batin. Bukan fisik yang memikul beban berat, melainkan pikiran dan emosi yang terkuras. Kelelahan batin bukan disebabkan perjalanan jauh yang ditempuh atau mengangkat barang berat. Tentu bukan dan berbeda ketimbang kelelahan fisik. Termasuk juga berbeda cara atau metode pemulihannya.

Seseorang yang diperhadapkan dengan persoalan hidup yang belum terselesaikan atau ada harapan pribadi yang tak kunjung terealisasi, bisa menjadi sumber penyebab kelelahan batin. Dalam keluarga banyak sekali jenis problematiknya. Misal: pasangannya yang tidak setia dalam perkawinan, anak yang terkena kecanduan narkoba, orang tua yang abai tanggung jawabnya, ekonomi yang tidak cukup dibanding kebutuhan yang harus dipenuhi, sakit yang tak kunjungan sembuh, dan sederet lainnya. Persoalan itu tidak bisa selesai dengan beristirahat dan makan cukup.

Memang benar, istirahat cukup dan makanan yang sehat membantu stamina tubuh lebih tahan atas akibat kelelahan batin. Tapi itu bukan solusi yang membuat batin segar kembali. Dengan kelelahan batin yang belum terselesaikan, kita bisa sulit istirahat atau tidur. Pikiran melayang-layang, mengembara ke sana-kemari.

Pribadi yang mengalami kelelahan batin bisa terlihat dalam bentuk jiwa yang lesu. Tidak berdaya. Serba pesimis melihat dan meneruskan perjalanan hidup. Batinnya sesak. Murung. Pada tingkat tertentu kelelahan batin bisa menggerogoti ketahanan fisik, akhirnya sakit. Sakit yang dipicu emosi dan pikiran yang lelah. Dalam bahasa Alkitab, bagaikan “buluh yang patah” dan “sumbu yang pudar”. Buluh atau bambu, merupakan tanaman yang berongga seperti batang padi, jika tertiup angin keras, batangnya patah.

Kiasan lain yang dipakai adalah sumbu yang pudar. Jaman itu jenis lampu masih sederhana. Penerangan memakai sumbu dan disertai minyak. Jika kondisi sumbunya hampir habis maka penerangannya makin redup.

Demikianlah, Alkitab menggambarkan orang Israel yang mengalami pergulatan batin. Pergulatan batin yang lama dan tak kunjung tuntas. Tiupan angin kehidupan terlalu keras menerpa, sehingga mereka rasanya sudah patah semangatnya dan sulit ditegakkan lagi. Sudah hampir habis sumbu, sehingga semangat hidup mereka makin redup. Israel yang dibuang ke negeri orang lain bagaikan buluh yang patah dan sumbu yang pudar. Sudah lemah sekali daya tahan batin mereka.

Di saat kritis, yakni kelelahan batin seperti itulah, sang nabi Allah, Yesaya memberi pesan penguatan. Bahwa Allah tidak akan membiarkan buluh itu diputuskan, sumbu itu dipadamkan. Artinya Allah akan bertindak bagi Israel sehingga hidup mereka tegak kembali dan sumbunya terang kembali. Dengan demikian, solusi kelelahan batin manusia terletak pada kebaikan Allah. Allah yang hadir, menghibur dan melepaskan beban pikiran dan emosi orang yang dicintai-Nya.

Saudaraku, saya suka menaruh bunga dan potnya di kamar mandi. Satu-dua hari, bunga itu tetap segar. Asal disiram dengan air cukup. Tapi jika satu bulan bunga itu tidak terkena matahari, saya mulai melihat daunnya menguning dan layu. Maka, segera saya membawa keluar rumah agar mendapat sinar matahari. Beberapa hari kemudian, bunga itu segar kembali. Tidak jadi mati. Seperti itulah, saat jiwa, emosi dan mental kita down atau turun, dekatkanlah pada Tuhan. Allah yang dekat kita, itulah yang menguatkan kita, buluh tidak diputus dan sumbu tidak dipadamkan.

Kita berdoa, Tuhan, jika saat ini atau saat tertentu kami mengalami kelelahan batin, kira-Nya Engkau dekat kami dan kami membuka diri agar Engkau bekerja untuk memulihkan kesegaran batin kami. Karuniakan pada kami, kesegaran fisik maupun rohani kami.

Kami berdoa untuk Saudara kami yang memerlukan kehadiran Tuhan di dekat mereka. Khususnya, saudara kami yang sakit. Kami mendoakan yang dirawat agar tindakan Perawatan berhasil baik. Tuhan mengangkat kesakitan dan sumber penyakitnya melalui penanganan medis. Kami berdoa untuk kesehatan para lansia. Tolonglah agar para oma-opa kami ini bisa pulih kembali. Kami pun membawa saudara kami yang sakit supaya kuasa Tuhan bekerja atas mereka, agar esok atau lusa sehat kembali.

Ya, Tuhan, kiranya hari ini kami tetap bisa menjumpai kasih-Mu, sehingga kami masih tetap optimis dan bisa tersenyum penuh suka cita di hari ini.


Dalam nama Yesus, dengarkanlah dan kabulkan doa kami.

Lolos Dari Lubang Jarum

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan Matius 19:24

Mentari telah terbit lagi di Timur. Burung berkicau di pepohonan. Pertanda pagi baru telah tiba. Kita bersukur kepada Allah. Kita masih bernapas dan jantung tetap berdetak.

Firman hari ini, “Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Matius 19:24

Saudaraku, di mana ada unta bisa masuk lubang jarum? Tentu berkeliling ke seluruh pojok dunia, kita akan sia-sia menjumpainya. Bagaimanapun hal mustahil terjadi unta masuk lubang jarum. Sebab, tidak sebanding ukuran lubang dan tubuh unta. Dipaksakan dengan cara apapun tidak mungkin. Itu impossible.

Tapi, dari ucapan Tuhan Yesus memberi kesan bisa, tapi tak mudah. Lalu, lubang jarum yang seperti apa? Jawabannya kita harus melihat apa yang dimaksud Tuhan Yesus. Apakah lubang jarum yang lazim kita ketahui? Atau lubang jarum yang dimaksud Yesus berbeda dengan sejauh yang kita kenal.

Jaman Tuhan Yesus sebuah kota dikelilingi tembok. Ukuran kota waktu itu tidak sebesar kota sekarang, dikelilingi benteng sebagai pertahanan dari serangan musuh. Lalu, ada pintu gerbang dan juga ada pintu kecil yang bisa dilewati manusia buat keluar masuk. Pintu kecil itu berukuran tidak lebih satu meter, dinamakan lubang jarum. Istilah khas lokal. Seperti di kita ada istilah jalan tikus.

Nah, saat musuh menyerang maka jika pintu gerbang ditutup rapat. Unta musuh itu mengalami kesulitan masuk lewat lubang jarum. Bisa tapi setengah mati perjuangannya. Dan syaratnya unta-unta itu harus melepaskan barang bawaannya. Dengn cara demikian yang susah payah loloslah si unta.

Dengan demikian, kini kita lebih jelas mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata, lebih susah orang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah. Yakni jika orang kaya itu tidak mau melepaskan apa yang melekat pada dirinya. Sama dengan seekor unta yang lewat lubang jarum, bisa. Tapi, itu tadi, dengan syarat apa yang melekat padanya harus dilepaskan.

Saudaraku. Kekristenan tidak menolak orang kaya. Dan tidak alergi kekayaan atau harta benda. Seolah-olah harta benda sumber dosa. Akibatnya orang kaya jauh lebih berdosa dari orang miskin. Konsep demikian tidak kita kenal. Tidak ada sama sekali.

Tapi, mengapa dalam ucapan Tuhan Yesus menunjukkan betapa sulit orang kaya masuk kerajaan surga? Saudaraku. Sekali lagi. Sama seperti unta tadi. Jika barang bawaannya tidak dilepaskan, sampai kapanpun unta itu akan gagal lewat lubang jarum ( pintu kecil).

Sama. Orang kaya itu hanya bisa masuk kerajaan surga, jika menanggalkan hal yang melekat pada dirinya. Apa itu? Bukan hartanya harus dibuang. Tidak juga supaya dicampakkan. Yang harus ditanggalkan dari orang kaya adalah ketergantuangannya pada kekayaan. Jika ingin masuk kerajaan surga orang kaya hanya tergantung pada Allah. Selain itu, orang kaya rawan dilekati kesombongan. Padahal orang yang rendah hatilah yang empunya kerajaan surga.

Saudara. Di mata Allah, bukan harus menjadi orang miskin dulu baru bisa masuk kerajaan Allah. Bukan hartanya yang tidak disukai Tuhan Yesus. Tapi, sifat dan sikap yang bisa muncul disebabkan oleh kekayaan.

Jangan sampai ucapan Tuhan Yesus dimaknai Dia anti-kekayaan. Melainkan kita harus sadar, kekayaan bisa membuat kita terlekat padanya. Nempel tidak mau lepas. Sangat tergantung. Dan bisa merasa semua hal bisa “dibeli” oleh kekayaannya.

Saudaraku, hari ini kita tidak diajak membuang harta kita. Dan mencampakkan kekayaan kita. Sama sekali tidak seperti itu.

Kita diajak sekaligus diingatkan harta itu perlu. Kekayaan bendawi itu penting. Tapi, jangan juga harta menghalangi kita menjadi bagian kerajaan surga. Hanya karena sikap dan hati kita dijerat dan dibelenggu oleh harta benda itu.

Mari kita berdoa, Tuhan, ajar dan mampukan kami semata-mata tergantung pada-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.

Tepat Merespon

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Lukas 10: 41-42

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki hari Rabu ini. Kita patut memuji nama-Nya Yang Maha Baik.

Firman Tuhan hari ini, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, (42) tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Lukas 10: 41-42

Saudaraku, tidak setiap orang mampu dengan tepat bertindak dalam situasi tertentu. Termasuk Marta, meski dengan cekatan bersibuk diri untuk memberikan yang terbaik buat Tuhan Yesus. Ternyata, tindakannya tidak sesuai keinginan dan harapan Tuhan Yesus. Sehingga komentar Tuhan Yesus atasnya bisa jadi memasgulkannya, sebab tidak berkesan dan bernada pujian. Malah, lebih menyayangkan bentuk tindakannya.

Ketidak tepatan merespon suatu keadaan tidak mudah. Saya atau Saudara juga bisa keliru menafsirkan keinginan Tuhan. Kita tahu, Yesus tengah dalam perjalanan bersama rombongan murid-Nya. Lalu, mereka mampir di rumah Marta dan Maria. Dalam situasi demikian, Marta menilai mereka tentu lelah, haus dan lapar.

Maka, dengan pro aktif, tanpa disuruh siapapun, Marta menyiapkan segala kebutuhan konsumsi pihak Yesus dan murid-murid-Nya. Dalam hal ini, makanan dan minuman. Itulah sebabnya, ia sibuk sekali dengan urusan dapur dan makan-minum. Akibatnya, Marta menghabiskan waktunya untuk itu. Sedangkan Maria, saudaranya, memilih mendengar berita kabar baik yang disampaikan Yesus.

Marta merasa sambutan terbaik atas kedatangan Yesus adalah dengan menyediakan makanan dan minuman. Sehingga di matanya, Maria bertindak kurang patut, membiarkan ia sibuk sendiri. Sedangkan ia sangat butuh bantuan saudaranya itu. Dalam suasana demikian, Yesus meluruskan, bahwa justru tindakan Marta yang tidak tepat.

Yesus datang ke rumah mereka bukan bertujuan mencari makan-minum. Memang makan-minum dibutuhkan guna melanjutkan perjalanan lebih segar lagi.

Yesus datang agar kedua bersaudara itu mendengar suara dan ajaran-Nya. Tuhan Yesus mampir agar mereka dikenyangkan oleh firman yang hidup dari sumber pertama. Jadi, tindakan Maria yang tepat. Duduk dan dengar. Dan belajar langsung dari Maha Guru kehidupan. Bukan merepotkan dengan urusan makan dan minum.

Saudaraku, pelajaran inilah yang perlu kita petik. Kita bertindak seolah-olah hendak menyenangkan Tuhan Yesus. Sibuk ke sana- kemari, bahkan dalam pelayanan. Sibuk mengatur dress code untuk paduan suara, atau kebaktian. Sayangnya, suara Tuhan Yesus sendiri tidak didengar.

Yang diinginkan Tuhan Yesus, kita duduk, mendengar dan membarui diri. Ada pertumbuhan rohani dan kematangan sikap yang kemudian lahir. Jangan sampai sudah berkeringat dengan dalih untuk Tuhan, padahal suara Tuhan Yesus terabaikan. Mari, sepanjang hari ini, dengarlah suara Tuhan. Dan biarkan diri kita dibaharuinya.

Kita berdoa, Tuhan ajarlah kami untuk duduk dan diam mendengar suara-Mu dan menanamkan suara-Mu dalam hati kami, suara-Mu menuntun dan membarui diri kami.

Hari ini, perkenankan kami untuk mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Lindungi kami, Tuhan. Jauhkan kami dari ancaman bahaya dan kecelakaan di perjalanan, tempat kerja dan di mana kami tengah berada. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.

Kenali Kelemahan Diri

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Hakim-hakim 16:18

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Bangun pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita adalah, “Ketika dilihat Delila, bahwa segala isi hatinya telah diceritakannya kepadanya, disuruhnyalah memanggil raja-raja kota orang Filistin, katanya: “Sekali ini lagi datanglah ke mari, sebab ia telah menceritakan segala isi hatinya kepadaku.” Lalu datanglah raja-raja kota orang Filistin itu kepadanya sambil membawa uang itu”.

Hakim-hakim 16:18

Saudaraku, uang itu bisa menyilaukan mata dan membutakan hati nurani. Pesona uang sungguh luar biasa, dulu, sekarang dan masa datang. Benda ini, bisa mempengaruhi perikaku tertentu termasuk mengkhianati cinta. Nama Simson dan Delilah merupakan pasangan kekasih yang kemudian berakhir tragis, gara-gara Delilah yang kemaruk uang. Berujung pada Simson menemui ajalnya di tangan musuh.

Simson adalah salah satu hakim di Israel yang punya kehebatan fisik luar biasa. Sehingga menimbulkan rasa takut di pihak Filistin. Sayangnya, Simson teramat mudah tertekuk hatinya oleh pesona kecantikan Delilah. Tidak perduli latar belakang dan watak perempuan itu. Meski Delila seorang sundal atau PSK, dan bersifat istilah sekarang “cewek matre”, Simson tergila-gila pada Delila. Ia melabuhkan cintanya pada perempuan itu.

Faktor kelemahan inilah, yang menjadi pintu masuk bangsa Filistin memakai Delila membongkar rahasia di balik kekuatan fisik luar biasa Simson. Bagi Delila, ia tidak peduli cinta Simson yang amat besar padanya. Saat ia melihat bahwa Simson tergila-gila padanya, itu merupakan peluang besar bisa mendapatkan uang berlimpah.

Buat Delila tidak ada cinta sejati. Uang, uang dan uang, itulah prinsip hidupnya. Maka, ia melihat Simson bukan lagi hakim perkasa, bukan pula pecinta sejatinya. Delila melihat sosok Simson tidak lebih dari sapi perahan. Itulah sebabnya, ia mau berkolaborasi dengan bangsa Filistin mencari rahasia kehebatan Simson. Delila dengan jurus rayuan menghanyutkan mengorek informasi dari Simson. Dan berhasil. Simson menceritakan langsung kepada Delilah. Yaitu sumber kekuatannya ada pada rambutnya.

Saudaraku, ini drama percintaan yang membuat kita bisa mengenali watak manusia. Sehebat apapun seseorang pasti punya kelemahan. Simson sebagai hakim di Israel, menonjol kehebatan fisiknya dan punya nyali besar menghadapi musuh. Di bawah kepemimpinannya bangsa Filistin tidak bisa menyentuh Israel.

Ternyata, pada sisi lain, Simson takluk oleh pesona kecantikan seorang perempuan. Padahal reputasi buruknya seharusnya Simson menjauh dari pelukannya. Cinta itu buta, demikian kata orang.

Saudaraku, saya, Anda dan kita semua pasti punya kelebihan. Tuhan menciptakan talenta dan potensi. Tetapi, kita pun harus terbuka, paling tidak menyadari bahwa kita pun punya kelemahan diri. Ada orang yang lemah soal uang. Ada orang yang lemah dengan soal perempuan atau laki2. Ada orang yang lemah dalam mengendalikan emosi. Dan hal-hal lain.

Sejak dini, kita harus sadar faktor kelemahan kita. Dengan demikian, kita sudah mengantisipasinya. Kalau lemah karena gampang takluk sama lawan jenis, apalagi sudah menikah, ya hindari pergaulan yang berlebihan.

Simson, untunglah di ujung hidupnya dia masih ’menebus’ kesalahannya. Ia masih berbuat sesuatu bagi bangsanya. Setelah sadar dia dimanfaatkan, dia menghancurkan bangunan bangsa Filistin dan Simson ikut terkubur dan tewas di dalam reruntuhan bangunan tersebut.

Sementara itu, ada orang berakhir hidupnya tidak sempat berubah dan keluar dari lumpur kesalahannya. Sehingga orang demikian mati membawa diri yang belum diperbaiki. Marilah, kita bijak mengelola kehidupan. Kelebihan yang kita miliki, kita jaga dan tingkatkan. Sedangkan faktor kelemahan kita, kita waspadai agar jangan kita tercebur ke dalamnya dan tidak bisa keluar lagi dari sana.

Mari Kita berdoa, ya, Tuhan, mampukan kami memelihara dan mengembangkan kekuatan kami. Dan kami berjaga2 agar tidak jatuh ke lumpur kesalahan. kiranya ucapan, pikiran dan perbuatan kami berkenan sesuai dengan iman kami kepada-Mu.

Tuhan, perkenankan hari ini, seluruh anak-anak-Mu, hidup dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Tetap tersenyum di tengah kesulitan. Tetap setia pada-Mu di tengah ujian kehidupan.

Kiranya Engkau berkenan bersama kami sepanjang hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Fokus Pada Kualitas

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Hakim-hakim 7:7

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih dipercaya Tuhan untuk menjalani kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya.”

Hakim-hakim 7:7

Saudaraku, jika ada anggapan untuk mengatasi sebuah kesulitan besar, maka cara pemecahan terbaiknya dengan merekrut orang sebanyak-banyaknya. Itu namanya pendekatan kuantitas. Sebuah pilihan yang mengutamakan faktor jumlah.

Dalam hal biasapun, orang terpaku pada pola pikir seberapa banyak yang kita miliki itu penting. Sering saya mendapat pertanyaan, “pak pendeta, berapa jumlah anggota jemaat di sini?”. Barangkali di antara kita pun pernah bertanya model demikian, “berapa banyak populasi kristen di Indonesia.” Jarang, malah rasanya belum pernah, saya menerima pertanyaan, “pak pendeta, bagaimana kualitas anggota jemaat di Gereja ini?”.

Kuantitas atau kualitas yang Anda pilih? Bila bicara uang, tentu orang puas jika jumlah banyak yang dimiliki. Jika berkaitan dengan anak, mending punya anak banyak atau cukup punya satu-dua yang berkualitas?

Saudaraku, Israel tengah menghadapi musuh berat. Perlengkapan perangnya lebih hebat. Terlebih lagi Bangsa Midian punya tentara 135.000 prajurit. Jumlah yang fantastik waktu itu. Jumlah yang membuat hati Gideon dan jiwanya gentar.

Di mata Tuhan. Pola pikir dan strategi serta pendekatan kuantitas bukan jawaban, agar bisa meredam kekuatan bangsa Midian. Buat apa punya banyak prajurit, sementara itu pengalaman, keahlian dan keberanian perang tidak dimiliki. Lagi pula, Israel tidak punya jumlah tentara sebanyak itu.

Saudaraku. Tuhan meminta Gideon menyeleksi prajurit-prajuritnya. Seleksi dilakukan. Kemudian, yang terbaik yang dikirimkan ke medan perang, bukan jumlah yang sebanyak-banyaknya. Yang terpilih 300 orang, yang jadi tumpuan harapan. Dan itu jelas tentara pilihan.

Saudaraku, bagaimana 300 orang menghadapi ratusan ribu tentara musuh? Dari segi jumlah sudah kalah. Jumlah prajurit Israel hanya 0,5 persen dari jumlah prajurit Midian. Percaya atau tidak Israel menjadi pemenang.

Koq bisa? Kuncinya, pertama, pendampingan Allah. Kedua, tentara yang kualitasnya luar biasa. Berani. Cakap. Mampu mengendalikan diri. Tuhan faktor nomor satu, lalu dilengkapi tentara yang bermutu, itulah modal utama Israel.

Dalam kehidupan masyarakat atau gerejawi, di kalangan keluarga milenial, mereka lebih gandrung punya anak cukup satu-dua saja. Tapi, berkualitas. Di sekolahkan di sekolah yang baik. Dalam hal konsumsi, disediakan makanan memenuhi kriteria empat sehat-lima sempurna. Busana yang dikenakan modis dan indah. Sulit para keluarga muda ini merancang mau punya anak lima atau enam. Alamak! Pasti, itu tidak populer buat mereka.

Saudaraku, kita juga ingin gereja kita lebih berkonsentrasi pada pendekatan kualitas. Menjadikan anggotanya bermutu. Sekaligus punya program dan kegiatan yang berkualitas pula. Tidak apa-apa sedikit tapi mampu memenuhi panggilan Allah. Program yang membuat pertumbuhan iman. Daripada banyak program dan kegiatan, tapi hanya show of force (unjuk kekuatan) bahwa dirinya gereja besar.

Begitupun, dalam hal kehidupan keluarga. Betapa kita musti tinggalkan pendekatan punya anak banyak. Kita tidak ingin anak-anak duduk di sekolah tingkat lanjutan pun tidak selesai. Makanan pun tak bergizi. Dan anak-anak itu tidak mendapat porsi perhatian dan kasih yang memadai dari orang tuanya.

Kita perlu menjadi orang kristen yang ilmu pengetahuan memadai, mentalnya tahan bantingan, disiplin, berorientasi pengembangan diri ke depan, mampu bekerja sama dengan siapapun untuk menciptakan kemajuan, dan punya kehidupan spiritualitas baik.

Semoga kita, para anak-cucu, adik, keponakan, menjadi orang kristen yang bermutu. Kecil tapi cabe rawit, orang bilang. Kecil tapi berkontribusi besar bagi gereja dan masyarakat. Buat apa kuantitasnya banyak tapi lebih menyumbang masalah bagi masyarakat. Semoga demikianlah kita dan gereja kita. Semoga Tuhan mengapresiasi pendekatan ini.

Kita berdoa, Tuhan, kami bersyukur atas kebaikan-Mu menjadi bagian sehari-hari hidup kami. Kami adalah kawanan kecil namun kiranya menjadi murid-Mu yang berkualitas.

Kami berdoa agar yang kami alami hari ini dan kami jalani bersama-Mu mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu. Yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya kami menikmati kebaikan yang tak kenal ujung di sepanjang hari ini. Berikan berkat agar kami mampu menjadi berkat.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.