Membangun Dan Menanam

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yeremia 1:6

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.”

Yeremia 1:6

Saudaraku, karya- karya pencapaian peradaban yang mengubah hidup ini, berawal dari sikap para penemunya. Mereka merasa yakin bahwa apa yang akan mereka buat, kelak bisa jadi kenyataan. Keyakinan ini disertai tekad, kegigihan dan sikap pantang menyerah.

Kita ambil salah satu contoh, pesawat terbang. Jelas, pesawat terbang merupakan pencapaian peradaban yang sangat mengubah kehidupan. Hilir mudik manusia dari satu negara ke negara lain, dari satu lokasi ke lokasi, bisa ditempuh sangat cepat dan nyaman. Dari Jakarta ke London, tidak perlu butuh waktu berminggu-minggu. Dari Bandung ke Papua, dalam hitungan 4-5 jam bisa sampai di sana.

Penemunya Wright bersaudara mendapat inspirasi dari burung yang terbang. Mereka berkeyakinan jika burung bisa terbang, kelak manusia pun bisa. Dari sanalah, mereka membuat eksperimen. Coba-gagal lagi (trial and error). Dengan kegigihan dan keyakinan bahwa tidak mustahil mereka bisa mewujudkan mimpi mereka. Terbukti benar. Dimulai dari pesawat terbang sederhana yang bisa terbang sejauh 250 meter dengan waktu temouh 59 detik.

Saudaraku, Yeremia merespon penunjukkan Allah justru dengan pernyataan sikap tidak mampu. Sang nabi sadar, pekerjaan seorang nabi harus dilengkapi kemampuan pandai berbicara dan usia yang telah mapan. Sedangkan dia sendiri tidak memenuhi standar harapan manusia waktu itu. Dia tak fasih berbicara dan masih muda.

Bagaimana ia mampu mewujudkan tugas kenabiannya? Dia tidak disertai modal awal yang optimis. Padahal, kita suka beranggapan, seseorang yang menanamkan pada dirinya tidak punya kompetensi. Justru benarlah, ternyata dia gagal dan tidak mampu.

Saudaraku, kekurangan pada diri Yeremia berupa tidak ada sikap dan watak yang optimis. Syukurlah, ternyata Tuhan melengkapinya. Dengan apa? Allah “menjamah mulut “ Yeremia. Allah membuat Yeremia bisa menghilangkan keraguannya. Karena Allah menaruh perkataan-perkataan-Nya ke dalam mulut Yeremia.

Artinya, apa yang dikatakan Yeremia benar-benar suara Tuhan, bukan suara manusia. Dengan demikian, Yeremia punya wibawa dan akan dihormati pesan kenabiannya.

Saudaraku, tugas seorang nabi tidak mudah. Dicemooh, dianiaya dan menjalani hidup dalam kesendirian. Tugasnya “mencabut dan merobohkan”, terutama kebiasaan buruk dan perbuatan umat yang tercela, bisa menuai perlawanan. Dari dulu hingga kini, orang tidak mau kebobrokan hidupnya diusik. Ada reaksi balik bersifat penentangan.

Di sinilah pentingnya kegigihan. Tidak cepat kapok jika karena memenuhi panggilan Allah malah dibenci. Kita tahu ini tidak mudah, karena manusia lebih senang diterima daripada ditolak.

Jika tadi, nabi Yeremia ditugaskan mencabut dan merobohkan, seiring dengan itu dia diminta “membangun dan menanam”. Membangun kebiasaan baik dan menanam benih perilaku terpuji pada hati umat.

Saudaraku. Bagaimanapun hal itu juga menjadi bagian tugas kita. Yakni kita pun musti membangun karakter baik dan menanam watak terpuji. Seorang ibu atau bapak berkata pada anaknya, “nak, ayo bilang terima kasih kamu sudah diberi sesuatu!”. Sesungguhnya, kita sedang membangun watak tahu menghargai pemberian orang lain.

Atau, ungkapan, “nak, ingat kamu, ya. Kesuksesan kamu tidak terlepas pertolongan Tuhan. Kamu harus selalu dekat Tuhan, lho.” Itu, kita tengah menbangun watak bahwa Tuhan sangat berperan dalam sebuah kesuksesan. Begitu juga, dengan nasihat, “kamu jangan putus asa. Masih ada hari esok.” Itu ajakan membangun mental yang tidak cepat putus asa menyikapi kegagalan.

Saudaraku, pesan untuk “merubuhkan dan mencabut”, seiring dengan itu “membangun dan menanam”. Tidak hanya porsi tanggung jawab nabi Yeremia waktu itu. Tetapi juga hal itu merupakan tanggung jawab Anda dan saya untuk melaksanakannya. Semoga Allah menopang kita.

Tuhan, semoga di hari Jumat ini, kami bisa menikmati hari baru dengan tetap mencintai Saudara, ayah-ibu, keluarga dan sesama. Kami dapat menjalankan aktivitas yang bermanfaat.

Semua doa ini kami mohon dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Terus Melayani

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yohanes 1:38b-41

Selamat pagi, bapak- ibu dan Saudara-saudaraku yang baik. Malam telah berlalu, pagi baru pun tiba. Kita mengucap syukur Tuhan tetap mendampingi kita di hari yang baru.

Firman yang menjadi landasan renungan diambil dari Yohanes 1:38b-40, “Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” (39) Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. (40) Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.”

Yohanes 1:38b-40

Saudaraku, banyak orang ingin menjadi tokoh besar. Sekaligus diakui punya peranan besar. Keinginan yang lumrah. Pendeta pun ada yang ingin menjadi pendeta terkenal dan bereputasi besar. Tokoh besar dan terkenal sungguh menjadi idaman.

Tentu, itu bukan ‘keinginan terlarang’ dan bertentangan dengan etika kristen yang kita hayati. Bacalah Alkitab, adakah larangan keras bagi seseorang menjadi terkemuka dan bisa memberi andil besar buat kehidupan gereja dan masyarakat.

Sadaraku, orang kristen boleh dan direstui bila dalam dirinya terungkap keinginan kuat punya kontribusi besar. Terutama bagi kehidupan Gereja atau masyarakat. Menonjol bukan merupakan hal aib atau noda.

Tuhan Yesus tidak melarang murid-Nya menjadi yang terbesar. Yang Dia ingatkan adalah model dan cara menjadi besar. Bagi Tuhan Yesus kebesaran nama yang diperoleh lewat melayani, itu yang ideal. Namun, sekali lagi, menjadi terbesar dan menonjol sah-sah saja.

Saudaraku, Andreas adalah nama murid paling pertama. Dialah yang paling dulu tahu tempat tinggal Tuhan Yesus dan mengunjunginya. Namun, harus diakui pamor namanya tidak setenar Saudaranya, Simon Petrus. Namanya jarang mencuat. Beda dibandingkan Petrus dan Yohanes.

Peranan Andreas dalam Alkitab biasa-biasa saja. Namanya tidak sering disebut. Kita ingat dialah yang memberitahu Tuhan Yesus bahwa ada anak kecil yang membawa roti dan ikan. Itupun, disertai ketidak yakinan bahwa bekal anak kecil itu bisa memberi andil untuk 5000 orang.

Bagaimanapun, Andreas lepas dari perhatian. Namanya kurang disebut. Pada saat peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan Tuhan Yesus, namanya luput dari publisitas.

Meskipun perannya biasa dan seolah-olah bagaikan figuran. Tetap sebagai murid Tuhan, apalagi yang paling pertama, Andreas punya tempat tersendiri di hati Tuhan Yesus. Ia banyak melakukan fungsi memperkenalkan. Ia memperkenalkan Petrus pada Yesus. Sang anak pembawa roti dan ikan, Andreas pula yang memberitahukan keberadaan anak pembawa roti dan ikan kepada Yesus.

Saudaraku, jika faktanya kita tidak terkenal. Dan dirasa-rasa perannya biasa-biasa juga. Kita tidak perlu kecil hati. Sama, bila sebagai pendeta tidak seterkenal pendeta tertentu, tidak perlu kurang percaya diri.

Saudaraku, tidak sedikit orang yang hanya cari nama. Haus publisitas, baik di lingkungan gereja maupun masyarakat. Terlihat pada dengan bangga namanya selalu ada dalam kepanitaan. Sayangnya, pelaksanaan tugas kepanitiaan diabaikan.

Saudaraku, nama kita bisa saja tidak melambung di ruang publik. Tidak dikenal presenter televisi. Perannya belum masuk media massa. Karena posisi dan peran kita sungguh biasa. Namun, ingatlah Tuhan Yesus tidak lupa dan Ia mencatat nama kita. Karena meski sederhana, kita tetap berkarya.

Kita berdoa, Tuhan, Engkau ingat dan tetap mencatat nama kami satu persatu, meski kami tidak terkenal. Ajarlah kami berkarya sesederhana apapun.

Ajarlah Kami/Saya Menghitung Hari

Oleh Pdt. Hariman A. Pattianakotta

Hari ini, 25 Mei 2020, ketika Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) merayakan Jubelium 70 tahun, saya mengingat-rayakan 11 tahun menjadi pendeta di Gereja Kristen Pasundan (GKP). Waktu memang bergulir cepat, walau sekarang terasa melambat akibat pandemi Covid-19. Situasi pandemik ini memberikan kepada kita kesempatan untuk memikirkan kembali pandangan dan kiprah kita di tengah dunia. Pasca pandemi nanti, tentu akan ada kejutan-kejutan baru dan lompatan-lompatan besar, sebabdunia dan relasi-relasi kita sudah dan akan terus berubah. Akan ada normalitas-normalitas baru. Apa yang dahulu kita tatap dengan curiga atau sambut dengan ragu, justru nanti akan menjadi kewajaran dan ukuran.  Akan menjadi janggal bila normalitas-normalitas baru itu tidak dirujuk dan dilakukan.

Sebagai contoh. Dahulu kita hanya terpaku pada ibadat ritual yang dibatasi dalam ruang dan waktu tertentu. Kini di era digital, ruang dan waktu telah direnggangkan, bahkan dihapus. Di mana saja dan kapan saja seseorang bisa mengikuti ibadat dengan siapa. Lebih jauh, digitalisasi ibadat itu telah melenturkan batas-batas denominasi. Gereja-gereja yang selama ini tersekat dalam batas-batas aliran denominasi, kesukuan, atau pun teritorial, dan “mengurung” warga jemaatnya dalam sekat-sekat tersebut, kini menjadi gereja yang tanpa tembok. Gereja-gereja dari berbagai aliran bisa diakses oleh siapa saja, dan ibadat mereka dapat diikuti oleh orang lain dari denominasi dan lokasi teritori yang berbeda. Teknologi digital membuat batas-batas denominasional dan teritorial itu meluruh.

Contoh lainnya adalah gerakan filantropis yang melanda dunia dan Indonesia di masa pandemi. Mereka yang dianggap kaum sekular begitu jor-joran menggelontorkan belas kasih kedermawanan, sama seperti kalangan agamis yang juga giat melakukan aksi karitas di masa pandemi. Banyak mata terbuka sekarang ini, dan menyadari bahwa semua manusia adalah sama. Apa pun latar belakang suku, agama, ras, pendidikan, status sosial, semua sama-sama rentan dan rapuh. Karena itu, solidaritas kemanusiaan dan semangat kolaborasi jauh lebih berarti daripada mengembangkan jiwa kompetisi di kalangan para rapuh.

Kita sebagai warga gereja juga semakin menyadari bahwa esensi bergereja adalah membuat manusia semakin manusiawi. Dan kemanusiawian manusia itu tumbuh dalam relasi dan solidaritas. Karena itulah manusia disebut sebagai makhluk sosial. Dengan begitu, adalah sebuah keanehan atau kebodohan bila nanti gereja atau agama-agama masih menjadi gereja dan agama yang tertutup, berwatak kompetitif dan ekspansif, saling mengalahkan dan menaklukan. Spirit triumfalistik ini sesungguhnya adalah cerminan dari jiwa yang hampa cinta. Bila gereja atau agama tumbuh tanpa cinta, maka gereja dan atau agama akan menjadi mesin bengis yang mendehumanisasi manusia dan merusak semesta.

Dalam masa sekarang ini, saya melihat bahwa pasca pandemi nanti, gereja-gereja memiliki kesempatan dan peluang besar untuk terus bertumbuh sebagai gereja yang sejati, yang hidup dengan harapan dan cinta kasih. Harapan ini mungkin, sebab gereja adalah milik Allah kehidupan yang terus memelihara dan memimpin dunia dengan kasih dan kreativitas, sehingga gereja-gereja akan mampu beradaptasi dalam situasi-situasi baru. Yang terpenting adalah gereja membuka diri terhadap inspirasi-inspirasi yang Allah hadirkan dalam masyarakat digital dewasa ini.

Teknologi digital yang berkembang pesat memang telah menciptakan dunia baru, dan pandemi Covid-19 memaksa kita untuk cepat-cepat masuk ke dalam dunia tersebut. Di situ, gereja, agama-agama, dan seluruh umat manusia dapat hidup berdamai dengan teknologi digital buatannya. Artinya, teknologi digital buatan tangan sendiri itu tidak dilihat sebagai musuh, tetapi dimanfaatkan dengan baik, supaya manusia semakin manusiawi, terhubung dalam relasi solidaritas yang konstruktif, dan dapat belajar bersama untuk saling menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan yang tumbuh dalam lokalitas-lokalitas global.

Tiga Kualitas Penting

Menjadi pendeta dan gereja dalam konteks masyarakat yang terus berubah dengan cepat dalam era industri digital dewasa ini tentu mensyaratkan beberapa kompetensi yang harus terus diasah. Pertama adalah spiritualitas. Ini adalah dasar dan roh kehidupan yang memberikan pencerahan dan pendalaman relasi dengan Allah dan sesama ciptaan. Manusia bukan hanya makhluk sosial, tetapi makhlukimago Dei. Manusia diciptakan dengan roh dan cinta yang membuatnya serupa dengan Allah. Ia adalah homo cordium, manusia cinta yang hidup dengan misi cinta Penciptanya. Dan, cinta tidaklah netral. Cinta selalu mengusahakan keseimbangan, karena itu sang pecinta harus mengambil posisi dan keberpihakkan. Dalam kesadaran ini, maka gereja dan pelayan (pendeta) harus selalu hidup dengan spirit preferential option for the poor, dan bukankah spirit ini yang dicontohkan Yesus?

Dalam masyarakat industri 4.0 atau 5.0, kesenjangan akan selalu ada, sebab semua orang tidak mempunyai kemampuan yang sama untuk mengakses sumber-sumber kesejahteraan dan kemakmuran. Di sinilah gereja dan pendeta seperti saya harus terus menghidupi spiritualitas cinta supaya bisa mengupayakan keseimbangan dan harmoni sesuai desain Sang Pencipta. Syaratnya adalah dengan tetap tinggal di dalam Sang Cinta itu sendiri, sehingga api Roh-Nya terus menerangi kita di jalan-jalan yang Ia kehendaki untuk ditapaki.

Kedua, gereja dan pendeta selalu memerlukan kemampuan dan kecakapan membaca tanda-tanda zaman, sehingga dari situ lahir tindakan-tindakan visioner yang relevan dan menuntun umat dan masyarakat ke masa depan. Era sekarang dan masaakan datang membuka kemungkinan dan kesempatan bagi setiap orang untuk belajar secara tak terbatas. Supaya bisa membaca tanda-tanda zaman, maka gereja dan pendeta seperti saya harus mau menjadi persekutuan dan pribadi yang belajar untuk mengembangkan kemampuan dan kecakapan.

Era digital mempermudah manusia dalam banyak hal, tetapi sekaligus menguak kompleksitas kehidupan dan problematika di dalamnya. Gereja dan pendeta perlu mengenali kompleksitas tersebut. Tentu, pendeta tidak harus tahu segalanya. Pendeta itu makhluk rapuh sama seperti yang lain. Ia memang memiliki kompetensi dasar di bidangnya, dan ia juga perlu belajar dari yang lain agar bisa menjadi pribadi waskita. Seorang pendeta dengan rendah hati harus mau belajar dari dan bersama yang lain, agar kemampuan dan kecakapan pelayanan terus berkembang. Dan di Universitas Kehidupan ini, ada sangat banyak ahli yang dari mereka kita bisa belajar. Ahli-ahli itu pasti ada juga di dalam gereja kita, meskipun mereka tidak selalu bertitel akademis tinggi. Supaya kita bisa saling belajar, maka gereja harus didesain sebagai komunitas  pembelajar. Di situ kita sama-sama belajar mencari dan memberlakukan kehendak Tuhan dalam dunia yang plural dan kompleks; dunia yang akan terus mengalami perubahan dengan kecepatan tinggi. Sehingga, tepatlah kalau orang percaya itu disebut sebagai murid-murid Kristus, sebab memang mereka harus terus belajar seperti seorang murid dari gurunya. Menurut saya, kita hanya akan bisa bertumbuh menjadi persekutuan dan pribadi yang kompeten, jikakita memiliki hati dan telinga seorang murid.

Ketiga, pendeta itu pelayan yang memimpin, maka tentu juga diperlukan kecakapan leadership. Saya membaca buku Sunjoyo (salah seorang dosen UK. Maranatha) mengenai Exceptional Leader-Managers. Menurutnya, pemimpin itu harus juga menjadi manajer, sehingga kepemimpinan transformasionalnya menjadi efektif dan efisien. Sebagai pelayan-pemimpin, seorang pendeta tentu diharapkan akan memandu jalan transformasi sebagai leader-manager. Namun, kepemimpinannya tidak tunggal. Ia memimpin bersama yang lain secara kolektif-kolegial.  Karena itu, selain spiritservant, pendeta juga harus mengembangkan spiritfriend atau sahabat. Friend leadership adalah spirit dan gaya kepemimpinan yang dibutuhkan dalam ziarah bersama menuju masa depan. Dan bukankah spirit itu juga yang dihidupkan Yesus? “Aku tidak lagi menyebut engkau hamba, tetapi sahabat,” kata-Nya.

Dengan menyadari keberadaannya sebagai pelayan-pemimpin yang bersahabat, pendeta tentu harus terus mengasah kemampuan stewardship/ penatalayanan, agar ia bersama yang lain dapat menata-kelola berbagai potensi yang dimiliki dan memanfaatkan peluang yang ada untuk bertumbuh bersama ke arah yang Allah kehendaki.

Yang Allah rancangkan dan kehendaki adalah bonum commune, kebaikan bersama. Alkitab menggambarkan situasi tersebut dengan satu kata padat makna: syalom. Supaya syalom itu bisa terjadi, maka sangat diperlukan kepemimpinan yang efektif, efisien, transformatif, dan partisipatoris. Dan tentu saja pemimpin juga harus bisa ditiru karakternya, sehingga ia harus bertumbuh dengan integritas. Pemimpin harus hidup dalam firman Allah, inspirasi sejati dari Sang Pemimpin sejati. Kekuatan firman dalam karakter inilah yang akan meluaskan pengaruh leadership seorang pendeta dan pemimpin lain secara efektif, efisien, dan berdaya transformatif.

Jadi, dibutuhkan kedalaman spiritual, keluasan wawasan, dan kekuatan karakter untuk bisa memengaruhi dan menentukan arah kehidupan di dunia digital  dan perubahan yang berlangsung cepat dewasa ini. Dan, bukankah gereja ditugaskan untuk menjadi garam dan terang dunia? Mandat tersebut akan mampu ditunaikan jika tiga kualitas tersebut dimiliki oleh pemimpin-pemimpin gereja dan semua orang percaya.

Ajarlah Kami/Saya Menghitung Hari

Dalam usia pelayanan yang sudah menginjak  11 tahun, sebagai seorang pendeta (GKP) yang kini bertugas sebagai pendeta Universitas Kristen Maranatha, saya menyadari banyak sekali keterbatasan dalam tiga kualitas di atas. Karena itu, seperti pemazmur, saya pun berdoa memohon hikmat-bijaksana dari-Nya. Ajarlah kami/saya menghitung hari-hari kami/saya sedemikian rupa, sehingga kami/saya memperoleh hati yang bijaksana. Itu berarti harus ada instrospeksi, evaluasi, revisi, bahkan mungkin perlu revolusi. Kemauan dan tekad untuk mengubah apa yang memang harus diubah dan menerima dengan sukacita apa yang tidak bisa kita diubah adalah hikmat-bijaksana yang dibutuhkan oleh setiap orang.

Perubahan akan terus terjadi, dan hal itu tidak pernah bisa kita bendung. Bahkan, semakin hari perubahan terasa semakin cepat. Siapa tidak mau berubah, maka ia akan digilas oleh perubahan itu sendiri. Gereja pun demikian. Jika gereja tidak berubah, maka gereja akan ditinggalkan oleh anak-anaknya sendiri. Dengan demikian, keberadaan dan ministri atau pelayanan gereja harus terus ditransformasi. Hal ini sesuai dengan semangat reformasi gereja: ecclesia reformata semper reformanda, gereja reformasi yang terus menerus diperbarui.

Di masa pandemi ini kita sudah belajar bahwa bukan kontestasi yang dibutuhkan, tetapi kolaborasi. Saya bersyukur melayani di UK. Maranatha sekarang ini, karena bisa sedikit “berjarak” dari kehidupan harian lembaga gereja, dan belajar dari para akademisi. Saya semakin tercelihkan bahwa gereja dan universitas perlu bersinergi untuk membangun kehidupan publik demi bonum commune. Bahkan, kolaborasi itu mesti terus diperlus menjangkau komunitas-komunitas publik lain. Gereja tidak bisa melayani dunia/publik seorang diri. Demikian juga dengan Universitas. Pendeta tidak bisa sendiri, pun dosen dan akademisi. Sama seperti pemimpin yang butuh rakyat, vice versa rakyat butuh pemimpin. Kita harus bersinergi membangun kehidupan bersama, di mulai dari tanah air kita Indonesia, sebab di sinilah Tuhan melahirkan dan menempatkan kita.

Hari ini kita bersyukur juga atas jubelium 70 tahun PGI. Selamat untuk PGI dan umat Kristen Indonesia. Lembaga gereja ini terbentuk dalam dua spirit besar, yakni oekumenis dan nasionalis. Dari situ kita belajar bahwa spirit mengesa dari gereja-gereja berkelindan dengan semangat membangun bangsa. Keduanya saling melengkapi dan tidak bisa dilepas-pisahkan. Gerak oekumenis harus mewujud dalam kolaborasi gereja-gereja bersama seluruh kompenen anak bangsa untuk membangun rakyat dan negara Indonesia. Inilah yang disebut sebagai oekumene dalam aksi. Jadi, tidak cukup secara verbal kita berkata bahwa gereja itu tubuh Kristus yang esa.  Keyakinan iman itu harus pula terimplementasi dalam karya. Karena itu, spirit kerja sama yang terbangun di masa pandemi mesti kita teruskan di masa pasca pandemi, dan untuk setrusnya dan selamanya.

Dengan spirit kolaborasi itu, gereja-gereja harus semakin tangkas dan mengubah orientasi. Sama seperti Universitas, gereja bertugas untuk membangun manusia dan merawat kehidupan dalam semesta ciptaan Tuhan. Karena itu, fokus gereja adalah pengembangan sumber daya manusia. Di situ gereja perlu membangun kerjasama dengan Universitas. Kita mendamba lahirnya insan-insan yang tingi iman, ilmu, dan pengabdian. Karena itu, profil inilah yang harus menjadi fokus pelayanan gereja, bukan membangun gedung-gedung gereja yang megah. Dunia digital sekarang ini membuat tanpilan gedung yang megah kehilangan pesona dan arti. Maka, era digital ini menjadi momentum untuk kita kembali membangun manusia: warga jemaat dan warga masyarakat. Mereka tidak hanya membutuhkan ibadat ritual, mereka juga memerlukan nasi, kesehatan, dan pendidikan. Ke situlah gereja mesti berjibaku, berjuang bersama dalam suka-duka umat/masyarakat dengan karya-karya menisterial yang kontekstual dan transformasional.

Semua itu tidak mudah, tetapi pasti bisa! Sebab, hal itu bukan hanya cita-cita kita. Harapan  itu adalah mandat Allah kehidupan. Ia yang memanggil kita semua. Ia juga yang memanggil saya 11 tahun yang lalu. Dalam segala kerapuhan serta maju-mundurnya kehidupan saya dalam menunaikan pelayanan, jawaban yang saya ikrarkan dengan pikiran dan rasa yang campur aduk di kala itu masih terngiang jelas: “Ya, saya percaya, mengaku, dan berjanji.” Setelah 11 tahun berselang, janji itu masih saya pegang oleh karena anugerah-Nya. Situasi sekarang jelas berbeda dengan suasana 11 tahun lalu. Namun, janji penyertaan Tuhan tidak pernah berubah. Sayalah yang harus berubah, dan mungkin Anda juga. Kitalah yang harus belajar berubah, melakukan introspeksi dan revisi (bahkan mungkin revolusi?), serta aktif membangun kolaborasi untuk menghadirkan cinta-Nya dalam kehidupan.

Terimakasih Tuhan untuk penyertaan serta berbagai nikmat dan berkat-Mu. Terpujilah nama-Mu dan terangkatlah harkat manusia ciptaan-MU.

Penulis adalah pendeta GKP yang bertugas sebagai pendeta Universitasdi UK.Maranatha 

Merdeka Yang Bertanggung Jawab

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Galatia 5:1

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Kita panjatkan terus rasa syukur dan terima kasih kepada Allah. Seperti pada pagi ini, sebab kasih dan perlindungan-Nya kita alami.

Firman Tuhan diambil dari, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Galatia 5:1

Galatia 5:1

Saudaraku, salah satu yang dicari dan disukai manusia adalah kebebasan. Bebas berpendapat. Bebas beragama dan berkeyakinan. Bebas dari penyakit. Bebas dari aturan-aturan kaku. Dengan kebebasan itu, manusia bisa memenuhi hasrat terdalamnya. Manusia bisa berpendapat sesuai yang diyakininya. Bisa menjalani kehidupan keagamaannya tanpa takut dan terganggu. Bisa sehat berarti memungkinkan manusia beraktivitas tanpa mengalami hambatan fisik. Pendeknya, dengan kebebasan seperti hal di atas, manusia mengalami hidup yang utuh.

Beda dibandingkan posisi manusia yang tanpa kebebasan. Kita tidak akan merasa hidup nyaman jika dilarang keluar rumah. Jangankan bertahun-tahun, seminggu saja, niscaya pikiran dan jiwa kita terasa sumpek.

Seseorang yang dianjurkan dokter karena pertimbangan kesehatannya, lalu dinasihati tidak mengkonsumsi makanan tertentu. Pada praktiknya banyak yang melanggar. Sudah tahu kolesterolnya tinggi, tapi masih saja mengkonsumsi daging, udang, telur, dan makanan lain yang memicu kolesterolnya makin tinggi. Kenapa? Selain, karena makanan yang dilarang itu memang enak. Tetapi juga, larangan itu dianggapnya membatasi keinginan pribadinya. Dan itu berarti, merasa kebebasannya dikurangi.

Saudaraku, kebebasan sama dengan kemerdekaan. Lepas dari pembatasan pihak lain. Sedangkan orang yang kehilangan kebebasan atau kemerdekaan adalah budak. Budak merupakan sosok manusia yang hidupnya hanya mengikuti keinginan dan kemauan orang lain. Senang atau tidak senang mesti patuh. Suka atau tidak suka harus dijalani. Hidupnya tidak punya pilihan. Cuma satu, yakni memenuhi tuntutan orang lain.

Betapa menyenangkannya kemerdekaan buat manusia. Sebaliknya, betapa merananya hidup sebagai budak. Saudaraku, puji Tuhan, orang kristen adalah orang yang merdeka. Merdeka dari dosa. Kematian Kristus yang mematahkan belenggu perbudakan dosa. Jika kita tidak mengalami karya Kristus, kita diperbudak dosa. Artinya, kita patuh dan setia pada dosa. Tanpa daya bisa menolaknya. Sedangkan dosa itu akan membawa kita kepada maut. Sebab “upah dosa itu maut”.

Dengan posisi orang merdeka dan status yang tidak lagi diperbudak dosa, kita punya tanggung jawab. Apa itu? Hidup kita jangan semaunya. Mentang-mentang merdeka lalu seolah-olah apapun serba boleh. Orang kristen yang hidupnya tidak disiplin dengan keinginan Tuhan. Orang kristen yang tidak setia pada kehendak Tuhan. Jelas, bukan orang kristen sejati.

Orang yang demikian cuma menjadikan kekristenan sebagai baju. Kekristenan cuma penampilan luar. Orang kristen yang hidupnya masih menjadi budak dosa, adalah orang yang menciderai kemerdekaan yang Tuhan Yesus berikan.

Pagi ini, saya mengajak hidup dalam kemerdekaan. Jangan biarkan hidup kita hanyut pada rayuan dosa. Dosa itu menarik. Tidak heran dosa itu kerap sukses membawa manusia jatuh dalam pelukannya. Karena daya tariknya, dosa bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga. Karena daya tariknya, dosa bisa membuat masa depan orang muda terjerembab. Karena dosa, sebuah persekutuan bisa diceraiberaikannya. Karena dosa pula, karier gemilang seseorang terhempas lepas.

Kita Sepanjang hari ini, biarlah hidup yang penuh tanggung jawab yang kita lakukan. Ucapan yang tertata. Tidak melukai perasaan orang. Tindakan yang terkontrol, yang tidak mengecewakan sesama. Pikiran yang jernih, yang tidak merancangkan hal-hal buruk buat sesama. Dalam semangat tanggung jawablah kita bisa menampilkan diri di hadapan Tuhanlah, gaya hidup sesuai keinginan-Nya.

Kita berdoa, “ Tuhan, ajarlah apa yang kami lakukan penuh tanggung jawab buat-Mu dan sesama kami, sekecil apapun perbuatan kami.

Tuhan, kami berdoa buat kami yang beraktivitas hari ini. Dalam suasana hati penuh suka cita, kiranya berkat-berkat Tuhan terus bersama kami. Baik aktivitas membangun rumah tangga, karier maupun pelayanan. Semoga kasih-Mu menuntun terus perjalanan kami ke depan.

Kami menyerahkan pada-Mu opa-oma dan saudara-saudara kami yang kesehatannya terganggu, Hidupnya tengah bergumul dengan penyakit. Tuhan beri mereka kekuatan dan kesabaran. Berilah tenaga, jalan keluar, dan pemulihan.

Kiranya, hari ini, kami semua hidup dalam perlindungan-Mu yang ajaib. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Pengampunan Akhir Kepahitan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yesaya 40:1-2

Selamat pagi, bapak-ibu dan Saudaraku yang baik. Pengalaman bersama Tuhan senantiasa memberi kekuatan kepada kita. Karena saat kita lemah, Ia memberi kekuatan. Saat kita sedih, Ia menghibur kita. Saat kita mengalami ketidakpastian, Ia memberi kita pegangan. Pagi ini pun, kita merasa pengalaman indah dengan Tuhan, setelah istirahat malam, Tuhan memberi hari yang baru.

Firman Tuhan yang jadi landasan, Yesaya 40:1-2, “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, (2) tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya. “

Saudaraku, kita bisa membedakan berbagai rasa yang kita kenal. Ada rasa getir, manis, asin, tanpa rasa atau tawar. Atau ada rasa lain jarang disukai orang, yakni rasa pahit.

Apa saja yang pahit identik tidak enak. Tidak heran makanan atau minuman pahit tidak disukai. Termasuk, pengalaman-pengalaman yang diberi label pahit. Langka orang yang merindukannya.

Jika yang pahit itu berkaitan berupa minuman. Tentu solusinya mudah. Tambahkan gula, selesai. Rasa pahitnya akan berkurang atau hilang. Namun, bila berhubungan dengan kehidupan tentu tidak semudah penyelesaian seperti minuman tadi.

Di masa pandemik Covid-19, ada banyak pengalaman hidup, yang diberi label: kepahitan. Orang yang kena pemutusan hubungan kerja. Keluarga yang kehilangan sosok yang dicintai. Orang yang usahanya bangkrut. Orang yang gagal dalam usaha. Dan masih banyak contoh lain. Semua itu, digolongkan sebagai pengalaman pahit.

Saudaraku, Umat Tuhan juga mengalami apa arti sesungguhnya realita kepahitan. Ketika mereka dalam status orang buangan di negeri Babel. Hidup mereka bukan di tanah air sendiri. Secara ekonomi tidak sejahtera. Kebebasan merupakan hal mewah. Hidup dalam penguasaan bangsa lain. Pendeknya, hari-hari yang mereka jalani tidak ideal.

Yesaya 40:1-2, menyatakan kabar baru bagi Umat Tuhan. Kabar baik. Ada perubahan bahwa umat itu tidak lagi sedih oleh kepahitan yang selama ini membelit mereka. Mengapa? Karena Tuhan mengakhiri masa perhambaan.

Kita tahu mereka menjalani pembuangan ini sebagai bentuk hukuman Allah atas perbuatan dosa mereka. Kepahitan hidup mereka tidak bisa dipisahkan dari kekeliruan yang mereka perbuat. Kepahitan merupakan buah kegagalan sebagai orang beriman.

Allah menyatakan melalui Yesaya, sangsi telah dicabut. Pengampunan sudah diberlakukan. Dengan demikian kepahitan akan berakhir. Oleh sebab itu, hati umat Allah hendaknya terhibur. “Hiburkanlah- hiburkanlah umat-Ku”. Sekaligus jiwa mereka tenang.

Kepahitan yang berat telah dilewati. Rute kehidupan baru akan dijalani. Kembali ke Yerusalem mengecap hidup di negeri sendiri.

Saudaraku, setiap orang secara pribadi, setiap manusia secara kolektif pasti pernah mengalami kepahitan, disebabkan kegagalan dalam hidupnya.

Saudaraku, kita pasti tahu menara terkenal di kota Paris bernama menara Eifel. Pembuatnya bernama Gustave Eiffel. Ia juga yang membuat kontruksi patung Liberti di New York yang terkenal itu. Dan bangunan lain yang prestisius.

Ternyata, Gustave pernah gagal. Ia tidak berhasil membangun terusan Panama. Bukan hanya gagal, ia nyaris dijebloskan dalam penjara. Menandakan di antara pengalaman manis yang mampu diraih, terselip pula pengalaman pahit.

Yang perlu diapresiasi, kepahitan itu tidak membuatnya terpuruk selamanya. Kepahitan itu tidak menghalanginya untuk kemudian mampu berbuat karya lainnya.

Senafas dengan itu, perhatikan setiap orang yang belajar naik sepeda pertama kali. Pasti pernah jatuh. Tapi, yang penting bukan jatuhnya, melainkan bangun lagi meneruskan untuk mencoba kembali.

Saudaraku, pengalaman pahit bila diumpamakan badai. Suatu saat kelak akan berlalu. Masalah akan berakhir dan kepahitan akan berujung. Tidak ada badai yang tidak berhenti. Demikian juga badai kehidupan. Apalagi, kita melangkah bersama Tuhan. Kelak saatnya tiba, kita terhibur. Kita bersuka cita. Oleh sebab masalah berlalu, kehidupan baru yang lebih baik akan dihadirkan Tuhan.

Kita berdoa, “ Tuhan, kami yakin berjalan bersama-Mu kelak wabah pandemik ini akan berlalu. Kesulitan suatu saat berhenti.”.

Seluruh doa ini, kami naikkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.