Gereja Kristen Pasundan mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, kepada seluruh umat muslim. Damai sejahtera selalu ada di antara kita semua.
Year: 2020
Pemberian Bantuan Mission 21
Ramah Kepada Anak
Oleh Pdt. Supriatno
Bacaan: Markus 10:14
Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Sungguh, cinta kasih Tuhan itu berkesinambungan, dari semalam hingga kini tetap berlangsung. Berbahagialah kita yang mendapat bagian pemeliharaan-Nya.
Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”
Markus 10:14
Saudaraku, dalam setiap masyarakat ada saja bagian dari masyarakat itu yang disepelekan. Malah lebih dari itu dianggap rendah. Di masyarakat Israel anak-anak dan perempuan diposisikan tidak setara dibandingkan laki-laki dan yang sudah dewasa. Itu bisa terlihat pada sikap para murid Yesus. Mereka menolak para orang tua yang mengantar anak-anaknya berjumpa dengan Tuhan Yesus. Sementara itu, ada orang tua yang rindu jamahan tangan Tuhan Yesus secara langsung atas anak-anaknya.
Sedangkan murid- murid Tuhan Yesus sebaliknya, tidak hanya menolak bahkan marah-marah kepada mereka. Mereka bisa saja mempunyai cara berpikir seperti masyarakatnya. Mereka produk budaya pada masanya. Atau juga, menilai anak-anak membawa kegaduhan. Berisik. Padahal, menurut mereka, Tuhan Yesus membutuhkan suasana tenang dan serius.
Dengan sikap para murid seperti itu. Para murid menciptakan kehadiran Tuhan Yesus hanya buat kalangan terbatas. Bersifat eksklusif. Hanya untuk kalangan tertentu saja. Mereka membuat tembok pemisah antara Tuhan Yesus dan anak-anak. Keterpisahan yang mereka ciptakan bukan hanya mencakup fisik, tetapi sekaligus juga cinta kasih Tuhan Yesus.
Itu merupakan kekeliruan fatal. Sebab, bukankah Tuhan Yesus datang untuk semua orang. Dia datang untuk manusia segala umur, semua kalangan, segala suku-ras, baik orang kaya maupun miskin, orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lain. Termasuk jenjang usia, tua-muda maupun anak-anak dan orang dewasa. Kasih Tuhan Yesus Maha Tak Terbatas.
Karena itu, sikap para murid tidak sejalan dengan sikap Tuhan Yesus yang merangkul, memeluk dan memberi kehangatan cinta buat semua manusia, tanpa dibatasi tua-muda. Anak-anak pun punya tempat istimewa.
Dalam Kerajaan Allah, terdapat kasih, keadilan, kebenaran, para anak punya tempat untuk mengecapnya. Sehingga segala bentuk penyisihan, penolakan dan tindakan yang menjauhkan cinta kasih Allah atas anak-anak bertentangan dengan misi Tuhan Yesus. Tuhan Yesus hadir juga buat mereka. Karena itu, anak-anak harus diproteksi, dirangkul dan mendapat hak menerima kasih Allah yang sama.
Firman Tuhan begitu jelas dan gamblang bagaimana semestinya kita memperlakukan anak-anak. Masyarakat hendaknya bersikap ramah terhadap anak-anak. Hak-hak sebagai anak tidak boleh dirampas dari mereka. Kita masih melihat anak-anak di jalan. Waktu yang seharusnya berada di sekolah, mereka habiskan waktu untuk meminta-minta.
Sedihnya, ada orang dewasa di balik itu yang memanfaatkannya. Termasuk bayi-bayi yang digendong perempuan yang belum tentu ibunya. Tapi diperalat agar efektif menggugah rasa kasihan. Yang ujung-ujungnya anak atau bayi itu jadi korban niat buruk orang dewasa tersebut.
Masih banyak anak-anak Indonesia yang dipisahkan dari haknya. Ada yang jadi pekerja kasar padahal usianya harusnya di usianya energinya untuk sekolah dan waktu bermain yang sehat. Ada juga, anak-anak korban kekerasan. Termasuk kekerasan seksual. Mereka rentan. Rapuh secara fisik maupun sosial.
Sebelum masa pandemik Corona-19, banyak anak-anak yang menghabiskan waktu hidupnya di jalan-jalan. Karena memang mereka tidak tahan tinggal di rumah orang tuanya yang sumpek, sempit dan berdesak-desakan. Percaya atau tidak, di suatu daerah di bagian ibu kota ini, sebuah rumah petak berukuran 4×4 meter dihuni beberapa keluarga. Bagaimana anak-anak bisa nyaman tinggal di rumah seperti itu? Bagaimana bisa membaca buku? Bagaimana tidur dengan nyaman? Akhirnya, mereka keluar dari kesumpekan dengan mencari ruang gerak di luar rumah.
Kita sebaiknya dengan segala kemampuan yang ada pada kita. Didukung semangat dan komitmen, kita menjadikan dunia yang ramah anak. Keluarga yang ramah anak, gereja yang ramah anak dan masyarakat yang juga ramah buat anak-anak. Ciptakanlah ‘surga kecil’ buat mereka, bukan ‘neraka besar’ yang menderitakan mereka.
Kita ciptakan rumah kita nyaman dihuni anak-anak. Kita ciptakan Gereja yang membuka pintu lebar- lebar buat anak-anak, sehingga mereka bisa bertemu Tuhan Yesus. Rawatlah mereka agar mencintai Tuhan dan gereja-Nya. Sehingga tunas kesetiaannya bukan lantaran didorong-dorong, apalagi dipaksa-paksa. Bukankah mereka kelak menjadi masa depan gereja juga?
Kita berdoa, “Tuhan buatlah kami mencintai sosok anak-anak. Mengasihi dengan tulus dan menjaga hak-haknya dengan serius.
Kami juga berdoa buat para Oma-opa, para lansia yang kondisi tubuhnya memerlukan topangan kekuatan dari Tuhan. Kiranya mereka mampu bersabar di dalam Tuhan. Dan di akhir pekan ini mereka bersuka cita hatinya.
Berkati kami semua bersama keluarga kami agar akhir pekan ini kami mencintai dan ramah terhadap anak-anak, seperti Kristus juga untuk mereka. Dalam nama Kristus, kami berdoa. Amin.
Peka Terhadap Harap
Oleh Pdt. Supriatno
Bacaan: Matius 20:32-34
Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap mempercayai kita menjalani hidup di hari baru. Patutlah kita memuji nama-Nya.
Firman Tuhan hari ini diambil darI Matius 20: 32-34, Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.”
Matius 20:32-34
Saudaraku, orang yang sibuk kerap lebih berkonsentrasi pada dirinya. Konsekuensinya, sengaja atau tidak mengabaikan yang lain. Perhatian atas yang lain menjadi berkurang. Dalam keluarga, di mana ayah dan ibunya sibuk, apalagi super sibuk, maka keluhan muncul dari anggota keluarganya. Apa sebabnya? Anak-anaknya merasa banyak ditinggalkan dan kurang mendapat perhatian. Bahkan, tidak sedikit kebahagiaan perkawinan terganggu oleh sebab kesibukan yang kebablasan. Kesibukan menyebabkan perhatian dan kepekaan atas yang lain menurun.
Pada sisi lain, ada pihak yang sesibuk apapun, masih peka dan perduli atas orang lain. Ia punya kemauan mendengar suara kerinduan orang lain. Dalam hal ini diteladankan Tuhan Yesus. Ia pernah menyatakan “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Artinya, saking sibuknya, Dia tidak punya waktu istirahat buat kebutuhan pribadi.
Lihatlah, kesibukan tidak mengalahkan sikap peka atas yang lain. Jelas, Tuhan Yesus sangat sibuk tidak perlu disangsikan lagi. Kendati demikian, perhatian-Nya atas orang buta tetap terbuka. Ketika Tuhan Yesus dan murid-Nya berada di suatu perjalanan bagaimana Ia tetap perduli atas teriakan orang buta yang meminta pertolongan.
Kesibukan tidak menghalangi Tuhan Yesus menghentikan langkah-Nya buat orang-orang buta itu. Lalu, Ia mengajukan pertanyaan apa keinginan mereka agar diperbuat Yesus. Segera mereka mengutarakan keinginan terdalamnya, ingin melihat. Ya, sudah lama orang- orang buta itu hidup dalam kegelapan.
Saudaraku, selaku kaum tuna netra, orang buta pasti punya kerinduan. Yakni bisa menatap seperti apakah dunia ini secara visual. Bukan dunia kata orang, melainkan dengan melihat memakai mata sendiri. Kegelapan selama ini menjadi rutinitas sehari-hari. Mereka ingin bebas dari kungkungan kegelapan.
Yesus yang lewat merupakan kesempatan emas, momentum mereka bisa keluar dari penderitaan panjang selama ini. Peluang ini tidak boleh disia-siakan. Sekarang atau tidak sama sekali (it’s now or never). Peluang ini tidak boleh berlalu tanpa dampak positif bagi masa depan mereka.
Karena itu, mereka gigih berteriak. Kesempatan dan peluang emas harus dimanfaatkan. Tidak heran walau orang banyak menilai teriakan-teriakan mereka mengganggu, mereka tidak perduli. Mereka ngotot berseru-seru memohon belas kasihan Tuhan Yesus. Tidak menggubris teguran orang banyak.
Bagi orang-orang buta itu, inilah waktu karunia Tuhan telah datang. Yesus lewat adalah momen pembebasan dari penderitaan. Itu keyakinan kuat para orang buta itu. Dan, benar. Ternyata gayung bersambut. Yesus peka dengan suara mereka. Yesus berhenti, mendengar lalu mewujudkan impian yang telah lama bersemayam pada diri mereka. Yesus berkenan menyembuhkan. Terbukalah mata mereka. Kini, mimpi itu jadi kenyataan di tangan sosok yang perduli dan punya kuasa mewujudkannya. Sosok itu adalah Yesus, Tuhan kita.
Saudaraku, perjalanan kita ini adalah perjalanan bersama Tuhan yang peka dan perduli atas suara kita. Kita tidak perlu berteriak, seperti dua orang buta itu. Dengan berbisik saja dalam doa, Ia berkenan mendengar suara harapan kita. Mimpi dan harapan kita memang bisa jadi ada yang belum menjadi kenyataan. Tapi, siapa yang bisa menyangkali bahwa sungguh sering Tuhan mendengar dan menjawab bisikan suara harapan kita. Sampai kini dan di sini, bagaimanapun Tuhan tetap perduli atas suara kita.
Jika ada orang tua, anak-anak, pasangan hidup, saudara sekandung dan sesama pada umumnya, meneriakkan suara harapan mereka, dengarlah. Jangan justru mengatakan, “saya sibuk, jangan sekali-kali saya diganggu urusanmu.”
Hendaknya, saat mereka mengutarakan kebutuhan utama yang telah lama menggelisahkan mereka, bukalah telinga kita dan dengarkan dengan sungguh-sungguh dan sabar.
Syukur dan puji Tuhan bila kita telah memelihara kepekaan dan keperdulian kita. Bagaimanapun, dunia sekarang adalah dunia yang riuh oleh kebisingan suara. Banyak suara yang lemah dan hanya berupa bisikan terabaikan. Suara orang yang susah, kesepian, frustasi, dsb.
Inilah, momen panggilan. Yaitu kita dipanggil untuk pasang telinga kita lebar-lebar. Suara demikian mendambakan adanya hati yang peka dan jiwa perduli yang siap memperhatikan. Di saat ada orang yang butuh didengar, semoga di sanalah kita lewat. Lalu Anda dan saya mau mendengar dan berjalan bersama mereka, sehingga mereka bangkit dari belenggu keterbatasan.
Kita berdoa, “Tuhan berilah kami hati yang peka. Kiranya kata2 kami mencerminkan seorang yang perduli atas yang lain. Sehingga keluarga, teman, sesama kami menjadi semangat oleh karena mereka mendengar ucapan kami yang penuh perhatian.”
Kami pun berdoa, Tuhan, ajar dan kuatkan tekad kami untuk membahagiakan orang terdekat yang kami kasihi. Kami ingin berjalan terus di jalan Tuhan walau ada rintangan yang mencoba menghalangi.
Hari ini, perkenankan kami untuk mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Jauhkan kami dari mara bahaya dan kecelakaan. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.
Menjadi Gereja Tua Baru
Oleh Pdt. Hariman Pattianakotta
Covid-19 yang mengguncang dan menggebuk manusia di berbagai belahan dunia berdampak pada banyak instansi dan aspek. Covid-19 bukan hanya menjadi masalah kesehatan, tetapi masalah kehidupan, sebab hampir semua aspek terdampak.
Gereja adalah salah satu instansi atau persekutuan yang terkena imbas Covid-19. Ibadat-ibadat ragawi yang biasa dilakukan secara terpusat di gedung-gedung gereja, kini dilakukan di rumah masing-masing. Yang paling fenomenal adalah ibadat on line atau daring. Covid-19 mempercepat gereja-gereja masuk ke dalam kehidupan masyarakat industri 4.0. Ibadat atau persekutuan yang dilakukan secara daring dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi telekomunikasi itu, kini mulai dinikmati sebagai new normal. Anak-anak milenial, khususnya mereka yang hidup di perkotaan, mungkin lebih suka dengan model ibadat dan persekutuan yang demikian.
Jika kita mengikuti ibadat yang berlangsung secara virtual atau daring, sebenarnya tidak ada yang berbeda secara signifikan dengan model ibadat yang biasa dilakukan pada masa sebelum pandemi. Ibadat ragawi di gedung gereja hanya dipindahkan ke dalam dunia virtual, yang tentu meniadakan kontak fisik. Namun, berbagai unsur ibadat tetap sama. Firman yang ditaburkan juga sama. Lantas, pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah pasca Covid-19 ibadat daring ini bisa tetap dipertahankan?
Menurut saya, ibadat daring ini bisa terus dilanjutkan sebagai new normal, namun bukan untuk menggantikan ibadat ragawi yang dilakukan di gedung gereja. Siaran langsung bisa tetap dipertahankan bagi mereka yang tidak sempat datang beribadat di gedung gereja karena alasan-alasan tertentu, seperti sakit, usia lanjut, atau sedang berada di luar kota. Lebih menarik lagi, ibadat ini bisa mengatasi kesulitan jemaat-jemaat yang sukar membangun gedung gereja, misalnya karena tidak mendapat ijin dari lingkungan dan sulit menembus birokrasi yang kadang membebek pada desakan para perusuh dan pengganggu kebhinekaan.
Dalam komunitas Kristen perdana yang sulit beribadat karena dihambat, mereka beribadat di rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, ada yang beribadat di gua-gua dan katakombe atau kuburan. Mereka bertemu beberapa saat, membaca firman dan berdoa, kemudian kembali ke dalam kehidupan sehari-hari untuk melakukan ibadat yang sejati.
Dengan kecanggihan teknologi di masa sekarang ini, kita bisa bersekutu bersama, berdoa dan membaca Alkitab untuk saling meneguhkan, kemudian kembali ke dalam ibadat harian. Dalam ibadat harian itu, pasca pandemi tentu saja, kita tetap bisa saling berkunjung, saling peduli dan berbagi. Sebab, gereja itu bukan persekutuan seminggu sekali. Persekutuan gerejawi itu tentang hidup bersama (koinonia) di tengah suka dan duka yang dijalani dalam ikatan kasih sayang Allah Tritunggal. Inilah arti esensial dari persekutuan kristiani.
Jadi, kalau kita beribadat di gedung gereja seminggu sekali tanpa pemahaman yang esensial dan penghayatan akan makna persekutuan itu, maka tidak ada artinya ibadat yang dilakukan. Ibadat tersebut tidak ada ubahnya dengan kerumunan yang ramai sesaat, lalu lenyap dalam keseharian.
Ibadat ritual, baik yang dilakukan dan diikuti secara ragawi atau virtual harus semakin meneguhkan orang percaya untuk menghidupi persekutuan, pelayanan, dan kesaksian dalam hidup harian. Jadi, bukan soal forma atau bentuk/cara, tetapi tentang esensi dan dampak dalam hidup sehari-hari. Itu berarti, ibadat ritual harus terhubung dan saling menguatkan dengan ibadat harian, seperti refleksi dan aksi yang tidak bisa dilepaskan satu dari yang lain. Tanpa ibadat harian, ibadat ritual akan garing. Vice verca, tanpa ibadat ritual, yang harian pun akan kering.
Dalam ibadat harian, kita menerjemahkan firman dalam laku hidup sehari-hari melalui kata dan perbuatan. Kita memperlihatkan kasih, kepedulian, kebenaran, dan keadilan bersama dan untuk sahabat, tetangga, bahkan orang asing. Sama seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang murah hati.
Old Normal Menjadi New Normal
Satu hal lagi yang menarik di masa Covid adalah tindakan-tindakan filantropis. Gereja-gereja tidak asing dengan tindakan kedermawanan membagi-bagikan sembako, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan lain. Aksi filantropis itu dikenal dengan sebutan diakonia. Sejatinya, diakonia bukan tindakan sewaktu-waktu dari gereja, tetapi identitas dari gereja itu sendiri, sebab Allah di dalam Yesus Kristus hadir sebagai Diakonos Agung. Karena itu, jika gereja menyebut Yesus sebagai Guru dan Tuhan, maka karya pelayanan diakonal Yesus Kristus itu tersemat sebagai identitas yang harus terus dilakukan gereja dalam karya-karya ministerial di sepanjang waktu dan zaman.
Pandemi Covid-19 kemudian memaksa gereja-gereja untuk memikirkan dan melakukan karya diakonia secara lebih bersungguh-sungguh. Sebab, di situ terletak “keselamatan” bersama. Diakonia yang dilakukan tidak terbatas pada kehidupan internal saja, tetapi terbuka secara eksternal. Dalam tindakan diakonia, gereja membagi kasih Kristus yang tak terbatas bersama dan untuk sesama.
Lebih jauh, karya diakonia pun tidak terbatas pada tindakan karitatif yang bersifat jangka pendek, tetapi juga terarah ke depan untuk jangka panjang. Karena itu, diakonia gereja harus pula bersifat reformatif dan transformatif. Artinya, ia menjadi karya yang memberdayakan dan membebaskan. Dan di situ, gereja kemudian dapat berperan sebagai sentra-sentra ekonomi dan bertindak layaknya lembaga-lembaga advokasi. Kalau kita menilik sejarah, hal-hal ini bukan barang baru. Tradisi di banyak gereja memperlihatkan karya-karya semacam itu di berbagai tempat dan waktu.
Tradisi dan kebiasaan tersebut kini kita “temukan” lagi urgensinya di masa Covid-19. Situasi ini mendorong kita untuk memikirkan dan mempraktikkannya secara lebih serius, sebab dampak Covid menerpa hampir seluruh aspek kehidupan, seperti ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Maka, kita “dipaksa” oleh kondisi ini untuk membuat old normal menjadi new normal sesuai dengan kebutuhan konteks masa kini.
Menjadi Gereja Tua Baru
Bertolak dari kebiasaan dan tradisi yang selama ini sudah dilakukan oleh gereja-gereja dengan kadar dan keterbatasan yang ada, saya merasa optimis bahwa gereja akan lebih mampu menghadapi situasi pandemi dan pasca pandemi nanti. Apalagi, untuk gereja-gereja yang selama ini disebut dengan istilah gereja tua, atau gereja mainstream, atau gereja tradisional. Mengapa? Alasannya adalah karena gereja-gereja tua ini mempunyai tradisi panjang yang sudah teruji dan terus berkembang di dalam sejarah.
Diana Butler Bass dalam bukunya Practicing Congregation mengemukakan bahwa tradisi berperan besar dalam proses revitalisasi sebuah jemaat atau gereja. Tradisi itu ia ibaratkan sebagai dasar, tempat di mana kita berdiri. Untuk bisa melangkah lebih jauh dan melakukan hal-hal yang bermakna, kita selalu membutuhkan dasar. Akan tetapi, tradisi sebagai dasar itu harus dilihat sebagai sesuatu yang bisa terus diperbarui. Tradisi bukan seperti deposito bank yang tidak bisa disentuh oleh para pewarisnya. Menurut Bass, tradisi adalah sesuatu yang dinamis, yang dapat diperjumpakan dengan tradisi dari gereja lain, bahkan agama lain, dan hal tersebut akan menghasilkan sesuatu yang baru, yang lebih imaginatif dan indah. Maka, panggilan kita adalah terus menerus memperbarui tradisi, sehingga tradisi lama akan terus menjadi baru. Old normal menjadi new normal.
Di situlah saya melihat bahwa dengan imajinasi dan kreativitas, gereja-gereja tua akan bisa melewati pandemi ini dan menjadi gereja tua baru. Gereja-gereja ini memiliki praktik ritual yang kuat, namun mereka tidak boleh menjadi ritualisme. Ritual itu justru harus menjadi api yang memanaskan gereja dan orang Kristen untuk berkarya dalam hidup sehari-hari. Maka, ibadat yang dilakukan secara virtual pun tidak boleh sekadar menambah jumlah ibadat yang baru, tetapi menawarkan api semangat yang baru bagi orang Kristen untuk berkarya secara konkret dalam kehidupan publik.
Dengan demikian, praktik diakonia yang lekat dengan tradisi gereja mesti diterjemahkan sebagai wujud ibadat publik atau ibadat sosial, sehingga peran gereja di masa dan pasca Covid akan semakin dirasakan. Ibadat publik ini tidak kalah penting dengan ibadat ritual. Mereka setara, dan dilakukan sebagai cara gereja mengakui Yesus Kristus, Sang Diakonos Agung, sebagai Guru dan Tuhan. Di situlah gereja-gereja menuturkan cerita mulia, cerita Tuhan Yesus dan cinta kasih-Nya dalam kata dan perbuatan. Cerita tentang kasih yang selalu mengalir tanpa pernah bisa dibendung oleh kekuatan dan kuasa apapun, termasuk oleh birokratisme dan institusionalisme gereja.
Di masa Covid-19 ini, justru kita sedang diingatkan oleh kasih Tuhan yang mengalir itu, sekaligus diperbarui oleh-Nya untuk tidak menjadi gereja tua yang lamban dan stagnan karena ditawan oleh beban-beban administrasi dan birokrasi. Era masyarakat industri 4.0 ini menyediakan bentuk-bentuk baru komunikasi yang lebih casual, cair, tangkas namun tepat sasaran. Kirbat baru komunikasi ini tentu lebih cocok untuk menampung anggur baru di masa Covid dan setelahnya.
(Penulis adalah Pendeta Universitas Kristen Maranatha, Bandung)