Identitas Nyata Melalui Perbuatan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah “Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” Kisah Para Rasul 11:26

Saudaraku, kita hidup melekat dengan identitas. Profesi bisa menjadi identitas. Saya pendeta. Anda guru. Bapak Anu bekerja sebagai motivator. Itu semus identitas. Demikian juga agama termasuk identitas yang dimiliki seseorang. Bagaimanapun, identitas menjadikan kita tahu siapa kita dan apa yang seharusnya kita kerjakan.

Nama kristen adalah identitas. Dari mana berawal? Di kota Antiokhia sebutan orang kristen muncul pertama kali. Sebuah kota di tepi pantai masuk wilayah negara Suriah saat ini. Latar belakang mereka bukan orang Yahudi. Tapi ada yang dari Siprus, Yunani dan Kirene, Libya. Boleh dikatakan pengikut Kristus ini merupakan perkembangan baik yang tidak terduga.

Maka, Gereja induk Yahudi di Yerusalem mengutus Barnabas ke Antiokhia. Mereka mendengar ada orang-orang yang percaya kepada Kristus. Barnabas pergi ke sana. Tujuannya agar orang-orang baru percaya ini didampingi, dan mereka tetap setia.

Penduduk kota Antiokhia yang mayoritas bukan kristen, melihat orang-orang itu melakukan praktik keimanan yang berbeda. Mereka tekun mengikuti bimbingan Barnabas selama setahun. Barnabas sendiri orang baik dan penuh Roh Kudus. Ia menyambut persekutuan ini dengan suka cita.

Jadi, kesetiaan iman yang kemudian melahirkan label identitas orang kristen. Selain itu, mereka juga orang-orang yang murah hati. Ketika bahaya kelaparan melanda para pengikut Kristus di Yerusalem, mereka tanggap. Menyingsingkan lengan baju dan membantu secara finanasial.

Saudaraku. Sementara itu, mereka tahu resiko menjadi pengikut Kristus. Secara jumlah merupakan persekutuan yang kecil. Dan terlebih dari itu mengalami penganiayaan atau persekusi.

Dengan demikian, saat kita melekatkan identitas sebagai orang kristen pada diri kita. Itu tidak semata-mata karena hal simbolis, seperti antara lain: kalung salib yang dikenakan, penyebutan dalam KTP, atau hiasan rumah, dll. Namun ada yang lebih utama, atau esensial. Yaitu praktik kesetiaan dan semangat kemurah hatian dalam kehidupan beriman. Kita dikenal dan memperkenalkan diri dengan “buahnya”. Dalam hal ini, perbuatan terpuji.

Apa artinya kita menyebut diri orang kristen, tapi praktik hidupnya jauh dari esensi atau inti kekristenan? Apa artinya gembar-gembor menonjolkan simbol atau lambang kristen, sedangkan perbuatannya menodai kekristenan? Kekristenan adalah identitas yang nyata dari praktik hidup. Dalam hal ini orang yang mempraktekkan nilai: setia, penuh antusias, murah hati, suka cita dan tetap tegar. Dan itu semua diwujudkan oleh orang kristen di Antiokhia.

Semoga, kita mampu menyandang identitas kekristenan dengan sikap dan perilaku yang senafas dengan “jiwa” kekristenan. Sehingga orang-orang di jaman ini melihat kita sebagai orang kristen sejati. Sebab sebagai orang yang punya praktik hidup terpuji. Tuhan memampukan kita.

Kita berdoa, Tuhan, kami bersyukur kebaikan-Mu menjadi bagian sehari-hari hidup kami. Kami adalah kawanan kecil, namun kiranya mampu menjadi murid-Mu yang berkualitas. Jadikan kami orang kristen yang sejati. Kami ingin memuji-Mu setulus hati.

Kami berdoa agar apa yang kami alami hari ini, kiranya kami jalani bersama-Mu mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu.

Tuhan, semoga yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya kami bisa berbagi kebaikan dengan sesama kami hari ini.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Kiranya dengan beraktivitas kita menjadikan lebih berarti.

Sapa Tanda Cinta

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya kepada kita, keluarga dan Jemaat kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (2) dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu”. Filemon 1:1-2

Saudaraku, kita hidup saling bertegur sapa. Seperti misalnya, “selamat pagi. Apa kabar?”. Hal itu kita lakukan sepanjang hayat masih dikandung badan. Dengan kata lain, sepanjang hidup kita. Ada pun sapaan bukan sekedar “ say hello”, ucapan untuk sopan santun semata- mata. Bukan pula sekedar basa-basi. Sapaan itu menandakan adanya relasi hangat yang terus terjaga dan sikap saling hormat.

Seorang anak mengirim pesan whattsapp berisi sapaan buat ibu atau bapaknya. Itu sesungguhnya ungkapan perhatian yang menghangatkan hati orang tuanya. Orang tua merasa anaknya tetap dekat, meski bisa jadi tidak tinggal serumah.

Seseorang yang tidak saling menyapa dengan sesamanya, bahkan dengan anggota keluarganya sendiri, tanda bahwa relasinya sedang dingin. Saling diam memperlihatkan adanya relasi sedang buruk. Bagaimanapun praktik tegur sapa mengandung arti yang dalam.

Rasul Paulus, posisinya berada di balik jeruji penjara sebagai napi. Sendiri dan sepi. Meskipun demikian, lewat surat dia menyapa para sahabat pelayanannya. Ia menyapa Filemon, Afpia dan Arkhipus. Dengan tindakannya, maka relasi di antara mereka tetap terpaut dan terjaga. Satu sama lain tetap terhubung.

Mereka sebenarnya berada di tempat dan situasi saling berbeda. Rasul Paulus tengah di penjara menjalani hukuman, sedangkan teman-teman pelayanannya berada di alam bebas. Namun posisi dan lokasi yang berbeda dan situasi yang berlainan, terjembatani oleh sapaannya.

Di tengah kesibukan masing-masing, sapaan menciptakan ruang bagi mereka keluar sejenak dari keasyikan diri sendiri. Keluar melihat yang lain.

Saudaraku, semakin kuat tingkat sapaan antar sesama, baik itu di keluarga, gereja dan di masyarakat, mencerminkan rasa hormat satu sama lain. Jika kita berpapasan dengan orang yang tidak kita kenal saat jalan pagi, lalu orang itu menyapa kita, “selamat pagi”. Kita merasa senang. Kita berasumsi dia menghormati kita. Meski, sekali lagi kita tidak kenal sama sekali orang itu.

Sebaliknya, suatu keluarga, masyarakat ataupun kehidupan gereja yang kehilangan sapaan satu sama lain. Maka, ketiganya kehilangan nutrisi yang dibutuhkan sebuah kehidupan bersama. Jika Anda memasuki sebuah ibadah gereja, Anda duduk di antara anggota jemaat lain. Dan di sana yang ada suasana saling diam. Tidak ada sapaan melalui bahasa tubuh, seperti tatapan mata yang hangat. Tidak ada senyum tersungging. Atau tidak ada ucapan selamat apakah selamat pagi atau selamat siang yang terungkap. Saya yakin, Anda merasa ada yang hilang. Kita merasa ada relasi yang hambar. Begitu Anda pulang, pulang dengan tanpa membawa kesan manis yang terrekam.

Saudaraku, berkaitan dengan itu, pagi ini sapalah Allah. Doa merupakan sapaan nyata kita kepada Allah. Ucapan kata “syukur dan terima kasih Tuhan “, lahir dari hati kita yang penuh hormat dan merasakan kehangatan atas kehadiran-Nya.

Jangan lupa begitu bangun sapalah orang di rumah. Sapalah ayah-ibu, anak, saudara-saudara, termasuk asisten rumah tangga. Saya yakin dengan sapaan, hawa kehangatan dan semangat hadir dalam rumah kita. Aura rasa hormat memancar dari rumah kita. Bandingkan, bangun dengan diam. Begitu buka mulut isinya instruksi, harus bikin kopi, bikin sarapan, dsb. Atau sederet ucapan panas terdengar di telinga. Bandingkan, begitu bangun suara bernada tinggi menanyakan benda yang dicari dan tidak berhasil ditemukan. Pasti hawa tidak nyaman menerobos suasana rumah.

Sapaan itu gratis. Tidak butuh biaya dan tidak butuh tenaga. Yang dibutuhkan hati yang punya cinta. Menyapa itu langkah sederhana menciptakan awal untuk berbahagia. Rasul Paulus menyapa karena punya cinta, dan menciptakan rasa bahagia di kalangan para sahabatnya.

Maka, mari begitu kita bangun ucapkan, “Selamat pagi”. Pendek dan sederhana sapaan demikian. Syukurlah jika Anda sudah kerap mempraktikkannya. Dan lebih bersyukur, sapaan seperti itu menjadi budaya dan kebiasaan dalam keluarga, masyarakat dan gereja kita.

Kita berdoa, “ Tuhan, karuniakan kami untuk selalu menyapa-Mu. Kami merasa dekat dengan Engkau. Dengan Engkaulah kami telah dan akan terus merasakan keindahan kebaikan-Mu. Demikian juga dengan sesama kami, kami membangun kehidupan yang saling menyapa.

Kami serahkan hidup kami di hari Rabu ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Jauhkanlah kami dari bahaya apapun. Kuatkan tubuh dan jiwa kami. Doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Selamat beraktivitas di rumah saja.

Bertolong-tolonganlah

Oleh Pdt. Supriatno

Hari baru telah tiba. Udara segar, cuitan burung dan tubuh yang segar sebagian berkat yang kita rasakan sebagai karunia Tuhan Allah. Selamat pagi seluruh Saudaraku yang baik.

Mengantar aktivitas hari ini firman Tuhan diambil dari, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Galatia 6:2

Saudara, ada seorang ibu yang tengah mengeluh kepada kawan bicaranya. Dia menyatakan bahwa belakangan anaknya yang memasuki masa pubertas sering membantah jika ia menasihatinya. Lebih banyak diam di kamar, dan banyak waktu dihabiskan untuk chating, atau ngobrol dengan kawan-kawannya lewat whatt app. Kawan bicaranya menyimak dan mendengar dengan seksama. Sesekali bertanya, dan mencoba menghibur dan menguatkan. Akhirnya, setelah sekian waktu percakapan itu berakhir. Wajah perempuan yang awalnya keruh, berubah lebih ceria. Mereka kemudian berpisah dengan memperlihatkan wajah lebih cerah.

Itu sebuah ilustrasi sebuah beban yang tengah dihadapi seseorang. Sedangkan kawan bicaranya berhasil berperan meringankan beban yang tengah ditanggung sahabatnya. Dengan mendengar curhat sahabatnya, menyimak dengan ikut merasakan suasana hati sahabatnya (empati), dan memberikan tip-tip nasihat bagaimana menghadapi perkembangan anak remaja. Sesungguhnya, itu merupakan sebuah bentuk pertolongan.

Pertolongan banyak ragamnya. Tindakan mendengar sebuah keluhan dengan sepenuh hati, menuntun seorang sepuh menyebrang jalan yang padat kendaraan, mengambil over tugas teman sekantor yang tidak masuk karena sakit, mengunjungi orang sakit dan menghiburnya, sampai mentraktir makanan buat teman yang tidak sempat sarapan, itu sederet bentuk tindakan yang bernama menolong. Jika kita mau menginventarisasi lagi, masih banyak yang bisa disebutkan dan juga bisa dilakukan. Dari bentuk pertolongan sederhana hingga bentuk pertolongan yang luar biasa.

Kita hari ini bisa saja pada posisi menolong orang lain, tetapi siapa tahu pada kesempatan lain kitalah yang berada pada posisi yang butuh ditolong. Mengapa? Karena dalam hidup tidak semua hal dapat kita kerjakan sendiri. Oleh sebab itu siapapun memerlukan orang lain. Seorang konglomerat yang hidupnya bergelimang harta dan serba lengkap, pasti dia juga tetap membutuhkan orang lain. Atau, seorang presiden sekalipun, pasti ada momen-momen beliau butuh kehadiran dan pertolongan orang lain.

Ajakan firman Tuhan karena itu sangat tepat, bahwa kita musti hidup saling tolong menolong. Saling give and take, memberi dan menerima. Ajakan firman Tuhan ini supaya, pertama, kita peka atas orang lain yang sedang menanggung beban. Kita sadar kemampuan manusia, siapapun dia, ada batasnya. Di situlah kita bisa hadir dan meringankan.

Kedua, kita jangan sombong. Sombong bahwa seolah-olah kita tidak perlu orang lain. Siapa yang tahu, jika pada suatu saat ban mobil atau motor yang kita kendarai bocor. Tidak mungkin kita dorong sendiri. Kita butuh pertolongan dari luar diri kita.

Saya dan pasti Anda juga pernah menjenguk orang sakit. Kita bisa melihat, sekaya apapun dia, sepintar apapun dia, sekuasa apapun dia, kalau tergeletak di ranjang rumah sakit, orang itu tidak bisa apa-apa. Dia perlu orang lain. Jadi, kita tidak boleh tinggi hati.

Ketiga, praktik bertolong-tolongan adalah memenuhi hukum Kristus. Itu norma orang beriman dan merupakan suatu panggilan bagi kita untuk memenuhinya.

Semoga ketiga hal di atas menafasi kegiatan kita dalam berinteraksi dan hidup bersama orang lain. Jangan hidup seperti ungkapan orang Betawi, ” elu-elu, gue-gue”. Hidup yang amat individualistik. Sepatutnya, kita hidup bersama saling memperhatikan dan saling meringankan di saat kita menanggung beban.

Semoga jika kita melihat ada saudara, tetangga atau teman, terlebih orang tua sendiri mengalami kesulitan, semestinya hati kita terbuka dan tangan yang siap menolong. Kita menjadi subyek yang meringankan untuk mereka yang membutuhkan pertolongan. Demikian juga, jika hari ini atau hari lain, justru kitalah yang membutuhkan pertolongan. Kiranya Tuhan mengetuk sahabat, keluarga, saudara agar kita diringankan mereka. Terlebih dari itu, hidup kita sangat membutuhkan pertolongan sejati dari Tuhan Yesus.

Kita berdoa, ” Tuhan, kini kami memasuki hari yang dipenuhi kesulitan. Esok, lusa atau beberapa hari ke depan, mungkin kesulitan masih mewarnai hidup bersama kami sebagai keluarga, bagian gereja, masyarakat dan bangsa. Kiranya kami memiliki spirit dan komitmen saling meringankan dan membantu.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Kreatif Di Tengah Pembatasan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Mentari telah terbit di timur. Pertanda hari baru telah datang. Kita berterima kasih pada Tuhan. Kita masih mengecap kehidupan di hari baru.

Firman Tuhan diambil dari Lukas 24:49, ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.”

Orang modern paling suka suasana ramai. Pergi ke tempat wisata, berkunjung ke mall, mencari makan-minum yang dipenuhi pelanggan. Di sana, tempat itu menjadi tempat favoritnya. Bisa juga habitat sehari-harinya. Bagaikan ikan butuh air, demikian orang modern tidak bisa terpisah dengan keramaian.

Saking sukanya dunia ramai, tidak heran begitu tiba di rumah dari kegiatan di luar, masih menghidupkan televisi. Seakan kunjungan keluar rumah masih kurang cukup. Tidak sedikit, akhirnya jatuh tertidur di depan televisi yang menyala. Sampai- sampai ada ungkapan jenaka, “ bukan orang nonton televisi, tapi televisi yang menonton orang.”

Selain suka yang ramai, kemodernan ditandai dengan serba melakukan pergerakan. Orang modern itu sangat senang bepergian kesana-kemari. Lihatlah, bandara sudah seperti terminal bus. Saking banyaknya orang hendak melakukan perjalanan.

Orang modern, termasuk kita tidak betah diam. Jarang orang modern menghabiskan waktu di rumah. Bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Dari rumah ke gereja. Setelah selesai, lanjut ngopi bareng teman. Setelah ngopi bersambung cari makan sambil memanfaatkan internet. Setelah tubuh terasa penat, barulah pulang ke rumah atau apartemen.

Saudaraku, paska Tuhan Yesus bangkit tiga kali Ia menemui murid-murid-Nya. Pertemuan yang ketiga, Ia meminta agar mereka tidak kemana-mana. Tinggal di kota. Tidak bepergian kemanapun. Karena, mereka akan disiapkan menerima kuasa. Yakni kuasa yang memampukan mereka melanjutkan kehidupan. Dalam hal ini, bukan kehidupan biasa. Melainkan, hidup dengan tugas baru yang lebih besar.

Saudaraku, meski mungkin tidak tepat, mereka bisa dikatakan menjalani karantina. Tinggal di kota. Dibatasi ruang gerak. Mereka memusatkan pikiran dan emosi pada hal yang akan mereka miliki untuk tugas ke depan. Dalam hal ini, mereka menanti turunnya Roh Kudus. Roh yang melengkapi dan memampukan mereka mengerjakan pemberitaan injil keselamatan.

Saudaraku. Hidup dalam pembatasan. Tinggal di rumah. Diam dalam keheningan bisa menyiksa emosi orang modern. Diasumsikan itu momen memboroskan waktu belaka. Karena terbiasa dengan keramaian. Sekaligus banyak berada di luar rumah. Berdiam dalam keheningan bisa merupakan suasana menyiksa orang modern. Seperti tadi, tidurpun masih perlu ditemani televisi yang masih menyala, atau earphone yang masih di telinga.

Saudaraku, kini bagaikan para murid, kita dibatasi ruang gerak. Konteks kita untuk memutus mata rantai virus korona. Social dan physical distancing adalah pembatasan ruang gerak. Bagaimanapun sangat kurang nyaman buat orang yang biasa bergerak kesana-kemari. Biasa bersosialisasi. Bergaul dan mengobrol langsung.

Meskipun demikian, kita tidak boleh menarik kesimpulan bahwa kita kehilangan segala-galanya. Tentu tidak. Sekaligus, ketika menjalani masa hening dan diam di rumah, itu pun kita tidak bisa katakan sebagai pemborosan waktu. Kita tidak kehilangan waktu berharga dengan sia-sia.

Betul, kita tidak bisa mendambakan saat-saat sekarang untuk produktif. Produktif ukuran suasana waktu normal. Tapi, ternyata ada sisi lain yang mencuat. Apa itu? Kreativitas. Ada pergeseran dari produktivitas ke kreativitas. Gereja tidak bisa beribadah seperti corak biasanya, bersifat konvensional. Bersekutu secara fisik. Namun, lihatlah gereja-gereja tidak lumpuh. Muncul bentuk-bentuk kreatif pelayanan memakai media daring atau online.

Seorang ayah atau ibu yang selama ini tersita waktunya dikejar-kejar target produktivas. Sedangkan waktu buat anak cuma sisa-sisa. Itupun dengan tubuh yang sudah lelah fisik dan emosinya. Kini, dengan dibatasi ruang gerak, mereka satu sama lain makin dekat. Dan melahirkan banyak permainan buatan sendiri. Permainan yang mempertautkan emosi dan fisik antara ayah-ibu dengan anak atau antar anggota keluarga.

Saudaraku, para murid Tuhan tidak boleh kemana-mana. Bukan sama dengan pasif. Mereka
menanti untuk hal besar, yang kelak menuntun pada tugas lebih besar dan misi yang mulia. Diam tapi tengah dalam penyiapan. Mari, kita pun memanfaatkan kehidupan yang dibatasi ruang gerak saat ini. Diam dan menikmati kehidupan. Niscaya, ada banyak hal bermanfaat dan melahirkan hidup lebih bijaksana buat orang lain dan kita juga.

Kita berdoa, “Tuhan. Di masa sulit ini, kiranya kami menikmati suasana hening dan banyak diam di rumah. Mampukan kami agar ketika sulit produktif, kami mampu bersikap kreatif.

Inilah doa kami. Kabulkanlah permohonan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Buah Hati Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mbak-mas, Saudara-saudaraku yang baik. Terpujilah Tuhan Yesus yang telah menang atas maut.🙏🏻🌺

Bacaan diambil dari Yohanes 20:25, “Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ”Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Saudaraku, dalam sebuah keluarga tentu terdapat keragaman watak, kepribadian dan mental para anggotanya. Ada yang lembut dan pendiam. Ada pula yang terbuka. Mengutarakan sesuatu tanpa tedeng aling-aling. Straight forward. Meskipun secara fisik punya kemiripan, tapi bagaimanapun tidak punya kesamaan mental, karakter dan kepribadiannya.

Kristus bangkit. Segera kabar itu menjadi viral dari mulut murid yang satu ke lainnya. Segera andrenalin mereka beredar kencang. Para murid Tuhan Yesus sangat antusias menyambutnya. Bersemi kembali iman dan semangat yang sempat layu. Mereka bersatu kembali. Reuni, setelah sempat tercerai berai.

Saudaraku, ternyata tidak semua murid matanya berbinar oleh suka cita dan harapan oleh karena kabar itu. Tomas berbeda. Ia malah memberi pernyataan menantang. Bahwa ia tidak akan sekali-kali percaya jika tangannya belum mencucukan di bekas luka Tuhan Yesus. Ia ingin melihat bukti dengan mata kepala sendiri.

Ia beda sendiri. Ia ragu-ragu. Skeptis. Tipe Tomas ini bisa bikin gregetan teman-temannya. Buat orang tidak sabaran bisa mengatakan, “koq, tidak percaya?”. “ Sudah kita tinggalkan saja dia”. Tomas lambat merespon. Slow respon.

Saudaraku, Tomas bisa saja punya pertimbangan sendiri dengan sikapnya. Ia berhati-hati dengan kabar baru sekitar kebangkitan. Ia tidak mau itu bersifat hoax, sebab salah-salah ia akan kecewa dua kali. Ia ingin berita itu dilandasi fakta. Thomas tidak mau jatuh dalam kekecewaan dua kali dan lebih dalam lagi. Karena cenderung ragu-ragu, bahkan bisa digolongkan orang kurang percaya.

Saudaraku, bagaimanakah sikap Tuhan Yesus tatkala penerimaan para murid-Nya beragam? Ada yang segera percaya, tapi ada pula tipe seperti Tomas, yang ragu-ragu.

Tuhan Yesus merangkul para murid-Nya yang antusias menyambut kabar kebangkitan. Ia mengapresiasi mereka. Pada sisi lain, Tuhan Yesus tidak meninggalkan Thomas dengan pendiriannya. Yang punya semangat ditemui, yang lambat dicari. Tuhan Yesus tidak mau ada yang tercecer. Karena itu, Ia menemui Thomas dan berdialog. Ia perlihatkan bekas luka itu. Ia minta agar Thomas mengkoreksi pendiriannya dan agar menjadi percaya.

Tampak Tuhan Yesus, menghargai keanekaragaman para murid-Nya. Yang kuat dijaga agar tetap kokoh. Yang lemah dan keliru diluruskan agar tetap menjadi bagian murid-Nya. Ia memperlakukan semua sama. Tidak ada favoritisme buat yang imannya lebih kuat dan menelantarkan yang lemah dan ragu-ragu.

Saudaraku, di tengah sebuah keluarga ada yang punya kelebihan, ada yang biasa-biasa saja. Tetapi ada yang kurang. Sebagai orang tua tentu gagal dan salah jika bersikap favoritisme ke anak tertentu lantaran kelebihannya. Orang tua akan memperlakukan sama. Mengapa? Karena semua buah hatinya.

Syukurlah, Tuhan Yesus menempatkan mayoritas para murid-Nya yang semangat imannya diapresiasi dengan baik. Begitupun dengan Tomas, Ia hampiri dan rangkul. Semua dirangkul sebagai buah hati-Nya. Kita yang kuat jangan tinggi hati dan kita yang lemah tidak perlu rendah diri. Ia menyayangi kita semua.