Hidup Ini Adalah Kesempatan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, opa-oma, ibu-bapak, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Selamat pagi. Patutlah kita selaku anak-anak Tuhan mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Juga syukur atas kemenangan Kristus atas maut.

Firman Tuhan hari ini adalah,” Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Yohanes 9:4b

Saudaraku, pasti tahu sebuah judul lagu yang cukup terkenal “hidup ini adalah kesempatan”. Kata kesempatan menunjukkan ada waktu yang tengah kita miliki, besok bisa jadi tidak lagi. Dan yang namanya kesempatan bisa tidak terulang kembali.

Kesempatan suka identik dengan hal yang terjadi satu kali. Masa muda tidak akan pernah terulang lagi. Meski sekarang ada perkembangan teknologi operasi plastik yang membuat orang menjadi lebih muda penampilannya. Tapi, tetap saja masa mudanya jika sudah lewat tidak bisa dikembalikan lagi. Bukan hanya masa muda saja, banyak hal bersifat kesempatan.

Kumpul dan tinggal satu atap dengan orang tua dan saudara kandung itu juga kesempatan. Berkaitan dengan itu, kebersamaan itu merupakan kesempatan yang musti dikelola sebaik-baiknya dan seindahnya. Kelak hal itu tidak akan terulang. Mengapa? Karena ada waktunya semua saudara kita dan anak kita memisahkan diri. Mereka tinggal sendiri, atau menata hidup masing-masing. Mereka punya keluarga sendiri atau hidup mandiri lepas dari orang tua. Akhirnya, ada saat bagi sebuah pasangan suami-istri, tinggal “kembali modal”, hidup berdua lagi.

Tuhan Yesus juga berbicara tentang kesempatan. Dia menggunakan kata “selama masih siang”. Istilah itu menunjuk selagi kita punya waktu. Sedangkan “malam” tanda berakhirnya kita bekerja. Dengan kata lain, hidup kita sudah berakhir. Jadi, selagi kita hidup itu merupakan kesempatan. Karena jika sudah berakhir hidup di dunia ini tidak lagi bisa berbuat atau berkarya apa-apa. Dengan demikian, Tuhan Yesus mengajak agar tidak menyia-nyiakan waktu hidup kita. Selagi kita bernafas, maka itu pertanda masih siang. Dan panggilan kita untuk bekerja.

Bekerja di sini adalah berbuat baik. Tuhan Yesus mengajarkan, agar Jikalau kita melihat ada orang yang susah, bukan untuk menyalahkan dosa siapa yang menyebabkan hal itu. Melainkan, itu sebuah kesempatan bagi kita mengisi kebaikan untuk orang itu selagi kita masih memiliki “hari masih siang”.

Dalam bahasa populer diungkapkan dengan kata “mumpung”. Tapi, dengan isi dan tujuan positif. Mumpung kita masih hidup, kita melayani Tuhan. Kalau sudah mati, kita yang butuh dilayani. Mumpung orang tua kita masih ada, kita cintai semaksimal mungkin. Jika orang tua sudah tidak ada, kita tidak bisa menyapanya dengan cinta kasih. Mumpung kita masih diberi kemampuan berjalan, silaturahmilah dengan saudara dan tetangga. Berkunjunglah ke rumah mereka. Karena, jika sudah kena osteoporosis betapa menderitanya kaki kita untuk bisa melangkah. Mumpung kita masih aktif bekerja, dana yang kita miliki cukup tersedia, bantulah orang-orang yang membutuhkan. Karena jika sudah pensiun keuangan akan terbatas.

Jadi, sikap bijak bestari akan menjadi milik kita, saat kesempatan itu kita manfaatkan sebaik-baiknya sehingga kita bisa produktif berbuat baik. “Hari masih siang” mengingatkan kita ada waktu berharga yang dikaruniakan Tuhan atas kita. Hal berharga yang jangan disia-siakan. Jangan dibiarkan lewat begitu saja, kita musti berbuat hal yang bermakna.

Hari ini, masuk dalam Minggu Paskah. Kemarin kita merayakan kebangkitan Kristus. Dia menang atas maut. Maut yang gelap telah dipatahkan. Yesus yang berdaya sedangkan maut tidak berdaya. Kebangkitan itu menandakan hidup itu berharga. Alangkah bagusnya hidup hasil perjuangan karya Kristus itu kita tata.

Untuk itu, kita musti merawat kehidupan, baik pribadi maupun persekutuan. Jangan kita menenggelamkan diri pada kegelapan. Kegelapan sama dengan hidup yang sia-sia. Jangan begelimang dalam kegelapan. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kemenangan Kristus.

Dengan kata lain, hidup yang aktif bekerja selagi masih ada kesempatan. Itu sama dengan menghargai kemenangan Kristus. Amin.

Paskah: Diutus Untuk Membuah Di Kancah Wabah

Oleh: Weinata Sairin

“Kita berjalan Terus
dengan segenggam keyakinan paling tulus
tiada seorang pun yang berhak
memaksakan segala kehendak
atas keyakinan
yang telah kita gariskan

Kita berjalan terus
dengan keyakinan tak pernah pupus
walau jalan Kristus
penuh bukit batu dan tandus…”
(Weinata Sairin, “Disebuah Perjalanan, Serangkai Puisi”, BPK Gunung Mulia , Jakarta 2003)

Gereja tdak pernah berhenti hanya sebatas kata benda, Gereja adalah sebuah kata kerja. Itulah sebabnya walaupun gedung Gereja dibakar, dirusak, ditutup, dilarang, dibongkar, sejarah Gereja tidak pernah akan berakhir.

Gereja sebagai kata benda, oleh kebencian dan sifat-sifat arkais manusia dapat dimusnahkan, tetapi Gereja sebagai kata kerja tetap hidup, tetap kreatif, dan dinamik berkarya di tengah zaman. Orang-orang Kristen memang bisa dibunuh, dihabisi, dilibas, tetapi kekristenan tak pernah mati. Sejarah telah menyaksikan hal itu.

Dalam peristiwa kebakaran di Kota Roma tanggal 19 Juli tahun 64, para pejabat Romawi saat itu memang tidak bersikap positif terhadap kekeristenan bahkan memusuhi kekristenan sebagai agama baru yang ajarannya berbeda dari keyahudian.

Menurut legenda, Kaisar Nero sedang bermain biola ketika kota Roma terbakar. Api mengganas selama 7 hari tak bisa dipadamkan, melalap 10 dari 14 blok rumah dengan banyak menelan korban jiwa. Banyak yang menduga Nero-lah yang bertanggung jawab atas kebakaran itu, tetapi ia justru menuduh orang Kristen menjadi penyebab. Nero bersumpah untuk memburu orang Kristen. Mereka disalib, dibakar, dimasukkan ke kandang menjadi santapan binatang.

Penganiayaan itu tidak mematikan kekristenan. Tertullianus, penulis Kristen abad ke-2, berkata: “Darah para martir adalah benih Gereja”, orang Kristen tetap bertumbuh dan bertambah. Uskup Smyrna bernama Polikarpus menjadi martir tahun 156. Polikarpus bersama orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, mereka hanya beriman kepada Kristus. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan pekik: “Enyahkan orang-orang kafir.”

Polikarpus diminta untk percaya kepada dewa-dewa Roma dan menghujat Kristus, namun ia tetap menolak. Gubernur Romawi mengancam Polikarpus dengan melemparkan dia ke binatang buas, atau bahkan dibakar. Polikarpus tetap tegar, ia setia kepada Kristus. Ia berkata: “Apimu hanya akan membakar satu jam lamanya, kemudian akan padam. Namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi.”

Akhirnya, Polikarpus dibakar hidup-hidup. Namun menurut saksi mata badannya tidak termakan api. Ia seperti emas atau perak dimurnikan diatas tungku perapian. Ada aroma harum seperti kemenyan atau rempah-rempah mahal dari perapian itu; ketika algojo Romawi menikamnya, darah yang mengalir memadamkan api itu.

Para martir itu memahami benar bahwa ketaatan kepada Allah adalah sesuatu yang absolut. Ketaataan itu berada di atas segala-galanya. Mereka lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia (Kis.5:29) . Mereka berani membayar ketaatan itu dengan kematian yang mesti mereka jalani.

Tatkala bangkit dari kematian, pertama kali Yesus menyapa murid-murid-Nya dengan ungkapan: “Damai sejahtera bagi kamu!” Pernyataan ini amat penting untuk menghapus rasa takut, panik, dan pesimisme yang mewarnai kehidupan para murid sesudah kematian Yesus.

Yesus yang memenangkan kematian memang sosok yang layak dan memiliki kredibilitas untuk menyatakan bahwa damai sejahtera (syalom) itu berlaku dan terwujud di antara para murid, di antara umat manusia. Lebih penting dari itu, damai sejahtera yang Yesus berikan adalah damai sejahtera yang berbeda dari apa yang diberikan oleh dunia.

Pernyataan damai sejahtera yang diucapakn sesudah kebangkitan itu dilanjutkan Yesus dengan penugasan: “Seperti Bapa mengutus aku, demikian juga Aku sekarang mengutus kamu” (Yoh. 20:21). Oleh sebab itu, peristiwa Paskah dan pernyataan damai sejahtera tidak berdiri sendiri; peristiwa itu dilanjutkan dengan tugas pengutusan.

Kebangkitan Kristus memiliki implikasi misioner, peristiwa Paskah menjadikan gereja sebuah persekutuan yang diutus, yang bergerak menyusuri lorng-lorong dunia. Oleh sebab itu gereja dan umat Kristen Indonesia yang lahir di tengah bangsa , masyarakat dan bangsa Indoneisa tidak boleh menjadi persekutuan yang statis, apatis, tetapi yang dinamis, responsif, sesuai dengan makna kedirian gereja sebagai persekutuan yang kreatif-dinamik, yang sedang diutus Tuhan di tengah dunia.

Sejak dasawarsa 1960-an, tugas profetis gereja dalam kancah pembangunan bangsa dirumuskan dengan mengembangkan sikap positif, kreatif, kritis dan realistis. Sikap seperti itu telah memungkinkan gereja membuat arah yang jelas dengan kekuasaan bahkan mampu menghindar dari posisi sebagai instrumen dan legitimator kekuasaan.
Persekutuan yang sedang diutus di tengah dunia adalah pengutusan yang belum tiba di terminal penghabisan. Ia masih berada di tengah jalan, sehingga ia juga harus menjadi persekutuan yang siuman, berjaga-jaga, dan memahami tanda-tanda zaman. Kita sebagai bangsa tengah menghidupi era baru, sehingga gereja dan umat Kristen yang memahami diri sebagai bagian integral dari bangsa, tak bisa tidak harus memainkan peran signifikan, sehingga kehadirannya memiliki makna di tengah bangsa.

Umat Kristen di seluruh dunia sedang memperingati hari Jumat Agung yaitu wafat Yesus Kristus tanggal 10 April 2020 yang dilanjutkan Hari Raya Paskah yaitu Kebangkitan Yesus dari kematian tanggal 12 April 2020. Suatu hal yang membanggakan dalam menjalani kehidupan dalam NKRI yang majemuk.

Utamanya di bidang keagamaan adalah bahwa negara, pemerintah memberikan perhatian sangat besar bagi perayaan hari raya keagamaan. Setiap tahun pemerintah menetapkan hari libur nasional bagi hari raya agama sehingga umat dapat memperingati hari raya keagamaan itu dengan lebih leluasa. Paling tidak 6 agama yang selama ini memdapat pelayanan dari pemerintah yaitu: Islam, Kristen, Katolik Hindu,Buddha dan Khonghucu, merayakan hari raya keagamaan dengan lebih baik karena dilaksanakan pada saat libur nasional.

Paskah memberikan perspektif baru bagi Gereja dan umat Kristen Indonesia. Paskah mengajak umat untuk tidak terbelenggu pada kekinian, pada yang di sini tetapi mengajak untuk menatap ke depan, ke-akan-nan.

Paskah tahun 2020 ini dirayakan dengan sangat khusus oleh karena bangsa kita dan dunia internasional tengah fokus melawan virus Covid 19 yang telah merenggut ribuan nyawa di berbagai belahan dunia, dan ribuan juga yang positif terpapar virus Corona itu.

Paskah berarti hadirnya hidup dan harapan baru bagi manusia. Gereja yang ber-Paskah mestinya ikut menyatakan empati dan solidaritas nyata bagi para korban Corona, bagi para dokter dan tenaga medis yang berjuang di garda depan menyelamatkan para korban Corona, bahkan ikut membantu warga masyarakat yang kehilangan mata pencarian akibat Corona.

Gereja yang merayakan Paskah harus tampil sebagai gereja yang memuliakan kehidupan, Gereja yang bersaksi dan melayani, Gereja yang konsisten dan kontinyu mengembangkan wawasan teologis, oikumenis dan kebangsaan sehingga kiprahnya di tengah dunia yang penuh turbulensi memberi kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Kita bersyukur bahwa dalam seruan Paskah 2020, Dirjen Bimas Kristen mengajak Gereja dan umat Kristen untuk mengembangkan tiga aspek itu, yaitu menjadi Gereja yang memuliakan kehidupan, menjadi Gereja yang bangkit dan bersaksi, menjadi Gereja yang mengembangkan tri wawasan: wawasan teologis, oikumenis dan kebangsaan agar Gereja makin mampu meningkatkan kiprahnya di tengah sejarah.

Pernyataan Dirjen ini menjadi amat penting dan strategis ketika dunia digempur oleh kematian lewat Covid 19, genocida terselubung, peperangan antar kelompok dan antar bangsa, angka bunuh diri melonjak. Gereja harus pro dan berpihak pada kehidupan dan secara sadar melawan kematian.

Merujuk kepada peryataan Dirjen sebagaimana dikutip di atas, peristiwa Paskah seharusnya makin menyadarkan Gereja bahwa Gereja adalah komunitas yang mesti bersaksi dan melayani di tengah realitas dunia dalam kondisi apapun. Paskah harus mendorong Gereja menjadi komunitas yang membuah di kancah wabah dan bukan komunitas yang pasrah menyerah kehilangan gairah dan darah.

Tujuan Hidup

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan diambil dari Filipi 1: 26, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Saudaraku, saat kita tiba di bumi ada dua hal yang melekat pada diri kita. Yakni kehidupan dan kematian. Sama seperti dengan koin uang ada dua sisi, demikianlah kita juga di dunia ini. Sisi yang satu kehidupan, dan sisi yang lain kematian.

Sekarang kita ini kita tengah menjalani salah satu sisi, yaitu kehidupan. Nanti, entah kapan. Bisa esok, lusa atau sekian waktu yang kita tidak ketahui, kematian pasti datang. Kita pun akan menjalani kematian. Jadi, cepat atau lambat, kematian pun akan tiba juga menjadi bagian kita.

Dua sisi kenyataan itu, tidak dapat kita hindari. Menarik, bagaimana Firman Tuhan memberi arti keduanya. Rasul Paulus menyatakan hidup itu buat Kristus. Artinya, ia darma baktikan hidup yang dijalaninya untuk berkarya. Hidup ada misi. Kristus menaruh tugas suci di pundaknya. Tujuan hidupnya memberitakan Kristus bagi orang non Yahudi. Bukan untuk bertopang dagu. Bermalas-malasan. Hidup bukan sekedar mengisi waktu. Ada karya buat Kristus yang diukir. Jadi, hidup itu bukan sekedar waktu yang lewat begitu saja. Ada yang dipraktikkan buat tujuan mulia.

Lalu kematian? Terus terang, soal sisi ini, banyak orang gentar. Takut. Sebab, memang tidak pernah ada orang mati, lalu bercerita tentang pengalaman kematiannya. Ya, kematian itu misteri. Kematian datang, kita tidak tahu. Suasana di sana pun sama, tidak ada informasi gamblang. Jelas. Memang, sepintas ada gambaran tentang kematian. Misalnya, “ di sana ada suasana kertak gigi”. Sebagai penanda ada penderitaan di sana.

Sungguh lain, firman Tuhan di atas memaknainya. Kematian adalah keuntungan. Ya, keuntungan karena dengan kematian ada kesatuan lebih dekat lagi dengan Kristus. Dan reuni dengan orang-orang yang dikasihinya, yang telah mati lebih dulu.

Jadi, bukan kerugian kematian itu. Bukan pula yang menakutkan. Dengan gambaran itu, buat Anda dan saya, hidup dan mati adalah sama mulianya. Masing-masing punya kelebihannya. Meskipun kita sadar, kematian merenggut hal yang indah dalam hidup. Popularitas, relasi dengan orang yang dicintai, harta, jabatan itu semua berakhir. Berakhir begitu kematian datang. Tak heran, ada pemahaman kematian itu merugikan.

Saudara, hari ini, kita masih hidup. Kita masih menghirup nafas kehidupan. Maka, kita masih punya kesempatan berkarya. Hidup kita arahkan buat Kristus.

Orientasi Untuk Memberi

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak yang baik. Kita bersyukur kepada Allah, dengan hari yang kita jalani bersama keluarga dan sesama kita.

Firman Tuhan pagi ini dikutip dari,” Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (43) Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23:42b-43

Saudaraku, meski tengah menderita, Yesus masih peka dan menyimak apa yang berlangsung di sekitar bukit Golgota. Perdebatan di antara penjahat di samping kanan dan kiri-Nya. Tubuhnya yang lebam karena pukulan. Kulit-Nya yang terkelupas lantaran pukulan cemeti yang tajam. Luka menganga bekas tusukan. Tenaga yang sudah terkuras. Semestinya, Dia lebih memperhatikan rasa sakit dan perih luka-Nya.

Ternyata tidak. Yesus masih mengikuti kata-kata olokan, hinaan dan ucapan sinis tertuju pada diri-Nya. Ia menyimak dengan serius.

Terlebih dari itu, Yesus masih mendengar dari antara berbagai ucapan yang melukai hati-Nya, ternyata ada suara berbeda. Suara simpatik. Sumber suara itu bukan suara para murid-Nya. Bukan pula dari orang terdekat-Nya. Melainkan suara dari seorang yang juga tengah menuju kematian. Ya, suara penjahat yang nasibnya sama, sama-sama disalibkan. Dari orang yang di sampingnya yang juga tengah disalib, Ia mendengar suara berbeda. Ia mendengar suara simpati dan empati.

Dari mulai penangkapan, pengadilan dan perjalanan ke Golgota. Berbagai suara dominan yang didengar Yesus adalah suara kebencian, cacian, hinaan, tuduhan tidak berdasar, olok2, dan pelecehan. Saat Ia memasuki detik-detik ujung hidup-Nya, di golgota, Ia mendengar suara yang berbeda. Ada nada lain. Suara menyejukkan. Suara yang bernada ‘membela-Nya’. Walau sebenarnya Yesus tidak perlu dibela, karena sama sekali peradilan tidak berhasil membuktikan bahwa Dia bersalah.

Penjahat itu, meluruskan sesat pikir penjahat lain lawan bicaranya. Dengan berkata ”Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”Ayat 41.

Suara salah seorang penjahat di sisi-Nya menyejukkan hati Yesus. Suara itu tengah meluruskan ucapan penjahat lain yang bernada cemoohan atas diri-Nya. Bersamaan dengan itu, dari orang yang sama, Yesus mendengar permohonan yang tulus, penuh kerendahan hati dan mengandung keyakinan yang kuat, ” Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Ayat 42:b.

Segera Yesus merespon suara yang berbeda, yang langka Dia dengar sejak masa penderitaan yang dijalani-Nya. Dengan cepat Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Ayat 43.

Saudaraku, di saat Yesus menderita Ia masih terbuka atas sebuah permohonan, dan mengabulkannya. Sungguh, Yesus, Tuhan kita selalu punya tujuan atau orientasi hidup-Nya adalah, memberi, memberi dan memberi. Sang penjahat mempunyai keinginan terdalam, Tuhan mengabulkan keinginan terakhirnya. Yesus memberi sesuai permohonannya.

Saudaraku, apa artinya hidup yang tidak bisa memberi? Seseorang yang sepanjang hidupnya berorientasikan memberi, maka kematiannya akan berarti. Kematian Yesus bukan sia-sia. Hidup dan mati-Nya diabdikan untuk memberi. Bahkan pada detik-detik terakhir Ia masih memberi, yakni memberi yang paling berharga bagi manusia, yaitu “firdaus”.

Berbahagialah buat salah satu penjahat di samping Yesus. Ujung hidupnya memang berakhir mengenaskan. Penjahat itu tetap mati dengan cara disalib yang menyakitkan. Tetapi, di ujung kematiannya, ia masih bisa mati dengan tersenyum. Ya, tersenyum, karena ia berjumpa dengan Yesus yang memberikannya firdaus.

Menata Masa Depan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi. Selamat menyongsong hari baru, Saudaraku yang baik dan dikasihi Tuhan.

Firman Tuhan mengantar aktivitas kita hari ini diambil dari kitab Kej 28: 15, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Saudaraku, setiap orang menganggap penting masa depan. Terutama kerinduan punya masa depan yang cerah, atau penuh prospek. Tidak mengherankan, apa yang kita lakukan di hari ini dipengaruhi keinginan menjelmakan masa depan yang indah. Jika Anda punya anak dan cucu, tentu kita merancang agar mereka bisa merengkuh masa depan yang baik.

Dengan sekuat tenaga kita berjuang mengupayakan anak kita bisa duduk di bangku sekolah yang baik. Kita menabung atau menyisihkan anggaran buat pembiayaan pendidikannya. Makanan yang disediakan memenuhi kriteria empat sehat lima sempurna. Kita mendorong mereka mengikuti berbagai kursus tambahan. Kursus musik. Kursus matematika. Untuk aoa? Semuanya sekali lagi, demi masa depan.

Saya suka ingat cerita tentang etnis tertentu yang sangat ketat dalam pengeluaran keluarga. Bila perlu makan bubur dengan menu lauk sederhana. Mereka bukan pelit, namun berhemat supaya dapat menabung. Mengapa menabung? Sekali lagi demi investasi masa depan. Anak-anaknya bisa masuk di sekolah dengan akreditasi baik. Yang kemudian mereka bisa bekerja atau bisnis dengan baik.

Bandingkan orang yang tidak perduli dengan masa depan. Sekolah anak-anaknya di sekolah yang abal-abal pun tidak masalah. Yang penting anaknya sekolah. Uang lebih banyak dihamburkan untuk makan enak, pakaian serba bagus, sosialita, kendaraan gemerlap. Sedangkan dana pendidikan anak tidak diindahkan dan disiapkan.

Orang beriman adalah orang yang sepatutnya sadar bahwa masa depan itu penting. Dan firman Tuhan di atas menyangkut hari esok. Diingatkan landasan untuk kita bisa membangun masa depan adalah penyertaan Tuhan. Tuhan hadir di hari lalu, hari ini dan hari depan. Dengan itu maka masa depan kita berada pada kebaikan Tuhan. Hanya, kita juga jangan salah mengartikan firman ini. Seolah-olah dengan penyertaan-Nya lalu otomatis semua kebutuhan kita tersedia. Ingin makan, ingin memakai baju bagus, ingin rumah yang nyaman dan indah, ingin karier baik, datang begitu saja. Kita tinggal menadahkan tangan lalu semua itu jatuh dari surga. Tentu tidak.

Orang yang berhikmat tentu tidak bersikap demikian. Yakub yang pertama kali mendapat janji itu, dia tidak lalu duduk manis. Ia bekerja. Ia mengelola ternak dan tanahnya dengan kerja keras. Janji Tuhan tentang masa depan diimbangi dengan segala perjuangan. Janji Tuhan disertai peluh dan keringat kerja keras.

Di sini, kita pun hendak menyikapi masa depan dengan hikmat. Pertama, jangan habiskan semua aset kehidupan kita hanya untuk hari ini. Kesehatan kita, keuangan kita, tenaga kita, sebaiknya dikelola dengan memperhatikan masa depan. Orang yang suka mabuk, penjudi, malas-malasan, tidak mau sekolah, melupakan pentingnya Tuhan, adalah contoh dari orang yang mengabaikan masa depan.

Kedua, masa depan yang disediakan Tuhan memacu kita tidak kuatir atas hari esok yang masih belum jelas. Kekuatiran bisa mengakibatkan seseorang merasa tidak berdaya, dan akhirnya tidak mau berbuat apa-apa. Kita bisa melihat dalam realitas, orang yang masa depannya cerah dan maju adalah tipe orang yang optimis. Artinya, Jangan jadi serba takut dengan hari esok, sekaligus jangan menakut-nakuti tentang bahaya hari esok. Sikap Optimis lebih utama daripada bersikap pesimistik.

Ketiga, jika kita merancang masa depan dan upaya keras memenuhinya, itu adalah tindakan yang sesuai dengan iman. Iman itu tidak meninabobokan kita agar menunggu berkat jatuh dari langit. Tidak. Iman itu justru menyadarkan dan membuka pikiran kita untuk mempersiapkan segala sesuatu sebaik-baiknya.

Semoga masa depan kita, anak cucu kita cerah. Tidak suram. Hidupnya tidak berantakan. Tapi mempunyai masa depan yang indah bersama Tuhan.