Sisi Baik Pada Realita Yang Buruk

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Semalam kita istirahat, sepanjang istirahat itu kita yakin Tuhan tidak tidur. Tuhan mendampingi dan melindungi kita. Puji Tuhan.

Kita akan merefleksikan Firman Tuhan dari kitab Roma 5:3b-4, “ Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”

Saudaraku, kita suka mendengar kata “kearifan lokal”. Yaitu gagasan dan nilai yang suka dipraktikkan dalam hidup sehari-hari di sebuah masyarakat. Diwariskan secara turun-temurun, oleh sebab terasa manfaat kebijakannya.

Bisa jadi, salah satu kearifan lokal yang sering kita temui yaitu menyikapi sebuah musibah dengan mengungkapkan kata, “untung”. Jika ada kejadian perampokan di sebuah rumah, lalu dibilang “untung perampok itu hanya mengambil sebagian hartanya”. Tapi, jika perampok itu menguras semua benda berharga. Tetap bisa muncul ungkapan “untung”. Untung perampok itu tidak melukai pemilik rumah yang dirampok itu. Niscaya, jika perampok itu melukai sang korban. Saya yakin, masih tersimpan untung yang berikutnya.

Saudaraku, itulah kearifan lokal yang paling kita kenal. Ada pembelajaran di dalamnya. Bahwa setidak ideal apapun sebuah kenyataan, kita masih bisa menemukan sisi baik. Sebuah kenyataan buruk tidak absolut buruk seluruhnya. Ada sisi positif yang dapat kita lihat. Dengan kearifan demikian, menciptakan daya tahan mental dan kejiwaan menghadapi kenyataan seberat apapun.

Lalu, bagaimana dengan kearifan firman Tuhan? Iman dan identitas kristen suka diperhadapkan dengan kesengsaraan. Tidak terkecuali Jemaat di kota Roma. Seolah-olah ada garis tangan harus menghadapi kesengsaraan. Di sini, rasul Paulus mengajak melihat kesengsaraan. Betul, kesengsaraan di mana pun dan kapanpun tidak menyenangkan. Dari dulu sampai sekarang, yang namanya kesengsaraan itu menyakitkan.

Rasul Paulus menasihati mereka bahwa kesengsaraan tidak mutlak buruk. Ternyata kesengsaraan membentuk sikap ketekunan. Dari sana berbuahkan tahan uji. Dan kemudian tahan uji melahirkan pengharapan. Jadi, seiring hadirnya kesengsaraan ada pembelajaran positif yang bisa kita dapatkan.

Tidak heran, rasul Paulus menghadapi kesengsaraan tidak cengeng, patah semangat, jiwa yang loyo tapi dengan bermegah. Karena orang beriman yang mau belajar dari sebuah realitas buruk, mereka akan mendapatkannya.

Saudaraku, siapa yang bisa menyangkali bahwa dampak virus corona sungguh berat. Ekonomi terguncang. Pendapatan seseorang menurun, malah ada yang stop sama sekali. Bepergian tidak bebas. Biasanya tiap hari ada jadwal acara kemana-mana. Sekarang pagi di rumah, siang di rumah, malam pun di rumah sampai berminggu-minggu.

Secara kejiwaan tingkat kecemasan tinggi. Saking cemasnya, ada yang tidak mau menerima tamu, padahal itu rekan kerjanya yang punya tingkat kesadaran kesehatannya tinggi. Dan paling dramatis, virus itu merenggut nyawa dan banyak keluarga berduka.

Saudaraku, mampukah kita memiliki cara pandang kearifan firman Tuhan atau kearifan lokal? Yakni, kita masih menemukan sisi yang memungkinkan menjadi modal kita bertahan. Masih tersisakah dasar untuk bermegah? Atau dalam bahasa iman, apakah ada dasar kita tetap bersyukur?

Di sinilah, iman itu menyuguhkan sisi kekuatannya. Dalam hal ini membantu kita melihat dan punya pola berpikir yang positif. Kita yakin bahwa di balik kerugian besar yang diakibatkan virus corona ada berkat terselubung. Ada blessing in disguise. Langit kota Jakarta biasanya keruh, kini warna birunya kelihatan. Paru-paru kita lebih lega saat bernafas. Karena saking tingginya tingkat polusi. Konon, lapisan ozon lebih baik. Biasanya gas rumah kaca menyemorotnya tiada istirahat. Lapisan es di kutub makin menebal.

Gereja mengakui, selama ini lebih mengkultuskan pemimpin dan popularitasnya, daripada Tuhan Yesus Sang Raja Gereja. Dan dalam kehidupan pribadi, orang makin takut Tuhan. Umat beriman sadar dirinya rapuh, dididik lebih rendah hati. Ada guyonan, “dampak positif saya kerja di rumah di rumah adalah, bukan prestasi kerja. Malah bobot badan bertambah!

Artinya, melihat realitas seburuk apapun dengan kaca mata iman, kita tetap punya pengharapan. Terdapat sisi baik di balik sebuah peristiwa. Itu modal besar kita untuk bertahan. Kita tidak mengidealisir realitas buruk. Apalagi memuja-muja virus corona, sama sekali tidak. Kita melawannya. Namun, Allah bisa menghadirkan hal baik untuk kebaikan kehidupan manusia, seiring mewabahnya virus tersebut. Dengan demikian, bersama Allah kita dapat terus melangkah. “Untung” punya Allah Yang Maha Baik. Terpujilah Dia.

Sahabat Setia

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, mas-mbak, bapak-ibu, opa-oma dan saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Allah yang menempatkan kita di bawah sayap pernaungan-Nya. Laksana anak ayam di bawah sayap induknya. Sehingga pagi ini, kita bangun dan menghirup kehidupan.

Firman Tuhan yang kita renungkan, “Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.” Ayub 23:11-12

Saudaraku, betapa indah isi firman di atas. Menunjukkan tekad kuat dari orang yang mau tetap taat. Dan orang yang ingin mengikuti jejak yang dibuat Allah kemanapun Allah pergi. Dia ingin berjalan di jalan yang lurus.

Mengapa saya katakan indah? Karena pernyataan itu terucap dari seorang Ayub. Sedangkan Ayub tengah berada dalam situasi berat. Harta yang tadinya berlimpah, telah sirna semua. Hartanya sungguh berlimpah. Setara ratusan miliar rupiah. Jumlah yang bukan main. Anak-anak telah pergi selamanya. Sedangkan istri kecewa dan minggat. Tidak hanya itu, Ayub pun telah kehilangan kesehatan terbaiknya.

Jadi, ungkapan tekad itu lahir dari seorang yang tengah menghadapi kemalangan besar. Untuk orang biasa, mungkin bisa memerlukan penanganan dokter jiwa. Sebab beban yang dipikul amat berat. Ada yang hilang sementara, seperti harta benda. Ada yang hilang selamanya, yakni kematian anak yang dicintainya.

Bagaimanapun, tidak mudah menyatakan komitmen atau tekad mau taat pada saat menderita. Lebih mudah mengeluh dan menggugat. Lebih gampang menyatakan kata “mengapa?”. Mengapa saya jadi miskin, Tuhan? Mengapa anak-anakku mati, Tuhan? Mengapa istriku tidak tabah dan menemani di saat kesusahan berat, Tuhan? Namun, Ayub memperlihatkan yang tetap mau setia dan taat pada Allah. Ini sungguh mental baja dan iman luar biasa.

Dalam kehidupan nyata, kehilangan banyak hal yang berharga menyebabkan hati seseorang limbung. Semangat hidup hilang. Perasaan lesu. Gairah untuk melanjutkan hidup sangat rendah. Pengalaman keterpurukan Ayub itu, kisah contoh bagaimana kehilangan hal yang terbaiknya. Bahkan tidak hanya harta benda, sosok-sosok tercinta pun hilang selama-lamanya. Saya yakin, ini situasi yang stressfull. Artinya, berat sekali. Orang yang tidak tahan akan stress berat.

Orang stress kehilangan energi terbaik untuk mau melakukan keinginan dari pihak di luar dirinya. Coba saja lihat, orang yang demikian tidak mau menggubris nasihat orang lain. Hati tertutup atas nasihat. Ia hanya melamun dan melamun.

Apalagi, mau menjalankan tindakan tertentu. Orang yang tengah bergumul dalam situasi demikian, maunya menenggelamkan diri dalam kemasa bodohan. Sekaligus hanyut dalam kepedihan. Jiwanya lumpuh.

Saudaraku, artinya, dalam situasi terburuk apapun, Ayub masih menyimpan rasa percaya kepada Allah. Semua memang sudah habis. Anak, istri, harta semuanya hilang. Termasuk teman-temannya yang hanya pandai menasihati dan menyalahkan dirinya. Yang masih tetap mau di samping Ayub cuma satu. Dia adalah Allah. Allah tetap sabar menjadi Sahabat setia di kala duka.

Itulah yang membuka mata batin Ayub. Allah tidak beranjak dan meninggalkan dia sendiri. Di tengah beban akhirnya Ayub menegaskan kesediaannya tetap mengikuti jalan Allah. Jalan dari Dia yang amat setia mengerti kesusahan batin dan fisiknya.

Saudaraku, sisi inilah yang menjadikan inspirasi buat kita. Kita belajar tentang ketahanan iman. Orang yang tahan iman tidak hanyut oleh arus hidup yang berat. Dia tidak tenggelam oleh badai kehidupan yang menakutkan. Tapi, tetap jalan hidupnya mengikuti suara Allah.

Sulit. Jelas, memang amat sulit. Kita pun saat ini, masih berada dalam bayangan kesulitan berat. Bahkan, kesulitan nyata. Wabah belum selesai. Perjuangan melawan dan mengatasinya belum usai. Ayub menginspirasi kita. Kita tidak boleh kalah oleh kesulitan. Kesulitan tidak boleh menumbangkan iman dan ketahanan mental kita.

Sumber kekuatan adalah Allah tidak meninggalkan Saudara dan saya. Allah setia di samping kita. Seperti yang dilakukan Allah atas Ayub. Sehingga kisah Ayub membuktikan, ia bisa. Sulit. Sungguh amat sulit. Jalan terjal kehidupan ia bisa lewati. Semoga, iman yang demikian dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Peduli Adalah Wujud Kasih

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, selamat akhir pekan, Saudara2 yang baik. Indahnya kehidupan manakala Cinta kasih Tuhan terus menaungi hidup kita. Hendaklah kita berkata, “ terima kasih Tuhan Yesus. Kami bersyukur dan memuji nama-Mu.

Firman Tuhan hari ini diambil dari Ibrani 13:2, “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”

Saudaraku. Ciri khas orang jaman baheula adalah melakukan perjalanan. Mungkin ada yang langsung komentar, ” oh, sekarang juga sama, pak. Orang suka traveling. Orang senang melakukan perjalanan, apalagi kini moda transportasi sudah lengkap dan nyaman”. Betul, sekali. Orang jaman now, juga suka melakukan perjalanan. Pergi ke berbagai kota dan negeri, naik kendaraan darat, laut maupun udara. Tinggal di penginapan atau hotel, sambil bertualang kuliner. Pergi ke Jogja cari gudeg, pergi ke Surabaya, cari lontong balap, pergi ke Bali cari babi guling. Jadi, pergi melakukan perjalanan kini malah trend.

Tepat sekali, saat ini orang suka melakukan perjalanan, bahkan tidak hanya mengunjungi kota-kota dan tempat di dalam negeri, malah hingga ke luar negeri. Apa bedanya? Bedanya adalah orang-orang yang hidup di jaman firman Tuhan ini disampaikan, mereka melakukan perjalanan dengan amat sederhana. Mereka bepergian lebih banyak jalan kaki. Membawa bekal sendiri, dan jika malam tiba untuk waktunya istirahat mereka tidur di tempat2 yang dianggap aman bukan nyaman.

Dengan corak perjalanan demikian, tubuh sangat letih, makanan sangat terbatas dan tempat istirahat begitu sederhana. Sehingga sudah menjadi kebiasaan baik, bagi orang yang murah hati bersedia membuka pintu rumahnya buat orang yang kemalaman dalam perjalanannya. Istilah yang dipakai tumpangan. Memberi tempat buat istirahat malam, disertai berbagi makanan yang sesederhana apapun, supaya besok pagi orang itu bisa melanjutkan perjalanannya kembali. Ya, tentu tubuh lebih segar dan mungkin juga diberi bekal makanan buat di jalan.

Kebiasaan baik ini dalam firman Tuhan di atas, dianjurkan hendaknya dipraktikkan dan dilestarikan. Yaitu memberi tumpangan bagi orang yang berada dalam perjalanan. Sebuah praktik keramahan terhadap orang asing. Mereka belajar mengerti dan memberi, tertuju kepada tamu yang tidak dikenal. Rumah mereka menjadi rumah yang bisa mensuplai tenaga yang baru. terlebih dari itu budaya sehat untuk merenda persaudaraan dengan orang yang tidak dikenal.

Jelas, dengan memberi tumpangan, seorang tuan atau nyonya rumah terbebani. Mereka harus direpotkan dengan kedatangan tamu tidak dikenal dan diundang. Repot menyediakan makanan, ruang buat berbaring dan tidur tamunya, bisa pula kebutuhan lain yang diperlukan sang tamu. Ya, bisa dilihat sebagai beban.

Tapi firman Tuhan mengajaknya menjadi kebajikan. Suatu perbuatan yang terpuji. Bahkan, seorang malaikat bisa datang yang mencari tumpangan. Artinya, malaikat ingin melihat dan merasakan sendiri, apakah orang percaya sudah berlaku ramah dan perduli atas pihak yang sedang membutuhkan tumpangan.

Orang yang butuh tumpangan bisa saja orang asing. Tidak ada ikatan kerabat atau sahabat. Orang yang betul-betul tidak dikenal sebelumnya. Kelihatannya suatu situasi sekarang berbeda. Jangankan memberi tumpangan, jika kita bertanya alamat saja ada yang sudah ketakutan. Orang yang dianggap asing harus dihadapi hati-hati. orang asing atau tidak dikenal sekarang lebih banyak dicurigai.

Bukankah itu juga yang kini banyak ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya, “ingat, ya, jangan buka pintu kalau ada tamu yang kamu tidak kenal” atau “jangan sekali-kali komunikasi dengan orang yang tidak dikenal. Hati-hati nanti diculik, lho.” Saya mengerti nasihat itu lahir buat melindungi anak-anak kita. Saya mengerti banyak orang tua tidak mau dirinya atau anggota keluarganya terkena risiko akibat berjumpa dengan orang asing. Karena seringnya beredar informasi tentang ulah orang jahat, yang diasosiasikan pelakunya orang asing yang tidak dikenal.

Akhirnya, dipukul rata. orang asing itu membahayakan. Hati-hati. Jangan sekali membuka komunikasi dengan mereka. Jika itu ditanamkan terus lama-lama orang takut bergaul secara berlebihan. Terutama dengan orang yang baru ditemui. Di kereta atau bus takut mengobrol dengan penumpang di sebelahnya. Akibatnya, jika ada orang asing punya niat tulus bertanya, tidak digubris.

Jika pola pikir itu makin menggumpal, rasanya sulit sekali orang mau melaksanakan firman di atas. Firman yang mengajak berbuat ramah atas orang asing, berbagi kebaikan dengan mereka. Bisa menganggap tidak penting membangun persaudaraan dengan orang yang baru pertama kali berjumpa.

Lalu, apakah itu berarti firman itu tidak relevan? Justru di situ tantangan melaksanakan ajakan firman Tuhan. Firman Tuhan tidak gampang dipraktikkan tapi bukan tidak bisa. Tuhan memberi tuntunan tentu Dia tahu kita mampu menjalankannya. Cuma ini menyangkut keseriusan dan komitmen. Jika tidak punya keseriusan dan komitmen jangankan hal sulit, yang mudah saja tidak mau melakukannya. Salah satu sebab karena setba takut. Termasuk takut kena risiko.

Inti firman Tuhan adalah, kasih itu tidak memandang bulu. Kasih itu diberlakukan kepada pihak yang tidak punya ikatan keluarga dan kawan. Kasih itu tidak sempit. Tetapi menjangkau mereka yang butuh bantuan. Tak terbatas pada orang yang kita kenal.

Diberlakukan untuk orang yang kita kenal juga buat yang tidak kita kenal. Terlebih buat yang sedang emergency. Yakni orang yang betul-betul sedang membutuhkan pertolongan. Di depan mata kita, di sebelah rumah kita, kini banyak yang butuh bantuan.

Ini panggilan kasih kristiani kita yang paling up to date. Memberi kelegaan atas korban wabah virus korona. Ada seorang supir yang seharian tidak membawa pulang uang buat keluarga. Ada pedagang yang pulang dengan makanan tak terjual. Ada karyawan kehilangan pekerjaan. Perusahaan mengalami kerugian besar. Sampai orang yang butuh kelegaan batin, karena kerabatnya pergi selama-lamanya.

Jangan tak acuh atas orang2 seperti itu, siapa tahu orang yang seperti itu adalah malaikat utusan Allah yang ingin melihat, apakah kita orang beriman punya kasih dan perduli atas mereka yang tengah memikul kesukaran dalam hidup.

Kita berdoa, Ya, Allah. Terima kasih buat hari ini. Kiranya hari ini kami dapat bertindak hal yang melegakan buat sesama kami yang tengah butuh bantuan.

Tuhan, Kami berdoa kepada-Mu agar warga negeri ini dan pemimpin kami taat dan takut kepada-Mu. Sehingga semua berkesadaran menghormati kepentingan bersama. Dalam nama Yesus yang penuh belash kami berdoa.

Menghakimi

Oleh Pdt Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Mentari mulai menerbitkan sinarnya di Timur. Burung-burung mulai bersiul. kita menghirup udara hari baru yang diberikan Tuhan. Syukur kepada Allah. Cinta kasih-Nya ini telah menanti kita dan keluarga kita di hari baru.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Matius 7:3

Saudaraku, salah satu karunia yang memperlengkapi diri kita sebagai manusia adalah kemampuan menilai. Kita bisa menilai suara itu merdu atau sumbang, benda tertentu indah atau jelek, makanan yang kita kecap enak atau tidak, seseorang itu baik hati atau jahat.

Selain karunia Allah, kemampuan ini muncul dan terasah tidak terlepas dari pengalaman. Dengan sering kita makan berbagai jenis kuliner atau makanan, kita jadi tahu mana makanan yang enak dan tidak.

Begitu juga, kita mampu menilai oleh sebab pengetahuan dan pendidikan. Dengan pengetahuan yang diperoleh secara lisan dari orang lain, atau buku yang kita baca. Maka, kita bisa menilai bahwa suatu berita hoax itu sesungguhnya berbahaya.

Menilai itu masih pada taraf netral. Dalam arti menyatakan mana yang indah dan buruk, mana yang baik dan mana yang jahat. Menilai membantu kita sehingga bisa mengambil pilihan yang tepat. Dengan bisa menilai mana makanan yang sehat dan mana yang berbahaya buat kesehatan. Maka, Anda dan saya dituntun untuk memilih secara benar mana yang mestinya kita makan. Kemampuan menilai sangat membantu menentukan pilihan tepat.

Saudaraku, meski demikian ada kemampuan menilai yang harus hati-hati. Apa itu? Penilaian yang mengarah bersifat menghakimi. Tuhan Yesus mengingatkan kita musti mewaspadainya. Ia mengajak kita jangan jatuh pada sikap penghakiman. Mengapa? Karena menghakimi merupakan penilaian tidak netral. Ada unsur terlalu menyalahkan. Penilaian gegabah. Orang lain belum apa-apa dinilai selaku obyek kesalahan.

Orang yang dihakimi ditempatkan pada posisi bersalah. Sedangkan yang menghakimi mengklaim diri lebih benar. Lebih suci. Dalam dunia keagamaan orang suka terjebak pada kesalahan menghakimi. Contoh kecil, ada orang yang berbulan-bulan tidak bergereja. Buat orang yang suka menghakimi, maka spontan ia akan menilai orang tersebut adalah orang tidak setia, malas, tidak cinta Tuhan, kurang taat. Tanpa lebih dahulu mengenali penyebab utamanya, bahkan tidak mau mendengar alasan penyebab sebenarnya ketidak hadirannya di ibadah Minggu.

Pada era atau jaman Tuhan Yesus, justru mereka yang mengaku pimpinan agama. Rajin berdoa. Buku utama yang dibacanya kitab suci. Tokoh di bidang kehidupan keagamaan. Dengan mudahnya mereka menghakimi orang yang di mata penilaian mereka sangat bersalah.

Saudara-saudara, ironinya, para pemimpin agama itu tidak bersih-bersih amat. Mereka juga punya kekurangan. Bahkan dibandingkan dengan orang yang dihakimi, mereka punya cacat dan kelemahan lebih besar. Tuhan Yesus memakai bahasa kiasan, yatu “selumbar” dan “balok”. Selumbar itu sepercik debu. Gambaran benda kecil sekali. Sedangkan balok jelas kayu yang besar, yang bisa menutupi penglihatan.

Pemimpin agama itu membesarkan kesalahan yang kecil. Kesalahan orang lain itu di-zoom. Diperbesar ukurannya. Sedangkan kesalahan besar yang mereka miliki seakan-akan tidak mereka lihat.

Sungguh, orang yang jelas punya kesalahan lebih besar malah menghakimi orang yang berbuat kesalahan kecil sekali. Orang demikian, orang yang ingin “memberesi rumah tangga” orang lain. Padahal “rumah tangganya” sendiri lebih berantakan. Mereka yang menyapu tapi sapunya lebih kotor. Menuntut orang lain sempurna, tapi yang bersangkutan kompromi dengan kesalahan pada diri sendiri. Orang demikian, kata Tuhan Yesus orang munafik. Indah di luar, buruk di dalam. Membeberkan bahwa orang lain salah. Sayangnya, pada dirinya sendiri melekat kesalahan yang lebih besar.

Saudaraku, fungsi pemimpin agama bukan menghakimi. Tetapi hadir menemani yang tersesat agar kembali kepada Allah. Menjadi sahabat bukan memusuhi. Mengulurkan tangan buat yang jatuh, agar bisa bangkit kembali. Membalut yang luka, bukan menambah luka. Betapa pentingnya hati-hati menilai orang lain. kita mengasah diri terus-menerus agar mampu menilai sesuatu dengan tepat.

Belakangan ini, ada penolakan terhadap jenazah karena penyakit tertentu saat mau dikebumikan. Lebih dari itu, ada yang sudah dikubur, masyarakat menuntut dibongkar lagi. Dan mereka meminta dipindahkan ke tempat lain.

Ada apa ini? Bisa jadi, lantaran kurang informasi, sehingga mereka takut secara kurang pada tempatnya. Sungguh fenomena memprihatinkan. Jika dalam benak mereka terdapat sikap menghakimi. Bahwa orang yang meninggal karena wabah itu dianggap aib. Ibaratnya keluarga sudah jatuh, ditambah tertimpa tangga pula. Betapa pedih kehilangan orang yang dikasihi lalu ditambah lagi dengan penilaian yang keliru. Ditolak dengan dasar suasana kental penghakiman.

Kita sebagai orang beriman tidak meniru tindakan yang melukai orang yang sudah terluka. Tugas kita membebat orang yang terluka. Bukan menambah luka baru. Jika memang ada orang yang benar-benar bersalah. Bagaimanapun kita menghindar dari sikap menghakimi. Lebih baik mendampingi, menemani dan mengajak bangkit kembali. Hati-hati. Kita jangan jatuh terjerembab dalam sikap dan tindakan menghakimi. Itu tidak elok. Tidak senafas dengan perintah Tuhan Yesus.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu kami tidak cepat menghakimi orang lain.😇

Kami serahkan orang-orang yang kami kasihi. Kiranya terlindung dari ancaman yang menakutkan. Dan berlindung pada-Mu, Pemilik kehidupan. Dalam nama Yesus, nama yang indah dakam hidup kami, doa ini kami panjatkan. Amin.

Meringankan Bukan Menambah Beban

Oleh Pdt Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Bangun pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita adalah, “Berkatalah aku kepada mereka: “Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.” Nehemia 2:17

Saudaraku, ada beragam sikap manusia ketika berhadapan dengan problem bangsanya. Ada yang tanggap. Menyingsingkan lengan baju, kemudian berbuat sesuatu. Ada yang masa bodoh. Pura-pura tidak tahu. Dan menganggap bukan prioritasnya. Ada juga yang mau berkontribusi namun menunggu ajakan pihak lain.

Yerusalem. Kota suci dan pusat kebanggaan Israel mengalami porak poranda. Tak terurus dan terabaikan. Nehemia merupakan contoh sosok yang tanggap melihat keadaan mengenaskan yang menimpa Yerusalem. Hatinya tersentuh oleh perasaan terpanggil.

Ia menanamkan dalam dirinya, bahwa ia harus berbuat sesuatu demi Yerusalem. Karena itu, ia pulang dari negeri lain, dengan meninggalkan pekerjaan yang baik dan hidup yang lebih dari cukup. Pekerjaannya bukan pekerjaan biasa. Ia orang istana. Ia lepaskan jabatan juru minuman raja.

Selain merasa terpanggil dan bertanggung jawab, Nehemia membangun kesadaran di tengah orang Israel. Bahwa kondisi muram Yerusalem merupakan tanggung jawab bersama. Ia tidak mau dirinya saja yang bekerja dan yang lain menjadi penonton. Ia menantang dan mengajak, “ mari kita bangun kembali”. Undangan ini bersifat penyadaran tanggung jawab bersama. Tanggung jawab kokektif. Ramai-ramai berpartisipasi.

Saudaraku, apakah Nehemia berhasil? Undangan dan ajakan untuk membangun kembali yang dilakukan Nehemia, menjadikan kita tahu karakter seseorang. Ada yang tergerak, bahkan dari kalangan bukan orang Israel. Mereka membantu dengan mendonasikan bahan bangunan. Mereka antusias mendukung ajakan Nehemia membangun Yerusalem.

Sayangnya, ada juga sikap yang nyinyir. Tidak berbuat sesuatu tapi lebih banyak merecoki. Sudah tidak membantu, ditambah lagi memproduksi opini negatif. Orang seperti ini untuk mengeluarkan dana dan bantuan buat kebersamaan kikir sekali. Tapi untuk kepentingan popularitas pribadi bisa royal.

Saudaraku, puji Tuhan. Terdapat karakter responsif di komunitas manapun. Ternasuk di lingkungan gereja. Ada orang yang tanggap berkontribusi buat kepentingan orang banyak, untuk gereja. Punya uang dia donasikan uang. Punya tenaga, ia sumbangkan tenaga. Punya ilmu ia mau berbagi ilmu. Pendeknya, yang dia punya menjadi aset untuk kebersamaan.

Sejalan dengan itu, ada juga orang yang menutup mata. Menganggap bukan agenda dan tanggung jawabnya. Lebih senang menjadi penonton. Dana bisa jadi dia punya. Tenaga juga dia punya. Yang tidak dia punya adalah kesadaran dan tanggung jawab buat kepentingan lebih besar.

Orang itu kaya tapi miskin. Secara material ia cukup, tetapi jiwanya ia miskin. Di jaman Nehemia, orang seperti Sanbalat. Tipe orang banyak kritik, sedikit sedikit memberi sumbangsih.

Saudaraku. Negeri kita tidak membutuhkan orang model Sanbalat. Sebab, bukannya meringankan beban malah menambah-nambah persoalan.

Saudaraku, hari-hari ini dibutuhkan di negeri kita sosok seperti Nehemia. Dan diperlukan sikap saling membantu satu sama lain. Saling menolong. Sikap tanggap terhadap gerejanya, masyarakat dan bangsa. Bergandengan tangan berbuat sesuatu yang bermakna.

Diperlukan anak-anak Tuhan yang punya sikap kesadaran mau berkontribusi. Bisa material, pengetahuan, bisa tenaga. Sebenarnya mendengar himbauan pemerintah. Tinggal di rumah. Dengan mematuhinya, kita sedang berkontribusi bagi situasi tidak makin memburuk.

Saudara, mari singsingkan lengan baju. Apa yang Anda miliki akan berati jika berkontribusi bagi situasi kehidupan lebih baik.