Introspeksi: Mawas Diri

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik.

Firman Tuhan pagi ini yang kita renungkan yaitu, “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal. “ 1 Raja 18:18

Saudaraku, ada ungkapan yang menyatakan, “ kau yang bertindak, kau yang bertanggung jawab”. Artinya, pada satu sisi kita sebagai manusia mempunyai pilihan sendiri atas apa yang kita lakukan. Kita punya emosi, keinginan dan kehendak. Kita bisa bertindak hal yang baik, dan bisa juga yang jahat. Kita bukan robot, yang disetel dulu pihak lain, baru kemudian bertindak. Kita punya kehendak bebas (freewill).

Pada sisi lain, setiap apa yang kita pilih dan lakukan ada konsekwensinya. Biasanya sekarang populer memakai istilah, “tabur-tuai”. Apa yang kita tuai merupakan akibat dari apa yang tabur. Kita menabur kejujuran, kita menuai kepercayaan. Kita menabur keramahan, kita akan punya banyak teman.

Sayangnya, Ahab tidak melihatnya demikian. Ketika mereka menuai musibah, yang pertama ia lihat adalah pihak lain. Dia menganggap nabi Allah, dalam hal ini yang mencelakakannya. Seolah-olah Allah kurang perduli dengan keselamatannya. Pola pikir seperti ini lazim terjadi sekarang juga. Sikap yang tidak melakukan introspeksi, melainkan mencari kambing hitamnya pada pihak di luar dirinya.

Elia membantah bahwa musibah kekeringan alam yang ekstrim, yang dituai Ahab merupakan kelengahan dan abainya nabi Allah. Ahab mendakwa ada pembiaran dari Elia. Telunjuknya diarahkan kepada Nabi Elia.

Elia menolak itu. Ia menyatakan, bahwa Ahab sendiri biang kesalahan dan biang keladinya. Ada ketidak beresan relasi Ahab dengan Allah. Ia mengkhianati kesetiaan. Ia menyimpang dari Allah sejati. Penyembahannya kepada Baal membawa konsekwensi. Musibah itu buah dari ulah diri sendiri.

Saudaraku, banyak kita temui mental demikian saat ini. Bertindak sendiri, ternyata langkahnya keliru, lalu Tuhan atau pihak lain yang disalahkan. Jika ada orang mengalami sakit yang berat. Jangan salahkan Allah, dengan tuduhan Dia tidak memberi kesehatan. Padahal sakitnya bersumber pada pola makan dan disiplin diri yang rendah yang dilakukannya.

Jangan salahkan Allah, bahwa Allah tidak mengabulkan doanya ketika hidupnya berantakan secara ekonomi. Padahal, itu buah dari perbuatannya sendiri. Malas. Manja. Orang tua menyediakan fasilitas tapi disia-siakan. Tidak gigih melakukan hal yang bisa memberikan kesejahteraan.

Mental mau bertanggung jawab merupakan sikap langka. Lebih gampang berusaha cuci tangan. Merasa tidak bersalah. Selanjutnya, pihak lainlah didakwa penyebab utamanya kejadian buruk. Seperti itulah tindakan Ahab kepada Elia. Elia dituduh sebagai kambing hitam. Orang yang didakwa bersalah di balik musibah kekeringan parah yang melanda Israel. Ahab merasa bersih dan nabi Allah itu diposisikan bersalah.

Saudaraku, Elia balik mengingatkan. Justru perilaku Ahablah yang jadi biang kesalahan yang menyebabkan parahnya alam harus ditanggung bangsanya. Ada kesalahan fatal yang dilakukan Ahab dan kerabatnya. Yakni meningggalkan Allah Penguasa alam semesta, lalu menjadikan dewa Baal pujaan barunya.

Di sinilah, saudaraku, manakala sebuah realitas tidak menyenangkan terjadi dalam hidup kita pribadi, atau yang menimpa kehidupan bersama. Jangan cepat-cepat menengok pihak lain, lalu menjatuhkan tuduhan bahwa pihak lainlah yang menjadi sumber kesalahan. Sikap terburu-buru demikian akan menimpakan kesalahan kepada orang lain yang bisa saja tidak bersalah. Selain itu, sikap demikian akan menutup diri untuk introspeksi.

Seseorang atau masyarakat yang tidak mau introspeksi, tidak akan memperbaiki. Dan itu berarti orang bersalah yang tidak mau bertobat. Padahal, iman itu tumbuh dan matang, jika orang beriman itu belajar mengalami kegagalan. Lalu mengakui kesalahan dan terus bertekad membarui diri. Mari, di minggu Pra paskah ini lebih baik kita menata diri sendiri daripada cepat-cepat menyalahkan pihak lain.

Kini, di negeri ini dan belahan bumi lainnya, banyak penderitaan, banyak tangis, banyak kepedihan akibat virus yang mewabah. Ini momen introspeksi, adakah ini semua berawal dari kesalahan manusia? Adakah sikap keagamaan yang keliru? Memanggil Nama Allah, tapi sementara itu menguras alam milik alam miliknya dengan tidak bijaksana.

Tuhan sertai langkah kehidupan kami. Yang sakit berikanlah pemulihan dan perkembangan yang melegakan. Kami berdoa kiranya yang saat tergolek sakit, cepat pulih dan sehat kembali. Pengetahuan dokter dan konsumsi obat mempercepat perkembangan kesehatannya.

Kami menyerahkan juga kepada-Mu, mereka yang sehat. Mampukan menjaga kesehatan dengan baik. Berikan kesadaran betapa penting dan berharganya kesehatan.

Resah? Berserah!

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, paru-paru kita masih bernafas, panca indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, betapa baiknya Tuhan. Sekaligus kita masih dipercaya Tuhan melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan berbunyi, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Yohanes 14:2

Saudaraku, gelisah adalah salah satu gejolak perasaan. Ditandai dengan adanya rasa hati yang tidak tentram. Ketika tidur malam, kualitas tidur tidak lelap. Bahkan, suka bangun tiba-tiba di malam hari dan sulit memejamkan mata kembali. Pikiran menerawang kemana-mana.

Orang yang dilanda kegelisahan mengalami “tidur tak nyenyak, makan tak enak.” Ada persoalan yang seakan-akan tak terselesaikan. Atau ada persoalan yang kelak dihadapi. Kedua hal itu, bisa langsung memicu kegelisahan seseorang.

Bagaimanapun, Saudaraku, setiap gejolak perasaan tentu ada sebabnya. Orang yang tidak pasti masa depannya bisa gelisah. orang yang tiba-tiba mengalami pemutusan hubungan kerja. Tentu, tak lepas dari sergapan kegelisahan. Khususnya, manakala orang itu tidak tahu pasti bagaimana mengisi hari-hari ke depan. Belum tahu mau bagaimana membiayai hidup esok hari.

Saudaraku, banyak faktor penyebab ketidaktentraman hati. Kini kasus virus korona pun bisa menjadi sumber kegelisahan.

Orang yang gelisah bisa siapa saja. Bisa dari buruh kecil sampai pejabat tinggi. Dari orang yang serba kekurangan sampai orang yang serba kelimpahan. Atau bisa juga Anda dan saya. Sesungguhnya, semua orang bisa dihinggapi kegelisahan diri. Tidak ada yang imun dari kegelisahan.

Sama. Para murid Tuhan tidak kebal dari perasaan gelisah. Mereka pun gelisah. Mereka sadar kelak akan ada perpisahan fisik dengan Guru mereka, Yesus Kristus. Akibatnya, mereka takut dan kuatir bilamana hal itu menjadi kenyataan. Bagaimana nasib mereka baik, Atau nasib buruk yang menanti mereka? Pertanyaan-pertanyaan demikian, mengusik ketentraman hati mereka.

Saudaraku, Tuhan Yesus menangkap suasana hati dan batin mereka. Hati dan batin yang tidak tenang dan tentram. Ada keraguan dalam diri para murid-Nya memasuki masa depan. Kurang percaya diri. Rasa ragu yang menumbuhkan rasa takut.

Tuhan Yesus melihat gelagat itu. Ia menyadari bahwa para murid-Nya musti diyakinkan agar mereka tidak takut maupun kuatir. Untuk itu, Tuhan Yesus meminta mereka percaya. Ya, kata kunci menangkal kegelisahan adalah percaya. Dalam hal ini percaya kepada Allah dan percaya pada Tuhan Yesus.

Percaya di sini mengandung arti menyerahkan hidup dan masa depan kepada rencana Allah. Percaya bahwa Tuhan memiliki kekuatan dan kekuasaan yang mampu menghapuskan atau paling tidak mengurangi beban batinnya. Kegelisahan akan terobati dengan memasrahkan nasib kepada Tuhan saja. Sebab Tuhan yang penuh kuasa itu, adalah Tuhan perduli atas mereka yang percaya kepada-Nya. Tuhan yang peka melihat kegelisahan hati seseorang.

Saudaraku. Banyak orang tetap gelisah sebab beban kekuatirannya tidak dilepaskan. Dia pegangi terus masalahnya. Segelas air itu ringan. Namun jika kita angkat terus berhari-hari apalagi berbulan-bulan. Segelas air itu akhirnya menjadi hal berat yang bisa melelahkan tangan yang mengangkatnya terus-menerus.

Demikianlah juga jika sebuah beban hidup yang tidak dilepaskan. Jika beban hati tidak diserahkan kepada Tuhan. Bisa melumpuhkan hidup seseorang.

Untuk itu, mari, kita biarkan Tuhan yang memimpin hidup kita ke depan. Biarkan Allah memegang tangan kita. Serahkan masa depan kita kepada-Nya. Kita pasrahkan kesehatan kita, keluarga kita, pekerjaan kita ke dalam tangan-Nya.

Bagaimanapun, Dia paling tahu hal terbaik buat kita. Niscaya, kelak Dia akan melepaskan beban kegelisahan kita. Bukankah kita ingat dan meyakini kebenaran firman Tuhan, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” ( 1Petrus 5:7).

Imam Pilihan Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi ibu, bapak, mbak, mas, oma, opa, dan saudaraku yang baik. Semoga pagi ini kita menghirup udara yang baru sambil mengucap syukur kepada Allah. Sebab Allah kita adalah Allah yang baik, dan Ia yang memberi usia kehidupan atas kita.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, adalah 1 Petrus 2:9.
Namun, kamu adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani , bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri supaya kamu dapat memberitakan kebaikan-kebaikan-Nya, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib.

Saudara kita kenal burung bernama pinguin. Unggas yang hidup di Kutub Utara. Sebuah wilayah bumi yang amat dingin. Ketiak kita memperhatikan gaya jalan dan sosok fisik serta wana bulu pinguin, kita melihat semuanya sama. Warnanya hanya hitam dan putih, dan caranya jalannya hampir sama, langkahnya pendek-pendek. Semuanya serba sama satu sama lain. Kita pasti sulit menentukan dan membedakan satu sama lain. Meskipun demikian, sang induk pinguin pasti sangat mudah menentukan dan menemukan anaknya di antra puluhan pinguin yang lain. Relasi yang dekat antar induk dengan anaknya membantu induknya mengetahui yang mana anaknya dan yang bukan.

Begitu juga manusia, yang berasal dari satu etnis atau ras mempunyai banyak kesamaan. Etnis Cina pada umumnya mata sipit, berkulit kuning, dan rambutnya lurus. Umumnya seperti itu. Tak terkecuali orang yang berasal dari Etnis Arab. Hidungnya mancung, lelakinya banyak berkumis dan berjanggut, serba serupa.

Dari etnis dan ras yang sama, maka ada kebiasaan dan pola hidup yang sama pula. Orang Indonesia secara umum punya kesamaan satu dengan yang lain. Entah selera makan, cara berbusana, cara menyapa, kepribadiannya dan hampir keseluruhan punya kemiripan. Tapi Allah kita tidak sulit mengenali kita dibandingkan dengan orang Indonesia lainnya. Hal ini karena status kita di mata Allah berbeda. Allah mengenali kita di antara orang Indonesia lainnya. Sebagai orang Kristen kita memiliki posisi khas.

Firman Tuhan menyatakan kita disebut bangsa pilihan. Iman kita kepada-Nya membedakan Allah. Allah yang mengenal dan mengasihi kita membuat kita berbeda. Relasi Allah yang menyelamatkan kita menjadikan kita lain. Di tengah kesamaan kita dengan orang Indonesia lainnya, iman kita menjadikan kita unik, tidak sama dengan yang lainnya. Sekaligus pilihannya menjadikan kita berbeda pula.

Namun bukan asal beda, kita berbeda selain status juga tugas. Ya di pundak kita terdapat tugas atau misi. Dikatakan kita adalah Imamat yang Rajani. Apa arti Imamat yang Rajani? Di era Perjanjian Lama, imam berfungsi sebagai perantara umat dengan Tuhan, namun dengan pengorbanan Kristus tidak lagi memerlukan perantara. Kita dapat berkomunikasi langsung dengan Allah. Sebagai imam kita menuntun orang lain mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita. Ingat yang jadi imam itu adalah semua orang yang beriman kepada-Nya, bukan hanya laki-laki. Seperti opini yang sering kita dengar.

Saudaraku, seiring dengan status sebagai kita sebagai imam, posisi kita sangat dekat dengan Tuhan. Untuk itu kita jangan jauh atau menjauhkan diri dengan Tuhan. Dulu imam menjadi penyambung lidah umat yang berdosa kepada Tuhan, kini mewakili diri sendiri. Itu berarti posisi kita teramat dekat dengan Allah. Semoga hari ini kita tidak jauh-jauh dan tidak pernah berpikir menjauh dari Allah. Kita dekat dan tetap ingin mendekat.


Serakah Membuat Susah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah ”Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! “ Ulangan 27:17

Saudaraku, dalam diri manusia terdapat naluri hasrat mempunyai lebih. Hal ini didorong oleh kesadaran dan pengalaman bahwa kekurangan itu membawa akibat kesusahan. Kurang uang. Kurang sehat. Kurang perhatian. Kurang makan. Kurang iman. Kekurangan berdampak buruk bagi kehidupan manusia, baik fisik kejiwaan, maupun spiritualitas. Tidak heran, godaan yang musti dihadapi manusia adalah menginginkan kelebihan. Apalagi kelebihan yang bersifat materi. Seakan-akan ada perasaan puas dan tenang jika hidup dalam kelebihan.

Tuhan yang menuntun Abraham, Ishak, Yakub dalam perjalanan mereka, ternyata melimpahi mereka dengan materi. Tanah yang luas, hewan ternak yang lebih dari cukup. Sehingga mereka mengelolanya membutuhkan budak-budak. Tidak heran, Alkitab juga menggambarkan sosok Abram sebagai hartawan. Kejadian 13:2, mencatat, “Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.” Begitu pula Ayub, tidak kalah fantastik kekayaannya. Dia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar…”

Saudaraku, naluri ingin mempunyai lebih ternyata harus dikontrol. Sebab, jika tidak dikontrol, naluri itu bisa menjadi keserakahan. Tidak pernah merasa puas. Ingin lagi, ingin lagi. Bagaikan orang haus meminum air laut, makin bertambah rasa hausnya. Akibat lebih lanjut, dan ini buruk, adalah ingin mengambil dan menguasai milik orang lain. Firman Tuhan di atas yang bersifat peringatan keras agar tidak menggeser batas tanah merupakan fungsi kontrol keserakahan.

Di jaman kita yang modern, kepemilikan tanah ditandai dengan sertifikat. Secarik kertas yang menunjuk legalitas kepemilikan. Di jaman itu, lain. Belum dikenal sertifikat tanah. Kepemilikan tanah hanya ditandai secara tradisional. Batu atau pohon jadi penanda batas kepemilikan tanah.

Konsekwensinya, betapa mudahnya seorang berniat buruk mengambil tanah bukan miliknya dengan menggeser batas tanah. Orang Israel tidak boleh melakukan itu. Karena itu, seluruh unsur bangsa mendukungnya dengan menyatakan “amin”. Sebuah eskpresi ikatan moral yang disetujui. Dengan pernyataan “amin” yang mengikat secara moral bahkan spiritual itu, maka menguasai tanah bukan miliknya digolongkan perbuatan terkutuk. Barang siapa melanggar menghadapi sangsi berat. Yakni hidupnya kelak menderita.

Saudaraku, salah satu kisah lawas yang memberi pesan moral yaitu tentang raja Midas. Seorang raja yang ingin hidupnya sudah berlimpah, tapi masih ingin makin berlimpah. Ia punya kemampuan, setiap tangannya menyentuh sesuatu, otomatis benda yang disentuhnya menjadi emas.

Tentu dia senang dan bangga. Dengan kemampuan itu, ia berlimpah harta. Sebab emas ada di mana-mana. Pintu terbuat dari emas. Kursi dari emas. Segala benda di istananya berwarna kuning kemilau sebab terbuat dari emas. Sampai suatu hari, anaknya kangen ingin dipeluk ayahnya, raja Midas. Sang raja pun punya kerinduan sama. Ia pun rindu memeluk anaknya. Anaknya berlari ke arah raja. Segera raja membentangkan tangannya. Jatuhlah anak itu dalam pelukan ayahnya. Seketika itu juga, anak raja Midas berubah jadi emas. Betapa sedih dan menyesallah sang raja.

Demikian, orang yang selalu berlebih tapi tidak mengontrolnya. Akibatnya kesusahan dan penderitaan yang datang, bukan suka cita dan kebahagiaan. Keserakahan adalah racun kehidupan bukan madu yang memberi manisnya kehidupan.

Keserakahan atau kerakusan bukan hal sepele. Melainkan penyakit moral dan spiritual. Namanya penyakit maka membahayakan kehidupan manusia kini dan nanti. Sedangkan bagi pelanggarnya sendiri mengalami hidup yang berat dan berimbas ke lingkungan lebih luas. Publik pun dirugikan.

Di tengah dunia menghadapi virus corona, tidak sedikit orang yang dijangkiti penyakit keserakahan dan kerakusan. Kesulitan menjadi peluang menimbun barang. Atau orang yang panik membeli sampai lupa orang lain punya kebutuhan sama. Syukurlah, saya melihat karakter mulia orang Indonesia yang mau berbagi. Para ojol ( ojek online) berkisah pengalaman betapa baiknya orang-orang kita. Pelanggannya meminta dibelikan makanan atau barang-barang konsumsi. Setelah dibelikan, justru disumbangkan bagi para ojol itu bukan buat pelanggannya.

Ada banyak kisah lain mencuat bersifat dan berbentuk berbagi. Keserakahan tereliminasi oleh sikap simpati. Kerakusan terkurangi karena sikap empati. Melihat itu, terlebih melakukan itu, dakam kesulitan seberat sekarang ini, kita masih berjalan dengan harapan. Ya, pasti tetap penuh pengharapan.

Sukacita Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat malam, saudara-saudaraku yang baik. Pagi tadi mentari terbit di timur setiap pagi dan bulan juga terbit pada malam hari begitu setia setiap hari. Terlebih Allah Sang Penciptanya, Dia setia dan selalu setia mendampingi kita. Puji syukur kepada-Nya.

Firman Tuhan menyatakan, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Yohanes 15:11.

Saudaraku, Tuhan Yesus pernah menangis. Tidak hanya sekali, bahkan dua kali. Pertama ketika sahabat-Nya Lazarus meninggal. Dia merasakan duka mendalam, terlebih melihat betapa Maria dan Marta amat terpukul dengan kematian saudara laki-lakinya. Di sana Dia menangis. Kedua, Dia menangis saat masuk kota Yerusalem. Ia menangisi kota itu yang akan mengalami nasib buruk. Musuh akan mengepung kota itu, dan Yerusalem serta penduduknya tidak berkutik. Ajal dan kehancuran akan terjadi atas mereka.

Tidak hanya menangis, Ia juga pernah marah. Meja pertukaran uang, sekarang namanya money changer, dan para penjual hewan di depan Bait Allah, menjadi sasaran kemarahan-Nya. Menangis dan marah, dua luapan emosi mengalir dari sosok Tuhan Yesus. Menangis bukan karena cengeng atau ekspresi jiwa yang lemah, melainkan Ia tahu kematian merupakan peristiwa paling menyedihkan. Simpati dan empati itulah yang melatar belakangi mengapa ia menitikkan air mata.

Sementara itu, Ia marah bukan marah pura-pura. Ia tidak bersandiwara. Tuhan Yesus benar-benar marah, sehingga meja-meja penukaran uang dibalikkan, uang dihamburkan, hewan-hewan dicerai-beraikan dan para pedagangnya diusir. Suasananya pasti riuh. Para pedagang membereskan dan menyelamatkan barang dagangannya. Sebuah tontonan kemarahan luar biasa. Belum pernah saya temukan ledakan kemarahan demikian di kalangan pendeta.

Kemarahan Tuhan Yesus itu bukan pertanda Dia temperamental. Tidak sama sekali. Dia bukan tipe pribadi emosian. Orang yang temperamental sedikit-sedikit marah. Istilah yang suka dipakai untuk orang yang cepat tersinggung dan marah adalah orang bersumbu pendek. Cepat meledak emosinya. Tuhan Yesus bukan tergolong seperti itu. Dia peduli dengan kesucian bait Allah. Dia tidak bisa berdiam diri melihat ketidak beresan menodai Bait Allah. Bait Allah menjadi arena berniaga. Bait Allah bukan tempat cari untung dan sumber nafkah. Persembahan ritual menjadi komoditi. Para pedagang itu mencemari keberadaan kesucian Bait Allah, itulah penyebab mengapa Yesus marah.

Jelas, Yesus, Tuhan kita pernah menangis bahkan dua kali. Dia pun pernah marah, kemarahan yang hebat. Kini pertanyaannya, pernahkah Dia bersuka cita dan kapan peristiwanya? Saya yakin, dalam kemanusiaannya, Yesus mempunyai emosi. Menurut Alkitab, hati adalah sumber emosi. Yesus punya hati maka tentu sebagaimana lazimnya Ia pun memiliki emosi, termasuk bersuka cita.

Meski Alkitab tidak mencatat dan memberi kesaksian secara gamblang kapan tepatnya Yesus tertawa atau bersuka cita. Bacaan kita menginsyafkan bahwa Tuhan Yesus selalu bersuka cita manakala kita mematuhi perintah-Nya, yakni dalam status sahabat dan diutus ke tengah dunia mempunyai pola hidup saling mengasihi.

Pola hidup kita yang melahirkan suka cita Tuhan Yesus. Yakni pola hidup ketersalingan. Dalam hal ini praktik hidup saling mengasihi. Jadi, kalau kita mau menyenangkan hati Yesus supaya Dia bersuka cita, kita hidup saling mengasihi. Itulah kuncinya.

Dia bersuka cita bukan karena guyonan dan kelakar kita. Bukan sama sekali. Jika anda mengasihi istri dan istripun mengasi anda, seorang anggota majelis mengasihi warga jemaat dan demikian pula sebaliknya, maka Yesus akan bersuka cita. Kasih timbal-balik antara orang tua dan anak, kakak-adik, guru-murid, dan lain-lain, niscaya hati Tuhan meluap dengan kegembiraan. Semua kita yang dipanggil sahabat oleh Tuhan Yesus menempatkan diri kita sebagai subyek mengasihi yang tidak sepihak.

Jika Anda dan saya ingin membuat Tuhan menangis, berbuatlah hal sebaliknya. Kita mempraktikkan pola hidup yang saling memusuhi, yakni orang tua-anak, kakak-adik, pemimpin- yang dipimpin, antara warga jemaat yang satu dengan yang lain, dsb. Kita memilih hidup mengisolasi diri daripada berkomunikasi. Saling masa bodoh. Percayalah, kita membuat Tuhan Yesus menangis. Menangis prihatin.

Kini, kita diperhadapkan dengan dua pilihan. Yaitu membuat Tuhan Yesus bersuka cita atau membuat-Nya menangis. Antara hidup saling mengasihi atau saling membenci satu sama lain. Pilihan pada salah satu akan menuntun kita pada pola hidup yang kita jalani. Kita punya pilihan masing-masing. Kita bisa jika mau memilih pola saling mengasihi. Sama bisanya kita menjalani pilihan saling memusuhi dengan sesama.

Saudaraku. Dunia tengah dahaga dengan cinta. Semua terpapar kesulitan dampak virus yang bersifat pandemik. Presiden Uni Eropa dalam pidatonya mengulas sikap negara-negara Eropa dengan nada pedih. Di momen sulit ini, saat dia mengajak negara-negara Eropa menarik potensi mereka buat mengatasi kesulitan negara anggota uni eropa yang tengah terpuruk. Tapi, ternyata mereka malah saling menarik diri tak ingin berbagi. Memang tidak mudah saling mengasihi di saat sulit. Itu di level negara, jangan sampai terjadi juga di level pribadi dan masyarakat. Saat inilah, betapa relevan hidup saling mengasihi untuk memperkuat diri melawan kesulitan.

Saudara, saya percaya kita akan menjatuhkan pilihan yang mana. Model ideal tentunya. Itu berarti di tengah kehadiran kita di dunia, saling mengasihi, itulah yang hendak kita jalani. Suka cita buat Tuhan Yesus, suka cita pula hati kita dan sesama kita. Semoga Allah menguatkan pilihan kita yang tepat.