Refleksi Harian: Ulangan 27:17

Cukupkanlah Dirimu

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Pagi baru kita masuki, puji Tuhan, kita menikmati kasih perlindungan-Nya. Bahan refleksi harian: Ulangan 27:17

Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

Ulangan 27:17

Saudaraku, dalam diri manusia terdapat hasrat mempunyai lebih. Hal ini didorong oleh kesadaran dan pengalaman bahwa kekurangan itu membawa
kesusahan. Kurang uang. Kurang sehat. Kurang perhatian. Kurang makan. Kurang iman.

Kekurangan berdampak buruk bagi kehidupan manusia, baik fisik, kejiwaan, maupun spiritualitas. Tidak heran, kerinduan manusia adalah menginginkan hidup dalam kelebihan. Apalagi kelebihan yang bersifat materi. Ada perasaan puas dan bangga bisa hidup dalam kelebihan.

Saudaraku, hanya, naluri ingin mempunyai lebih yang tanpa batas harus dikontrol. Sebab, jika dibiarkan, naluri itu bisa berubah menjadi sifat serakah. Tidak pernah merasa puas. Selalu merasa kurang. Ingin lagi, ingin lagi. Bagaikan orang haus meminum air laut, justru makin bertambah rasa hausnya.

Ekses lain adalah ingin mengambil dan menguasai milik orang lain. Firman Tuhan di atas bentuk peringatan keras agar tidak menggeser batas tanah milik orang lain. Dan itu merupakan fungsi kontrol keserakahan.

Di jaman kita yang modern, legalitas kepemilikan tanah ditandai dengan sertifikat. Di sertifikat dicantumkan batas-batas tanah yang dimiliki. Di jaman itu, belum dikenal sertifikat tanah. Kepemilikan tanah hanya ditandai secara tradisional. Batu atau pohon jadi penanda batas kepemilikan tanah.

Konsekuensinya, betapa mudahnya seorang yang berniat buruk mengambil tanah bukan miliknya. Yakni dengan menggeser batas tanah. Firman Tuhan meminta Orang Israel tidak boleh melakukan itu. Sebagai bentuk persetujuan seluruh unsur bangsa musti mendukungnya dengan menyatakan “amin”. Sebuah ungkapan persetujuan dan dukungan moral. Dengan pernyataan “amin”, berarti orang Israel secara moral bahkan spiritual terikat untuk mematuhinya.

Saudaraku, salah satu kisah lama adalah tentang raja Midas. Seorang raja yang tidak pernah puas. Sudah kaya, tapi masih ingin makin berlimpah. Konon, Raja Midas diberi kemampuan, setiap tangannya menyentuh benda tertentu. Benda tersebut berubah menjadi emas.

Tentu dia senang dan bangga. Dengan kemampuan itu, emas ada di mana-mana. Pintu terbuat dari emas. Kursi singgasana dari emas. Segala benda di istananya berwarna kuning kemilau sebab terbuat dari emas.

Sampai suatu hari, anaknya kangen ingin dipeluk ayahnya. Sang raja pun punya kerinduan sama, memeluk anaknya. Anaknya berlari ke arah raja. Segera raja membentangkan tangannya. Lupa bahwa setiap dia pegang sesuatu akan menjadi emas. Jatuhlah anak itu dalam pelukan ayahnya. Seketika itu juga, anak raja Midas berubah jadi emas. Betapa sedih dan menyesallah sang raja.

Demikian, gambaran orang yang selalu berlebih tapi tidak bisa mengontrolnya. Akibat dari ketidak mampuan mengontrol keserakahan menciptakan kesusahan dan penderitaan yang datang, bukan suka cita dan kebahagiaan. Keserakahan adalah racun kehidupan bersama. Bukan madu yang memberi manisnya kehidupan.

Keserakahan atau kerakusan bukan hal sepele. Melainkan penyakit moral dan spiritual. Namanya penyakit maka membahayakan kehidupan manusia kini dan nanti. Sedangkan bagi pelanggarnya sendiri mengalami hidup yang berat dan berimbas ke lingkungan lebih luas. Publik pun dirugikan.

Saudaraku, mengisi Minggu Pra Paskah, betapa penting mengontrol diri. Kita mengurangi hidup berlebihan dengan berbagi. Sekaligus, kita mensyukuri yang Tuhan telah beri.

Koran Kompas kemarin memberitakan, KPK menangkap seorang yang punya jabatan baik. Saya percaya, dia sudah kaya tapi masih ingin lebih kaya. Mari, Saudaraku, kita menolak virus keserakahan dan kerakusan. Kita hidup dengan rasa syukur atas apa yang diberikan Tuhan, dan jangan merugikan kehidupan bersama.

Kita berdoa, “Tuhan, tumbuhkankah sikap bukan serakah dan rakus yang menyebabkan kesusahan orang lain dan diri sendiri.

Kami berdoa buat anak-anak, cucu-cucu kami yang hidup di tengah masa pandemi yang belum berakhir. Tuhan jagalah sosok-sosok yang kami cintai ini, agar mereka aman dari persebaran virus. Dan orang tua bisa membimbing mereka agar tidak mengalami kejenuhan berkepanjangan. Kiranya mereka tetap bisa bersuka cita. Kabulkanlah permohonan kami. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Ulangan 27:17

Refleksi Harian: Galatia 6:10

Jangan Tunda Berbuat Baik

Selamat pagi, mas-mbak, opa-oma, bapak-ibu dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik. Refleksi Harian: Galatia 6:10.

Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman

Galatia 6:10

Saudaraku. Setiap manusia, selama ia masih bernafas maka ia tetap masih mampu berbuat sesuatu. Termasuk berbuat baik. Seiring dengan itu, selama ia masih bernafas seorang manusia mampu melakukan hal yang baik buat sesamanya. Bahkan dalam keadaan terbatas sekalipun, setiap manusia pasti mampu berbuat hal yang berkenan buat manusia lainnya.

Kita tahu huruf braile, bukan? Huruf Braille adalah sejenis sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh Tunanetra. Sistem ini diciptakan oleh seorang Prancis yang bernama Louis Braille. Ia menemukan dan membuat sistem pada saat ia mengalami buta. Kebutaan waktu kecil. Ketika berusia 15 tahun, Braille membuat suatu tulisan buat para tentara. Dibuat untuk memudahkan tentara membaca ketika gelap. Jadi, meski buta Louis Braile bisa menuntun orang buta melalui penemuannya. Jadi, bisa orang buta menuntun orang buta dalam konteks penemuan sistem baca braile.

Firman Tuhan menyadarkan bahwa kesempatan itu harus dimanfaatkan. Bagaimanapun, kesempatan jika sudah lewat maka kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dengan demikian, tidak boleh kesempatan itu lewat tanpa kita mengisinya. Dalam kaitan itu, orang-orang percaya di Galatia diajak firman Tuhan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik. Terlebih pada saat mereka melihat ada saudara seiman yang dirundung kesulitan.

Saudaraku, melihat orang sedang kesulitan bermakna ganda. Pertama, orang kesulitan dilihatnya mendatangkan kesusahan. Beban. Bikin repot. Semakin menjauhi diri dari orang yang tengah kesulitan, berarti makin disukai. Sebab tidak terkena beban. Tidak direpoti dan direcoki, apalagi pada saat yang berbarengan juga situasi diri tengah repot.

Hal kedua, kesulitan adalah kesempatan dari Tuhan agar kita sungguh-sungguh mewujudkan kekristenan sejati kita. Kita diuji, betulkah kita memang hidup dengan semangat kasih, atau tidak. Bisa dilihat sebagai test case.

Dalam bagian lain firman Tuhan, Tuhan Yesus bahkan menyamakan diri dengan orang yang kesulitan, papa dan mengalami penderitaan ekstrim. Tidak punya pakaian, makanan, di penjara (Matius 25:31-46).

Bila kita tidak berbuat apa-apa atas mereka yang menderita, itu berarti sama dengan tidak berbuat apa-apa buat Tuhan Yesus sendiri. Sebaliknya, kita yang memberikan makan-minum, busana, menghibur atas mereka. Itu sama dengan melakukannya untuk Kristus. Dan mengantar sang pemberi masuk ke dalam kerajaan Allah.

Saudaraku. Ada seorang kakak yang kemana ia pergi, ia sambil menggendong adiknya yang lumpuh. Seorang yang merasa prihatin, “ kasihan sekali, kamu. Ke mana-mana harus membawa beban di punggungmu”. Orang itu langsung menjawab, “apa beban? Dia bukan beban, dia adikku”.

Jadi, tatkala hari ini saat kita mengisi hari di minggu pra paskah, kita melihat dan berjumpa dengan Saudara seiman yang sedang kesulitan. Yang bersangkutan bukan beban, tapi kesempatan buat kita berbuat baik. Jangan tunda berbuat baik, selagi ada kesempatan.

Louis Braile melihat orang lain yang buta bukan beban tambahan buat dirinya yang juga buta. Malah, jadi kesempatan ia mampu melahirkan kebaikan. Orang buta bisa menuntun orang buta, melalui temuannya. Bahkan, karyanya jadi berkat buat hanya saudara seiman, tetapi setiap manusia tuna netra.

Kita berdoa, Tuhan, kami masih dikarunia hidup. Kiranya itu menjadi kesempatan berbuat hal yang berkenan buat sesama kami.

Doa-doa ini kami naikkan dalam nama yang indah Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Galatia 6:10

Refleksi Harian: Markus 14:65

Bertindak Adil

Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, Pencipta dan Pemelihara kita orang beriman. Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Bahan refleksi harian: Markus 14:65

Lalu mulailah beberapa orang meludahi Dia dan menutupi muka-Nya dan meninju-Nya sambil berkata kepada-Nya: “Hai nabi, cobalah terka!” Malah para pengawalpun memukul Dia

Markus 14:65

Saudaraku, lembaga pengadilan adalah lembaga yang memutuskan apakah seseorang yang menjadi terdakwa bersalah atau tidak. Hakim akan memimpin prosesnya dan akan menguji apakah seorang terdakwa terbukti bersalah atau tidak. Tidak semua terdakwa diputuskan bersalah, kemudian menjalani hukuman. Jika bukti-bukti yang menyeret terdakwa ke pengadilan itu lemah maka hakim bisa membebaskannya. Karena itu, hakim harus adil dan tidak memihak serta bertindak bertindak berdasarkan bukti dan kesaksian.

Bacaan kita menggambarkan bagaimana Yesus tengah diadili. Dalam hal ini di Mahkamah Agama. Di sanalah tuduhan terhadap Yesus diuji apakah benar atau tidak. Ternyata semua tuduhan itu tidak terbukti. Sedangkan saksi yang dihadirkan, satu sama lain bertentangan.

Injil Markus memberi kesaksian bahwa tidak ada fakta di pengadilan Mahkamah Agama itu bahwa Yesus harus divonis hukuman mati. Semua bukti dan saksi tidak mendukung dakwaan. Akhirnya, Imam Besar mengajukan pertanyaan langsung kepada Yesus, mengenai kebenaran mengenai kemesiasan-Nya. Dan Yesus menjawab bahwa betul Dialah Mesias yang datang. Jawaban ini oleh Imam Besar dianggap cukup untuk bisa menjerat Yesus untuk dihukum mati. Jawabannya dinilai penodaan agama. Penodaan agama merupakan bentuk kesalahan tak terampuni di mata mereka.

Setelah putusan Imam Besar dijatuhkan, dua bentuk perlakuan langsung dialami di tempat itu. Yesus diludahi. Dan para pengawal memukulinya. Diludahi merupakan bentuk penghinaan paling ekstrem yang diterima seseorang. Martabatnya dijatuhkan. Harga dirinya direndahkan. Diludahi penghinaan yang lebih berat ketimbang penghinaan kata-kata. Kedua, mereka melakukan bentuk kekerasan fisik. Yesus digebuki. Dua perlakuan itu dikategorikan tindakan tidak manusiawi. Dan Yesus harus mengalaminya di pengadilan Mahkamah Agama. Padahal, tidak ditemui bukti kejahatannya.

Saudara, di pengadilan seharusnya keadilan ditegakkan. Jika sebuah perkara diajukan ke pengadilan lalu ternyata tuduhan tidak terbukti dan saksi-saksi tidak memberi kesaksian yang benar, maka sesungguhnya terdakwa wajib dibebaskan. Ternyata dalam kasus Yesus tidak. Yesus diadili tidak dengan kaidah yang benar. Dan orang yang ada di pengadilan sewenang-wenang melukai harga diri dan fisiknya. Yesus korban kesewenang-wenangan. Dan Yesus menjadi sasaran brutalitas. Mereka seenaknya menghina dan memukuli.

Saudara, penderitaan ini baru awal. Yesus masih harus menjalani rute penderitaan lebih besar dan dashyat. Ini penderitaan yang nantinya berujung pada penyaliban-Nya di bukit Golgota. Kita lihat, betapa berbahayanya agama yang dipakai untuk menjerat pihak yang tidak bersalah. Nurani keadilan menjadi bisu. Diam. Sudah jelas tidak ada bukti dan fakta kesalahan di pengadilan Mahkamah Agama Tapi, Imam Besar memainkan dalih agama, sehingga Yesus di mata mereka melakukan dosa besar.Suatu bentuk kesalahan tak terampuni.

Di sinilah, kita sebagai umat beragama seharusnya bersikap atas sebuah perkara. Tidak boleh yang salah dibenarkan, dan yang benar disalahkan. Janganlah agama diplintir untuk memenuhi kepentingan seseorang atau sekelompok orang. Itu berakibat ada pihak yang dirampas keadilannya. Di kota ini pernah terjadi fenomena tersebut.

Panggilan Anda dan saya adalah berlaku adil. Kita berlakukan sikap adil di tengah keluarga atau di mana pun ketika kita berada posisi mengambil keputusan. Karena, sekali kita bertindak dengan tidak adil, maka ada orang yang diciderai perasaan keadilannya.Jangan sampai ada yang harus mendekam dalam penjara, padahal orang itu tidak bersalah. Kita tahu agama sesungguhnya harus mencerminkan dukungan pada sikap yang adil bukan agama dipakai untuk mendukung praktik ketidak adilan.

Kita berdoa, Ya, Allah, Putra-Mu Yesus Kristus dalam rangka menyelamatkan kami Ia harus mengalami pahitnya dan sakitnya diperlakuan tidak adil. Semoga kami bertindak adil mulai dari hal-hal kecil.

Tuhan, tolonglah saudara kami yang membutuhkan pekerjaan. Bukakan jalan dan mereka bisa keluar dari kesulitan ekonominya.

Tuhan, kami berdoa bagi para lansia dan mereka yang hendak menjalani vaksinasi. Berilah ketenangan, jauhkanlah kekuatiran. Semoga mereka menjalani dengan lancar karena beserta mereka.

Berkati kami, dengan kesehatan dan tubuh yang segar agar kami dapat beraktivitas. Dalam nama Yesus, kita berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Markus 14:65

Refleksi Harian: Matius 5:3

Total Mencari Pertolongan Allah

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Saat bangun pagi ini, syukur dan doa kepada Allah mengawali kita menjalani hari ini. Bahan refleksi harian: Matius 5:3

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga

Matius 5:3

Saudaraku, kemiskinan itu situasi yang pahit dan getir. Serba terbatas kemampuan kita untuk mewujudkan apa yang menjadi kebutuhan. Karena kemiskinan seseorang sulit punya kesempatan menyantap makanan terbaik. Ingat tahun 60-70-an, ada banyak orang tua hanya bisa menyediakakan makanan sangat sederhana. Makan ikan atau daging jarang sekali. Paling-paling, pada momen istimewa, seperti: natal dan ulang tahun. Yang diprioritaskan bisa makan kenyang bukan makan enak.

Ada lagi pengalaman pedih karena kemiskinan. Uang yang sulit dan tidak punya barang berharga. Banyak anak-anak atau orang dewasa yang sakit meninggal tanpa bisa mengkonsumsi obat. Apalagi jika melihat penduduk Di Afrika, dulu hingga kini. Fenomena kemiskinan seolah-olah tidak berubah.

Sedemikian pahit dan getirnya kemiskinan, mengapa Tuhan Yesus mengatakan, “Berbahagialah”. Apanya yang bahagia? Ketika anak kita sakit, dan harus segera dibawa ke dokter, sedangkan uang yang ada di dompet terbatas sekali. Bukankah justru kepanikan yang ada bukan kebahagiaan? Kita bingung, mau bayar obat dan dokter pakai apa? Sementara itu, tidak punya uang cadangan dan deposito. Pasti mereka bingung dan merasa sedih daripada bahagia menghadapi situasi demikian.

Saudaraku, dalam bahasa aslinya, Yunani (ptolos), orang miskin yang dimaksud di sini adalah kemiskinan yang mutlak. Miskin banget dan tidak punya apa-apa sama sekali, mengharukan. Bukan miskin rohani, melainkan orang yang betul-betul tidak berharta. Bahkan tidak punya pengaruh, merana, papa dan ditindas orang lain.

Mengapa orang yang semiskin dan semerana demikian Tuhan Yesus mengatakannya “berbahagia”? Hal ini dikarenakan, orang demikian sangat berharap pada pertolongan Tuhan. Ia tahu tidak ada yang bisa diharapkan dari dirinya. Sehingga ia mencurahkan dan mengandalkan diri hanya kepada Allah. Dalam situasi demikianlah, ia sungguh-sungguh tergantung dan mengandalkan Allah.

Sama, ketika kita sangat bergumul. Kita tengah berhadapan dengan masalah hidup yang berat sekali. Bukankah, kita sangat sungguh-sungguh berdoa. Kita betul-betul pasrah total. Kita sangat terpaut pada Allah. Doa kita tidak berlangsung seperti mesin dan rutin yang kurang penghayatan. Bahkan, saking sungguh-sungguh bisa berlinang air mata.

Dengan sepenuh hati, total mengandalkan Allah, sampai kelegaan datang. Kita merasa ketentraman. Kita merasakan bahwa Allah saja sumber kekuatan dan pengharapan. Dan kepada orang yang demikian karya Allah dalam Yesus akan hadir.

Namun, ucapan Tuhan Yesus jangan diartikan bahwa Dia menganjurkan untuk miskin. Kemiskinan tetap situasi buruk, pahit dan getir. Tuhan Yesus tidak menginginkan dan meminta Anda dan saya menjadi miskin.

Pembelajarannya adalah orang yang sedang mengalami kemiskinan, akan melahirkan sikap iman yang sungguh-sungguh mengandalkan Allah. Itu yang membahagiakan. Jadi, orang yang miskin di hadapan Allah adalah pribadi yang totalitas mencari dan menemukan pertolongan Allah. Ia rindu sekali Allah mengulurkan bantuan-Nya. Berbahagia, sebab Tuhan tidak akan mengecewakannya.

Kita berdoa, “ya, Allah. Engkaulah sumber pertolongan dan kekuatan kami. Dengan harta dan keuangan yang kami miliki, janganlah kiranya kami mengabaikan bahwa Engkaulah sumber pengharapan hidup kami.

Ya, Allah, kiranya hari yang kami jalani, kami berjalan dengan kasih dan pertolongan-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Matius 5:3

Refleksi Harian: 2 Timotius 1:5

Keluarga Tempat Bina Iman

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong akhir pekan dengan mengucap syukur kepada Allah. Kita dan keluarga kita masih diberi degup kehidupan. Bahan refleksi harian: 2 Timotius 1:5

Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu

2 Timotius 1:5

Saudaraku, ada pepatah yang mengatakan, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Atau “like father, like son”. Artinya, sikap dan perilaku seseorang merupakan cerminan orang terdekatnya. Sikap dan perilaku seseorang bagus lantaran orang dekatnya berperilaku bagus juga. Biasanya orang dekat itu, bisa orang tua, opa-omanya atau wali pengasuhnya. Tempaan lingkungan keluarga sangat berpengaruh pada pembentukan watak seseorang.

Bukti nyata ini dapat dilihat pada sosok Timotius. Sahabat dan mitra pelayanan rasul Paulus yang setia. Hubungan keduanya teramat dekat dan spesial. Sampai,sampai rasul Paulus menyatakan bahwa dia mengingat Timotius dalam doa-doanya, baik siang dan malam. Rasul Paulus merasakan dedikasi luar biasa Timotius dalam pelayanan. Banyak onak dan duri yang dihadapi mereka dalam pelayanan, tidak menghentikan semangat juang pelayanan Timotius.

Saudara, seumpama pepatah tadi, Timotius adalah buah yang baik. Maka, perhatian kita mengarah pada siapa “pohon” yang menghasilkannya. Rasul Paulus menyebut dua nama perempuan. Mereka adalah Lois dan Eunike, nenek dan ibunda Timotius. Keduanya bukan perempuan biasa. Lois adalah seorang nenek dengan iman yang semangat. Cinta dan pengetahuan kitab sucinya, dia tularkan kepada keluarganya. Lois membesarkan cucunya dengan kasih sayang dan sekaligus memperkenalkan cinta firman Tuhan.

Sedangkan Eunike adalah perempuan yang keluar dari kebiasaan orang Yahudi dan harapan orang tuanya. Ia menikah dengan pria Yunani. Tentu tidak mudah perkawinan antar dua sosok yang punya budaya, agama dan kebiasaan berbeda. Jangan jauh-jauh, seorang Manado kawin dengan orang Aceh, atau orang Sunda dengan orang Papua, tidak mudah. Adatnya beda, apalagi jika juga agamanya berbeda.

Namun, Eunike tidak akan dipuji Rasul Paulus jika tidak punya kelebihan. Apa kelebihannya? Eunike menikah dengan orang non Yahudi, namun tetap tidak melepaskan imannya. Dalam perkawinan demikian, mempertahankan iman dan percaya bukan perkara gampang. Terlebih posisi perempuan selalu dituntut harus ikut apapun yang dianut suaminya. Dengan ketegaran iman seperti itulah, rasul Paulus meyakini Timotius dibesarkan nenek dan ibundanya.

Saudaraku, jadi jelaslah bagi kita. Keluargalah wilayah atau lingkungan paling efektif menananmkan nilai-nilai kesetiaan, ketegaran iman dan sikap penuh pengabdian. Orang dekat, dalam hal ini orang tua, apakah itu ayah, ibu, opa-oma, menjadi media ampuh melahirkan manusia berkarakter. Seperti Timotius yang ditempa nenek dan ibunda tercintanya. Mari, Saudaraku, kita bangun terus keluarga kita. Kita jaga dan rawat sebaik mungkin. Sebab, dari sanalah kebaikan mengalir. Dari sanalah pendidikan buat manusia unggul dilahirkan. Tuhan memberkati keluarga kita. Sebaliknya, keluarga yang masa bodoh atas pengembangan karakter anggotanya. Suatu saat akan memetik buah busuk atau asam. Dan janganlah itu terjadi atas kita dan keluarga kita.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu dan keluarga, kami tetap setia menjadi murid-Mu. Kami tidak perlu cemas. Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

“Kami membawa dalam doa, buat keluarga kami masing-masing. Kiranya kami menafasinya dengan cinta, seperti Tuhan yang selalu mengasihi keluarga kami. Lindungi dan lengkapi keberadaan orang-orang yang kami kasihi.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan Refleksi Harian: 2 Timotius 1:5