Refleksi Harian: Kis 20:29-30

Berlindung Pada Allah

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan. Bahan refleksi harian: Kis 20:29-30.

Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. (30) Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka

Kis 20:29-30

Saudaraku, betapa erat hubungan antara Rasul Paulus dan Jemaat di Efesus. Tiga tahun relasi mereka dibangun di atas nasihat dan pengajaran. Itu pun siang dan malam. Waktu sangat dimanfaatkan berharga sekali. Mereka sadar kebersamaan mereka secara fisik suatu waktu kelak berakhir. Rasul Paulus harus pergi ke Jemaat lain, dan mau tidak mau, Jemaat itu harus menerimanya. Selama rentang waktu tiga tahun itu, air mata menjadi bagian proses kebersamaan mereka. Air mata menandakan bahwa mereka melewati masa-masa sulit. Sekaligus, air mata menjadi bukti cintanya rasul Paulus atas Jemaat Efesus. Demikian pula sebaliknya, Jemaat itu mencintai rasul Paulus.

Kini, rasul Paulus pamit. Perjalanan harus dilanjutkan. Injil Kristus harus ditabur di tempat lain. Sebelum ia pergi, ia meninggalkan pesan sekaligus nasihat. Yaitu keutuhan Jemaat itu harus mereka jaga sungguh-sungguh. Ada dua pihak yang tidak rela Jemaat Efesus hidup dalam keutuhan dan kesatuan. Pihak pertama, mereka yang disebut serigala. Mereka berasal dari luar lingkungan Jemaat. Serigala adalah binatang buas, sebuas itulah orang-orang itu hendak mencabik-cabik umat Tuhan. Mereka disebut serigala, karena mereka tidak punya belas kasihan dan menakutkan. Aksi dari pihak luar harus diwaspadai.

Sedangkan yang tidak kalah seriusnya untuk diperhatikan secara seksama adalah bagian dari mereka sendiri! Ya, ada dari bagian persekutuan yang dengan ajaran palsunya hendak menggoda mereka. Mereka berusaha menarik pengikut. Aksi mereka sama bahayanya dengan para serigala, bahkan bisa saja lebih berbahaya. Sebab, bisa teman atau saudara mereka sendiri pelakunya.

Saudaraku, betapa berat tantangan Jemaat Efesus saat nanti ditinggal rasul Paulus. Ada musuh dari luar dan ada musuh dari dalam. Meski demikian, Jemaat itu bukan tidak punya masa depan. Mereka adalah milik Allah. Dengan kesadaran itulah, rasul Paulus meyakinkan mereka, bahwa walau nanti dia pergi, Allah dan firman kasih Allah bersama mereka. Allah tetap membangun mereka. Mereka bukan seperti anak ayam kehilangan induknya.

Saudaraku, kita hidup dalam persekutuan. Semua orang kristen hidup bersama saudara seiman yang kita sebut gereja atau jemaat. Di dalamnyalah kita membangun relasi persaudaraan. Persahabatan dibangun. Saling menasihati. Saling menguatkan. Saling mendoakan. Pengalaman relasi Paulus dengan Jemaat Efesus menjadi contoh baik. Kesatuan mereka dibangun di atas nasihat, pengajaran dan doa.

Kini, kehidupan iman kita tidak lepas dari serigala dengan taringnya yang tajam. Serigala yang mau menerkam dan mencabik-cabik kita agar kita menjadi lemah. Serigala yang hadir melalui komentar di dunia media sosial. Di youtube, ada orang tanpa rasa bersalah menyerang kita. Pada sisi lain juga, betapa banyaknya pengajaran yang bermacam-macam muncul dari umat kristen sendiri. Kombinasi ujian dan tantangan ini harus kita hadapi. Maka, agar kita tetap kukuh beriman dan tetap utuh berjemaat, kita berlindung pada Pemilik sejati kita yaitu Allah. Allah yang dengan firman kasih-Nya terus membangun iman dan kehidupan kebersamaan kita.

Kita berdoa, Tuhan, kami bersyukur kebaikan-Mu menjadi bagian sehari-hari hidup kami. Kami ingin terus hidup dalam perlindungan-Mu sepenuh hati.

Tuhan, hari ini kami jalani bersama-Mu mendatangkan dan karuniakan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu. Yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya menikmati kebaikan yang tak kenal ujung di sepanjang hari ini.

Kami berdoa bagi yang para anak dan cucu-cucu, yang sekian lama beraktivitas di ruang terbatas. Baik sekolah maupun bermain. Semoga berkat kesehatan, suka cita dan sejahtera tetap bersama mereka dan keluarga masing-masing.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kis 20:29-30

Refleksi Harian: Mazmur 90:5-6

Bertindak Sesuai Batas

Selamat pagi, Ibu-bapak, kakek-nenek dan Saudara-saudara yang baik. Kita tetap bersyukur kepada Tuhan, pagi yang baru telah tiba. Tuhan mendampingi kita dalam segala keadaan. Bahan refleksi harian: Mazmur 90:5-6

Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu

Mazmur 90:5-6

Saudaraku, di setiap produk makanan, apakah dalam kemasan plastik, kertas atau kaleng, tercantum di sana tanggal kadaluarsa atau expire makanan. Mis: expire 1 Januari 2021. Tulisan itu mau menyatakan bahwa makanan itu bisa layak dimakan paling lama sesuai tanggal kadaluarsanya. Lebih dari itu jika dikonsumsi berbahaya buat kesehatan. Demikian juga, jika kita mengendarai mobil. Di sana ada yang disebut speedo meter. Ada angka mulai 0 sampai misalnya 180. Itu artinya, jika mengendarainya dengan kecepatan 180. kecepatan paling tinggi kendaraan itu masih aman. Selebihnya dari itu berbahaya bagi keamanan pengendaranya.

Hal yang diutarakan di atas merupakan contoh kecil bahwa segala hal ada batasnya. Kita diingatkan segala sesuatu yang diciptakan ada rentang waktu yang dapat ditolerir. Jika ada yang memaksakan melewatinya, pasti akan mengalami resiko. Makanan akan menjadi busuk dan membahayakan kesehatan. Mobil akan kehilangan keseimbangan dan bisa terbalik.

Saudaraku. Melampaui batas mengandung resiko. Tuhan pun menciptakan kita dengan segala kehebatan yang kita miliki. Tapi, jangan lupa kita pun dibingkai batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Jika tubuh sudah lelah dan ngantuk, Tubuh sendiri sudah memberi sinyal. Kita suka menguap, itulah sinyal tubuh yang diciptakan Tuhan. Harusnya kita istirahat sejenak, tubuh kita tidak boleh beraktivitas dulu. Tapi, sebagai manusia kita suka abai, bahkan bandel. Sudah diberi sinyal waktunya untuk istirahat, masih saja ada yang minum kopi atau minuman lain agar tubuh tetap bekerja..

Padahal itu, sangat berbahaya. Banyak kecelakaan di jalan tol karena faktor manusia (human error). Mobil berjalan tanpa kontrol lalu terguling atau menabrak mobil lain. Salah satu penyebab utama sang supir memaksakan diri menjalankan kendaraannya. Sesungguhnya ia sudah lelah dan mengantuk. Biasanya berkali-kali sang supir, menguap terus dan mata berat. Seharusnya istirahat sejenak. Tapi sang supir bersikeras tanggung karena sudah masuk tol. tingkat kelelahan dan kantuk sudah tak tertahankan. Kita tidak boleh melawan hukum alam. Bahwa sesuatu ada batasnya. Dan jika coba-coba melampauinya resiko terburuk sudah menanti.

Saudaraku, hidup manusia juga ada batasnya. Pemazmur mengumpamakan hidup manusia bagai rumput. Ada saat-saat kesegaran, tapi kelak manusia mulai menurun keberadaan dan kualitas hidupnya. Itu hukum alam. Jangan dengan memakai dalih apapun termasuk ayat-ayat kita suci untuk menyangkalinya. Terima dan nikmati itu yang paling tepat. Jadi, jika umur sudah 60 tahun jangan memaksakan diri olah raga yang menuntut kecepatan, misal: lari cepat, bisa ambruk nantinya. Kita harus menyesuaikan diri dengan batas-batas yang telah Allah desain atas kita. Dengan menyesuaikan diri, kita tidak kehilangan keindahan hidup, malah sikap yang bijak. Jika sudah tidak boleh lari sprint karena usia, kita bisa jalan pagi yang rutin. Itu juga ada keindahan dan kenikmatannya.

Allah itu memberi batasan justru itu sangat baik. Jika penghasilan kita tidak besar, belilah kebutuhan sesuai kemampuan. Pola hidup ditata sesuai batas-batasnya. Jangan karena gengsi memaksakan diri. Jika tidak, nanti lebih besar pasak daripada tiang. Akibatnya jelas, rubuh. Sikap tahu diri dan menyesuaikan diri dengan batasan itu merupakan hikmat yang patut kita miliki.

Kita berdoa, Tuhan, kami mohon kiranya kami dapat bertindak sesuai batasan yang ada. Agar kami bijaksana menyikapi kehidupan. Dalam kebaikan Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Mazmur 90:5-6

Refleksi Harian: 1 Raja-raja 18:18

Intstropeksi Awal Pertobatan

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik. Bahan refleksi harian: 1 Raja-Raja 18:18

Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal

1 Raja-Raja 18:18

Saudaraku, ada nasihat, “jika ada kenyataan kurang menyenangkan terjadi, janganlah kita menudingkan jari kita kepada orang lain. Karena satu jari telunjuk mengarah ke pihak lain, tiga jari mengarah ke diri kita sendiri.” Maksudnya, dengan menyalahkan orang lain, sebenarnya ketahuan sesungguhnya dirinya yang bersalah.

Sayangnya, raja Ahab tidak sebijaksana itu. Saat negerinya terkena musibah, yang pertama ia lihat adalah pihak lain. Dia menuding Elia nabi Allah, penyebab utamanya. Sekaligus mendakwa Allah kurang perduli dengan keselamatannya.

Pola pikir seperti ini lazim terjadi sekarang pun. Sikap yang tidak melakukan introspeksi, melainkan cepat-cepat menarik kesimpulan bahwa penyebab kesalahan adalah pihak lain. Ini yang biasa kita sebut mencari kambing hitam.

Tentu, Elia membantah bahwa musibah kekeringan alam yang ekstrim, yang dituai raja Ahab dan segenap rakyatnya merupakan buah kelengahan dan abainya nabi Allah. Ahab mendakwa ada pembiaran dari Elia. Telunjuknya diarahkan kepada Nabi Elia.

Elia menolak itu. Ia menyatakan, bahwa Ahab sendiri biang kesalahan dan biang keladinya. Ada ketidak beresan relasi keagamaan Ahab dengan Allah. Ia sendiri yang mengkhianati kesetiaan. Ia menyimpang dari Allah sejati. Penyembahannya kepada Baal membawa konsekwensi. Musibah itu buah dari ulah diri sendiri.

Saudaraku, tidak sulit menemukan mental demikian saat ini. Bertindak sendiri, ternyata langkahnya keliru, lalu Tuhan atau pihak lain yang disalahkan. Jika mengalami sakit yang berat. Allah yang disalahkan dengan tuduhan Dia tidak memberi kesehatan. Padahal sakitnya bisa bersumber pada pola makan dan disiplin diri yang keliru yang dilakukannya.

Bagaimana tidak, sudah tahu punya penyakit darah tinggi pada tubuhnya, eh, kesukaannya rutin makan sate kambing. Jangan salahkan Allah, seolah Allah menutup telinga atas doa kita. Karena sudah lama tidak mendapat pekerjaan. Padahal, itu buah dari sikapnya sendiri, lantaran setiap wawancara terlihat kurang kreatif, tidak mau kerja keras dan meminta gaji di atas standar.

Saudaraku. Mental mau bertanggung jawab merupakan sikap mulia. Sayangnya, lebih gampang berusaha cuci tangan. Merasa tidak bersalah. Selanjutnya, pihak lainlah didakwa penyebab utamanya kejadian buruk. Elia dituduh sebagai kambing hitam. Didakwa bersalah di balik musibah kekeringan parah yang melanda Israel. Ahab merasa bersih dan nabi Allah itu diposisikan bersalah.

Saudaraku, Elia balik mengingatkan. Justru perilaku raja Ahablah yang jadi biang kesalahan yang menyebabkan parahnya kerusakan alam harus ditanggung bangsanya. Ada kesalahan fatal yang dilakukan Ahab dan kerabatnya. Yakni meningggalkan Allah Penguasa alam semesta, lalu menjadikan dewa Baal pujaan barunya.

Di sinilah, saudaraku, manakala sebuah realitas tidak menyenangkan terjadi dalam hidup kita. Baik secara pribadi atau yang menimpa kehidupan bersama. Jangan cepat-cepat menengok pihak lain, lalu menjatuhkan tuduhan bahwa pihak lainlah yang menjadi sumber kesalahan. Sikap terburu-buru demikian akan menimpakan kesalahan kepada orang lain yang bisa saja tidak tepat. Selain itu, sikap demikian akan menutup diri untuk introspeksi.

Seseorang atau masyarakat yang tidak mau introspeksi, tidak akan memperbaiki. Dan itu berarti orang bersalah yang tidak mau bertobat. Mari, di minggu Pra paskah ini lebih baik kita menata diri sendiri daripada cepat-cepat menyalahkan pihak lain. Dari situlah kematangan diri terbentuk, kedewasaan iman bertumbuh.

Kami berdoa, semoga saat menjalani hidup ini kami lebih baik menata diri sendiri daripada cepat-cepat menyalahkan pihak lain

Kami berdoa kiranya Saudara kami lainnya yang saat tergolek sakit, cepat pulih dan sehat kembali. Pengetahuan dokter dan konsumsi obat mempercepat perkembangan kesehatannya.

Kami menyerahkan juga kepada-Mu, mereka yang sehat. Mampukan menjaga kesehatan dengan baik. Berikan kesadaran betapa penting dan berharganya kesehatan.
Doa-doa ini kami naikkan dalam nama yang indah Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 1 Raja-Raja 18:18

Refleksi Harian: Yohanes 2:15

Kebiasaan Buruk Menyebabkan Penyakit

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan. Bahan refleksi harian: Yohanes 2:15

Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya

Yohanes 2:15

Saudaraku, bagi orang yang di pikirannya bagaimana setiap kesempatan harus mendapat keuntungan finansial, tempat ibadah pun menjadi ladang memperoleh keuntungan. Bait suci tempat ibadah. Di sana, hadir bukan hanya orang mau beribadah. Tapi, mereka yang mencari keuntungan dari praktik ibadah.

Hal itu, pasti sudah berlangsung lama. Jelas, merugikan suasana beribadah. Sekaligus jual-beli lebih banyak merugikan umat yang membutuhkannya. Cuma semua bersikap diam. Tidak ada yang protes lantaran pertimbangan rasa takut. Pasti pelakunya mendapat perlindungan dari pemimpin agama.

Tuhan Yesus tidak berkenan dengan praktik jual-beli yang cenderung mengutamakan keuntungan daripada mendukung ibadah yang benar. Bagi-Nya ini praktik tercela. Sekecil apapun. Kesalahan adalah tetap kesalahan. Kesalahan tidak boleh dikompromikan. Jika sebuah kesalahan sekecil apapun diabaikan, lama-lama bisa menjadi bagaikan kanker. Kebiasaan buruk yang sulit disembuhkan. Tuhan Yesus tidak mau menutup mata atas praktik-praktik yang sebenarnya salah.

Saudaraku. Tuhan Yesus melihat praktik culas terjadi di Bait Suci. Tempat sembahyang dijadikan kesempatan cari uang. Siapa yang berani melakukannya jika tanpa seijin pemimpin agama waktu itu? Restu dari pemimpin agama bersifat sakti. Tidak ada yang berani bersuara. Diam. Akhirnya, membiarkan praktik menjual binatang dan tukar uang terus berlangsung di Bait Suci. Meraup keuntungan bisnis dengan bertameng pada pemegang otoritas keagamaan. Dalam hal ini, pasti para imam terlibat.

Tuhan Yesus tidak mau kompromi. Praktik bisnis yang mencemari fungsi tempat ibadah harus diberantas. Dihentikan. Bait Allah harus kembali pada fungsinya semula. Tempat orang beriman bisa berdoa dan mengungkapkan kerinduannya dekat dengan Allah.

Karena itu, Tuhan Yesus tanpa takut menjungkir balikan meja-meja penukar uang dan mengusir hewan-hewan dari halaman Bait Suci. Pasti heboh. Tindakan langka. Sebab, selama ini tiap orang cuma bisa mengeluh atau diam seribu bahasa. Mereka tahu, praktik bisnis di area keagamaan itu tidak benar. Sekaligus beban buat mereka. Tapi, siapa yang berani mengubahnya?

Saudaraku, tentu tidak mudah mengubah sebuah kebiasaan buruk. Terlebih lagi, jika harus berhadapan dengan orang kuat di belakangnya. Banyak orang lebih memilih cari aman. Diam. Dengan dalih pura-pura tidak tahu. Pagi ini, firman Tuhan menantang kita. Bersediakah kita mengubah praktik-praktik kehidupan, baik di lingkungan keagamaan atau masyarakat? Beranikah kita mengambil prakarsa untuk bersama yang lain, mengakhiri praktik-praktik atau perilaku, yang sebenarnya salah, tapi sekian lama dibiarkan?

Saudaraku, kita ingin tubuh yang sehat. Tapi, kita juga harus punya lingkungan keluarga yang sehat, kehidupan gereja yang sehat dan masyarakat yang sehat pula. Sehat bukan dalam arti medis. Tapi sehat secara moral. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang dibiarkan berlarut-larut, percayalah itu akan menjadi sumber penyakit. Penyakit moral. Tuhan Yesus bertindak waktu itu, untuk menyehatkan kembali kehidupan Bait Suci. Tempat ibadah dibersihkan dari para penyamun berjubah agama. Kini, sekecil apapun yang kita bisa lakukan, bersediakah kita mengikuti jejak Guru Agung kita?

Kami berdoa, Tuhan berilah kami kekuatan dan keberanian untuk mengoreksi tindakan yang salah, keputusan yang keliru. Tidak hanya pada diri kami, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan kami.

Tuhan, lindungilah kami semua. Biarlah Tangan-Mu menjaga kami.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yohanes 2:15

Refleksi Harian: Galatia 6:2

Bertolong-tolonganlah

Hari baru telah tiba. Udara segar, cuitan burung dan tubuh yang segar sebagian berkat yang kita rasakan sebagai karunia Tuhan Allah. Selamat pagi seluruh Saudaraku yang baik. Bahan refleksi harian: Galatia 6:2

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus

Galatia 6:2

Saudara, sebuah pepatah bijak warisan leluhur kita mengatakan, “berat sama dipikul ringan sama dijinjing” dengan pepatah ini mengandung makna kesediaan dan keterbukaan saling membantu. Pepatah bukanlah sekedar deretan kata-kata indah, melainkan pantulan atas apa yang dilakukan. Atau dorongan kita mempraktikkannya.

Saya masih melihat di sebuah acara di televisi. Di sebuah daerah di Sulawesi Selatan, penduduknya beramai-ramai menggotong sebuah rumah. Pindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Itu sebuah ilustrasi tentang sebuah beban yang dihadapi bersama. Sebuah contoh nyata tiap orang berperan meringankan beban yang tengah ditanggung warga kampungnya lainnya.

Pertolongan banyak ragamnya. Seseorang yang mau mendengar keluhan dengan sepenuh hati, menuntun seorang sepuh menyebrang jalan yang padat kendaraan, menelepon orang sakit dan menghiburnya, sampai menjadi orang tua asuh bagi anak yang kesulitan membiayai pendidikan. Itu sederet bentuk tindakan tergolong menolong. Dan masih banyak yang bisa disebutkan sekaligus bisa dilakukan. Dari bentuk pertolongan sederhana hingga bentuk pertolongan yang luar biasa.

Di akhir pekan ini, Anda dan saya bisa saja pada posisi bisa menolong orang lain. Namun, siapa yang tahu pada kesempatan lain kitalah yang berada pada posisi butuh ditolong. Mengapa? Karena dalam hidup tidak semua hal dapat kita kerjakan sendiri. Oleh sebab itu siapapun gerangan ada momen-momen memerlukan orang lain.

Ajakan firman Tuhan karena itu sangat tepat, bahwa kita musti hidup saling tolong menolong. Saling give and take, memberi dan menerima. Ajakan firman Tuhan ini supaya, pertama, kita peka atas orang lain yang sedang menanggung beban. Kita sadar kemampuan manusia, siapapun dia, ada batasnya. Di situlah kita bisa hadir dan saling meringankan.

Kedua, kita jangan sombong. Sombong bahwa seolah-olah kita tidak perlu orang lain. Dalam refleksi terdahulu, ada bankir terkenal dan kaya raya di Eropa terkena Covid-19. Terasa amat pentingnya orang lain. Kekayaan dan keterkenalannya tidak bisa berbuat apa-apa. Tenaga kesehatan itulah satu-satunya yang dibutuhkan tatkala ia tidak berdaya.

Sama, sebelum masa pandemi, saya dan Anda pasti pernah menjenguk orang sakit. Kita bisa melihat, sekaya apapun dia, sepintar apapun dia, sekuasa apapun dia, kalau tergeletak di ranjang rumah sakit, orang itu tidak bisa apa-apa. Dia perlu orang lain. Dengan demikian, kita tidak boleh tinggi hati.

Ketiga, praktik bertolong-tolongan adalah memenuhi hukum Kristus. Itu norma orang beriman dan merupakan suatu panggilan bagi kita untuk memenuhinya. Hukum yang saat dipenuhi melegakan hati yang menerimanya dan suka cita di dalam dirinya.

Semoga ketiga hal di atas menafasi kegiatan kita dalam berinteraksi dan hidup bersama orang lain. Jangan hidup seperti ungkapan orang Betawi, “elu-elu, gue-gue”. Hidup yang amat individualistik. Sepatutnya, kita saling memperhatikan dan saling meringankan di saat kita menanggung beban.

Semoga hati kita terbuka dan tangan yang siap terulur. Kita menjadi subyek yang meringankan mereka yang membutuhkan pertolongan. Demikian juga, jika hari ini atau hari lain, justru kitalah yang membutuhkan pertolongan. Kiranya Tuhan mengetuk sahabat, keluarga, saudara agar kita diringankan mereka. Terlebih dari itu, hidup kita sangat membutuhkan pertolongan sejati dari Tuhan Yesus.

Kita berdoa, “Tuhan, kini kami memasuki akhir pekan. Semoga kami saling meringankan jika menghadapi kesulitan. Kiranya kami memiliki spirit dan komitmen saling membantu.

Kami berdoa khusus untuk para oma-opa, lansia dan yang sakit. Jamahlah mereka Tuhan. Taruhlah suka cita pada hati mereka. Dan bibir mereka senantiasa membesarkan nama-Mu.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Galatia 6:2