Mengandalkan Pertolongan Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 17:45

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Allah itu tidak pernah tidur. Dialah yang menemani dan melindungi kita saat tidur malam. Dia juga yang memungkinkan kita bangun menyongsong hari baru. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah.

Firman Tuhan hari ini, “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.”

1 Samuel 17:45

Saudaraku, yang besar tidak selalu menang, yang kecil tidak selalu kalah. Ungkapan ini untuk menyatakan kemenangan atas sesuatu tidak ditentukan oleh ukuran besar-kecil sesuatu.

Jika kemenangan ditentukan ukuran besar-kecil, jelas perkelahian antara Goliat dan Daud sudah bisa ditebak. Goliat akan berada di pihak pemenang, sedangkan Daud di pihak yang kalah. Goliat tidak hanya tubuhnya besar, tapi juga seorang jago perang dan perlengkapan perangnya lengkap. Orang jaman itu akan ciut nyalinya berhadapan dengan Goliat. Kalaupun ada orang yang coba-coba memberanikan diri menghadapinya, paling-paling dianggap, “orang yang cari mati”.

Jika melawan Goliat berdasarkan pendekatannya ukuran, tidak ada lagi manusia yang sepadan dan mampu mengimbangi dia. Tapi, bukankah kita tahu, kisah ini justru kemenangannya di tangan Daud. Pemuda yang masih hijau. Tubuhnya tidak menjulang tinggi dan besar seperti Goliat. Pengalaman perang masih minim. Persenjataan perang tidak ada, cuma membawa tongkat dan sebuah umban.

Saudaraku, bimbingan Allah membuat percaya diri. Sehingga umban benda sederhana itu bisa menjadi penentu kemenangan Daud. Ya, umban dan batu itu yang Daud bidikan ke arah Goliat. Tepat mengenai persis di bagian paling terbuka yakni dahinya. Batu mengenai titik terlemah sang pahlawan Filistin. Tumbanglah raksasa itu, oleh pemuda yang berpostur kecil dan belum berpengalaman.

Saudara, sekali lagi jika mengandalkan postur, pasti Daud akan kalah dan Israel dipastikan akan berada di bawah kekuasaan Filistin. Dari pengalaman ini, Daud memberi kesaksian tentang sumber kemenangannya. Yaitu berupa ucapan Daud kepada orang Filistin, “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.”

Belajar dari pengalaman Daud. Allah yang menuntun Daud, sehingga meyakini langkah kemenangannya. Ia tidak panik. Justru akhirnya mengenali titik kelemahan Goliat. Dan Daud menggunakan keahliannya secara efektif. Tidak asal-asalan. Kelihatannya kekalahan telak Goliat ‘cuma’ oleh batu umban. Sesungguhnya, karena berjalan bersama Tuhanlah, sehingga umban dan batu bukan lagi benda sederhana. Melainkan berubah menjadi senjata mematikan (deadly weapon).

Dari sana kita bercermin. Kesuksesan tidak ditentukan besar atau kecilnya postur tubuh, atau faktor manusia semata. Sesungguhnya bimbingan Allah dan dipadukan keahlian Daud di sanalah kuncinya.

Saudaraku, terdapat hambatan dalam diri seseorang ketika dituntun Tuhan untuk meraih keberhasilan. Hal itu terungkap dari ungkapan, “diri saya tidak punya apa-apa”, “ah, itu saya tidak mampu, terlalu berat buat saya hadapi”, atau “ wah, gak mungkin, deh”.

Jika ungkapan-ungkapan itu melekat pada diri Daud, percayalah kita tidak akan menemui kisah Daud mampu mengalahkan Goliat. Sebab, cukup alasan Daud untuk mengatakan “saya tidak mampu”, “itu mustahil”, “siapa, sih saya”, ketika berhadapan dengan Goliat. Apalagi memang fakta Goliat itu tinggi-tegap, tubuhnya ditutupi rompi atau baju zirah agar tidak bisa dilukai. Pengalaman perangnya sangat kaya.

Saudaraku, bimbingan Tuhan dan kesadaran bahwa kita punya sesuatu dan kita mampu, bukan berarti sikap berlebihan dan tidak realistis. Sama sekali bukan. Sesungguhnya, itu modal penting menjalani kehidupan. Tanpa keyakinan itu, kita akan kalah sebelum maju berperang.

Selasa ini, mari kita berjalan membawa nama Allah. Selain itu, apa yang kita miliki sesederhana apapun, jangan sekali-kali dilihat sebelah mata. Tapi, kita yakin itu bisa menjadi modal berguna dalam menjalani kehidupan. Siapa sangka Goliat tumbang bukan disebabkan pedang yang tajam, justru oleh umban sederhana.

Saudaraku, kita tidak boleh takabur diri dan mengabaikan kekuatan Allah. Orang yang mengabaikan Allah bisa tumbang dalam hidupnya. Hendaknya kita tidak mengandalkan kekuatan semata-mata hanya pada yang namanya harta, popularitas ataupun kekuasaan. Sementara itu, nama Allah diabaikan. Niscaya siapapun kelak kecewa. Sebab, begitu menghadapi suatu masalah baru sadar, ternyata kita tidak bisa mengandalkan harta, popularitas dan kekuasaan.

Kita berdoa, Tuhan, ijinkan kami mengarungi kehidupan dengan mengandalkan pertolongan utamanya adalah kehadiran-Mu.

Kami berdoa buat orang tua, tangan Tuhan kiranya merangkul mereka dengan kehangatan cinta. Kami mengingat perjuangan dan pengorbanan yang mereka jalani tanpa pamrih. Karuniakan kesehatan dan hati gembira di masa tuanya.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Amin.

Hadir Dalam Hening

Oleh: Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Raja-raja 29:11b-12

Selamat pagi, seluruh Saudara-saudaraku yang baik. Kita berjumpa lagi dengan sama-sama memasuki hari Senin. Mari, selaku orang percaya kita memberikan hati, suara, pikiran dan tenaga mewujudkan pujian dan syukur kepada Allah.

Firman Tuhan hari ini, “Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. (12) Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.”

1 Raja 29:11b-12

Saudaraku, setiap orang pasti mengalami kelelahan. Lelah setelah melakukan kegiatan fisik, seperti antara lain: memasak, menyetir kendaraan, berjalan jauh, dan olah raga. Tubuh kita capek dan nikmatnya rasanya jika duduk berbaring untuk istirahat. Kelelahan juga kita alami disebabkan faktor lain, yakni tekanan psikologis. Seseorang yang terkuras pikirannya bisa karena belajar, banyak pikiran yang bercabang-cabang atau disebabkan ketakutan tak kunjung habis. Itu pun bisa membuat seseorang lelah secara kejiwaan.

Seorang nabi tidak terkecuali. Dia bisa mengalami kelelahan, bahkan kelelahan fisik dan psikologis secara bersamaan. Pengalaman demikian, dialami nabi bernama Elia. Ia melarikan diri ke padang gurun. Melakukan perjalanan ke padang gurun pasti menguras tenaga. Panas, jauh dan haus menjadi satu. Pergi ke tempat seperti itu jelas membuat tubuh cepat lelah.

Selain itu, dia pergi ke padang gurun bukan buat piknik. Dia menyelamatkan diri. Nyawanya terancam. Dia bersembunyi dari kejaran tentara utusan Izebel, ratu yang mau membunuhnya. Tentu, perjalanan demikian, menguras pikirannya dan menggelisahkan hatinya. Pergi wisata meski jauh dan sulit, bisa membawa rasa senang di hati. Beda, dengan perjalanan Elia ini.

Secara fisik dan psikologis sang nabi, Elia lelah. Ia frustasi. Sudah mengalahkan 450 nabi Baal. Bukannya Izebel, sang ratu memuji tindakannya yang berani dan heroik itu. Ia malah berbalik hendak membunuh Elia. Sampai-sampai nabi Elia putus asa, “Sekarang, ya, Tuhan, ambillah nyawaku”. Ini ekspresi seorang yang amat lelah dan menyerah pasrah. Ada nada jengkel, sekaligus protes seolah-olah dia menghadapi kesulitan sendirian.

Saudaraku, apa yang dilakukan Allah untuk menunjukkan tanda Ia hadir, sekaligus memulihkan kelelahan fisik dan batin nabi-Nya. Allah memberinya makan. Ya, aktivitas sehari-hari. Bukan tindakan mujizat yang bombastis, tapi tepat. Makan adalah kebutuhan tepat buat yang lelah fisik agar segar kembali.

Selain itu, Allah datang dalam angin sepoi-sepoi. Tidak dalam bentuk yang “wahh..”. Allah tidak hadir dalam gempa yang dashyat dan angin kencang luar biasa. Setelah gempa datang api. Di situ pun Allah tidak hadir.

Lalu di mana? Ternyata Allah ada di dalam ketenangan. Angin sepoi-sepoi itu keheningan. Ya, melalui keheningan itulah nabi Elia menemukan Tuhan. Di tengah perjumpaan dengan Allah di tengah hal sederhana dan hening itulah, memancar kuasa Allah. Dari sanalah nabi Elia merasakan terjadinya pemulihan batin dan emosi yang lelah.

Saudaraku. Kita pun pasti mengalami kelelahan, sebagaimana pengalaman nabi Elia. Cara Allah memulihkan nabi-Nya yang mengalami kelelahan ganda, bisa juga dilakukan-Nya atas Anda dan saya. Makanan hal sederhana. Rutin. Tapi, sebenarnya di balik kehadiran makanan kita melihat kehadiran Tuhan yang setia memelihara.

Demikian juga, kita memerlukan keheningan. Saat teduh. Suasana yang tidak hiruk pikuk. Dalam keheningan itulah, kita menemukan Tuhan yang menyegarkan kembali pikiran, jiwa dan emosi kita.

Jadi, Tuhan hadir itu bisa dalam bentuk-bentuk sederhana. Ada Allah di balik hal kecil (small things). Hari ini, jika kita memasuki pagi, nikmati keheningan itu. Rasakan kehadiran Allah. Kini, masa pandemik orang yang tadinya suka ibadah yang ‘ramai’ dan ‘meledak’. Ibadah bagaikan panggung hiburan. Kini, diubah. Ibadah lebih sederhana dan keheningan. Kembali ke inti ibadah. Kita melihat Allah menemui Elia di saat hening. Sepi. Tapi, kuasa dan kehadiran-Nya dirasakan.

Kita berdoa, “Tuhan, saat kami lelah kiranya Engkau menemui kami, agar kami disegarkan ulang.

Kami juga berdoa, buat mereka yang terus setia kepada-Mu. Semoga berkat-Mu yang indah turun atas mereka dalam wujud kesehatan dan keamanan. Semoga mereka bersuka cita dan bahagia. Mereka masing-masing menyambut hari ini dengan kegembiraan.

Doa- doa ini kami panjatkan kepada-Mu dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

MENGAKU ITU PENTING

Oleh Weinata Sairin

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga”.

Matius 10 : 32, 33

Sikap setia dan taat asas (konsisten) sangat diperlukan dalam kehidupan kita. Sikap itu mesti kita wujudkan dalam kehidupan keluarga, dan dalam kehidupan di lingkup yang lebih luas. Setia, konsisten artinya “tetap”, ” tidak berubah” , tidak mengikuti arah angin, tidak menyanyi mengikuti gendang orang lain. Setia, konsisten artinya stabil, tidak plin-plan, tidak mencla-mencle, tidak mudah berubah dan terpengaruh. Setia, konsisten juga berarti terang-terangan, tidak menyembunyikan diri, tidak bersikap abu-abu, tetapi tidak juga mesti demonstratif dan secara arogan mempertontonkan kesiapaan kita. Kita sebagai warga Gereja dituntut untuk setia tidak hanya pada “hal-hal yang besar” tetapi juga terhadap hal-hal yang kecil (Luk.19:17)

Dari pengalaman empirik kita mencatat bahwa ada banyak orang selalu terpukau pada sesuatu yang “besar” dan acap tidak peduli bahkan menutup mata terhadap yang “kecil”. Di Jemaat-jemaat kita juga acap terjadi semacam keluhan terhadap sikap pimpinan Jemaat yang acap lebih care pada ‘orang besar’ ketimbang ‘orang kecil’. Yesus sendiri meneladankan sikap yang amat peduli terhadap mereka yang dimarginalisasi oleh masyarakat di zaman itu. Yesus berdialog, menangkap aspirasi mereka, Yesus duduk bahkan makan bersama dengan mereka. Narasi dalam Injil mengungkapkan semua kisah itu dengan terang benderang yang mestinya menjadi referensi utama dari gerak pelayanan Gereja.

Setia dalam melayani dan setia dalam mengaku nama Yesus memang bukan hal yang mudah dan sederhana. Oleh karena itu pembiasaan dalam melayani dan mengaku harus dimulai sejak dini. Gereja-gereja sudah sejak awal menyadari tentang pentingnya kedua aspek. Per istilah, kata ‘pelayanan’, diakonia sudah menyatu dengan kedirian Gereja. Eksistensi dan presensia Gereja sebagai institusi yang melayani amat disadari dan difahami (Mrk 10:45). Dalam konteks kesadaran itu juga jika nama komisi yang ada dalam Gereja sebagian besar mengakomodasi istilah ‘pelayanan’, misalnya Komisi Pelayanan Perempuan, Komisi Pelayanan Lansia, dsb.

Bahwa kemudian ada orang yang beranggapan atau berpandangan bahwa hal yang berbau pelayanan itu seolah meniadakan profesionalisme, pandangan itu mesti dikoreksi. Berorganisasi, berpaduan suara, berkoperasi, mengelola keuangan, dsb dalam konteks pelayanan Gereja mesti dilakukan sesuai dengan standar profesional, tidak bisa dengan cara-cara kuno dan “amatiran”.

Setiap ibadah hari Minggu, umat mengucapkan rumusan teks Pengakuan Iman Rasuli (Symbolum Apostolicum). Rumusan itu yang biasa juga disebut 12 pasal Pengakuan Iman adalah sebuah kredo yang banyak digunakan oleh Gereja-gereja di Indonesia. Rumusan yang ada, dalam bentuknya yang sekarang dibuat sekitar tahun 750 diucapkan setiap hari Minggu untuk mengingatkan umat tentang inti kepercayaan kristiani yang berbasis kuat pada pemahaman Trinitas. Pengakuan Iman yang diucapkan dengan lantang, dan terkadang dengan sikap sempurna, mestinya dilanjutkan dalam kehidupan umat pada hari Senin -Sabtu ditengah dunia sekuler. Pelanjutan Pengakuan Iman dalam kehidupan konkret umat adalah bagaimana agar dimensi pengakuan itu diimplementasikan dalam tugas, pekerjaan, dan kehidupan umat dimanapun.

Dalam konteks implementasi itu, umat tidak boleh berada dalam posisi menyembunyikan kekristenannya, atau bersikap ragu terhadap agama yang ia anut agar ia bisa menduduki jabatan-jabatan tertentu dalam sebuah lembaga. Umat harus terus terang, dan terang-terangan tentang agama yang ia anut sehingga publik masyarakat disekitarnya jelas.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di beberapa institusi di negeri ini ada aturan-aturan tidak tertulis dan atau terselubung yang menyatakan bahwa yang bisa menjadi pimpinan di institusi itu adalah sosok beragama tertentu. Di sebuah universitas negeri misalnya ada ketentuan bahwa syarat menjadi rektor adalah yang bisa membaca ayat-ayat kitab suci agama tertentu. Ada juga satu dua orang warga kita yang tegiur dengan sesuatu jabatan sehingga ia dengan mudah meninggalkan Yesus Kristus dan berpindah ke agama lain.

Ucapan Yesus dalam Injil Matius 10 : 32, 33 yang dikutip diawal bagian ini amat lugas, tegas dan keras, dan sangat relevan di sepanjang zaman. Ada saja orang yang terpesona, terpukau, tegiur dengan pangkat, jabatan atau benda-benda lainnya yang dengan mudah menyangkal Yesus dan berpindah agama. Mereka terpenjara kepada kenikmatan sesaat, mereka tidak menghargai karya keselamatan yang telah diukir Yesus lewat penderitaan, siksaan dan kematian yang Ia jalani. Ada banyak orang yang menyangkal Yesus, yang berpindah agama yang kita tahu hidup dalam timbunan dosa yang menyesakkan. Kita harus setia kepada Yesus, kita harus mengaku namanya secara verbal juga dalam tindak nyata. Jika kita menyangkal Dia di kekinian dunia, Ia akan menyangkal kita di keakanan, di depan Bapa di surga. Pengakuan Iman yang kita ucapkan dengan lantang bahkan dengan sikap sempurna dalam kebaktian hari Minggu di gedung Gereja harus kita teruskan dan wujudkan pada hari Senin hingga Sabtu ditengah pandemi yang mendera, di luar gedung Gereja, secara kontinyu hingga maut merenggut. Mengaku itu penting!!

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God bless.

Mendapat Dan Menjadi Berkat

Oleh: Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Korintus 6:9-10

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru yang cerah kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

1 Korintus 6:9-10

Saudaraku, saya kaget dan mungkin juga Anda semua mengalami kekagetan yang sama. Yaitu, saat dengan teliti membaca firman Tuhan di atas. Dalam hal ini tentang orang kikir. Berkenaan dengan orang yang pelit banget.

Pertama, kaget bahwa orang kikir digolongkan pada kotak yang sama dengan pencuri, penipu, pencuri, pemabuk, penyembah berhala, orang cabul, tukang fitnah.

Kedua, orang kikir tidak mendapat tempat dalam kerajaan Allah. Sampai begitu jahatkah orang kikir, sehingga pintu kerajaan Allah tertutup bagi mereka?

Saudaraku, ayat ini tertuju pada orang beriman di kota Korintus. Jemaat kota ini sebenarnya Jemaat cukup maknur. Di sana, terdapat orang-orang yang secara finansial tidak kekurangan. Tetapi, Jemaat ini yang membuat kecewa rasul Paulus.

Dalam kekayaannya, warga jemaatnya sayang sekali tidak murah hati. Ketika Jemaat di Yerusalem amat membutuhkan bantuan, warga Jemaat di Korintus tidak tanggap. Tidak tergerak membantu. Miskin sikap solider. Mereka tidak mengulurkan tangan dan berbagi.

Berbeda dengan Jemaat di Makedonia. Kecil dan sederhana. Tapi, betapa besar keperduliannya, sehingga terhimpun bantuan buat saudara seiman di Yerusalem. Yang besar dan kaya kikir, sedangkan yang mereka sederhana, malah kaya dengan kemurah hatian. Terbalik-balik.

Saudaraku, kita bertanya-tanya mengapa orang kikir harus kehilangan tempat dalam kerajaan Allah? Ya, mengapa? Cuma pelit saja harus kehilangan sebuah bagian indah milik Allah.

Saudaraku. Orang kikir adalah mereka yang hidup untuk diri sendiri. Pusat perhatian cuma dirinya sendiri. Pada dasarnya hatinya tidak mencerminkan hati Kristus yang penuh belas kasihan. Kita tahu Kristus sangat mudah jatuh kasihan berjumpa dengan mereka yang kesusahan.

Selain itu, orang kikir sebenarnya juga tidak percaya pemeliharaan Tuhan. Sebab dibayangi ketakutan bahwa dengan berbagi maka hidupnya terancam. Dengan berbagi dihantui kecemasan akan hari esok.

Saudaraku, menarik mendengar kisah-kisah tentang kemurah hatian beberapa selebritis. Aktor Jacky Chen, Mark Elliot Zuckerberg: pemilik Facebook, Bill Gates: pemilik piranti komputer Microsoft. Tindakan kemurah hatian mereka luar biasa. Mau menyumbang uang trilyunan rupiah dari kekayaannya. Mereka bagikan untuk proyek kemanusiaan. Besar sekali. Mungkin ada yang komentar, ya, jelas saja mereka bisa dan mau berbagi, karena harta mereka segunung. Cadangan kekayaan yang ada tidak akan habis harta mereka sampai generasi keempat.

Betul, mereka kaya. Bahkan bisa jadi mereka adalah orang-orang super kaya. Tapi, kita ingat yang sekaya mereka juga banyak tapi toh tidak mau menyumbang untuk mengangkat orang-orang yang dalam kesulitan. Kembali, itu sangat ditentukan sifat kemurahan hati seseorang.

Saudaraku, telah sering kita mendengar bahwa kita adalah orang yang mendapat berkat agar menjadi berkat. Artinya, kita tidak dididik untuk menjadi orang kikir. Orang kikir itu menjadikan berkat Tuhan, berhenti pada dirinya. Ia tidak mengalirkannya. Mentok sampai dirinya.

Sebagai orang kristen Anda dan saya dididik bahwa apapun yang kita miliki dan peroleh semua dari Tuhan. Sekaligus pemberian Allah itu tidak berujung pada kita. Saya percaya, kita tidak ingin seperti laut mati di negeri Palestina. Sebuah danau di mana tidak ada makhluk yang bisa hidup di sana. Tingkat garamnya tinggi. Penyebabnya, laut atau danau itu cuma mau menampung. Dan sama sekali tidak mengalirkan airnya. Cuma menampung dan menampung.

Saudaraku, kita tentu ingin menjadi orang yang punya tempat di kerajaan Allah. Maka, buanglah kekikiran jika sifat itu ada pada kita. Sifat itu sama sekali tidak membanggakan, apalagi membahagiakan. Justru sebuah cerminan hati yang tertutup atas yang lain. Dan meragukan Allah tetap menyediakan berkat buatnya. Akibatnya, juga menghalangi kita masuk ke kerajaan Allah.

Kita berdoa, “ Tuhan, bentuklah diri kami sebagai orang yang murah hati. Yang tidak merasa rugi dan takut dengan mempraktikkan sikap cepat mengulurkan bantuan kepada pihak yang membutuhkan. Janganlah kami juga kikir terhadap pembiayaan gereja-Mu.

Tuhan, semoga di hari Sabtu ini, kami bisa menikmati hari baru dengan tetap mencintai keluarga. Melaksanakan aktivitas yang bermanfaat dan produktif. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Akar Kejahatan Ialah Cinta Uang

Oleh: Pdt. Stefanus Parinussa

Pembacaan Alkitab: 1 Timotius 6:6-10

Beberapa hari terakhir media khusunya online memberitakan tentang tertangkapnya seorang artis FTV berinisial HH tengah melakukan prostitusi di sebuah hotel di kota Medan. Sontak berita ini heboh karena kasus serupa pernah terjadi sebelumnya. Kehebohan ditambah dengan jumlah nominal yang fantastis untuk pembayaran yang diterima membuat artis ini sudah melakukannya sejak setahun terakhir.

Mencari uang dengan cara instan menjadi godaan bagi siapa saja, termasuk dengan cara yang keliru, bahkan melanggar hukum. Kemarin Kapolri telah mencopot Brigjen Pol. PU dari jabatannnya di Bareskrim karena terlibat dalam meloloskan seorang buronan kelas kakap DT. Dan sederet kasus lainnya yang karena uang, pelanggaran hukum terjadi.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius mengatakan: “Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusian ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang” (ayat 9-10a).

Tentu tidak ada yang salah jika seseorang ingin hidupnya lebih baik, tetapi harus dengan jalan yang benar, bekerja dan berusaha yang tidak melanggar hukum, tidak melanggar norma-norma dan terlebih tidak melanggar firman Tuhan. Tuhan memberkati kita semua!