Jalan Hidup Keluarga

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 45:28

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena pagi baru telah menyapa kita, keluarga kita. Pagi ini pun, kita merasakan arti kesetiaan Tuhan dalam melindungi kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Kata Yakub: “Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati.”

Kejadian 45:28

Saudaraku, ada banyak manfaat dari perkembangan teknologi. Secara khusus, teknologi informasi. Siapa nyana seiring perkembangan telepon, muncul juga jejaring sosial, seperti: facebook, instagram, whatssapp, dsb.

Apa dampak positifnya? Pasti banyak. Salah satunya, memungkinkan kita bisa bertemu dengan orang atau saudara yang sudah lama kita tidak bersua, bahkan kehilangan kabar. Dengan sarana itu, kita bisa reuni. Lihatlah, setiap orang sekarang hampir kebanyakan punya WA grup. WA grup teman lama waktu SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi.

Siapapun, banyak yang senang dan bersyukur. Meski usia sudah tidak muda lagi, bahkan tidak sedikit yang sudah lupa wajah teman sendiri. Ternyata masih bisa melakukan reuni. Bagaimanapun, momen reuni selalu memercikkan rasa suka cita tersendiri. Sebab mengembalikan masa silam dan menyegarkan ulang pengalaman lama yang telah lama ditinggalkan.

Perjalanan hidup Yusuf penuh liku-liku hidup yang tidak gampang. Melewati onak dan duri. Mengalami pahit getir. Mulai dari perlakuan saudara-saudaranya sendiri, hingga jebakan dan kesaksian palsu istri Potifar. Dari seorang budak hingga masuk bui. Namun, semua kepahitan dan onak duri perjalanan rute hidupnya tersibak. Yusuf dihantar kepada posisi yang pasti tidak pernah dibayangkan dan diimpikan. Ia diangkat menduduki jabatan penting di sebuah negeri besar, maju, kaya dan makmur di masa itu, yaitu Mesir.

Saudaraku, itulah jalan hidup. Sulit terselami. Kita belajar selama hidup itu berada dalam rencana Tuhan, kelak akan melewati dan mengecap keindahan. Waktunya memang yang kita tidak ketahui. Bisa seperti Yusuf, lama dan berliku-liku, baru kemudian indah pada waktunya.

Seperti juga pada pengalaman Yusuf, ada manusia yang mereka-rekakan yang jahat atas kita. Namun yakinlah, selama hidup dalam rencana Tuhan, sesungguhnya Tuhan tetap mereka-rekakan yang baik. Dan rekaan atau rancangan Tuhan tidak akan pernah bisa dihalangi atau dihambat, apalagi digagalkan manusia.

Menengok penggalan firman Tuhan yang kita kutip, itu merupakan ungkapan keinginan seorang ayah. Yakub yang tadinya hidup dengan informasi bahwa Yusuf telah mati diterkam binatang buas. Mendapat kabar baru, ternyata Yusuf masih hidup. Maka, keinginan utamanya sebelum berakhir hidupnya di dunia ini, adalah bertemu Yusuf.

Dengan kata lain, keinginan terakhirnya agar bisa berlangsung reuni keluarga. Reuni berarti bersatu kembali. Yakub yang sekian lama digerogoti batinnya oleh kerinduan atas Yusuf bangkit kembali semangat hidupnya. Tunas harapan dan kegembiraan tumbuh kembali di batinnya.

Informasi tentang Yusuf membangkitkan kembali rasa rindu Yakub atas Anaknya itu. Apalagi, Yusuf bukan saja masih hidup. Kiprah Yusuf telah membanggakan keluarga dan bangsanya.

Saudaraku, kita tahu Yakub dan anak-anaknya utuh kembali. Utuh secara jumlah. Lebih dari itu, utuh dalam persaudaraan yang selama ini terkoyak. Itulah, salah satu wujud kebahagiaan. Orang tua dan anak serta relasi antar saudara tidak lagi hidup dalam suasana kebencian. Reuni yang menegaskan tidak ada satupun sosok tercecer.

Saudaraku. Reuni seorang ayah beserta anak yang lama tidak ada kabar beritanya pasti penuh suka cita dan mengharukan. Dan untuk itu, tidak ada kata terlambat buat Yakub yang sudah uzur. Reuni itu membuat hatinya meluap dengan semangat hidup. Ia memetik klimaks hari-hari akhir hidupnya dengan keindahan yang tak terkira. Tuhan mengutuhkan ulang kehidupan sebuah keluarga. Yakub dan anak-anaknya semua berkumpul lagi. Itulah hadiah terindah yang diberikan Tuhan kepada Yakub di senja kehidupannya.

Saudaraku. Semoga, jalan hidup kita terus dalam rencana Tuhan. Dan kita berharap kehidupan antar saudara rukun dan damai. Sebab, itu sangat berharga. Tidak dapat dibeli di manapun. Dan tidak dijual oleh siapapun.

Kita berdoa, Tuhan, karuniakan kami di tengah rute kehidupan yang kami tempuh. Kami bernaung dalam rencana-Mu. Dan tetap menjaga keutuhan keluarga kami.

Kami serahkan hidup kami hari ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Kami serahkan kepada-Mu, mereka yang berangkat kerja, usaha dan aktivitas di rumah, belajar di rumah dan kegiatan lain, kami berlindung dalam kuasa-Mu. Dan doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Tangan Kiri Tak Perlu Mengetahui

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 6:3-4

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, yang kasih setia-Nya kepada kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari, “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. (4) Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Matius 6:3-4

Saudaraku, salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan exist. Kebutuhan agar diri kita diakui, dihormati dan diperhitungkan. Ini, lho saya. Kebutuhan ini tidak punya sangkut paut dengan makanan, busana atau tempat tinggal. Ini berkaitan dengan kebutuhan psikologis. Hal wajar. Namun keluar dari kewajaran saat berubah menjadi kecenderungan memamerkan dirinya, “Ini, lho saya”.

Kecenderungan ini merambah kemana-mana untuk menunjukkan eksistensinya. Apa yang yang mau dimakan oleh saya, difoto lebih lalu. Kemudian disebarkan ke dunia maya. Sedang berada di tempat tertentu, difoto lalu disebarkan dalam dunia maya. Apa saja, sejauh itu untuk mendukung eksistensi dirinya supaya dirinya diakui, dihormati dan diperhitungkan, maka itu dilakukan.

Kebutuhan bahwa dirinya eksis sekali lagi sebenarnya lumrah. Siapapun pasti ingin diakui, dihormati dan diperhitungkan. Sebaliknya kita tidak ingin disepelekan. Kita butuh penerimaan orang lain, bukan dicuekin, kata anak muda. Itu wajar, tapi harus dalam porsi yang wajar. Jika sudah berlebihan itu yang harus kita evaluasi dan koreksi lagi.

Saya dan teman-teman pernah menjamu seorang tamu dari Swiss, untuk makan siang di sebuah restoran Sunda di Bandung. Lalu, spontan salah teman kami memotret momen itu. Kita tahu hal demikian rasanya lazim sekali di kalangan kita. Namun, tiba-tiba tamu dari Swiss ini memohon dengan santun. “Bolehkah foto yang diambil itu tidak dishare atau dibagikan ke mana-mana, ke facebook, WA, dsb? Dia kurang lebih menyatakan, “Bahwa dia tidak biasa, mengingat makan bersama ini hal yang bersifat pribadi. Tidak perlu semua orang harus tahu bahwa kita sedang makan di restoran ini.”

Kami langsung diam. Betul juga. Masak, sih, semua orang harus tahu semua hal yang kita sedang lakukan, termasuk makan di sebuah rumah makan. Jika itu dilakukan bukankah hal itu seolah-olah mau pamer dalam dunia maya, “ ini, lho, kami sedang makan enak dengan bule di restoran”.

Saudara, Tuhan Yesus, pada zamannya menemui orang-orang yang punya kebutuhan untuk menunjukkan bahwa dia eksis, ada. Sayangnya, itu dilakukan secara berlebihan. Termasuk untuk menunjukkan bahwa dia orang baik, perhatian sama orang, ia bersedekah. Ia memberi sesuatu buat orang kecil. Sehingga perbuatan mulia itu tergantikan dengan pameran kebaikan hati. Artinya, dia memberi agar semua orang tahu bahwa dia sudah melakukannya. Cerita ke sana, cerita ke sini.

Barangkali, jika zaman Tuhan Yesus sudah ada HP dengan fasilitas canggih seperti yang kita miliki. Orang yang disinggung Tuhan Yesus itu akan memfoto momen dia memberi sedekah. Memfoto sebanyak-banyaknya dan membagi-bagikannya ke dunia maya seluas-luasnya. Memfoto lalu dikirim ke facebook. Memfoto lalu dikirim ke whats app. Memfoto lalu mengirim ke instagram. Akhirnya, memberi itu lebih sebagai ajang mempertontonkan dirinya, “ini, lho, aku.”

Saudaraku, Tuhan Yesus mengajak jika kita berbuat baik, mari lakukanlah. Itu hal yang mulia. Allah akan mengapresiasi perbuatan baik. Hanya jangan memberi hanya untuk memamerkan dirinya dan kesalehannya. Tatkala kita menunaikan bantuan kepada seseorang, maka tidak perlu orang sekampung tahu, apalagi orang sedunia tahu. Apalagi bantuannya tidak seberapa beritanya yang heboh betul.

Tuhan Yesus mengungkapkan dengan bahasa “tangan kiri tidak perlu tahu apa yang dilakukan tangan kanan.” Tuhan Yesus mengakui memberi bantuan itu terpuji. Memberi sedekah itu baik, hanya akan menjadi sangat baik dilakukan secara tepat. Yakni tidak gembar-gembor. Diam-diam saja. Karena Allah pun tahu apa yang kita lakukan dengan perbuatan mulia itu.

Kiranya hari ini, kita bisa berbuat baik. Memberi sedekah buat orang yang tengah membutuhkan. Tengoklah di sebelah kanan-kiri kita, jika ada yang sedang sulit sekali, bantulah dia. Dan tak perlu kemudian kita cerita ke sana-sini, ke mana-mana, apalagi sampai diphoto segala untuk dishare.

Kita lakukan dengan tulus. Murni. Bukan supaya orang sejagad maya perlu tahu, tapi memberi bantuan adalah panggilan kristiani yang patut kita lakukan. Dan bukan tidak mungkin, siapa tahu, suatu saat kita pun berubah posisi. Justru kita sendiri yang butuh bantuan.

Kita berdoa, “ Tuhan karuniakan kami hati yang pemurah. Supaya kami menjawab panggilan dan ajakan-Mu memberi dengan hati yang tulus dan murni.

Kami berdoa untuk saudara-saudara kami yang telah memasuki masa lansia dan sakit. Tuhan, kiranya hidup menjadi kesempatan buat mereka terus berjumpa dengan kasih dan kebaikan-Mu. Kiranya itu juga berlaku hari ini.

Kami membawa dengan doa anak-anak, cucu-cucu, dan keponakan kami. Semoga di dalam Tuhan mereka dilindungi oleh-Mu. Mereka menjadi anak-anak yang maju secara ilmu dan berkembang di masa depan.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Amin.

Merawat Relasi Indah

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Efesus 2:13-14

Selamat pagi, ibu-bapak, opa-oma, Saudara-saudara yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita dituntun dari hari Senin lalu hingga memasuki hari Tengah pekan ini.

Firman Tuhan yang menyertai kita di hari ini, “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. (14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan”.

Efesus 2:13-14

Saudaraku, “jauh” dan “dekat” biasanya menyangkut jarak dari satu tempat ke tempat lainnya. Warga Jemaat yang tinggal di wilayah Tangerang, tentu kita katakan jauh dari lokasi gedung gereja kita. Sedangkan, mereka yang tinggal di daerah Jatinegara dan sekitarnya, kita katakan dekat.

Berkaitan dengan firman Tuhan pagi ini, terungkap ada kata “jauh” dan “dekat” berkaitan dengan Tuhan. Tentu bukan seperti jauh dan dekat yang dihitung memakai hitungan di atas. Bukan, bahwa jarak antara Tuhan dengan manusia jauhnya 1000 km atau dekat karena berjarak 10 meter. Tidak. Bukan dalam pengertian demikian.

Kandungan “jauh” dan “dekat” ini lebih pada relasi. Kata “jauh”, menunjuk hubungan yang diwarnai permusuhan. Relasi yang dingin. Relasi Allah dan manusia begitu hambar. Manusia merasa hampa. Penyebabnya dosa. Dosa yang diperbuat manusia yang membuat Allah murka atas manusia. Sejak itu, relasi Allah dengan manusia tidak mesra.

Sama, jika antar sahabat atau suami-istri terjadi konflik, bukankah secara psikologis muncul perasaan jauh. Permusuhan membuat suasana
dingin. Tegur sapa berhenti. Bisa jadi, jarak secara fisik tidak jauh. Bagi suami-istri, misalnya, meski mereka tidur satu ranjang tapi kalau sedang konflik dan hatinya penuh kemarahan satu sama lain. Bukankah perasaan yang ada adalah perasaan “jauh”? Sampai2 berkata-kata pun bernada teriakan, padahal jarak satu sama lain cuma 2-3 meter saja.

Saudaraku, darah Kristus yang mengubah tatanan relasi. Mengubah pula suasana hati Allah atas manusia. Allah kini dekat dan memberi selamat. Dulu, dosa menciptakan tembok. Tak tertembusi. Allah di balik sana dan manusia di balik yang satunya lagi. Ibarat jurang, antara Allah dan manusia ada jurang menganga tak terjembatani.

Kemudian segalanya berubah, tadinya “jauh” dari Tuhan, kini “dekat”. Kata “dekat” di sini yaitu relasi yang buruk berlalu, yang baru dan indah telah tiba. Tercipta kualitas hubungan baru yang istimewa antara Allah dan manusia. Ada suasana relasi yang hangat, indah dan menyenangkan. Pencipta suasana baru itu adalah Kristus. Tidak ada nama lain. Darah Kristus yang mengubahnya. Sungguh darah Kristuslah yang merobohkan tembok itu. Darah Kristus menjadi jembatan yang mempertemukan Allah dengan kita. Permusuhan berakhir. Allah menjadi dekat.

Pertanyaannya, lalu hal apa yang paling baik kita lakukan merespon karya darah Kristus? Tugas kita kini adalah, kita merawat relasi indah yang telah diciptakan Allah ini. Kita terus dekat dengan-Nya. Dan Doa merupakan bentuk yang mempertautkan relasi kita dengan Allah tetap dekat. Kita membangun keharmonisan bukan permusuhan. Jangan kita membuat tembok baru yang menjauhkan kita dari Allah. Lebih baik kita merawat cinta, daripada berbuat dosa. Jagalah sikap dan kelolalah perilaku dan kata2 sebaik mungkin. Kiranya itu, yang kita kerjakan di hari Rabu ini.

Kita berdoa, Tuhan, terima kasih atas karya-Mu yang agung. Kami bersuka cita sebab Engkau dekat dengan kami.

Tuhan, kiranya di tengah pekan ini, kami tetap melangkah bersama-Mu. Berkati ayah-ibu kami, anak-anak kami, cucu-cucu kami, pasangan hidup kami dan segenap keluarga kami dan semua orang beriman kepada-Mu. Agar Tengah pekan ini kami menjalani hidup yang bersuka cita. Dan selalu punya alasan untuk mengucap syukur kepada-Mu. Ya, Allah. Dalam Kristus Yesus, kabulkanlah doa kami. Amin.

Kasih Kalahkan Kekerasan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 4:5

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di sepanjang hari ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram”.

Kejadian 4:5

Saudaraku, betapa berbahaya perasaan tersinggung dan cemburu yang tidak bisa dikendalikan. Tindakan kekerasan bisa lahir gara-gara itu. Kisah Kain dan Habel mengingatkan bahaya tersebut. Walaupun keduanya terikat persaudaraan, malah saudara kandung. Tetapi begitu salah satu terbakar cemburu dan tersinggung, maka muncullah sikap gelap mata. Saudaranya sendiri jadi sasaran pelampiasan tindakan kekerasan.

Persaudaraan merupakan nilai tertinggi dalam relasi antar manusia. Dua orang atau kelompok manusia yang berbeda bisa bersatu. Mengapa? Karena ada nilai persaudaraan yang merekatkan. Dengan nilai dan semangat persaudaraan ini, kita memandang orang lain bagaikan saudara sendiri. Hidup bersama dengan rukun dan damai. Hidup saling membantu.

Dalam hal Kain justru lain. Karena disulut perasaan egoisnya, yang merasa bahwa sikap Allah lebih mencintai Habel, saudaranya. Ia abaikan Habel sebagai saudara. Di matanya, saudaranya adalah sasaran pelimpahan gejolak hati yang panas. Sepatutnya Kain introspeksi dan memperbaiki kekurangannya saat persembahannya ditolak Allah. Sayang, jalan itu tidak ditempuh. Ia lebih melihat Habel, saudaranya selaku saingan. Rival. Kain melihat saudaranya sebagai penyebab, mengapa persembahannya ditolak Allah.

Saudaraku, ketersinggungan dan dipadu dengan rasa cemburu, akhirnya mengambil korban. Adik kandung yang sepatutnya dikasihi justru kehilangan nyawa oleh tangan kakaknya sendiri. Semestinya posisi kakak dalam keluarga mengambil peran melindungi. Terutama dari ancaman dan bahaya dari luar keluarga. Kain, bukan saja gagal sebagai kakak yang melindungi adiknya. Bahkan ia sendiri pelaku tunggal yang menghilangkan nyawa saudara yang sepatutnya dikasihinya.

Saudaraku, kita mengenal istilah KDRT. Sebuah singkatan atau akronim yang menunjukkan bahwa orang terdekat dalam sebuah keluarga bisa tega berbuat kekerasan atas anggota keluarga yang lain. Sedangkan korbannya sesama anggota keluarganya sendiri. Bisa suami atas istri, atau orang tua atas anak. Dengan KDRT rumah bukan lingkungan aman dan nyaman. Aura menakutkan memancar.

Dalam masyarakat kita, korban terbanyak adalah perempuan dan anak. Laki-laki dewasa tentu ada juga, tapi sedikit. Perempuan dan anak jadi korban karena lebih rentan. Secara fisik lebih lemah. Menurut ahli sosial, dalam budaya patriarki (dominan bapak atau laki-laki), bisa tersimpan sikap “pembiaran” terjadinya kekerasan atas perempuan.

Saudaraku, kekerasan itu berdampak pahit. Luka secara fisik dan batin berupa trauma akan dialami korbannya. Kita tidak boleh diam, membisu. Kita punya panggilan. Agar kita harus jadikan keluarga kita bebas kekerasan ( zero violence). Apakah itu kekerasan verbal berupa kata-kata, seperti: cacian, olok-olok, kata-kata intimidasi, dll. Kekerasan fisik: pukulan, tidak dipenuhi kebutuhan makan-minum, dsb. Dan kekerasan seksual yang belakangan ini merebak di banyak tempat. Di dekat Jakarta baru-baru ini tertangkap pelaku pelecehan anak. Praktik yang sudah bertahun tahun berlangsung. Ironinya, terjadi di lingkungan tempat ibadah.

Kita mesti proteksi keluarga kita atau lingkungan sekitar kita, agar menjadi lingkungan yang nyaman, dan terhindar dari budaya kekerasan. Kita membangun suasana keluarga yang mengutamakan persaudaraan sebagai nilai tertinggi.

Sehingga cinta kasih, kehangatan dan saling memberi perhatian hadir dalam keluarga kita. Cemburu dan tersinggung, pasti terjadi dalam hidup sebuah keluarga. Namun, jangan disimpan, agar suatu saat tidak meledak dalam bentuk mencederai fisik dan batin orang yang kita cintai. Kita harus mengelola emosi yang tidak sehat untuk ditundukkan oleh penguasaan diri yang kuat dan baik. Dan sikap ajaran kasih menjiwai setiap perangai dan perilaku Anda dan saya.

Tuhan, hari demi hari berlalu. Kiranya Tangan tuntunan-Mu tetap bersama kami. Jadikan kami mampu membangun kehidupan yang nyaman buat hati dan tentram dari ancaman. Baik di tengah keluarga, tempat ibadah, tempat kerja dan masyarakat.

Energi Sinergi

oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Hakim-hakim 1:2-3

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan hari ini, “Firman TUHAN: “Suku Yehudalah yang harus maju; sesungguhnya telah Kuserahkan negeri itu ke dalam tangannya.” (3) Lalu berkatalah Yehuda kepada Simeon, saudaranya itu: “Majulah bersama-sama dengan aku ke bagian yang telah diundikan kepadaku dan baiklah kita berperang melawan orang Kanaan, maka akupun akan maju bersama-sama dengan engkau ke bagian yang telah diundikan kepadamu.” Lalu Simeon maju bersama-sama dengan dia.”

Hakim-hakim 1:2-3

Saudaraku, pepatah kita mengatakan “ berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Artinya, dalam menghadapi pekerjaan berat akan terasa ringan dikerjakan bersama. Kebersamaan itu merekatkan dua kekuatan menjadi satu, sehingga kesulitan pun bisa teratasi.

Bangsaan Kanaan dibanding Yehuda bagaikan langit dan bumi. Kanaan jauh lebih maju, kuat dan hebat ketimbang Yehuda. Yehuda bagaikan kekuatan tidak ada apa-apanya di mata bangsa Kanaan. Wajar Kanaan itu sebuah bangsa, sedangkan Yehuda itu suku.

Meski perbandingan akan mengunggulkan Kanaan serba lebih daripada Yehuda. Garis tangan Yehuda memperlihatkan Yehuda akan mengalahkan Kanaan. Itu bukan ramalan kosong, melainkan firman Tuhan. Menurut kalkulasi atau hitung-hitungan jelas itu mustahil. Kekuatan mereka tidak berimbang. Dan Yehuda pasti bukan pihak yang diunggulkan.

Saudaraku, satu sisi Yehuda harus percaya pada pesan firman Tuhan. Di tangan-Nya-lah kemenangan akan terjadi. Tapi, secara realistis, jika berhadapan sendiri, Yehuda pasti kalah telak. Lalu, bagaimana Yehuda bisa mengalami pesan firman Tuhan itu bukan isapan jempol belaka?

Yehuda menggunakan cara melihat potensi bukan hanya yang ada pada diri sendiri saja. Melainkan juga ia melirik potensi Simeon. Kekuatan Simeon dan orang-orangnya dimanfaatkan. Sehingga keduanya menjadi kekuatan baru yang kemudian mampu merealisasi apa yang dikatakan firman Tuhan.

Saudaraku, tindakan Yehuda itu, sekarang sering disebut sinergi. Dua kekuatan dipadukan. Lalu, lahirlah kekuatan baru. Kekuatan yang tidak akan dimiliki jika tanpa perpaduan. Ikan hiu dan ikan teri jelas beda kelas. Siapapun tahu, tidak ada artinya ikan teri dibanding ikan hiu. Tapi, jangan remehkan ikan teri. Ikan teri bisa mengalahkan ikan hiu, manakala ikan teri itu berjumlah ratusan ribu lalu menyatukan diri. Sekuat dan seganas apapun ikan hiu, ikan hiu itu akan melarikan diri dari serbuan ratusan ribu ikan teri yang kecil-kecil namun saling menyatu. Seumpama itulah, Yehuda dan Simeon digabungkan. Keduanya menjadi satu kekuatan hebat.

Saudaraku, Pikiran cerdas Yehuda patut dicontoh. Bersinergi kini juga dibutuhkan. Dengan sinergi kekuatan orang lain menjadi milik kita. Kekuatan kita menjadi milik orang lain. Hidup di tengah keluarga, gereja, kantor pasti ada kesulitan. Mungkin kesulitan yang berat sulit diatasi oleh sendirian. Namun, tidak ada kesulitan tanpa teratasi jika kita menghadapinya dengan sinergi.

Bagian lain Alkitab menggambarkan tentang gereja. Gereja dikiaskan satu tubuh banyak anggota (lih. 1 Kor 12:22-31). Di sana ada yang jadi tangan, telinga, kaki, hidung, dsb. Maka terkandung makna ada beragam potensi. Jelas, setiap anggota membutuhkan satu sama lain. Di meja makan tersedia makanan, tidak cukup asal punya mulut. Tentu perlu gigi, lidah, dan anggota tubuh lain. Tiap-tiap anggota tubuh ini menjadi satu kesatuan karena bersinergi.

Jadi, kita tidak bisa hidup sendiri. Dan mustahil berhasil cuma karena diri sendiri. Pasti karena kehadiran yang lain dan bersinergi dengan yang lain. Karena itu, kita butuh kehadiran yang lain. Sekaligus, orang lain pun membutuhkan kita.

Di sinilah, satu sisi kita harus rendah hati. Tanpa topangan dan kerja sama dengan pihak lain, kita tidak bisa maju, mustahil berkembang. Pada sisi lain, kita harus punya modal. Apakah ilmu, ketrampilan, pengalaman serta lainnya. Sehingga orang lain pun membutuhkan kita. Kita ditempatkan mitra berharga meraih kemajuan dan perkembangan bersama.

Saudaraku, ini pelajaran berharga. Dengan sinergi kita punya kekuatan lebih besar dan lebih hebat. Semoga, pelayanan kita menjadi optimal. Karena kita membangun sinergi yang kokoh di antara pimpinan Jemaat. Demikian pula di kantor, di gereja, di masyarakat, dan bangsa. Kekompakan kita menjadi makin kuat. Ketika dihadirkan sinergi satu sama lain.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selalu bersama-Mu. Dan kami memadukan kekuatan dengan yang lain agar makin menjadi berkat lebih besar.

“Tuhan, kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai. Jika hadir kesulitan dan ujian Engkau karuniakan ketahanan iman dan kesabaran.

Kami membawa dalam doa, kehidupan hari ini dan masa depan buat kaum muda. Tuhan kiranya memberi hari-hari berharga. Tuhan mengaruniakan kepada mereka tubuh sehat, kesetiaan dalam iman dan hidup penuh tanggung jawab serta mempersiapkan masa depan dengan baik. Berkati juga orang tua mereka dengan kebahagiaan.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.