Setia Pada Proses

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, mas-mbak, bapak-ibu, opa-oma dan saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Allah yang menempatkan kita di bawah sayap pernaungan-Nya. Sehingga pagi ini, kita bangun dan tetap menghirup udara kehidupan.

Firman Tuhan yang kita renungkan, “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” Pengkotbah 11:1

Saudaraku, salah satu berkat yang kita tuai dari kemajuan teknologi adalah efesiensi waktu. Mengerjakan sesuatu dengan bantuan teknologi bisa selesai dengan segera. Jika kita mau berkirim kabar dengan seseorang, mudah sekali. Handphone kita dalam hitungan detik bisa memenuhi kebutuhan kita. Cepat dan ringkas. Tidak butuh berhari-hari seperti era saya berusia belasan tahun.

Tidak berbeda dalam hal memasak. Orang tua kita dulu memasak dengan kayu, makanan akan matang jauh lebih lama dibanding sekarang. Dunia yang kita huni semakin maju dan semakin modern. Seiring dengan itu semakin cepat membuat sesuatu.

Saudaraku, keadaan ini membentuk mentalitas manusia. Yakni mentalitas ingin serba cepat. Hal yang perlu direnungkan adalah merebaknya mentalitas bersifat ketidak sabaran. Serba ingin cepat. Ingin cepat kaya. Ingin karier cepat mengorbit. Ingin cepat punya kekuasaan. Ujungnya sikap tidak sabaran. Lama itu membosankan dan jelek.

Firman Tuhan mengajarkan tentang hasil dari sebuah perbuatan, yang hasilnya tidak bisa segera kita nikmati. Perlu waktu. Membutuhkan proses. Meski butuh waktu dan proses lama, tapi itu tidak sia-sia. “Melempar roti ke air” seakan tindakan tidak berguna. Buat apa? Paling-paling roti itu akan hancur dan hanyut. Bisa jadi dinilai perbuatan tidak bermanfaat.

Bagi Pengkotbah tidak demikian. Roti yang dilemparkan ke air akan disantap ikan. Ikan akan bertumbuh baik dengan mengkonsumsi roti itu, dan pada saatnya kelak ikan dapat dipanen. Ada ekosistem yang akhirnya manusia bisa memanen dengan suka cita. Dengan demikian, tindakan membuang roti ke air tidak sia-sia. Hanya memetik hasilnya memerlukan waktu, dan lama. muter-muter dulu, lama.

Saudaraku, membangun mentalitas, iman, karakter dan kepribadian tidak bisa segera memetik hasilnya. Lama sekali kita kelak menuainya. Meskipun demikian, yakinlah, yang kita lakukan itu tidak percuma.

Orang tua yang membimbing dan menasihati anaknya, guru membimbing muridnya, pemimpin gereja membina warganya, tidak serta merta menuai hasilnya. Sebuah nasihat diberikan sekarang, tidak bisa secara instan besok nasihat itu langsung kita bisa lihat hasilnya. Ada yang butuh berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Membangun mentalitas, karakter, iman, kepribadian tidak bisa ditangani dengan teknologi. Sulit bersifat serba cepat, layaknya membuat kopi atau teh yang bisa hasilnya bersifat instan. Diperlukan waktu dan kesabaran.

Karena itu, jika kita ingin membangun mentalitas, iman, kepribadian, karakter butuh kesabaran. Ada seorang teolog Jepang bernama Kosuke Koyama. Ia menulis buku “ Three Mile an Hour God”. Dia menyatakan, bahwa Allah membutuhkan waktu 40 tahun, untuk menanamkan satu pelajaran berharga. Yaitu, “bahwa manusia hidup tidak dari roti saja tapi dari firman yang keluar dari Allah”. Betapa lama. Ya, sangat lama menanamkan satu pelajaran saja. Lambat sekali, untuk watak orang modern. Sementara itu, jarak tempuh yang sebenarnya bisa dijangkau dengan menghabiskan waktu lebih cepat.

Saudaraku, berkaitan dengan itu, maka seorang guru, orang tua, pemimpin agama, bahkan siapapun. Kita dituntut punya stamina kesabaran ketika melakukan fungsi kita. Yakni saat kita mengajak dan mengajar orang lain agar sesuai harapan kita dan sepadan dengan firman Tuhan. Manusia bukan benda yang dapat ditangani teknologi.

Yang jelas, kelak kita tahu dan pasti kita lihat bahwa yang kita kerjakan ada hasilnya. Tidak ada yang percuma. Tidak ada yang tidak berguna. Apalagi untuk pekerjaan mulia, tidak ada yang sia-sia. Kini, kesabaran kita diuji.

Dalam masa sulit ini, kita diminta “Tinggal di Rumah”. Banyak yang mengeluh. Bosan. Lama banget. Kesabaran menjadi kunci untuk masuk ke sikap lain yang terpuji. mari kita menengok Firman Tuhan, ”kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan”. Roma 5:3b-4.

Kepedulian Menyelamatkan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Allah, kita masih dalam pemeliharaan Allah. semoga keluarga dan sesama kita pun mengalami hal sama.

Bacaan firman Tuhan dari Markus 2:5, “Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

Saudara, di tengah merebak virus korona yang tak kunjung usai. Mulai ada letup kejengkelan. Sasaran kejengkelan adalah mereka yang tidak menerapkan social distancing. Dalam hal ini, susah banget untuk tinggal di rumah. Dan kepada yang mendesain kegiatan yang bertentangan dengan social distancing.

Siang berada di tempat ramai. Malam menyesaki tempat kongko-kongko. Lebih memprihatikan pelakunya ada orang terdidik dan tokoh agama. Di Jakarta malah yang membuat aturan, justru yang melanggar. Memprihatinkan.

Saudaraku, sikap ini sungguh memperlihatkan ketidak pekaan. Seorang pendeta terkenal mencela ajakan untuk tidak salaman dan tidak melakukan ibadah konvensional. Dalihnya, virus korona seakan lebih berkuasa dari Tuhan. Kesannya sangat beriman. Saleh sekali. Padahal dia sedang ‘mensukseskan’ penyebaran virus makin panjang dan tak putus mata rantainya.

Berbeda sekali dengan 4 orang yang membawa orang lumpuh ke hadapan Tuhan Yesus. Beban seseorang menjadi pusat keperdulian mereka. Waktu, tenaga dan jerih juang mereka lakukan. Agar si lumpuh bertemu Tuhan Yesus, dan penderitaannya berakhir.

Sebuah tindakan terpuji. Dirinya berkorban, orang lain memetik buahnya. Tuhan Yesus menangkap di balik tindakan dan pengorbanan itu ada iman yang menggerakan. Karena itu Injil Markus mencatat, “ ketika Yesus melihat iman mereka…”. Betul, iman mereka bukan imannya. Ada sikap bersama. Tindakan solidaritas sebagai ungkapan iman.

Saudaraku, fenomena berbeda diperlihatkan para pelaku yang masih menutup telinga atas anjuran, hinbauan dan ajakan melakukan social distancing. Berkali-kali diberi tahu. Berulang-ulang diingatkan. Tinggallah di rumah, tetap bandel. Sebuah praktek egoisme bersebrangan dengan kepentingan orang lain. Itu tidak sejalan dengan iman.

Iman berorientasi berbuat baik. Sasaran tidak hanya diri sendiri. Cuma buat diri sendiri itu sempit, sesempit penerjemahan iman. Mengasihi diri sendiri itu dangkal. Sedangkal pemahaman keagamaannya.

Iman sejati menyasar diri sendiri. Tapi tidak berhenti di sana. Orang lain mendapat perhatian. Pertolongan diulurkan dan kebaikan ditabur bagi mereka.

Saudaraku, kesadaran untuk meringankan beban bukan menambah beban, itu yang dipraktikkan 4 orang yang menggotong orang lumpuh. Mereka tidak bernama. Identitas mereka tidak kita ketahui. Meski demikian sungguh relevan dan pas jika kita teladani di saat sulit ini. Banyak orang mulai menyediakan logistik cadangan di rumah. Kulkas dipenuhi. Sembako dilengkapi. Tapi, jangan lupa dan asyik sendiri. Ada ratusan atau ribuan dokter dan tenaga medis sedang berjuang. Bukan buat diri sendiri melainkan buat orang yang dilumpuh virus korona.

Tengoklah kanan-kiri tetangga kita, atau teman sejemaat kita. Adakah mereka juga tengah berjuang untuk tetap survive, bertahan di masa sulit ini. Italia jadi contoh buruk, Cina menjadi contoh baik. Bahwa kepekaan disetai keperdulian berbuah manis. Sedangkan ketidakpedulian dan asyik mengikuti sikap keras kepala berbuah pahit.

Kiranya kita bijak di tengah hidup yang diperhadapkan dengan tantangan dan ujian yang sama. Sama-sama berjuang memutus mara rantai persebaran virus ganas. Sama-sama bergandengan tangan saling menguatkan dengan doa, pengharapan dan tindakan saling meringankan.

Tuhan Tidak Tidur

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah kita mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik.

Firman Tuhan diambil dari, Markus 4:37-38 “Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

Saudara, kedekatan dengan Tuhan secara fisik tidak menjamin seseorang bebas dari kekuatiran. Siapapun tahu, relasi Guru dan murid senantiasa mencerminkan kedekatan. Tatkala kita mengklaim bahwa kita adalah murid Yesus dan Yesus adalah Guru Agung kita, kita tengah menyatakan kedekatan kita dengan-Nya. Secara badani maupun kejiwaan. Tapi, sayang tatkala ada bahaya besar di depan matanya, ketakutan ternyata lebih dominan berkuasa di hatinya. Ketimbang rasa yakin bahwa Tuhan akan sigap bertindak menolongnya. Pelajaran ini yang dapat kita petik dari firman Tuhan hari ini.

Para murid Tuhan tengah berada dalam perahu. Di perahu yang sama hadir juga Tuhan di sana. Bedanya, mereka semua kondisi terjaga, sedangkan Tuhan Yesus tertidur. Kelelahan yang tinggi membuat Tuhan Yesus perlu istirahat. Di tengah perjalanan mengarungi danau itulah, tiba-tiba ombak datang. Perahu sederhana dan berukuran kecil itu tentu saja menjadi oleng. Ombak lebih besar dibanding perahu mereka. Air menyembur dan masuk dalam perahu. Insting mereka berbicara ada bahaya datang. Situasi mencekam. Nyawa terancam. Sementara itu, Tuhan Yesus tidak terjaga dari tidur. Para murid agak dongkol kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sama sekali tidak terbangun. Lelap dengan tidur-Nya. Menurut mereka itu wujud masa bodoh Guru atas keselamatan diri murid-Nya.

Saudaraku. Karena saking takutnya dan seolah Tuhan terus asyik dengan tidur-Nya, akhirnya mereka tidak tahan. Mereka membangunkan Tuhan Yesus. Malah disertai ungkapan yang kurang sedap didengar, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”. Rasa takut yang telah memuncak sampai mereka berkesimpulan bahwa Tuhan tidak perduli hidup dan keselamatan mereka. Padahal, secara fisik betapa dekat sekali dengan Tuhan Yesus. Tidak lebih dari 10 meter. Lebih dari itu Guru mereka ada dalam perahu yang sama.

Saudaraku, di mata Tuhan Yesus perasaan dan tindakan para murid, itu sudah cukup alasan untuk menyatakan bahwa, mereka kurang percaya. Ketakutan mereka mengalahkan keyakinan atas Allah yang peduli. Ketakutan punya kekuatan yang bisa meruntuhkan bangunan kepercayaan seseorang.

Yang berbahaya adalah saking takutnya atas ombak kehidupan, lalu ‘melompat keluar perahu’. Mengambil cara sendiri yang malah fatal akibatnya. Karena tidak sabar seolah-olah Tuhan tidak “action”. Akhirnya, mengambil keputusan yang berakhir sesal. Selain itu, orang yang over dosis rasa takutnya, lalu menakut-nakuti yang lain. Ketakutan pribadi menjadi ketakutan kolektif. Ketakutan personal ingin menjadi ketakutan komunal. Itu, yang kita lihat dari tulisan hoax yang beredar di mana-mana sekarang berkaitan dengan situasi terkini.

Ironisnya. tidak sedikit kita pun bisa temukan banyak opini dan tulisan yang jika kita mau simak dan resapi. Ternyata di dalamnya secara halus ada getar kandungan ketakutan. Hanya dengan rapi dibungkus oleh bahasa rasional bahkan keagamaan. Memang, begitulah kita, manusia. Antara pilihan takut dan berani yang selalu kita gumuli setiap saat.

Sesungguhnya, sikap demikian ada dalam kehidupan setiap orang. Saat ombak kehidupan yang besar menghantam hidup kita. Dalam hal ini mengambil bentuk berbagai ujian hidup. Apakah itu sakit, kehilangan pekerjaan, sulitnya menemukan pekerjaan yang menyejahterakan, anak yang kurang perhatian, orang tua yang asyik dengan dunia egoismenya sendiri. Dan kini dengan kasus virus korona melanda setiap jengkal wilayah negara manapun. Bukan tidak mungkin ada bertanya atau muncul perasaan Tuhan tidak perduli. Tuhan tidur.

Saudaraku, Tuhan tahu batas-batas kemampuan dan keberadaan kita. Ia pun tahu ketakutan dan kecemasan kita. Ia peka. Ia tidak tidur. Karena itu, kita musti tetap ada dalam satu perahu dengan-Nya. Jangan melompat keluar perahu. Kita memuji bukan meragukan dengan ungkapan, “Guru, Engkau tidak perduli aku binasa?”

Saudaraku, Tuhan itu berada dalam satu perahu dengan kita. Dia senantiasa berjaga-jaga, tidak tidur saat kita terancam kesulitan. Ia sungguh perduli. Kesadaran dan keyakinan ini, hendaknya juga kita rasakan dan hayati dari hari lepas hari. Selama kita hidup mengarungi dunia ini. Kita berlayar satu perahu dengan-Nya. Dan kita lihat, Dia sungguh perduli. Dengan suasana itulah, hidup sehari-hari kita diwarnai. Bagaimanapun, kita dalam perjalanan satu perahu dengan-Nya. Rona suka cita bukan ketakutan, hendaknya memancar dari wajah kehidupan orang percaya.

Rumah Tempat Ibadah

Oleh Pdt. Supriatno

Firman Tuhan hari ini diambil dari Mazmur 27:4, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.”.

Selamat pagi, ibu-bapak dan seluruh Saudara yang dikasihi Allah. Selamat memasuki akhir pekan. Terpujilah Allah yang selalu berkarya dalam kehidupan alam semesta, yang menjadikan kita dikasihi-Nya.

Saudaraku, ada ‘penyakit’ yang namanya “homesick”. Sebenarnya bukan penyakit pada umumnya, melainkan suatu perasaan rindu berat sama rumah. Jika Saudara yang meninggalkan rumah untuk kurun waktu lama, entah karena studi, pekerjaan atau urusan tertentu. Apakah ke luar kota atau ke luar negeri bisa terpapar rasa rindu untuk pulang ke rumah. Rindu suasananya. Rindu berjumpa ayah-ibu, rindu bertemu istri/ suami dan anak. Masakan khas buatan ibu atau istri, sapaan keluarga, ngobrol sama saudara sekandung, tanaman di taman, barang-barang milik pribadi.

Saudaraku, itu semua kerap yang menjadi sebab utama rindu rumah. Ketika saya sedang mengingat masa lalu, maka bagian yang juga melintas adalah rumah. Modelnya, ruang-ruang yang jadi tempat tidur, tempat bermain atau bekerja semasa kita tinggal di dalamnya, terutama masih kecil hingga pemuda.

Memang rumah itu punya magnit yang menarik hati kita. Emosi kita bisa diaduk-aduk oleh sosok bangunan yang bernama rumah. Sesederhana apapun rumah kita, di sanalah berbagai peristiwa terjadi. Suka maupun susah, rumah kita menjadi saksinya. Pengalaman hiduppun dirajut di bawah atap rumah. Pengalaman merawat dan membesarkan anak. Pengalaman membangun perkawinan.

Di sanalah, di sebuah tempat yang kita sebut rumah. Sekaya apapun seseorang, rasanya janggal jika dia menghabiskan dan menikmati hidup di sebuah hotel. Sungguh, rumahlah yang merekam semua peristiwa penting yang terjadi atas kita.

Menarik, bahwa dalam kesaksian Kitab Injil rumah juga menjadi tempat Tuhan Yesus berkarya. Di bawah atap rumah, Dia mengajar, juga termasuk membahagiakan orang lain. Tuhan Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon di rumahnya. Dia mengunjungi rumah Martha dan Maria. Di rumah mereka, Yesus mengajar pentingnya mendengarkan suara-Nya daripada bersibuk ria menyiapkan makanan untuk-Nya. Bermalam di rumah Zakeus, Yesus menjadikan pemiliknya berkomitmen melakukan perubahan sikap dan karakternya. Di sebuah rumah pula, Yesus memulihkan kepercayaan murid-Nya setelah mereka kecewa dengan kematian-Nya. Jadi, rumah itu istimewa. Punya tempat tersendiri di hati Tuhan Yesus, demikian juga hati semua manusia.

Saudaraku, itulah rumah. Dia bukan sekedar bangunan fisik yang terbuat dari batu, bata, semen, ubin, genteng, kayu. Di mata kita rumah menjadi bagian dari narasi atau kisah hidup kita. Di sanalah kita hadir, tumbuh dan menjalani hari-hari kehidupan dengan aneka rupa pengalaman dan peristiwa. Di sanalah, ya di rumah kita, kita merasa lega jika tiba setelah menjalani kegiatan di tempat tertentu. Di sanalah, di dalam rumah rasa aman kita temukan.

Dengan gambaran di atas, kini kita lebih mengerti bagaimana pemazmur ingin di rumah Tuhan seumur hidupnya. Rumah itu nyaman, apalagi rumah Allah. Allah pemilik-Nya pasti menjadikan barangsiapa yang masuk dan tinggal akan merasa betah. Sebab Allah menyediakan kenyamanan dan keamanan tersedia di sana. Itu sebabnya, pemazmur rindu untuk tinggal bukan untuk satu atau dua hari, bukan untuk satu atau dua tahun, melainkan seluruh masa hidupnya dia ingin sekali diam di sana.

Di rumah Allahlah, pemazmur merasakan Allah itu murah hati. Itu artinya tinggal bersama Allah tidak akan kekurangan. Tidak ada masa paceklik, yang serba kekurangan. Di rumah Tuhan itu serba melimpah. Yang kita butuhkan, Allah saja yang Maha Pemurah memenuhinya. Rumah Tuhan yang dimaksud adalah Bait Allah. Atau saat ini Gereja-Nya. Jadi, Gereja Tuhan itu menjadi tempat batin yang lelah disegarkan lagi. Tempat buat yang luka hatinya mendapat perawatan dan penyembuhan. Yang luka batin dibalut. Di rumah Allah orang yang terasing dengan sesamanya mendapat rangkulan hangat persaudaraan.

Saudaraku, jika yang dimaksud rumah Allah sama dengan Gereja-Nya yakni persekutuan kita, berarti ada tugas di pundak kita. Tugas kitalah kini menjadikan persekutuan yang anggotanya memiliki hati yang hangat. Semua merasa diperlakuan penting dan terhormat. Saling kenal dengan ikatan persahabatan yang kuat. Sehingga suasana persekutuan bikin betah. Betah oleh sebab persaudaraannya. Betah sebab menemukan suasana saling memberi perhatian. Betah bukan hanya asyik dilayani, tetapi juga ringan tangan dan hati yang siap melayani. Kita berupaya keras agar tidak menjadi persekutuan yang tidak saling perduli. Tandus cinta kasih, karena anggotanya hanya memikirkan hidupnya sendiri-sendiri.

Di pundak kita, Allah memberi panggilan untuk membangun Gereja Allah sebagai rumah bersama kita. Rumah yang menjadi saksi keimanan dan kesetiaan kita kepada Allah. Rumah yang mewadahi dan menyalurkan berkat dari anggotanya yang murah hati. Rumah yang hati anggotanya saling terpaut dan enggan dipisahkan satu sama lain. Seiring sejalan. Sehati-sepikir.

Saudaraku, jika kini karena situasi karena Virus Korona, kita memilih ibadah Minggu di rumah. Jangan mengecilkan arti rumah. Bukankah seperti diutarakan di atas, Tuhan Yesus mengajar dan menyembuhkan di dalam rumah pula. Di rumah meski sebagai persekutuan itu unit yang terkecil, Tuhan Yesus menghargainya. Tuhan Yesus tidak menyepelekan rumah. Rumah punya makna agung dan indah di mata Tuhan Yesus. Karena itu, esok kita beribadah di rumah, kita temukan lagi kehangatan rumah. Di sana kita memuji Tuhan sepenuh hati. Kita memuja Allah dengan segenap rasa.

Kebaikan Yang Membangkitkan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan. Dan kita masih melihat birunya langit, tanda kesetiaan kasih Allah atas umat-Nya.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.” Mazmur 103:5

Saudaraku, bersediakah Anda menyebutkan dalam hati kebaikan Tuhan di hari kemarin? Saya yakin tentu mudah Anda menemukan dan menyebutkannya. Jangankan kebaikan hari kemarin, hari-hari sebelumnya, saya tetap yakin, Anda masih mengingat dengan baik lalu menyebutkan dalam hati. Demikian pula, untuk waktu-waktu yang telah lama kita lewati pun, bukan mustahil Anda masih mengingat kebaikan Tuhan yang Anda jumpai dan cecap. Kita ingat, karena pengalaman kebaikan selalu menggoreskan kesan mendalam.

Kita punya ruang memori untuk menyimpan peristiwa kebaikan. Terkecuali orang berwatak Malin Kundang, melupakan kebaikan dari seorang yang amat mengasihi demi kepentingan prestise atau gengsi. Bagi kita kebaikan manusia saja kita tetap ingat, apalagi kebaikan Allah. Yaitu tadi, karena menorehkan kesan di hati.

Saudara. Dalam berkomunikasi dengan orang lain, di dalam prosesnya ditaburi dengan pujian. Baik berbentuk kata-kata maupun berbentuk simbol. Ketika mendapat pesan WA, dan Anda merasa terkesan dan senang. Kemungkinan besar Anda merespon dengan mengirim balik gambar jempol tangan. Bukankah itu simbol pujian? Kita sangat suka memuji langsung ke segala kalangan, mulai kepada teman, atasan atau anak buah, pemimpin politik, atlit idola sampai kepada anak-anak, cucu atau saudara sekandung sendiri. Anda masih ingat sebuah iklan yang menggambarkan rasa senang dan pujian seorang nenek atas cucunya dan berkata, “Eh, cucuku sudah bisa berdiri”. Sekali lagi, pujian lahir dari rasa kagum dan terkesan sehingga terekspresikan melalui ungkapan kata-kata maupun bentuk simbolik tertentu.

Saudaraku, pemazmur memuji Allah. Tentu karena ia terkesan dengan kebaikan Tuhan. Paling tidak ada lima kebaikan Tuhan atas dirinya: Allah mengampuni, menyembuhkan, menebus, memahkotai dan memuaskan. Semua itu yang mendasari pemazmur memuji Allah. Jadi, pujian yang tulus dan sungguh-sungguh lahir dari perjumpaan dengan kebaikan Tuhan. Pujian tulus lahir dari pengalaman nyata dan langsung. Jika kita memuji anak-anak kita yang menyanyi padahal kita tidak mengalami keindahan penampilan mereka, itu pasti didorong cuma untuk memberi semangat. Itu cuma agar membuat anak-anak senang belaka. Pujian kurang bumbu, sebenarnya.

Banyak orang memuji sebenarnya karena basa-basi. Pujian kosong. Pujian yang berangkat tidak dari pengalaman mengesankan yang sesungguhnya. Bahkan, maaf, ada pujian yang bersifat menjilat. Cuma mau menyenangkan orang lain belaka. Dan ada pujian dilontarkan dalam rangka untuk mendapat imbalan tertentu. Meminjam pepatah kita “ada udang di balik batu”.

Saudaraku, kebaikan Tuhan itu riil. Nyata. Konkret. Tidak hanya buat pemazmur tatkala ia menuliskan mazmur ini bahwa kebaikan itu nyata. Begitu pun kita, kita mengalami hal serupa dalam realita kehidupan yang kita ziarahi ini. Kita mengecap kasih Tuhan yang mengampuni saat kita salah. Itu fakta. Tuhan menyembuhkan saat kita jatuh sakit. Itu fakta. Tuhan menebus kita karena jika tidak kita kehilangan sorga. Tuhan memahkotai atau memuliakan kita saat kita direndahkan orang yang memusuhi kita. Tuhan memuaskan saat kita rindu dengan kehadiran-Nya. Saudaraku, semua itu fakta yang kita imani dan benar-benar mengesankan kita.

Saudaraku, lebih jauh kita pun merasakan seperti pengalaman pemazmur. Yaitu bahwa berjumpa dengan kebaikan Tuhan membangkitkan daya hidup. Ada energi kehidupan dalam diri kita. Energi yang melahirkan semangat yang menyala-nyala. Allah yang berkarya dalam sejarah kehidupan kita dunia pun nyata. Berbagai wujud kasih-Nya itu fakta. Bukan kisah fiktif. Kebaikan Allah adalah fakta. Saya yakin, kita semangat itulah yang menjadi landasan pengharapan orang beriman mengalami situasi apapun. Semangat yang menjadi modal untuk menghadapi beragam situasi peristiwa kehidupan.

Saudaraku. Pemazmur mengumpamakan semangat yang demikian dengan sosok rajawali. Burung yang tangkas dan sigap menangkap mangsanya. Tidak pernah lelah terbang. Postur tubuhnya kuat. Bisa dikatakan harimau raja hutan tapi ratu angkasa adalah rajawali. Tak gentar angin besar. Tak takut hujan badai. Bisa seperti itulah orang yang disentuh kebaikan Tuhan. Sigap, semangat, sepertinya tidak mengenal lelah.

Di dalam menghadapi ledakan penyebaran Covid 19, kita jangan kehilangan semangat hidup. Memang kita lelah disajikan informasi terus-menerus terutama makin bertambahnya korban. Apalagi mereka yang menjadi garda terdepan. Mereka lelah secara fisik dan psikologis. Di sini kita menumpukan harapan pada kasih Allah. Kasih Allah senantiasa memberi energi. Energi untuk menguatkan diri sendiri, melainkan juga energi yang memberi efek ke orang lain. Karena disentuh kasih Tuhan yang faktual, kita menjadi sigap, cepat dan semangat dalam membangun kebersamaan dan pelayanan kemanusiaan. Itu semua efek kelihatan dikarenakan perjumpaan dengan kasih Tuhan yang mengesankan.