Gembala Yang Menuntun

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu dan Saudara-saudaraku yang baik. Istirahat merupakan kebutuhan utama, sedangkan tidur malam menjadi bagian yang perlu dilakukan. Darinya organ-organ tubuh, suasana hati, kualitas emosi dan pikiran kita memperoleh penyegaran. Terpujilah Allah yang mengaruniakan kita tidur malam.

Saudara-saudaraku, Firman Tuhan yang menguatkan kita melakukan aktivitas kita diambil dari Mazmur 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya”

Saudaraku, salah satu yang realitas yang dihadapi manusia adalah kematian. Sosoknya selalu dihindari. Secara iman kita tahu kematian tidak bisa dihindari jika saatnya telah tiba. Sekaligus orang beriman dan beragama meyakini bahwa kematian merupakan fase untuk masuk ‘dunia’ lain yang lebih baik. Meskipun demikian, pada umumnya manusia menghindar dari kematian. Tidak usah dengan bahasa yang sulit dan penuh taburan kata-kata, jika ada orang menawarkan, “jika demikian maukah kamu mati?”. Tawaran dan pertanyaan ini menjadi hal yang amat sulit dijawab. Tentu, lebih banyak orang menggeleng kepala.

Mazmur 23 secara keseluruhan menggambarkan Allah sebagai Gembala. Sedangkan Pemazmur memposisikan dirinya selaku domba. Yang satu hakikatnya memberi dan yang lain menerima. Hakikat Allah yaitu Dia selalu memberi, tidak pernah berubah, dulu, kini dan nanti. Sementara itu, manusia di hadapan Allah, dirinya sebagai domba yang sifat hakikinya menerima. Pemazmur menggambarkan Allah sebagai Gembala yang membawa dombanya dapat berbaring di padang hijau dan membimbing ke air yang tenang. Rumput untuk dimakan dan air untuk diminum. Sebuah keadaan aman dan nyaman. Suasana ideal diberikan Gembala atas domba-Nya. Pemberian terbaik yang dilengkapi Allah buat kita. Kita patut bersyukur atas itu dan memuji tindakan Allah.

Pemazmur tidak hanya membatasi tindakan Gembala semata-mata pada ketersediaan dan kelimpahan makan dan minum. Gembala yang baik itu, pun menuntun di jalan yang benar. Kekeliruan menempuh rute yang diambil bisa membawa ke arah yang salah. Allah tidak menginginkan kita berjalan pada pilihan rute yang membuat kita tersesat. Sebagai Gembala, Ia menuntun kita ke tujuan yang baik. Pilihan manusia bisa salah. Kalkulasi manusia bisa keliru. Di situlah Gembala menggiring domba-Nya dengan pilihan arah yang tepat.

Saudaraku, kita tiba pada bagian perenungan kita. Setelah Allah sebagai Gembala mengantar pada realitas yang nyaman dan aman. Kini, bukankah dalam hidup ini kita diperhadapkan dengan hal yang pelik. Yang tidak gampang diurai untuk diatasi. Tidak gampang dilewati. Kita diperhadapkan dengan hal yang sulit. Karena situasinya yang tak mudah dijalani. Dalam konteks Pemazmur dibahasakan “lembah kekelaman”. Atau lembah bayang-bayang kematian (the valley of the shadow of the death). Suatu keadaan yang teramat gelap dan amat jarang dilewati. Bagi siapa yang berjalan di sana, ia tengah dibayang-bayangi maut. Orang yang berjalan di lembah kekelaman, berarti yang bersangkutan harus mempertaruhkan keselamatan dirinya. Nyawanya berada di bibir jurang. Salah melangkah ajal menjemputnya.

Lembah kekelaman menjadi rute yang teramat ditakuti untuk dilewati. Bagi siapapun yang menjajal rute itu, maka potensi untuk tersesat, jatuh dan mati merupakan keniscayaan. Saudaraku, dalam realitas mencekam dan genting yang harus dilewati domba itu. Pemazmur bicara tentang keyakinan dirinya. Bahwa dirinya dengan ketetapan hati menyatakan tidak takut. Lembah kekelaman tidak menyebabkan ia terpuruk pada kecemasan. Ia tidak gentar. Tidak takut selama Gembala itu menyertainya. Dengan kata lain, sikapnya tidak akan seteguh itu dan kepercayaannya akan luruh. Bila ia berjalan tanpa disertai Allah yang adalah Gembalanya.

Saudaraku, kembali kita berbicara tentang kematian. Maut. Secara halus (implisit) kita dapat mendengar getaran ketakutan Pemazmur, bila harus melewati rute paling gelap gulita dalam perjalanan hidupnya. Rute yang berpotensi mengancam keselamatan dirinya. Tapi, dengan gamblang (eksplisit) menyatakan, seberbahaya apapun jalan yang harus ditempuh, dia tidak takut bahaya. Sekali lagi harus dikatakan, tidak takut bahaya. Mengapa? Sebab Allah besertanya. Allah yang membuat mantap hatinya melewati rute yang menakutkan sekalipun.

Saudaraku, siapa yang tidak takut dengan situasi kini? Dunia tengah diguncang makhluk tak terlihat dan tak teraba tapi terasa ‘sengatannya’. Makhluk yang bernama Covid 19 itu jelas melahirkan kegentaran. Bahkan kepanikan menjadi fenomena di mana-mana. Penguasa cemas. Rakyat was-was. Ilmuwan memeras otak berpacu waktu untuk menemukan penangkalnya. Di sinilah, kita meresapkan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa agar membiarkan Tuhan menuntun kita. Tuntunan yang membawa kita berpikir jernih. Tuntunan yang membuat kita menetapkan pilihan yang tepat. Dan yang utama, kita dituntun Allah Sang Penguasa Kehidupan. Yang punya otoritas tertinggi yang menentukan mati dan hidupnya kita. Sekaligus, yang menentukan mati dan hidupnya virus Covid 19 yang menggentarkan itu. Mari, dengan hati yang tetap, kita daraskan dalam diri, “ Aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Tuhan Mengubahkan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, seluruh Saudara-saudaraku yang baik di dalam Tuhan Yesus. Salah satu keindahan hidup bersama Tuhan adalah kehadiran-Nya yang tak pernah putus. Bagaikan cincin tak berujung, demikian karunia kehadiran-Nya atas kita. Patutlah kita mengucap syukur dan berterima kasih kepada-Nya.

Firman Allah yang menyapa kita dari Matius 8: 2-3, “Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.”

Saudaraku, sakit adalah kondisi yang tidak diharapkan. Ia menjadi beban bagi siapapun. Beban finansial sebab harus menguras kantung agar tubuh pulih kembali. Biaya pengobatan merupakan salah satu pengeluaran yang berat, apalagi sakitnya disebabkan penyakit tertentu. Pernah ada ungkapan untuk menggambarkan beratnya beban finansial, “orang miskin tidak boleh sakit”. Tidak cukup di situ, sakit pun melahirkan beban sosial. Ketika tubuh terbaring tidak berdaya, apalagi harus dirawat di rumah sakit, keluarga pun ikut repot. Mereka mau tidak mau mengalokasikan waktu dan perhatian untuk mendampingi. Mulai dari cari rumah sakit sampai menemani dalam perawatan. Bagi yang punya pengalaman, akan mengatakan bahwa mendampingi orang sakit butuh kesabaran dan stamina ekstra.

Sakit juga mencakup beban bersifat keagamaan. Ada orang yang sakit malah bertambah sakit. Mengapa? Karena ditambah beban penilaian dan penghakiman. Si sakit diposisikan telah menyimpang dari norma agama. Dalam dirinya dinilai ada yang tidak beres dengan Tuhan. Sakit menjadi bukti kelihatan pelanggaran seseorang atas Tuhannya. Selain itu, sakit tambah sakit karena perlakuan atasnya ‘dibedakan’. Lantaran jenis sakitnya maka pihak yang sakit menerima perlakuan kurang manusiawi.

Saudara, pada jaman Tuhan Yesus hadir di Israel waktu itu, orang yang sakit kusta itulah orang yang menanggung beban berlapis-lapis. Berbagai jenis beban ditumpukkan pada pundak orang sakit kusta. Secara agamawi orang kusta dianggap najis. Karena itu, orang tidak mau bersentuhan dengan penyandang kusta. Jabat tangan mana mungkin. Si sakit pun dilarang keras menyentuh orang lain. Waktu itu, orang kusta hidup berkoloni artinya bersama dengan sesama penderita dan mereka tinggal di pinggir kota. Terisolasi dan nir komunikasi. Pergi ke Yerusalem dan kota-kota lain, sebuah kemustahilan.

Penderita sakit kusta, masih hidup tapi diperlakukan seolah-olah sudah mati. Beban ini dipikul dengan tanpa harapan sembuh. Sebab memang belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Untuk itu, orang kusta bisa bertemu Tuhan Yesus merupakan momen langka. Dan momen mengalami transformasi, dalam arti kesempatan berubah. Perubahan nasib dan jalan hidup.

Saudaraku, dengan rendah hati penyandang sakit kusta dalam firman ini mengajukan permohonan kepada Tuhan Yesus, “Tuan, jika tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku?” Bisa jadi bibirnya bergetar. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan emosinya cukup nervous. Sebab, bagaimanapun permohonan ini menjadi titik awal perubahan dirinya. Perasaan bercampur aduk menantikan jawaban Tuhan Yesus. Dan ketika yang didengarnya adalah, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Dialog singkat. Tapi, mengubah sepanjang hidup seseorang, khususnya mantan orang kusta itu.

Saudara, perjumpaan itu selalu mengubah, dengan siapapun dan apapun. Hidup Saudara menjadi lain karena bertemu pasangan Anda. Mungkin ajan berbeda jika bertemu dengan pasangan lain. Betapa beruntungnya, setiap orang bertemu atau berjumpa dengan Tuhan Yesus. Karena ada transformasi atau perubahan diri. Dalam Alkitab contohnya begitu banyak dan kaya. Zakeus, sang pemungut cukai. Bukankah berubah menjadi pemurah hati dan berubah orientasi hidupnya lantaran berjumpa Tuhan Yesus? Perjumpaan bukan sekedar bertemu secara fisik tapi ada transfer nilai, pelajaran, sehingga melahirkan inspirasi yang mengubah kehidupan seseorang. Apalagi berjumpa dengan Tuhan Yesus, banyak hal yang kita serap dan peroleh yang menuntun jalan hidup kita berubah. Kita dibaharui. Jika seseorang sudah sekian lama berjumpa dan bahkan bergaul intens dengan Tuhan Yesus, ternyata tidak berubah. Apa kata dunia?

Allah Sumber Pengharapan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Istirahat malam telah kita jalani, hari baru kita masuki. Pertolongan Allah tetap bersama kita, sehingga kita masih mengecap kehidupan yang terlindungi. Puji syukur kepada Allah akan hal ini.

Firman Tuhan yang menuntun kita memasuki hari baru, diambil dari Mazmur 13:2-3, “Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?”

Saudaraku. Problem besar manusia kini adalah tentang virus corona. Virus yang tidak kasat mata, namun berbahaya. Sungguh, di hadapan virus ini semua orang sama, berpotensi terinfeksi. Pejabat maupun rakyat jelata. Orang terkenal ataupun orang biasa saja. Termasuk tokoh agama dan penganut agama apapun yang dianutnya. Tidak pandang bulu. Oleh karena itu, kita semua harus berhati-hati jangan terpapar.

Virus ini makin berbahaya lagi lantaran penyebarannya yang cepat dan mendunia. Kini hampir setiap negara tidak bisa menolak kehadirannya. Sementara itu, meski ada korban yang bisa sembuh, pada kenyataannya belum ditemukan obat penangkalnya. Oleh karena itu, bagi korban terpapar virus ini begitu kena seakan melihat bayangan kematian sudah di depan pelupuk mata.

Ada dua sikap yang merespon situasi aktual ini. Pertama, menganggapnya fenomena biasa. Virus itu dianggap hal lazim karena di semesta ini virus-virus gentayangan. Sikap ini cenderung meremehkan, tak heran muncul ungkapan “ takut amat”. Bagi orang yang menyikapi situasi ini dengan enteng, maka saran dan imbauan yang jelas-jelas dilandasi dasar pengetahuan medis diabaikan. “Takut amat sampai tidak salaman”, “Takut amat sampai tidak cipika cipiki”. “ Takut amat bepergian”. Buat orang seperti itu, situasi kini dinilai berjalan biasa saja “ business as usual”. Apalagi ditambahi dengan kata-kata ‘saleh’, “ jika Tuhan mau kita mati, tidak ada virus ini juga akan mati. Orang beriman koq takut amat”

Sikap kedua, orang yang menyikapi situasi ini dengan suasana takut berlebihan. Panik. Dengan sigap pergi ke mall atau toko. Borong makanan, borong masker, borong sanitizer. Seolah-olah jika tidak memborong esok kebutuhan hidup akan tak terpenuhi. Orang seperti ini menyikapi situasi ini dengan “amat takut”. Bahkan cenderung parno, paranoid, virus rasa takut yang akut. Benak, emosi dan batinnya lebih didominasi imaginasi buruk. Orang yang demikian, mengkarantina dirinya sendiri secara berlebih. Virus seakan-akan serba ada di mana pun, disamakan laksana Tuhan ada di mana-mana.

Saudaraku, berkali- kali pemazmur dalam firman di atas menanyakan berulang-ulang kepada Tuhan dengan ucapan “ berapa lama lagi?”. Ada nada kegundahan. Menurut penafsir kitab Mazmur, memang Pemazmur sedang dilanda rasa takut. Dia takut meninggal dunia. Dia tengah bergumul apakah harapannya berakhir sia-sia. Ia tengah menanti-nantikan pertolongan Tuhan. Dan sebagai manusia ia tidak tahan terus menunggu dalam ketidak pastian.

Seorang ahli teologi, Choa Seng Song menyatakan bahwa kehidupan umat beragama bergerak di antara rasa takut yang mencekam dan harapan (agony and hope). Seperti kita lihat pada diri pemazmur tengah dicekam rasa takut. Takut karena masuk dalam wilayah ketidakpastian. Apakah ia akan sembuh dan terhindar dari kematian atau tidak? Ia telah menanti sekian lama seakan pertanyaan tak berjawab. Saudara, ketidakpastian selalu membuahkan hati yang kuatir. Kekuatiran selalu menghalangi selalu menghalangi untuk melangkah. Hati seperti itulah yang bergejolak pada diri pemazmur.

Saudaraku, menanti-nantikan pertolongan hingga empat kali ia menanyakan “berapa lama lagi Tuhan?”. Sekali lagi, menurut merujuk pandangan penafsir kitab Mazmur, sang pemazmur tengah menderita sakit parah. Ia takut meninggal dunia. Namun, di balik ketakutan itu ia meminta kepada Allah, karena hanya pada Allah satu-satunya tersimpan harapan. Saudara, di sini kita melihat di tengah kerapuhannya, ia menoleh pada Allah yang tetap menjadi sumber harapan. Hanya Allah saja alamat yang tepat untuk meminta mengatasi ketakutan dan kekuatirannya.

Di sinilah, di saat virus merebak dan kekuatiran bergerak dengan cepat menguasai kita secara pribadi. Bagi siapapun yang merasakan ancaman nyata virus korona, memang kuatir, takut dan cemas. Tampak, pemazmur jujur dengan dirinya. Ia memang takut atas ancaman kematian. Ia tidak pura-pura berani. Meski demikian, bukan berarti kehilangan harapan. Di saat kelemahanlah ia merasa kuat di dalam Allah.

Saudaraku, bagian dari kerapuhan manusia adalah ketakutan. Kita belum bebas dari kerapuhan maka kita pun belum bebas dari ketakutan, kecemasan dan kekuatiran yang terus menguntit kita. Inilah potret riil kita. Kita bisa memakai topeng menutupi ketakutan kita. Termasuk topeng berupa kata-kata ‘saleh’. Namun, hati, emosi dan pikiran kita tidak bisa berbohong bahwa ketakutan ada. Lalu, bagaimana? Apa langkah kita, terutama ketika berhadapan dengan fenomena virus korona?

Ada bagian lain dari Mazmur 13, yang perlu kita kutip, yaitu “kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.” Ya, Pemazmur lega dan bersuka cita. Ia tidak tenggelam dalam keputus asaan. Di sini digambarkan Allah datang menyelamatkannya. Pengharapan kepada Allah berujung pada suka cita. Ia ekspresikan dengan bersorak sorai.

Saudaraku, apakah kini kita takut. Terus-terang, dalam kerapuhan manusia saya takut melihat realitas sekarang. Tapi, kita harus tetap kuat dan berpengharapan bahwa Allah mendengar suara ketakutan kita. Ada ketegangan antara takut dan harapan. Namun, kita bersyukur Allah kita Maha Mendengar. Apapun yang Dia berikan baik, baik, dan baik adanya. Dan itu yang jadi Mata air pengharapan kita. Jangan panik atau bersikap pura-pura berani, akhirnya bersikap gegabah. Semoga Tuhan menolong kita dan semua insan ciptaan-Nya.

Kesiapan Pelayan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi. Selamat memasuki akhir pekan, Saudara-saudaraku yang baik. Kita bersyukur kepada Allah, sepanjang pekan ini kita merasakan pertolongan-Nya. Kita ini sebagai manusia rentan, rapuh, namun perlindungan-Nya yang menjadikan kita kuat dan selamat.

Akhir pekan ini, dasar renungan kita diambil dari 1 Raja-raja 19:20b-21, “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.” (21) Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.

Saudaraku. Elia sebagai nabi perlu pengganti. Atau biasa kita sebut regenerasi. Suatu saat tugasnya sebagai nabi selesai. Maka perlu sosok yang meneruskan. Jabatan kenabian itu tidak boleh kosong atau vakuum. Sosok nabi sangat diperlukan. Sebagai penyambung lidah Tuhan, nabi jelas terus dibutuhkan guna menyampaikan kehendak Allah. Kekosongan nabi akan berdampak pada kehidupan iman dan keagamaan umat Israel.

Mencari calon nabi itu tidak gampang. Tidak boleh dianggap enteng. Perlu orang yang tepat. Harus orang pilihan. Seorang nabi musti memenuhi persyaratan yang ketat. Orangnya baik. Semangat. Rajin. Berjiwa pengabdian. Dan seluruh jiwanya siap dikonsentrasikan memikul tugas yang tidak ringan.

Kita kenal karakter nabi Elia. Tak lelah-lelahnya menyuarakan Allah yang hidup. Umat bukan hanya digiring mengakui itu secara teoritis, melainkan berdasarkan pengalaman nyata. Bahkan pengalamannya sendiri. Hidup pribadinya penuh pembuktian akan hal itu. kisah pengalamannya dengan janda miskin di Sarfat. Yang memberi sepotong roti dan cuma itu milik berharganya. Ternyata, janda itu dan anaknya tetap hidup meski roti itu telah diberikan kepada sang nabi. Juga, ketika nabi Elia berada di tempat persembunyian karena nyawanya diancam. Setiap hari umurnya tetap bertambah, karena burung gagak yang setiap hari membawa daging untuk makanannya.

Elia sudah saatnya menyiapkan tongkat estafet kenabian. Perjalanan hidup keagamaan umat Israel tidak boleh mandeg. Apalagi berpaling ke illah lain. Di sinilah, Nabi Elia menemukan orang yang cocok, yaitu ada pada diri Elisa. Ia menemukan Elisa sedang membajak. Elia terkesan dan ia menyatakan pilihannya dengan melemparkan jubahnya kepada Elisa. Tanda, Elisa adalah kelak yang menggantikannya. Ia meminta Elisa menggantikan posisi sebagai nabi. Berkaitan dengan itulah, Elisa menyatakan kesiapannya. Sebelum tugas itu dipikulnya, Elisa pamit pada orang tuanya. Dan melakukan acara perpisahan dengan orang-orangnya. Latar belakang Elisa, dia berasal dari keluarga kaya. Hidupnya tidak kekurangan. Pembantunya banyak.

Dengan menjadi nabi. Elia harus meninggalkan hidup yang berkecukupan. Ia harus terbiasa hidup sederhana. Termasuk ia tidak lagi dilayani para pembantunya. Ia pamit dari orang yang dikasihinya, yaitu orang tua. Ia merelakan juga meninggalkan hidup yang serba mudah.

Saudaraku. Jadi, menjadi nabi harus siap dengan pengorbanan. Bekerja bagi umat adalah memberi hati dan segenap konsentrasi bagi kepentingan Allah dan juga umat. Dengan menjadi nabi, Elisa lebih banyak memberi daripada menerima. Hidup nyaman dan berlimpah harus rela ditinggalkan. Onak dan duri juga menjadi bagian yang harus dihadapinya. Termasuk mengalami sakit keras, tergeletak di pembaringan tidak berdaya.

Sekarang beda, banyak orang ingin menjadi pelayan untuk kemudahan. Ingin hartanya segunung. Ingin serba dilayani. Lihat, banyak orang yang menyebut diri pelayan Tuhan, malah lebih kaya dari yang dilayaninya. Saya membaca sebuah tulisan bahwa di Indonesia ada 7 orang pendeta atau pelayan Tuhan, yang kekayaannya lebih dari 1 trilyun. Luar biasa. Apakah benar atau tidak, yang jelas amat mudah ditemui pendeta yang kendaraannya mobil mewah. Arlojinya ratusan juta. Harga tas istrinya bisa membuat mulut menganga. Dan jangan lupa, mengenakan jas yang harganya melebihi kesejahteraan pendeta pada umumnya. Belum lagi parfum yang dipakainya. Wow..

Saudaraku. Dengan bacaan ini, kita diingatkan arti pelayan yang sejati buat pekerjaan Tuhan. Pelayan sejati pada dirinya melekat kesediaan dan kesiapan suatu saat tugasnya selesai. Dan penggantinya siap menghadapi tuntutan buat berkorban. Hidupnya lebih mengutamakan Tuhan bukan dirinya. Tuhan Yesus berkata, “ terlebih berbahagia memberi daripada menerima.” Seharusnya, sikap itulah yang dimiliki pelayan Tuhan. Bukan tiap berkotbah cuma fasih berbicara perpuluhan. Sampai ayat Alkitab pun disiasati dengan penafsiran yang mendukung orientasi yang haus dunia material. Dengan hadirnya pelayan sejati, umat pun dimampukan hidup dalam iman. Dan sikap keagamaan yang berkenan kepada Tuhan.

Home Sweet Home

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Hari telah terang, malam yang gelap telah berlalu. Inilah hari baru yang disediakan Tuhan buat kita dan seluruh ciptaan-Nya. Semoga kasih-Nya yang baru telah menanti kita.

Petikan firman Tuhan yang hendak kita jadikan pijakan renungan pagi ini dari Roma 16:3,5, “Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus…Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.”

Saudaraku, rumah itu suka bikin kangen. Sejauh manapun kita pergi, seindah apapun tempat yang kita kunjungi, ada saatnya kita musti pulang. Itu berarti yang dimaksud pulang ke rumah. Sesederhana apapun rumah yang kita huni, ke sanalah hati kita berlabuh setelah pergi ke mana saja.

Rumah bukan sekedar bangunan fisik. Keberadaannya secara kasat memang selalu bersifat fisikal. Ada atap genteng, tembok, lantai, daun jendela, pintu dan tetek bengek benda fisik lain yang melekat sebagai bagian yang melengkapi sosok rumah. Rumah tidak sebatas itu. Di rumahlah tempat asuhan cinta kasih manusia ditemukan. Kata cinta diperkenalkan. Wujud kasih diresapi. Kehangatan persaudaraan dijumpai. Di sanalah keluarga mendapat sari pati terbaik kasih sayang.

Karena itu, di kalangan orang Inggris dibedakan antara rumah secara fisik dan hal suasana yang menyenangkan yang hadir dalam rumah. Secara fisik rumah disebut “house”, sedangkan yang menyangkut suasana rumah disebut “home”. Rumah yang penuh kasih dan sarat dengan sayang disebut “home sweet home”.

Saudaraku, secara fisik maupun suasananya, rumah itu memberi kita kehidupan yang lebih manusiawi. Keadaban manusia bisa tercermin lewat rumah. Rumah yang kecil tapi asri dan dilengkapi tegur sapa hangat penghuninya. Itu cukup menjadi penanda siapa penghuninya. Sedangkan di rumah yang kerap sumpah serapah kerap terdengar. Pukulan sering melayang. Jeritan kesakitan terus terjadi. Jelas, bukan keadaban yang kita temui dalam rumah itu, melainkan kebiadaban.

Saudaraku, di saat kekristenan masih tahap pertumbuhannya masih tunas. Rumah tidak semata buat dihuni. Rumah juga menjadi tempat dan nyaman bagi persekutuan orang beriman beribadah. Di rumah paduan suasana kekeluargaan dengan peagungan kepada Allah menyatu. Rumah menjadi tempat kasih persaudaraan lantaran kesamaan gen bersua dengan kasih persaudaraan karena iman. Tentu paduan sangat indah. Di sanalah tunas kekristenan makin memekar.

Salah satu rumah yang mewadahi persaudaraan karena darah berpadu kuat dengan persaudaraan karena iman, adalah rumah Priskila dan Akwila. Rumahnya menjadi rumah bersama. Iman dan kekeluargaan terikat erat. Akwila dan Priskila adalah pasangan suami istri. Mereka korban antisemitisme paling awal. Mereka diusir keluar dari negeri Roma sebab keyahudiannya. Antisemitisme adalah rasa benci yang muncul kepada orang asing, khususnya terhadap orang Semit. Sedangkan orang Yahudi termasuk rumpun semit. Hitler merupakan tokoh antisemit di era modern.

Saudaraku, rasul Paulus menyampaikan salam. Salam merupakan ungkapan harapan terbaik dan ungkapan rasa dekatnya kepada pasangan suami istri itu. Sekaligus salam rasul Paulus kepada Jemaat yang menghidupi imannya dengan menempatkan rumah sebagai tempat khas. Ya, khas. Di rumah Jemaat bersekutu dengan Allah yang penuh kasih sayang, dan di sana juga suka duka persaudaraan dan kekeluargaan dibagi.

Saudaraku, rumah tetap rumah buat manusia dan keluarga bertunas kasih sayang. Dulu maupun kini. Memang dalam konteks masyarakat kita, kini ada larangan rumah yang dijadikan tempat permanen Allah dipuja dan persekutuan dibangun. Labelnya disebut persekutuan liar. Tidak lagi dilihat sebagai tempat di sanalah insan beriman untuk mengasihi Allah, dan kasih kepada sesama dapat ditemui dalam suasana kekeluargaan. Meski demikian, tetap ada yang masih bisa kita lakukan. Yakni kita ambil spiritnya. Semangat atau rohnya yang dapat kita jelmakan adalah, mari rumah kita menjadi tempat doa dan spiritualitas tetap bertunas. Kemodernan mulai menempatkan rumah tempat transit semata. Cuma untuk tidur dan istirahat setelah menjalani hari yang penat. Kita sebaiknya tidak melangkah ke sana. Kita tetapkan pendirian agar rumah sebagai “home sweet home” tetap terpelihara. Di rumah kita ingin mencecap manisnya persaudaraan hidup dengan rukun. Sekaligus di rumah pula manisnya cinta Tuhan dirayakan dalam hidup keseharian. Semoga demikian.