Cerdik Kelola Konflik

Oleh Pdt. Supriatno

Pagi baru telah tiba. Pertanda Tuhan memberi kita kepercayaan untuk mengisi kehidupan hari ini. Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan sebab kita masih dipercaya untuk hidup.

Bacaan refleksi pagi ini, dipilih dari 1 Samuel 25:32-34, “Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: “Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; (33) terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. (34) Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing.”

Saudaraku, konflik adalah bagian dalam kehidupan masyarakat yang terus ada, bahkan sepanjang keberadaan hidup bersama antar manusia, konflik akan terus ada. Selama ada keperbedaan kepentingan konflik bisa meletup. Demikian pula, selama nilai yang dihayati manusia beraneka ragam, konflik tidak bisa dihindari. Dalam keluarga fakta adanya konflik itu kita bisa lihat. Adik dan kakak bisa berseteru. Dua pribadi yang telah dipersatukan Allah saja bisa bersilang sengketa. Tak terkecuali dalam wilayah keagamaan. Di situ pun konflik meletup. Barangkali tidak berlebihan, bila kita katakan bahwa selama ada manusia di situ konflik pun ada.

Konflik tidak bisa dihindari. Datang dan pergi. Kemampuan pengelolaan konflik lah yang sepatutnya harus kita miliki. Banyak orang takut konflik, oleh karena konflik tidak dikelola dengan baik sehingga banyak korban yang jatuh. Suami-istri yang terus-menerus konflik tanpa menemukan titik temu, berakhir dengan putusnya ikatan perkawinan. Kakak-adik yang tidak mau dirukunkan, kehangatan roh persaudaraannya mulai hilang.

Konflik itu beragam wujudnya. Dari keengganan berkomunikasi antar pihak yang berkonflik sampai ingin mengalahkan satu sama lain. Naluri yang bergejolak pada diri yang berkonflik adalah diri sendiri ingin menang sedangkan seterunya musti kalah. Di mana-mana fenomenanya begitu.

Konflik yang berkepanjangan kerap menakutkan, apalagi melibatkan dua atau lebih banyak pihak. Wajar menakutkan, karena ongkos yang dibayar selalu mahal. Siapa yang bisa menyangkali oleh sebab konflik keluarga bisa pecah. Satu negara bisa saling mengangkat senjata untuk ‘mengakhiri konflik’. Jangan lupa, di Indonesia sebuah Gereja terbelah bukan karena hasil pengembangan, namun gara-gara konflik.

Saudaraku, konflik bisa berlarut-larut atau berefek pada kerugian besar, bila melibatkan pihak yang ‘kuat’. Orang banyak bisa ikut ‘demam’ jika orang kuat saling berkonflik. Sebab dampaknya ke mana-mana. Dalam konteks bacaan kita ada dua orang kuat yang berkonflik, raja Daud dan Nabal. Satu penguasa, dan yang satu lagi pengusaha.

Jelas, mereka digolongkan orang kuat bukan mengada-ada. Meskipun, raja Daud sebagai raja, dia berada dalam pengungsian karena ancaman raja Saul. Daud tetap punya kekuatan riil. Pasukannya ribuan. Loyal. Dan efektif memberi pengamanan. Nabal pun sama orang kuat. Kekayaan yang berlimpah merupakan kekuatan riil juga. Bukankah kita tahu, uang atau materi bisa membeli pendirian orang. Banyak kisah, yang menceritakan bagaimana demi harta orang bisa meninggalkan iman. Iman saja bisa dibeli kekayaan, apalagi hal-hal lebih rendah daripada iman.

Dua orang sama-sama kuat. Sama-sama merasa hebat dan besar. Terbayangkan sulitnya meredakan konflik dan meretas jalan damai di antara mereka. Tiap-tiap pihak bisa mempertahankan harga diri. Jika sudah demikian, betapa susahnya mengalah demi sebuah kebaikan. Sama-sama menang itu bukan idaman bagi pihak yang merasa kuat dan benar dirinya musti menang, musuhnya harus tumbang.

Saudaraku, raja Daud merasa telah melindungi ternak kekayaan Nabal. Daud minta agar itu dihargai. Ia merasa kehadiran tentaranya memberi manfaat bagi Nabal. Sedangkan Nabal tidak merasa kenal, apalagi merasa menyewa jasa keamanan. Sehingga begitu Daud meminta makanan dan minuman buat kebutuhan tentaranya. Maka jawaban yang diberikannya adalah penolakan. Ketegangan segera memuncak. Suhu relasi menjadi panas. Saling ancam mulai terlontar.

Apa yang terjadi bilamana dua orang kuat berkonflik tak terjembatani? Konflik akan berubah menjadi pertumpahan darah. Dan itu kerugian besar bagi kedua belah pihak. Pada saat jalan buntu karena tiap-tiap pihak tidak mau bergeser dari pendirian dan egonya, di titik kritis itulah seorang perempuan tampil. Abigail, istri Nabal. Kemampuan membaca situasinya tajam dan luar biasa. Naluri dan sikap bijaknya kuat. Dialah yang menjembatani sehingga kedua belah pihak mengurangi ketegangan. Instruksinya kepada hamba-hambanya untuk menggelontorkan bantuan makanan kepada pihak raja Daud, terbukti mengurangi kerusakan akibat konflik. Betul, akhir cerita Nabal tewas. Tapi, keluarga dan hamba-hambanya tetap hidup. Kerugian akibat konflik terkurangi.

Saudaraku, di sekolah, di kekuarga, di gereja dan di jehidupan masyarakat tak luput dari konflik. Kita patutpunya kemampuan mengelola konflik. Agar di mana kita berada konflik bisa didamaikan dan kerugian bisa diminimalisir. Mengelola bukan diartikan konflik itu dipelihara. Bukan diawetkan. Melainkan, dari konflik itu kita mencari manfaat positifnya dan membuang efek negatifnya.

Pengantar Jalan Perubahan

Oleh Pdt. Supriatno

Firman Tuhan sungguh kaya, tak kenal kering untuk jiwa yang haus. Pagi ini, firman Tuhan yang mengajak kita melangkah mengisi hari ini dengan semangat diambil dari Yohanes 1:41-42, “Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” (42) Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”

Saudaraku, jalan hidup seseorang bisa berubah lantaran sebuah perjumpaan. Paling gampang mengambil contoh, bagi yang sudah berkeluarga, kita seperti sekarang karena berjumpa dengan mantan pacar, yang kini jadi pasangan hidup kita. Tanpa perjumpaan waktu dulu itu, entah seperti nasib kita. Pasangan hidup kita mengubah jalan hidup seseorang. Atau, kita secara pribadi juga mengubah pasangan hidup kita. Istri saya barangkali jika tanpa bertemu saya, dia bisa berkarier di bidang perhotelan seperti yang digeluti saat studi. Namun, karena perjumpaan dengan mahasiswa teologi waktu itu. Akhirnya, nasib menuntunnya keluar dari cita-cita dan impiannya semula.

Nama Simon Petrus sebagai salah satu murid Tuhan Yesus, pastilah kebanyakan orang kristen mengetahuinya. Dia murid paling menonjol. Karena itu juga, paling dikenal dibanding nama-nama murid lain. Dia selalu berada di samping Tuhan Yesus di momen-momen penting. Kita ingat, Tuhan Yesus berubah wajah di puncak gunung, Simon Petrus ada di sana. Saat di taman Getsemani, malam penuh pergumulan yang harus dilewati Tuhan Yesus, ia pun ada di sana. Malah, dia yang menyangkal identitas kemuridannya saat diinterogasi seorang perempuan. Paska kebangkitan Tuhan Yesus, Simon pula yang diminta menggembalakan domba-domba. Pendeknya, amat istimewa figur Simon Petrus.

Saudaraku, Simon petrus tidak akan berada di pusaran utama kekristenan. Sekaligus ia tidak akan menjadi murid Tuhan Yesus yang amat dikenal. Jika saudaranya, Andreas tidak memperjumpakannya dengan Tuhan Yesus. Perjumpaan itu sangatlah penting karena itu. Tanpa itu, niscaya dia akan habiskan seluruh hidupnya dengan jala, perahu dan ikan tangkapan. Hidupnya hanya berkisar pada danau dan kemelaratan, dan mati sebagai nelayan biasa. Tanpa catatan dengan tinta emas. Cuma berhenti di sana. Kita, dan orang kristen sebelum dan sesudah kita pun tidak akan pernah mengenalnya.

Saudaraku, yang sering luput dari perhatian adalah orang yang memperjumpakan Simon dengan Tuhan Yesus. Ya, orang yang berjasa besar memperkenalkan Simon Petrus dengan Tuhan Yesus. Dialah Andreas, saudaranya sendiri. Sebuah nama yang tidak setenar Simon Petrus. Padahal peran yang dilakukannya betapa mengubah hidup seseorang.

Ketika kita membuka lembaran Alkitab bagian yang lain. Kita pun akan menemukan betapa peran itu pula yang diperankan Andreas. Ya, tindakan memperjumpakan. Membawa orang mengenal Tuhan Yesus. Dan sekaligus Tuhan Yesus lalu mengenalnya. Dalam bagian lain, di antara kita masih ingat tentunya Tuhan Yesus memberkati 2 ekor ikan dan 5 potong roti? Sehingga lebih dari 5.000 orang bisa makan. Makan sampai kenyang, dan berlebih 12 bakul. Bila kita ditanya siapa yang menyediakan ikan dan roti itu? Kita dengan gampang mengingat dan mudah menjawab, “anak kecil”. Betul sekali. Hanya harus ditambahkan juga dalam memori kita, orang yang memperjumpakan anak kecil itu dengan Tuhan Yesus. Ternyata, murid Tuhan Yesus yang memperjumpakan adalah kembali orang bernama Andreas. Lagi-lagi nama ini.

Dalam sejarah Gereja ada yang disebut Bapak-bapak Gereja. Ada satu nama Bapak Gereja bernama Agustinus dari Hippo, berkedudukan di Alexandria, Mesir. Dia mengaku bahwa betapa perubahan dirinya menjadi pengikut Kristus karena ada orang yang gigih memperjumpakannya dengan Tuhan Yesus. Siapa? Ibunya sendiri. Doa-doa ibunya sangat berperan menarik dirinya dan seluruh gairah hatinya untuk berjumpa dan mengenal Kristus.

Saudaraku, kita mengimani betapa berartinya Tuhan Yesus dalam hidup kita. Pertanyaannya, tergerakkah kita mengikuti jalan yang telah diperankan Andreas? Saat kita menempatkan penderitaan Tuhan Yesus menunjukkan betapa berharganya kita, di mata Allah. Kiranya teladan Andreas patut memotivasi kita. Kita ingin memperjumpakan orang lain dengan Tuhan Yesus, apapun bentuk yang semampu kita. Sebab, bagaimanapun berjumpa dengan Tuhan Yesus tidak pernah berakhir sesal. Demikian juga, berjumpa dengan Dia tidak akan berujung pada kekeliruan fatal. Berjumpa dengan-Nya adalah anugerah. Karena berjumpa dengan Jalan, Kebenaran dan Hidup itu sendiri. Andreas tidak cukup terkenal, memang. Tapi dia sudah melakukan bagian tugasnya. Ia mempunyai andil atas perubahan hidup seseorang bahkan banyak orang.

Sadar Akan Kelemahan

Oleh Pdt. Supriatno

Firman Tuhan yang memandu langkah kita adalah, “Ketika dilihat Delila, bahwa segala isi hatinya telah diceritakannya kepadanya, disuruhnyalah memanggil raja-raja kota orang Filistin, katanya: “Sekali ini lagi datanglah ke mari, sebab ia telah menceritakan segala isi hatinya kepadaku.” Lalu datanglah raja-raja kota orang Filistin itu kepadanya sambil membawa uang itu. “ Hakim-hakim 16:18

Saudaraku, uang itu bisa menyilaukan mata dan membutakan hati nurani. Pesona uang sungguh luar biasa, dulu, sekarang dan masa datang. Benda ini, bisa berpengaruh pada perilaku, emosi dan sikap seseorang. Termasuk tega mengkhianati iman dan cinta. Nama Simson dan Delilah merupakan kisah pasangan kekasih yang melegenda, kemudian berakhir tragis. Ikhwalnya, gara-gara Delilah yang kemaruk uang, Simson membongkar rahasia kekuatannya. Dari sanalah Simson sedang menggali kuburannya sendiri. Sebab, dengan menyingkapkan rahasia kekuatannya, sebenarnya ia membeberkan kelemahan. Rahasia kelemahan itu, segera dimanfaatkan maksimal bangsa Filistin.

Simson adalah salah satu hakim di Israel yang punya kehebatan fisik luar biasa. Kelebihan ini menimbulkan kegentaran di pihak Filistin, musuh Israel. Sayangnya, ia teramat mudah tertekuk hatinya oleh pesona kecantikan perempuan. Tidak perduli latar belakang dan watak perempuannya. Karena itu, meski Delila seorang sundal atau PSK, dan perempuan mata duitan istilah sekarang “cewek matre”, Simson tidak perduli. Ia melabuhkan cintanya pada perempuan itu. Cinta bersifat asmara yang membutakan Simson sehingga mengantarnya terperosok jatuh.

Saudaraku. Faktor kelemahan inilah, yang menjadi pintu masuk bangsa Filistin memakai Delila membongkar rahasia di balik kekuatan fisik luar biasa Simson. Dan bagi Delila, ia tidak perduli cinta Simson yang amat besar padanya. Ia melihat bahwa Simson tergila-gila padanya, itu merupakan peluang besar mendapatkan uang berlimpah. Baginya tidak ada cinta sejati. Cinta sejati itu non sense. Yang nyata itu uang, uang dan uang. Demikian prinsip hidupnya. Maka, Delila melihat Simson bukan lagi hakim perkasa, bukan pula pecinta sejatinya. Delila melihat sosok Simson tidak lebih dari sapi perah. Bisa jadi ATM. Itulah sebabnya, ia mau kolaborator, bekerja sama dengan bangsa Filistin mencari rahasia kehebatan Simson. Dan berhasil. Bahkan, Simson sendiri yang menceritakan langsung rahasianya kepada Delilah.

Saudaraku, ini drama percintaan yang membuat kita bisa mengenali watak manusia. Perkasa tubuhnya, tidak otomatis perkasa mental dan pendiriannya. Sehebat apapun seseorang pasti punya kelemahan. Simson sebagai hakim di Israel, tokoh bukan sembarangan. Ia menonjol kehebatan fisiknya dan punya nyali yang besar menghadapi musuh. Di bawah kepemimpinannya bangsa Filistin tidak bisa menyentuh Israel.

Ternyata, pada sisi lain, Simson takluk oleh pesona kecantikan seorang perempuan. Padahal reputasi buruk Delilah seharusnya menjauhkan Simson dari pelukannya. Simson bermain api dan terbakar. Memang, sekali lagi cinta itu buta, demikian kata orang. Di hadapan Delilah, Simson begitu patuh. Patuh tanpa kritis, laksana kerbau dicucuk hidungnya.

Saudaraku, saya, Anda dan kita semua manusia pasti punya kelebihan. Tuhan menciptakan talenta dan potensi pada keberadaan kita. Tetapi, kita pun harus terbuka, paling tidak menyadari sejak dini bahwa kita pun pasti punya kelemahan diri. Ya, setiap manusia punya kekemahan. Ada orang yang lemah soal uang. Ada orang yang lemah soal perempuan atau laki-laki. Ada orang yang lemah dalam mengendalikan emosi. Ada orang yang ambisius. Dan hal-hal lain.

Sejak dini, sebaiknya kita harus sadar sisi kelemahan kita. Dengan demikian, kita sudah mengantisipasinya. Kita sudah berjaga-jaga. Kalau lemah karena gampang takluk sama perempuan, apalagi sudah punya istri, ya hindari pergaulan yang berlebihan dengan perempuan tertentu. Bila lemah soal uang, perbesar fungsi kontrol pihak luar atas kita.

Simson, untunglah di ujung hidupnya dia masih menjadi berkat bagi bangsanya. Setelah sadar dia dimanfaatkan, dia bertekad menghancurkan bangsa Filistin. Dia masih menebus kekeliruannya dengan tindakan yang bermanfaat bagi bangsanya. Sayangnya, ada banyak orang berakhir hidupnya, tidak sempat berubah dan keluar dari lumpur kelemahannya. Sehingga orang demikian mati dalam kenistaan. Mati tanpa sempat memperbaiki dirinya.

Marilah, kita bijak mengelola kehidupan. Kelebihan yang kita miliki, kita jaga dan tingkatkan. Sedangkan sisi kelemahan kita, kita waspadai agar kita tidak tercebur dan tidak bisa keluar darinya. Kita tidak mau kekeliruan terus melekat pada diri kita, tanpa perbaikan diri. Dalam menghayati penderitaan Kristus, kita menghatinya dengan ketendahan hati. Kita sadar kita punya kelemahan. Pada sisi lain, kita bertekad terus-menerus memperbaiki diri.


Jangan Salah Pilih

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik, yang saya kasihi dan hormati. Kita bersyukur, bahwa Allah senantiasa memungkinkan kita dengan perjalanan hidup yang di dalamnya kita mengecap kasih Allah. Puji Tuhan.

Saudaraku. Saya mengajak kita merenungkan firman Tuhan dari, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Amsal 27:17

Saudaraku, baik binatang maupun manusia digolongkan sebagai makhluk hidup. Sosok makhluk hidup itu secara bertahap berkembang. Mari kita lihat, begitu seekor bayi sapi lahir ke dunia dari rahim ibunya. Pada awalnya, beberapa saat bayi sapi itu agak susah berdiri. Tapi, dalam hitungan waktu satu-dua jam dia berkembang begitu cepat. Semula untuk berdiri saja masih gontai. Kurang stabil, agak goyang. Tapi, setelah itu dia berdiri lebih kuat dan akhirnya dalam hitungan jam dia berdiri sempurna. Demikian juga ia kemudian mampu berjalan secara sempurna juga.

Bukankah dalam keperbedaannya, manusia pun hadir di dunia tidak langsung sebagai sosok yang sudah jadi dengan sempurna? Bahkan tahap perkembangan manusia lebih jelas lagi, proses perkembangannya kelihatan membutuhkan waktu. Begitu lahir, seorang bayi manusia sudah bisa membuka mata. Namun, Dia belum bisa bisa melihat. Seorang bayi memiliki kemampuan melihat harus menunggu dulu berapa hari. Agar bisa berdiri butuh waktu sekitar 7-8 bulan. Seorang bayi yang bisa berteriak atau menirukan suara ayah atau ibunya, itu juga sama, harus menanti berbulan-bulan, bahkan tahunan.

Saudaraku. Semua makhluk hidup, terutama yang mau kita perhatikan adalah manusia, bagaimanapun bisa berkembang memerlukan proses dan waktu. Saya, dan bisa jadi juga Anda, tentu belum pernah melihat seorang bayi yang lahir ke dunia sudah jadi. Dalam arti sudah bisa melakukan apa yang lazimnya manusia lakukan. Tidak pernah bukan, ada anak bayi langsung bisa berdiri, bisa jalan, bisa berkata-kata, bisa makan sendiri, bisa panggil papa-mama, bisa menyanyi, dsb? Sedangkan menurut kitab suci Al’quran, dalam surat Mariam, ada yang seorang bayi yang langsung bisa bicara. Bayi itu bernama Isa, Allaihi salam, atau Yesus Kristus.

Poin ini yang mau kita angkat. Pertama, bahwa manusia itu datang tidak langsung jadi. Melainkan terus berkembang. Bahkan, hal yang berkembang itu pun tidak semata-mata terbatas fisiknya, namun menyeluruh. Kepintarannya berkembang, imannya berkembang, kepribadiannya berkembang, ketrampilannya tentang hal tertentu berkembang, dll. Dari sejak lahir manusia itu terus berkembang tanpa henti. Secara fisik bisa saja manusia begitu memasuki masa tua organ tubuhnya tidak lagi berkembang, tapi sikap bijak, kematangan, kedewasaannya tidak berhenti perkembangannya.

Lihat saja, begitu jumlah gigi kita sudah tumbuh semua, tidak ada lagi gigi baru nyusul. Yang ada, makin tua makin banyak yang rapuh dan tanggal. Dan tidak ada gantinya. Sebaliknya, keberimanan ataupun kematangan kepribadian, itu tidak seperti gigi. Keberimanan dan kepribadian tidak berlaku setelah mencapai tahap perkembangan tertentu, lalu imannya merotoli, atau copot satu demi satu. Melainkan iman dan kepribadian seseorang terus berproses makin dewasa dan matang.

Poin kedua, selain manusia itu terus berproses (dalam istilah filsafat manusia itu menjadi), ada kenyataan yang tidak bisa dihindari, yaitu dia bisa berkembang memerlukan orang lain. Seorang manusia berkembang semata-mata karena ada sumbangsih orang di luar dirinya. Anak atau cucu kita bisa berjalan juga tidak terlepas dari bantuan kita. Kita pegang tangannya, lalu kita melatihnya bisa berdiri. Setelah cukup mantap bisa berdiri, selanjutnya melatih agar dia bisa belajar melangkah. Dengan sabar kita menemani dan melatih agar dia dapat melangkah satu demi satu, sampai akhirnya bisa berdiri dan berjalan mandiri setelah bayi itu mencapai usia tertentu.

Saudaraku. Tidak ada manusia pintar, trampil, sehat, dan mampu melakukan berbagai kegiatan tanpa topangan yang lain. Tidak bisa, malah mustahil. Konon, sekarang orang bisa pintar tanpa memerlukan guru di kelas. Orang bisa pintar cukup belajar dari mbah google. Memang bisa saja, tapi kita ingat di balik mbah google ada manusia yang memprogramnya.

Jadi, tanpa manusia yang lain kita tidak akan maju dan berkembang. Kita bisa trampil berkendara karena ada orang lain yang mengajari. Kita bisa mengembangkan kesetiaan kepada Tuhan karena ada pemimpin agama. Dalam hal apa saja, kehadiran dan peran orang lain itu dibutuhkan untuk kita bisa maju, berkembang, bijaksana, punya watak terpuji, dsb. Itulah yang dalam bahasa Amsal di atas, ” besi menajamkan besi. Orang menajamkan sesamanya”.

Jelas, kita butuh orang lain. Untuk itu tanpa berkomunikasi dengan orang kain kita tidak akan berkembang. Tanpa interaksi dengan sesama kita tidak akan maju. Hanya, ini perlu juga kita tegaskan, yaitu kita butuh orang yang bisa membawa kemajuan dan perkembangan yang sehat secara jasmani dan rohani. Kita juga musti seleksi atau saring siapa sesama kita.

Saudaraku. Besi bisa menajamkan besi yang lain, tapi ada juga besi yang mematahkan atau merusak besi yang lain. Jika kita berkomunikasi dengan orang yang bergajul, maka tingkah polah dan pikiran kita bukan makin bijak melainkan ikut bergajul. Jika kita punya pendirian lemah, sebaiknya hindari pergaulan dengan orang yang korup. Yakinlah, jika kita abaikan pesan itu, maka cepat atau lambat perilaku korup akan menulari kita. Karena itu ada nasihat, “jika ingin sukses, bergaulah dengan orang sukses”. Mengapa? Kita akan terinspirasi semangatnya, visinya, keuletannya, kecerdasannya, dsb. Jika kita punya jiwa yang kuat, bolehlah kita bergaul dengan orang yang salah jalan dalam hidupnya. Supaya orang itu terpengaruh enerji positif kita. Tapi, seandainya jiwa kita lemah jangan berteman dengan yang salah jalan, karena kita akan terpapar energi negatifnya. Akhirnya, kita ikut salah jalan juga. Hindari salah gaul dan salah jalan pula.

Pemurah Bukan Pemarah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi Saudara-saudara yang baik. Semoga pagi di hari Jumat ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita dituntun dari hari Senin hingga memasuki hari ini.

Firman Tuhan yang menyertai kita di hari ini, dari Hosea 11: 9, “Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.”

Saudara-saudaraku, bagi siapapun yang suka memasak tentu paham betul makna hangus. Seekor ikan yang dibakar atau digoreng yang kurang hati-hati bisa hangus. Gosong. Kalau sudah gosong ikan itu kehilangan kualitas rasa kelezatannya. Rasanya pahit. Tidak enak sama sekali. Cenderung orang memuntahkan kembali bila tanpa sengaja menyantap ikan hangus. Lidah kita menolak mencecapnya. Gigi kita malas mengunyahnya.

Kondisi makanan yang hangus adalah makanan yang sulit diolah lagi. Orang suka memilih membuang saja ikan yang hangus itu. Tidak berguna lagi. Tidak ada lagi yang bisa diambil dari makanan yang hangus. Semahal apapun harga belinya, saat diolah ternyata hangus, ya sudah. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Diberi bumbu apapun, hangus tetap hangus. Lebih baik nasib menjadi bubur daripada makanan yang hangus.

Saudaraku, ketika kata hangus menjadi kata yang dilekatkan pada manusia. Maka itu artinya, manusia itu tidak berguna lagi. Tidak tersisa kebaikan dalam dirinya. Satu-satunya manusia yang demikian cuma layak untuk dibuang. Dan itu bisa dialami tatkala Allah marah terhadap oknum manusia. Siapapun manusianya. Kemarahan Allah bisa menghanguskan. Manusia yang jadi sasaran kemarahan itu bisa disebabkan dua hal. Pertama, Oknum manusia itu melakukan kesalahan melewati batas. Hal lain, oknum manusia itu sudah tidak berguna lagi di mata Allah.

Saudaraku, umat Israel tingkah dan ujarannya sudah terlalu. Kepantasan dan kepatutan sebagai orang beriman kepada Allah, mereka telah campakkan. Tidak nampak bahwa mereka setia sebagai umat beriman. Mereka telah berpaling dari Allah dan menyembah illah. Sumber pujaan mereka berganti. Allah dilepas, illah dirangkul. Dan mereka tidak mau insyaf. Dalam kamus hidup mereka tidak ada kata bertobat.

Dengan gaya hidup yang membelakangi Allah dan kesalahan melampaui batas itu. Orang Israel bisa menjadi sasaran empuk kemarahan Allah. Kemarahan yang kelak mereka terima adalah mereka bukan apa-apa lagi dan bukan siapa-siapa lagi. Allah bisa menghanguskan mereka. Namun, suara lain kita dengar. Allah tidak menjadikan diri-Nya Pemarah. Kesalahan fatal Israel, ternyata tidak menjadikannya sebagai dasar kuat Ia menjatuhkan hukuman atas mereka.

Saudaraku, Allah menyatakan sebaliknya. Ia bukan menjadi Pemarah, melainkan tetap Pemurah. Ya, Allah tidak marah. Padahal kesalahan Isarel sudah ekstrim. Mengapa Allah bukan Allah Yang Pemarah? Firman Tuhan memberi alasannya. Yaitu, Allah tidak menghanguskan mereka oleh sebab Ia bukan manusia. Ya. Ia membedakan diri-Nya dengan manusia. Manusia itu ada batas kesabarannya. Emosinya bisa meledak. Apalagi jika melihat ketidak beresan dan kebrengsekan sebuah perbuatan. Sedangkan Allah beda. Ia lain dibanding ciptaan-Nya, manusia. Dia sungguh Maha tak terbatas kemurahan hati dan kesabaran-Nya. Artinya, Allah tidak cepat-cepat menghukum Israel. Ia akan tunggu dengan kesabaran, sampai mereka insyaf. Ia bersedia menanti hati nurani mereka bertunas kembali, sadar kealfaannya lalu kembali kepada-Nya.

Inilah hal yang menghiburkan kita pagi ini. Betapa kita telah banyak berbuat salah. Dalam bentuk kata, sikap dan perbuatan. Syukurlah, Allah kita Pemurah bukan Pemarah. Dia selalu menanti kita untuk berubah. Ia tidak cepat menghukum kita. Bukan berarti Allah setuju dan permisif dengan dosa kita. Bukan sama sekali. Karena Allah tahu bahkan Maha Tahu, jika Dia marah maka kita akan hangus. Jika sudah demikian, maka kita menjadi sosok yang tidak berguna lagi. Kita layak dibuang ke tempat sampah kehidupan. Itulah sebabnya Allah selalu membuka hati-Nya lebar-lebar menantikan kembalinya si anak bungsu yang hilang dalam perumpamaan yang dikisahkan Tuhan Yesus. Sama untuk kita pun. Dia terus menanti kita jika dalam fase kehidupan yang dijalani kita ‘pergi’ meninggalkan-Nya. Bersyukurlah, puji Allah. Allah kita adalah Allah Maha Pemurah bukan Maha Pemarah. Mari, terus menghayati kesabaran-Nya yang Maha Tak Terbatas.