Covid 19, Gereja Rumah, dan Imamat Am

Oleh Pdt. Hariman A. Pattianakotta

Virus Covid-19 tidak hanya membawa kecemasan dan ketakutan, tetapi juga mendorong Sinode-sinode gereja dan jemaat-jemaat untuk mengembangkan kreativitas menyiasati pembatasan sosial. Virus Corona memang harus dihentikan dan dimatikan, tetapi ibadat orang percaya harus tetap jalan dan direvitalisasi, sehingga memberi kekuatan dan membangkitkan pengharapan dalam segala sesuatu.

Bagaimana cara dan apa pemahaman teologisnya?

Gereja Rumah

Rumah (home) adalah basis dan tempat pertama kehidupan. Rumah di sini merujuk kepada keluarga yang dibentuk oleh Allah Kehidupan dengan cinta. Karena cinta, dua insan disatukan Allah untuk membangun rumah tangga. Di situlah mereka berjanji untuk membangun kehidupan seturut dengan kehendak Allah. Janji dan pengakuan percaya akan Allah ini yang menjadi fondasi keluarga.

Jika mengacu kepada perkataan Injil, “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20), maka keluarga adalah gereja. Perkataan Yesus ini harus dipahami dalam konteks persekutuan, bukan keberadaan Yesus Kristus. Sebab, keberadaan Yesus tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya dua atau tiga orang. Tidak ada orang pun, Yesus Kristus tetap ada. Dua orang adalah syarat minimal persekutuan.

Secara klasik, kita menyebut bahwa gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus, yang dihimpun dan dipersatukan sendiri oleh Allah di dalam kuasa Roh Kudus. Mengacu kepada definisi ini, maka gereja itu berawal dari keluarga. Ketika dua insan yang bersatu menyatakan janji dan pengakuannya akan Allah, maka sebetulnya di situ gereja baru pun tercipta. Istilah yang biasa dipakai dalam studi mengenai gereja adalah eklesiogenesis. Istilah ini mau menekankan soal asal-mula gereja, dan hal itu dapat ditelusuri mulai dari rumah atau keluarga. Bahkan, kita dapat mengatakan bahwa keluarga adalah gereja yang pertama.

Dalam pemanggilan murid-murid-Nya, Yesus memanggil kakak-beradik untuk menjadi murid, dan mereka ini kemudian kita kenal sebagai Rasul. Mereka berkarya dalam pekerjaan Allah untuk meletakkan dasar dan membangun persekutuan yang disebut ekklesia atau gereja.

Mujizat pertama dalam karya pelayanan Yesus Kristus juga terjadi di dalam keluarga. Air yang diubah Yesus menjadi anggur super enak itu terjadi dalam pesta perkawinan di Kana (Lih.Yoh.2:11). Di dalam dan melalui keluarga, Yesus Kristus menyatakan kasih dan kuasa-Nya. Keterbatasan keluarga tidak menghalangi kehadiran dan karya Yesus Kristus.

Keluarga memang mendapat tempat dan peranan khusus dalam kehidupan manusia, khususnya orang Kristen, dan sejarah perkembangan gereja. Pasca kenaikan Yesus, gereja mula-mula bertumbuh dari rumah. Situasi penghambatan dan penganiayaan membuat gereja berkembang dari rumah ke rumah. Konsep “gereja rumah” yang basisnya adalah keluarga terjadi dari situ. Orang-orang percaya benar-benar beribadat di rumah. Mereka berdoa, tekun membaca firman, dan makan bersama sambil mengenang dan menghadirkan Yesus Kristus dalam rumah atau keluarga mereka.

Dari rumah dan dalam situasi-situasi pembatasan dan penganiayaan itu, iman bertumbuh secara vital dan menarik. Orang-orang percaya justru hidup dengan penuh simpatik dan empatik. Sekalipun beribadat dan berdoa secara terbatas di rumah masing-masing, tetapi kasih mereka tidak terbatas. Mereka setia pada iman rasuli dan tekun dalam berbagi. Alhasil, sebagaimana yang dicatat Alkitab: “Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan” (lih.Kis. 2:47). Di rumah/keluarga, kekristenan menjadi vital/penuh daya hidup, dan menarik.

Imamat Am

Tak bisa dipungkiri, ketika gereja berkembang dan bertambah banyak anggotanya di berbagai tempat, maka institusionalisasi terjadi. Gereja kemudian ditata sebagai sebuah organisasi dengan rupa-rupa aturan. Hal ini adalah kecenderungan alamiah yang tidak bisa dihindari. Akan tetapi, “organ-isasi” hendaknya tidak boleh mematikan gereja sebagai “organ” yang hidup, yang justru dimulai dari pribadi dan keluarga orang percaya.

Dalam sejarah gereja, pernah terjadi bahwa yang boleh membaca dan menafsirkan Alkitab hanyalah kaum klerus, para imam. Umat yang dikenal “awam” tidak memiliki keistimewaan itu. Bahkan, otoritas gerejalah yang menentukan orang diampuni dosa atau tidak, selamat atau tidak. Bayangkan, gereja secara institusi telah mengambil posisi Tuhan, dan mematikan iman dan daya hidup umat di hadapan Tuhan sendiri.

Realitas itulah yang antara lain melecut semangat Reformasi gereja pada 1517. Di mulai dari Luther, lalu Calvin, dan Reformator lain. Salah satu tema yang diangkat oleh Luther dan Reformator ini adalah imamat am orang percaya.

“Kamu adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (Lih. 1 Ptr.2: 9). Firman Tuhan ini memberikan kepada orang percaya kedudukan dan panggilan yang setara bagi semua orang percaya dalam memenuhi misi Allah di tengah dunia.

Semua orang percaya bisa datang kepada Allah tanpa perantara. Mereka adalah imam. Mereka perlu membangun hidup mereka seturut dengan firman Tuhan, karena itu mereka harus bisa membaca, menafsirkan, dan membahasakan firman itu dalam konteks mereka sendiri. Mereka adalah nabi. Mereka juga perlu menata dan mengelola hidup mereka dengan baik, agar syalom, damai sejahtera Allah bisa tercipta dalam kehidupan dan relasi mereka dengan yang lain. Mereka adalah raja. Semua gelar ini adalah gelar orang percaya. Namun, bukan gelar untuk prestise dan kesombongan, bukan juga sekadar jabatan, tetapi untuk penatalayanan Allah di dalam dunia. Gelar-gelar itu pertama-tama untuk menyatakan tugas dan fungsi.

Gerakan reformasi gereja ingin mengembalikan tugas dan fungsi orang percaya itu. Gereja sebagai lembaga tidak boleh mematikan tugas dan fungsi tersebut. Sebaliknya, gereja sebagai lembaga harus melakukan pemberdayaan.

Dalam konteks pemberdayaan itu, maka para pejabat gereja atau pelayan khusus, seperti penatua, pendeta, diaken, bertindak sebagai pelayan-pemimpin yang memberdayakan, bukan menjadi “tukang” yang menciptakan ketergantungan. Seakan-akan kalau mereka tidak ada atau berhalangan karena suatu sebab, maka tugas-tugas dan panggilan gerejawi untuk bersekutu, melayani, dan bersaksi menjadi batal atau ditiadakan.

Berkat Terselubung

Virus Corona yang mewabah saat ini membawa berkat terselubung. Gereja kembali ditemukan di dalam keluarga. Keluarga adalah eklesiogenesis.

Selain itu, orang percaya juga kembali diingatkan bahwa mereka adalah imamat am. Mereka adalah subjek yang harus berdaya di dalam Allah untuk melakukan misi-Nya di dalam dunia.

Pandemi Corona menjadi momentum bagi gereja untuk kembali menjadi persekutuan yang vital dan menarik yang dimulai dari keluarga-keluarga Kristen. Saya membayangkan, setiap keluarga akan difasilitasi oleh gereja secara institusi untuk menyadari dan menjalankan perannya di dalam keluarga dalam masa-masa ini.

Orang tua dan anak-anak akan berdoa dan membaca Alkitab dan saling berbagi pemahaman dan pengalaman mereka masing-masing guna memperdalam iman, pengharapan dan kasih.

Dengan secangkir teh atau kopi, pisang goreng atau pun roti, mereka bisa menghadirkan kembali ingatan akan kehadiran Kristus yang membebaskan. Setiap keluarga dengan gaya dan keunikan mereka masing-masing saling menjamu dan bercerita untuk saling meneguhkan. Apakah sambil melipat kaki di atas tikar, atau pun sambil mengangkat kaki di kursi yang ada di ruang keluarga masing-masing. Mereka berbagi kisah tentang Kristus, hidup dan pelayanan-Nya yang begitu mengagumkan. Bukan dalam ritualisme, tetapi dalam realitas sehari-hari.

Karena itu, kendati mereka harus tinggal di rumah karena Corona, tetapi mereka juga mau peduli dan berbagi dengan keluarga-keluarga lain. Misalnya, dengan membagi masker, hand sanitizer, makanan bagi keluarga lain, ataupun terlibat dalam pengumpulan dana di Sinode gereja untuk mengatasi Corona dan efeknya.

Dalam kasih Tuhan, jika covid 19 ini sudah berlalu, kiranya keluarga sebagai gereja pertama dan imamat am orang percaya yang ditemukan kembali ini tidak dilupakan, tetapi terus dilakukan dan dihidupkan dengan vital dan menarik, sehingga kekristenan dapat tumbuh secara relevan dan signifikan.

Karena itu, dalam situasi pandemik dan pasca pandemi nanti, kiranya gereja secara institusi dapat terus memperkuat orang percaya dan keluarga dalam segala aspek kehidupan.

Tuhan kiranya menolong kita melewati masa-masa sulit ini. Corona pasti berlalu. Amin.

(Penulis adalah pendeta GKP, bertugas sebagai Pendeta Universitas UK. Maranatha, Wakil Ketua Umum PIKI Jabar)

Rumah Tempat Ibadah

Oleh Pdt. Supriatno

Firman Tuhan hari ini diambil dari Mazmur 27:4, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.”.

Selamat pagi, ibu-bapak dan seluruh Saudara yang dikasihi Allah. Selamat memasuki akhir pekan. Terpujilah Allah yang selalu berkarya dalam kehidupan alam semesta, yang menjadikan kita dikasihi-Nya.

Saudaraku, ada ‘penyakit’ yang namanya “homesick”. Sebenarnya bukan penyakit pada umumnya, melainkan suatu perasaan rindu berat sama rumah. Jika Saudara yang meninggalkan rumah untuk kurun waktu lama, entah karena studi, pekerjaan atau urusan tertentu. Apakah ke luar kota atau ke luar negeri bisa terpapar rasa rindu untuk pulang ke rumah. Rindu suasananya. Rindu berjumpa ayah-ibu, rindu bertemu istri/ suami dan anak. Masakan khas buatan ibu atau istri, sapaan keluarga, ngobrol sama saudara sekandung, tanaman di taman, barang-barang milik pribadi.

Saudaraku, itu semua kerap yang menjadi sebab utama rindu rumah. Ketika saya sedang mengingat masa lalu, maka bagian yang juga melintas adalah rumah. Modelnya, ruang-ruang yang jadi tempat tidur, tempat bermain atau bekerja semasa kita tinggal di dalamnya, terutama masih kecil hingga pemuda.

Memang rumah itu punya magnit yang menarik hati kita. Emosi kita bisa diaduk-aduk oleh sosok bangunan yang bernama rumah. Sesederhana apapun rumah kita, di sanalah berbagai peristiwa terjadi. Suka maupun susah, rumah kita menjadi saksinya. Pengalaman hiduppun dirajut di bawah atap rumah. Pengalaman merawat dan membesarkan anak. Pengalaman membangun perkawinan.

Di sanalah, di sebuah tempat yang kita sebut rumah. Sekaya apapun seseorang, rasanya janggal jika dia menghabiskan dan menikmati hidup di sebuah hotel. Sungguh, rumahlah yang merekam semua peristiwa penting yang terjadi atas kita.

Menarik, bahwa dalam kesaksian Kitab Injil rumah juga menjadi tempat Tuhan Yesus berkarya. Di bawah atap rumah, Dia mengajar, juga termasuk membahagiakan orang lain. Tuhan Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon di rumahnya. Dia mengunjungi rumah Martha dan Maria. Di rumah mereka, Yesus mengajar pentingnya mendengarkan suara-Nya daripada bersibuk ria menyiapkan makanan untuk-Nya. Bermalam di rumah Zakeus, Yesus menjadikan pemiliknya berkomitmen melakukan perubahan sikap dan karakternya. Di sebuah rumah pula, Yesus memulihkan kepercayaan murid-Nya setelah mereka kecewa dengan kematian-Nya. Jadi, rumah itu istimewa. Punya tempat tersendiri di hati Tuhan Yesus, demikian juga hati semua manusia.

Saudaraku, itulah rumah. Dia bukan sekedar bangunan fisik yang terbuat dari batu, bata, semen, ubin, genteng, kayu. Di mata kita rumah menjadi bagian dari narasi atau kisah hidup kita. Di sanalah kita hadir, tumbuh dan menjalani hari-hari kehidupan dengan aneka rupa pengalaman dan peristiwa. Di sanalah, ya di rumah kita, kita merasa lega jika tiba setelah menjalani kegiatan di tempat tertentu. Di sanalah, di dalam rumah rasa aman kita temukan.

Dengan gambaran di atas, kini kita lebih mengerti bagaimana pemazmur ingin di rumah Tuhan seumur hidupnya. Rumah itu nyaman, apalagi rumah Allah. Allah pemilik-Nya pasti menjadikan barangsiapa yang masuk dan tinggal akan merasa betah. Sebab Allah menyediakan kenyamanan dan keamanan tersedia di sana. Itu sebabnya, pemazmur rindu untuk tinggal bukan untuk satu atau dua hari, bukan untuk satu atau dua tahun, melainkan seluruh masa hidupnya dia ingin sekali diam di sana.

Di rumah Allahlah, pemazmur merasakan Allah itu murah hati. Itu artinya tinggal bersama Allah tidak akan kekurangan. Tidak ada masa paceklik, yang serba kekurangan. Di rumah Tuhan itu serba melimpah. Yang kita butuhkan, Allah saja yang Maha Pemurah memenuhinya. Rumah Tuhan yang dimaksud adalah Bait Allah. Atau saat ini Gereja-Nya. Jadi, Gereja Tuhan itu menjadi tempat batin yang lelah disegarkan lagi. Tempat buat yang luka hatinya mendapat perawatan dan penyembuhan. Yang luka batin dibalut. Di rumah Allah orang yang terasing dengan sesamanya mendapat rangkulan hangat persaudaraan.

Saudaraku, jika yang dimaksud rumah Allah sama dengan Gereja-Nya yakni persekutuan kita, berarti ada tugas di pundak kita. Tugas kitalah kini menjadikan persekutuan yang anggotanya memiliki hati yang hangat. Semua merasa diperlakuan penting dan terhormat. Saling kenal dengan ikatan persahabatan yang kuat. Sehingga suasana persekutuan bikin betah. Betah oleh sebab persaudaraannya. Betah sebab menemukan suasana saling memberi perhatian. Betah bukan hanya asyik dilayani, tetapi juga ringan tangan dan hati yang siap melayani. Kita berupaya keras agar tidak menjadi persekutuan yang tidak saling perduli. Tandus cinta kasih, karena anggotanya hanya memikirkan hidupnya sendiri-sendiri.

Di pundak kita, Allah memberi panggilan untuk membangun Gereja Allah sebagai rumah bersama kita. Rumah yang menjadi saksi keimanan dan kesetiaan kita kepada Allah. Rumah yang mewadahi dan menyalurkan berkat dari anggotanya yang murah hati. Rumah yang hati anggotanya saling terpaut dan enggan dipisahkan satu sama lain. Seiring sejalan. Sehati-sepikir.

Saudaraku, jika kini karena situasi karena Virus Korona, kita memilih ibadah Minggu di rumah. Jangan mengecilkan arti rumah. Bukankah seperti diutarakan di atas, Tuhan Yesus mengajar dan menyembuhkan di dalam rumah pula. Di rumah meski sebagai persekutuan itu unit yang terkecil, Tuhan Yesus menghargainya. Tuhan Yesus tidak menyepelekan rumah. Rumah punya makna agung dan indah di mata Tuhan Yesus. Karena itu, esok kita beribadah di rumah, kita temukan lagi kehangatan rumah. Di sana kita memuji Tuhan sepenuh hati. Kita memuja Allah dengan segenap rasa.

Kebaikan Yang Membangkitkan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan. Dan kita masih melihat birunya langit, tanda kesetiaan kasih Allah atas umat-Nya.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.” Mazmur 103:5

Saudaraku, bersediakah Anda menyebutkan dalam hati kebaikan Tuhan di hari kemarin? Saya yakin tentu mudah Anda menemukan dan menyebutkannya. Jangankan kebaikan hari kemarin, hari-hari sebelumnya, saya tetap yakin, Anda masih mengingat dengan baik lalu menyebutkan dalam hati. Demikian pula, untuk waktu-waktu yang telah lama kita lewati pun, bukan mustahil Anda masih mengingat kebaikan Tuhan yang Anda jumpai dan cecap. Kita ingat, karena pengalaman kebaikan selalu menggoreskan kesan mendalam.

Kita punya ruang memori untuk menyimpan peristiwa kebaikan. Terkecuali orang berwatak Malin Kundang, melupakan kebaikan dari seorang yang amat mengasihi demi kepentingan prestise atau gengsi. Bagi kita kebaikan manusia saja kita tetap ingat, apalagi kebaikan Allah. Yaitu tadi, karena menorehkan kesan di hati.

Saudara. Dalam berkomunikasi dengan orang lain, di dalam prosesnya ditaburi dengan pujian. Baik berbentuk kata-kata maupun berbentuk simbol. Ketika mendapat pesan WA, dan Anda merasa terkesan dan senang. Kemungkinan besar Anda merespon dengan mengirim balik gambar jempol tangan. Bukankah itu simbol pujian? Kita sangat suka memuji langsung ke segala kalangan, mulai kepada teman, atasan atau anak buah, pemimpin politik, atlit idola sampai kepada anak-anak, cucu atau saudara sekandung sendiri. Anda masih ingat sebuah iklan yang menggambarkan rasa senang dan pujian seorang nenek atas cucunya dan berkata, “Eh, cucuku sudah bisa berdiri”. Sekali lagi, pujian lahir dari rasa kagum dan terkesan sehingga terekspresikan melalui ungkapan kata-kata maupun bentuk simbolik tertentu.

Saudaraku, pemazmur memuji Allah. Tentu karena ia terkesan dengan kebaikan Tuhan. Paling tidak ada lima kebaikan Tuhan atas dirinya: Allah mengampuni, menyembuhkan, menebus, memahkotai dan memuaskan. Semua itu yang mendasari pemazmur memuji Allah. Jadi, pujian yang tulus dan sungguh-sungguh lahir dari perjumpaan dengan kebaikan Tuhan. Pujian tulus lahir dari pengalaman nyata dan langsung. Jika kita memuji anak-anak kita yang menyanyi padahal kita tidak mengalami keindahan penampilan mereka, itu pasti didorong cuma untuk memberi semangat. Itu cuma agar membuat anak-anak senang belaka. Pujian kurang bumbu, sebenarnya.

Banyak orang memuji sebenarnya karena basa-basi. Pujian kosong. Pujian yang berangkat tidak dari pengalaman mengesankan yang sesungguhnya. Bahkan, maaf, ada pujian yang bersifat menjilat. Cuma mau menyenangkan orang lain belaka. Dan ada pujian dilontarkan dalam rangka untuk mendapat imbalan tertentu. Meminjam pepatah kita “ada udang di balik batu”.

Saudaraku, kebaikan Tuhan itu riil. Nyata. Konkret. Tidak hanya buat pemazmur tatkala ia menuliskan mazmur ini bahwa kebaikan itu nyata. Begitu pun kita, kita mengalami hal serupa dalam realita kehidupan yang kita ziarahi ini. Kita mengecap kasih Tuhan yang mengampuni saat kita salah. Itu fakta. Tuhan menyembuhkan saat kita jatuh sakit. Itu fakta. Tuhan menebus kita karena jika tidak kita kehilangan sorga. Tuhan memahkotai atau memuliakan kita saat kita direndahkan orang yang memusuhi kita. Tuhan memuaskan saat kita rindu dengan kehadiran-Nya. Saudaraku, semua itu fakta yang kita imani dan benar-benar mengesankan kita.

Saudaraku, lebih jauh kita pun merasakan seperti pengalaman pemazmur. Yaitu bahwa berjumpa dengan kebaikan Tuhan membangkitkan daya hidup. Ada energi kehidupan dalam diri kita. Energi yang melahirkan semangat yang menyala-nyala. Allah yang berkarya dalam sejarah kehidupan kita dunia pun nyata. Berbagai wujud kasih-Nya itu fakta. Bukan kisah fiktif. Kebaikan Allah adalah fakta. Saya yakin, kita semangat itulah yang menjadi landasan pengharapan orang beriman mengalami situasi apapun. Semangat yang menjadi modal untuk menghadapi beragam situasi peristiwa kehidupan.

Saudaraku. Pemazmur mengumpamakan semangat yang demikian dengan sosok rajawali. Burung yang tangkas dan sigap menangkap mangsanya. Tidak pernah lelah terbang. Postur tubuhnya kuat. Bisa dikatakan harimau raja hutan tapi ratu angkasa adalah rajawali. Tak gentar angin besar. Tak takut hujan badai. Bisa seperti itulah orang yang disentuh kebaikan Tuhan. Sigap, semangat, sepertinya tidak mengenal lelah.

Di dalam menghadapi ledakan penyebaran Covid 19, kita jangan kehilangan semangat hidup. Memang kita lelah disajikan informasi terus-menerus terutama makin bertambahnya korban. Apalagi mereka yang menjadi garda terdepan. Mereka lelah secara fisik dan psikologis. Di sini kita menumpukan harapan pada kasih Allah. Kasih Allah senantiasa memberi energi. Energi untuk menguatkan diri sendiri, melainkan juga energi yang memberi efek ke orang lain. Karena disentuh kasih Tuhan yang faktual, kita menjadi sigap, cepat dan semangat dalam membangun kebersamaan dan pelayanan kemanusiaan. Itu semua efek kelihatan dikarenakan perjumpaan dengan kasih Tuhan yang mengesankan.

Seruan Majelis Sinode GKP: Penghentian Sementara Kegiatan Jemaat

Salam Sejahtera.

Saat ini virus Covid-19 menjadi masalah yang sangat serius di seluruh belahan dunia. Korban terus berjatuhan dan pemerintah kita baik di pusat maupun daerah telah mengambil langkah-langkah menanggulangi penyebarannya agar terhindar jatuhnya korban yang lebih besar. Salah satu langkah yang diambil pemerintah untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus Covid-19 ialah menghimbau seluruh bagian masyarakat agar melakukan Pembatasan Interaksi Sosial (Social Distancing). Presiden Ir. Joko Widodo mengingatkan agar dilaksanakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah dan beribadah dari rumah.

Menyikapi hal tersebut maka Majelis Pekerja Harian PGI menghimbau gereja-gereja anggotanya untuk memindahkan ibadah gereja-gereja ke ibadah rumah masing-masing. Dengan demikian Gereja mengambil peran untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Berdasarkan hal di atas menindaklanjuti Surat MS No. 2261/SINODE GKP/III/2020 tanggal 16 Maret 2020, kami sampaikan:

  1. Penyelenggaraan kegiatan peribadahan di Jemaat, yaitu Kebaktian Minggu tanggal 22 Maret 2020 dan 29 Maret 2020 tidak dilakukan di dalam gedung gereja, melainkan di rumah masing-masing dan Majelis Jemaat kiranya dapat mengupayakan cara ibadah secara daring/online melalui sosial medai yang dimiliki jemaat atau cara-cara lain yang dianggap paling tepat untuk konteks jemaat masing-masing.
  2. Untuk ibadah atau kegiatan lain dapat melihat surat kami sebelumnya.
  3. Penyelenggaraan kebaktian pemberkatan nikah yang telah terjadwal sebelumnya masih dapat dilakukan dengna memperhatikan protokol keselamatan dan kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah.
  4. Penyelenggaraan kebaktian pemakaman oleh karena sifatnya tetap dapat dilakukan dengan memperhatikan protokol keselamatan dan kesehatan yang dianjurkan pemerintah.
  5. Kegiatan-kegiatan klasikal dan sinodal selama 14 hari ke depan akan diatur ulang pelaksanaanya atau dengan memperhatikan anjuran pemerintah pusat atau daerah mengenai kegiatan-kegiatan yang bersifat massal.

Kami berharap seruan di atas dilihat sebagai sikap antisipatif dan tidak dipertentangkan dengan keyakinan iman kita mengenai Allah yang selalu menjaga dan melindungi kita. Perbedaan yang ada kiranya tetap berada dalam bingkai kasih persaudaraan yang selama ini dibangun di antara kita.

Dalam momen pra paskah ini kita diajak untuk membangun kehidupan berdasarkan cinta kepada Allah dan kepada sesama. Karenanya kami mengajak kita semua untuk melandaskan langkah-langkah kita dalam cinta kasih yang besar kepada sesama. Bila pembatasan interaksi sosial kita merupakan salah satu langkah pemutusan mata rantai penyebaran virus Covid-19, maka inilah salah satu bentuk persembahan atau derma kita. Dengan menjaga dan membatasi diri kita sudah menolong orang lain menjaga diri mereka seperti yang dituliskan dalam Galatia 6:2, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus”. Inilah upaya yang dapat kita lakukan untuk saling topang dalam mengambil peran di tengah kehidupan bangsa yang kita kasihi ini.

Demikian seruan kami dan kiranya dapat diperhatikan serta dilaksanakan oleh seluruh jemaat-jemaat Gereja Kristen Pasundan. Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja memberkati dan menolong kita.


Himbauan Majelis Sinode GKP Terkait Penyebaran Virus Corona dan DBD

Sehubungan dengan perkembangan penyebaran Virus Corona (COVID-19) di beberapa negara belakangan ini, khususnya di Indonesia, dan untuk mendukung program pemerintah tentang pencegahan penularan virus Corona dan juga maraknya kasus Deman Berdarah Dengue (DBD) yang juga telah memakan korban jiwa, maka kami menyampaikan beberapa imbauan untuk dapat diperhatikan, dipertimbangkan dan dilaksanakan oleh kita semua.

Kepada Seluruh Anggota Jemaat GKP

  1. Tetap berdoa dalam situasi seperti ini untuk memohon pertolongan Tuhan dalam menghadapi pandemi Virus Corona dan Demam Berdarah (DbD), dan tetap berpengharapan dan bersukacita di dalam Tuhan.
  2. Agar mencari dan mengikuti perkembangan situasi terkini tentang penyebaran Virus Corona dari sumber terpercaya, yaitu informasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, serta menghindari pemberitaan yang bersifat hoax dan apalagi menyebarkan berita hoax terkait penyebaran Virus Corona ini.
  3. Menjaga situasi tetap tenang dan tidak panik, termasuk melakukan tindakan-tindakan yang diakibatkan kepanikan tersebut, sehingga justru dapat merugikan orang lain. Contohnya seperti pembelian kebutuhan sembako (sembilan bahan pokok) dan kebutuhan harian lainnya secara berlebihan, serta menimbun bahan makanan.
  4. Memperhatikan protokol kesehatan WHO, yaitu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sesering mungkin, menghindari pertemuan dengan kerumunan orang banyak, tidak bersalaman dengan cara tertentu (tidak saling menyentuh), bila merasa sakit pakailah masker dan langsung ke dokter serta beristirahat di rumah, juga untuk menjaga kesehatan dengan melakukan pola hidup yang sehat.
  5. Menerapkan pola hidup sehat dan kebersihan lingkungan rumah seperti melakukan tindakan membersihkan lingkungan yang fokus pada adanya titik-titik keberadaan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah, seperti pada beberapa tempat berikut ini: Bak kamar mandi / toilet, tempat penampungan air, air jebak semut (kaki meja), air pembuangan kulkas, tempat minum burung yang jarang diganti, pot bunga berisi air, dispenser air minum, dan barang bekas di sekitar rumah (ban, kaleng, batok / tempurung kelapa, botol, gelas air mineral, potongan bambu, dan semua tempat yang dapat menampung air)
  6. Berpikir positif, menghargai dan tidak menghakimi seseorang yang memilih untuk membuat jarak (berdiri, duduk, cara bersalaman, dan lainnya) karena hal tersebut dilakukan bukan hanya melindungi diri (karena merasa kurang sehat atau kondisi tidak prima) tetapi juga melindungi orang-orang sekitarnya.

Kepada Majelis Jemaat GKP

  1. Tetap tenang dan mampu menenangkan anggota jemaatnya dalam menghadapi situasi seperti yangsekarang ini terjadi.
  2. Memantau kondisi anggota jemaatnya yang rentan terpapar Virus Corona dengan mengecek kondisianggota jemaatnya melalui telepon, grup media sosial jemaat, atau pelawatan.
  3. Melaksanakan tindakan edukasi pencegahan penyebaran Virus Corona ini kepada anggota jemaatnya(seperti cara mencuci tangan yang benar, tindakan menutup mulut saat batuk dan menutup hidungsaat bersin, dan informasi umum mengenai Virus Corona) melalui berbagai cara dan media (sepertiWarta Jemaat, pengumuman, info grafis melalui grup media sosial jemaat dan sebagainya).
  4. Mengimbau agar penyelenggaraan kegiatan di Jemaat (Kebaktian Minggu, Kebaktian Rumah Tanggadan Kebaktian Kategorial, rapat Majelis Jemaat) dilakukan dengan tetap melihat dan mempertimbangkan perkembangan situasi dan kondisi termasuk anjuran Pemerintah Daerah diwilayahnya masing-masing.
  5. Mengimbau untuk mempertimbangkan menunda kegiatan Jemaat berupa kebaktian padang, retret,Rapat Jemaat dan atau kegiatan lain yang mengumpulkan massa dalam jumlah banyak, setidaknyasampai 14 hari ke depan atau dengan memperhatikan anjuran pemerintah mengenai kegiatankegiatan yang bersifat massal.
  6. Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan rumah sakit pemerintah rujukan penanganan pandemiVirus Corona untuk dapat melakukan tindakan mensterilkan ruangan ibadah dengan disinfektan, mendapatkan informasi lebih lanjut terkait Virus Corona, informasi standar prosedur penangananpasien terpapar virus dan penanganan jenazah dari pasien meninggal dunia terpapar virus; dan jugauntuk melakukan tindakan pengasapan / fogging pada terjadinya kasus Demam Berdarah Dengue.
  7. Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat atau rumah sakit pemerintah rujukan penangananpandemi Virus Corona dan Demam Berdarah Dengue bila mana ada anggota jemaat yang terpapar virus dan yang meninggal dunia terpapar virus (terutama dalam kasus Virus Corona).
  8. Mensosialisasikan informasi layanan darurat Virus Corona atau Convid 19 yaitu nomor 119 dan 112, dan nomor-nomor penting lainnya terkait instansi kesehatan setempat kepada anggota jemaatnya (nomor-nomor terlampir).

Kepada Badan-badan Pelaksana Klasis GKP

  1. Berkoordinasi dengan Majelis-majelis Jemaat di Wilayah Klasisnya untuk melakukan edukasipencegahan Virus Corona dan Demam Berdarah Dengue
  2. Mempertimbangkan kemungkinan penundaan waktu pelaksanaan Rapat Kerja Klasis (khususnya bagiKlasis yang belum melaksanakan Rapat Kerjanya) sampai kondisi yang lebih baik atau memungkinkan.
  3. Menginformasikan kepada Majelis Sinode GKP sesegera mungkin perihal pelaksanaan atau penundaanRapat Kerja Klasis kepada Badan-badan Pelayanan GKP agar semua Badan-badan pelayanan mengikuti anjuran pemerintah dan dinas terkait.

Bersama dengan surat ini, kami juga lampirkan beberapa informasi dan materi edukasi (berupa tautansosial media) terkait pencegahan penyebaran Virus Corona (COVID-19) dan Demam Berdarah Dengue.

Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. Kiranya kita diberikan hikmat untuk menyikapi berbagaisituasi yang sedang berkembang saat ini, berjaga-jaga dan berdoa, tetap tenang dan percaya terhadap pemeliharaan Sang Pencipta, karena di situlah letak kekuatan kita (bdk. Yesaya 30:15b).

Tuhan menolong kita.