Gembala Yang Menuntun

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu dan Saudara-saudaraku yang baik. Istirahat merupakan kebutuhan utama, sedangkan tidur malam menjadi bagian yang perlu dilakukan. Darinya organ-organ tubuh, suasana hati, kualitas emosi dan pikiran kita memperoleh penyegaran. Terpujilah Allah yang mengaruniakan kita tidur malam.

Saudara-saudaraku, Firman Tuhan yang menguatkan kita melakukan aktivitas kita diambil dari Mazmur 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya”

Saudaraku, salah satu yang realitas yang dihadapi manusia adalah kematian. Sosoknya selalu dihindari. Secara iman kita tahu kematian tidak bisa dihindari jika saatnya telah tiba. Sekaligus orang beriman dan beragama meyakini bahwa kematian merupakan fase untuk masuk ‘dunia’ lain yang lebih baik. Meskipun demikian, pada umumnya manusia menghindar dari kematian. Tidak usah dengan bahasa yang sulit dan penuh taburan kata-kata, jika ada orang menawarkan, “jika demikian maukah kamu mati?”. Tawaran dan pertanyaan ini menjadi hal yang amat sulit dijawab. Tentu, lebih banyak orang menggeleng kepala.

Mazmur 23 secara keseluruhan menggambarkan Allah sebagai Gembala. Sedangkan Pemazmur memposisikan dirinya selaku domba. Yang satu hakikatnya memberi dan yang lain menerima. Hakikat Allah yaitu Dia selalu memberi, tidak pernah berubah, dulu, kini dan nanti. Sementara itu, manusia di hadapan Allah, dirinya sebagai domba yang sifat hakikinya menerima. Pemazmur menggambarkan Allah sebagai Gembala yang membawa dombanya dapat berbaring di padang hijau dan membimbing ke air yang tenang. Rumput untuk dimakan dan air untuk diminum. Sebuah keadaan aman dan nyaman. Suasana ideal diberikan Gembala atas domba-Nya. Pemberian terbaik yang dilengkapi Allah buat kita. Kita patut bersyukur atas itu dan memuji tindakan Allah.

Pemazmur tidak hanya membatasi tindakan Gembala semata-mata pada ketersediaan dan kelimpahan makan dan minum. Gembala yang baik itu, pun menuntun di jalan yang benar. Kekeliruan menempuh rute yang diambil bisa membawa ke arah yang salah. Allah tidak menginginkan kita berjalan pada pilihan rute yang membuat kita tersesat. Sebagai Gembala, Ia menuntun kita ke tujuan yang baik. Pilihan manusia bisa salah. Kalkulasi manusia bisa keliru. Di situlah Gembala menggiring domba-Nya dengan pilihan arah yang tepat.

Saudaraku, kita tiba pada bagian perenungan kita. Setelah Allah sebagai Gembala mengantar pada realitas yang nyaman dan aman. Kini, bukankah dalam hidup ini kita diperhadapkan dengan hal yang pelik. Yang tidak gampang diurai untuk diatasi. Tidak gampang dilewati. Kita diperhadapkan dengan hal yang sulit. Karena situasinya yang tak mudah dijalani. Dalam konteks Pemazmur dibahasakan “lembah kekelaman”. Atau lembah bayang-bayang kematian (the valley of the shadow of the death). Suatu keadaan yang teramat gelap dan amat jarang dilewati. Bagi siapa yang berjalan di sana, ia tengah dibayang-bayangi maut. Orang yang berjalan di lembah kekelaman, berarti yang bersangkutan harus mempertaruhkan keselamatan dirinya. Nyawanya berada di bibir jurang. Salah melangkah ajal menjemputnya.

Lembah kekelaman menjadi rute yang teramat ditakuti untuk dilewati. Bagi siapapun yang menjajal rute itu, maka potensi untuk tersesat, jatuh dan mati merupakan keniscayaan. Saudaraku, dalam realitas mencekam dan genting yang harus dilewati domba itu. Pemazmur bicara tentang keyakinan dirinya. Bahwa dirinya dengan ketetapan hati menyatakan tidak takut. Lembah kekelaman tidak menyebabkan ia terpuruk pada kecemasan. Ia tidak gentar. Tidak takut selama Gembala itu menyertainya. Dengan kata lain, sikapnya tidak akan seteguh itu dan kepercayaannya akan luruh. Bila ia berjalan tanpa disertai Allah yang adalah Gembalanya.

Saudaraku, kembali kita berbicara tentang kematian. Maut. Secara halus (implisit) kita dapat mendengar getaran ketakutan Pemazmur, bila harus melewati rute paling gelap gulita dalam perjalanan hidupnya. Rute yang berpotensi mengancam keselamatan dirinya. Tapi, dengan gamblang (eksplisit) menyatakan, seberbahaya apapun jalan yang harus ditempuh, dia tidak takut bahaya. Sekali lagi harus dikatakan, tidak takut bahaya. Mengapa? Sebab Allah besertanya. Allah yang membuat mantap hatinya melewati rute yang menakutkan sekalipun.

Saudaraku, siapa yang tidak takut dengan situasi kini? Dunia tengah diguncang makhluk tak terlihat dan tak teraba tapi terasa ‘sengatannya’. Makhluk yang bernama Covid 19 itu jelas melahirkan kegentaran. Bahkan kepanikan menjadi fenomena di mana-mana. Penguasa cemas. Rakyat was-was. Ilmuwan memeras otak berpacu waktu untuk menemukan penangkalnya. Di sinilah, kita meresapkan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa agar membiarkan Tuhan menuntun kita. Tuntunan yang membawa kita berpikir jernih. Tuntunan yang membuat kita menetapkan pilihan yang tepat. Dan yang utama, kita dituntun Allah Sang Penguasa Kehidupan. Yang punya otoritas tertinggi yang menentukan mati dan hidupnya kita. Sekaligus, yang menentukan mati dan hidupnya virus Covid 19 yang menggentarkan itu. Mari, dengan hati yang tetap, kita daraskan dalam diri, “ Aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Agama Untuk Manusia

Oleh Pdt. Hariman A. Pattianakotta

Virus Covid 19 membuat banyak pihak menjadi kikuk. Pola relasi yang selama ini berlangsung tiba-tiba berubah. Aktivitas yang mengumpulkan orang banyak tidak dianjurkan, bahkan dilarang untuk dilakukan. Setiap orang diajak untuk mewujudkan solidaritas dengan berjarak secara sosial. Pilihan dan keputusan ini sudah pasti tidak menyenangkan, tetapi penting untuk keselamatan bersama.

Hari Minggu kemarin saya masih sempat memimpin ibadat Minggu. Kita yang terbiasa salaman dengan berpegangan tangan, bahkan cipika-cipiki, tetiba dilakukan dengan cara lain dengan jarak tertentu. Cukup dengan menempelkan kedua tangan di dada sembari membungkukkan kepala. Saya sendiri menjadi kikuk dengan cara tersebut, namun itulah cara terbaik dalam situasi darurat sekarang ini.

Beberapa jemaat dari gereja tertentu bahkan “meliburkan” kegiatan ibadat bersama, termasuk ibadat Minggu. Ibadat-ibadat dianjurkan untuk dilakukan di rumah masing-masing. Pemimpin Jemaat tetap mempersiapkan renungan dan disiarkan melalui media sosial yang ada. Dalam kondisi pandemik seperti ini, cara tersebut bisa dimaklumi. Bahkan, hemat saya, layak dan harus dilakukan.

Ada beberapa alasan teologis untuk hal itu. Pertama, agama ada untuk manusia, bukan manusia untuk agama. Gereja ada untuk melayani dan menempatkan keselamatan umat manusia sebagai prioritas utama. Demi keselamatan umat manusia dan alam semesta itulah, Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini. Demikian juga dengan Roh Kudus yang diutus untuk memelihara dunia dan menuntunnya pada kesempurnaan keselamatan di parousia. Jadi, gereja yang mengaku percaya kepada Allah Tritunggal sudah seharusnya menempatkan keselamatan umat manusia sebagai keutamaan.

Kedua, secara seteriologis, keselamatan itu bukan hanya urusan nanti, tetapi soal sekarang. Hidup sehat lahir dan batin di sini adalah bagian dari perayaan keselamatan di dunia sekarang ini. Tanpa kesehatan, manusia akan sakit dan mati. Lantas, kalau sudah demikian maka tidak ada lagi karya yang bisa dilakukan di dunia sekarang ini. Jadi, panggilan menjaga kesehatan adalah bagian penting dari kehidupan. Bahkan, Alkitab menyebutkan bahwa tubuh kita adalah bait Allah. Maka, tubuh harus dijaga dan dirawat, agar dapat dipersembahkan sebagai ibadat yang sejati. Dengan demikian, menjaga kesehatan adalah juga bagian dari ibadat, sehingga kalau kita menutup ibadat bersama dan melakukannya untuk sementara di rumah masing-masing demi kesehatan tubuh kita, hal tersebut adalah hal yang benar dan tepat.

Ketiga, ketika kita beribadat di rumah masing-masing, hal itu tidak mengurangi esensi dan makna dari ibadat kepada Allah Tritunggal. Yesus Kristus sendiri berkata bahwa “dua atau tiga orang yang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. Jadi, jika kita beribadat di rumah dalam kondisi darurat, ibadat kita itu tetap sah secara teologis dan tidak mengurangi makna ibadat barang sedikitpun. Tuhan tetap hadir di situ, dan Ia memberkati kita sama seperti kita beribadat di gedung-gedung gereja secara bersama.

Momentum Iman Bersama Keluarga

Selain itu, secara praktis, ibadat bersama anggota keluarga di rumah menjadi momentum yang penting dalam rangka kita mengakrapkan kembali relasi kekeluargaan kita. Bagi keluarga yang tinggal di kota-kota besar, yang selalu sibuk sehingga waktu bersama keluarga menjadi barang langka, inilah waktu yang tepat untuk beribadat bersama. Kita punya kesempatan di masa yang tidak nyaman ini untuk kembali menyamankan hubungan sebagai orang tua-anak ataupun suami-istri dalam rengkuhan kasih Tuhan. Syukur-syukur, momen ini bisa membuat mata kita terbuka untuk menyadari bahwa pasangan atau anak kita kapan saja bisa mati; bisa hari ini ataupun besok, sehingga kita akan semakin saling mencintai dan memanfaatkan waktu hidup yang ada dengan penuh dedikasih dan tanggung-jawab.

Jika kita menilik sejarah gereja di masa awal, mereka juga lebih sering berkumpul di rumah masing-masing. Konsep “gereja rumah” memang selalu datang dari situasi-situasi yang tidak menyenangkan seperti ini. Dahulu kekristenan dilarang bahkan diserang oleh otoritas pemerintah Romawi, juga oleh pemimpin-pemimpin agama yang mapan di kala itu. Namun, hal tersebut tidak membuat kekristenan mati. Sebaliknya, kekristenan tumbuh secara vital dan menarik, sehingga ia bertambah-tambah dalam kualitas dan kuantitas. Lalu, kalau hari ini kita “dirumahkan” oleh Corona, saya kira hal itu bisa menjadi momentum untuk kita melakukan revitalisasi iman, pengharapan, dan kasih kita. Dan hal itu bisa dimulai dari rumah kita masing-masing.

Jadi, kalau kita merumahkan aktivitas ibadat yang biasanya kita lakukan secara kolektif di rumah-rumah ibadat karena situasi darurat ini, maka sebetulnya tidak ada yang salah. Juga bukan karena kita tidak atau kurang beriman. Iman itu bukan fatalisme yang sembrono.

Memang, ada juga yang masih bertanya “Tapi, bagaimana dengan perjamuan kudus? Bagaimana dengan penahbisan atau peneguhan Majelis atau komisi-komisi? Bagaimana dengan sidi? Bukankah ini momen-momen khusus gerejawi?”

Kembali kepada pemikiran-pemikiran mendasar di atas. Agama, gereja, organisasi, peraturan, ritual, semua itu untuk manusia. Jangan dibalik! Semua masih bisa dilakukan nanti. Gereja belum berakhir hanya karena kegiatan-kegiatan bersama “diliburkan” dua atau tiga Minggu, tergantung situasi dan kondisi. Persembahannya berkurang, ia, mungkin. Tetapi masa yang dipikirkan adalah persembahan? Bisa saja itu yang dipikirkan orang tertentu, tetapi pasti karena Tuhannya Mamon, bukan Allah Tritunggal.

Tetaplah beriman, terus waspada alias hidup dengan hikmat, jaga kesehatan, dan mari berdoa semoga pandemi Corono ini cepat berlalu.

Tuhan memberkati kita! Amin.

(Penulis adalah Pendeta UK. Maranatha, dari GKP; Wakil Ketua Umum DPD PIKI Jabar)

Tuhan Mengubahkan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, seluruh Saudara-saudaraku yang baik di dalam Tuhan Yesus. Salah satu keindahan hidup bersama Tuhan adalah kehadiran-Nya yang tak pernah putus. Bagaikan cincin tak berujung, demikian karunia kehadiran-Nya atas kita. Patutlah kita mengucap syukur dan berterima kasih kepada-Nya.

Firman Allah yang menyapa kita dari Matius 8: 2-3, “Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.”

Saudaraku, sakit adalah kondisi yang tidak diharapkan. Ia menjadi beban bagi siapapun. Beban finansial sebab harus menguras kantung agar tubuh pulih kembali. Biaya pengobatan merupakan salah satu pengeluaran yang berat, apalagi sakitnya disebabkan penyakit tertentu. Pernah ada ungkapan untuk menggambarkan beratnya beban finansial, “orang miskin tidak boleh sakit”. Tidak cukup di situ, sakit pun melahirkan beban sosial. Ketika tubuh terbaring tidak berdaya, apalagi harus dirawat di rumah sakit, keluarga pun ikut repot. Mereka mau tidak mau mengalokasikan waktu dan perhatian untuk mendampingi. Mulai dari cari rumah sakit sampai menemani dalam perawatan. Bagi yang punya pengalaman, akan mengatakan bahwa mendampingi orang sakit butuh kesabaran dan stamina ekstra.

Sakit juga mencakup beban bersifat keagamaan. Ada orang yang sakit malah bertambah sakit. Mengapa? Karena ditambah beban penilaian dan penghakiman. Si sakit diposisikan telah menyimpang dari norma agama. Dalam dirinya dinilai ada yang tidak beres dengan Tuhan. Sakit menjadi bukti kelihatan pelanggaran seseorang atas Tuhannya. Selain itu, sakit tambah sakit karena perlakuan atasnya ‘dibedakan’. Lantaran jenis sakitnya maka pihak yang sakit menerima perlakuan kurang manusiawi.

Saudara, pada jaman Tuhan Yesus hadir di Israel waktu itu, orang yang sakit kusta itulah orang yang menanggung beban berlapis-lapis. Berbagai jenis beban ditumpukkan pada pundak orang sakit kusta. Secara agamawi orang kusta dianggap najis. Karena itu, orang tidak mau bersentuhan dengan penyandang kusta. Jabat tangan mana mungkin. Si sakit pun dilarang keras menyentuh orang lain. Waktu itu, orang kusta hidup berkoloni artinya bersama dengan sesama penderita dan mereka tinggal di pinggir kota. Terisolasi dan nir komunikasi. Pergi ke Yerusalem dan kota-kota lain, sebuah kemustahilan.

Penderita sakit kusta, masih hidup tapi diperlakukan seolah-olah sudah mati. Beban ini dipikul dengan tanpa harapan sembuh. Sebab memang belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Untuk itu, orang kusta bisa bertemu Tuhan Yesus merupakan momen langka. Dan momen mengalami transformasi, dalam arti kesempatan berubah. Perubahan nasib dan jalan hidup.

Saudaraku, dengan rendah hati penyandang sakit kusta dalam firman ini mengajukan permohonan kepada Tuhan Yesus, “Tuan, jika tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku?” Bisa jadi bibirnya bergetar. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan emosinya cukup nervous. Sebab, bagaimanapun permohonan ini menjadi titik awal perubahan dirinya. Perasaan bercampur aduk menantikan jawaban Tuhan Yesus. Dan ketika yang didengarnya adalah, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Dialog singkat. Tapi, mengubah sepanjang hidup seseorang, khususnya mantan orang kusta itu.

Saudara, perjumpaan itu selalu mengubah, dengan siapapun dan apapun. Hidup Saudara menjadi lain karena bertemu pasangan Anda. Mungkin ajan berbeda jika bertemu dengan pasangan lain. Betapa beruntungnya, setiap orang bertemu atau berjumpa dengan Tuhan Yesus. Karena ada transformasi atau perubahan diri. Dalam Alkitab contohnya begitu banyak dan kaya. Zakeus, sang pemungut cukai. Bukankah berubah menjadi pemurah hati dan berubah orientasi hidupnya lantaran berjumpa Tuhan Yesus? Perjumpaan bukan sekedar bertemu secara fisik tapi ada transfer nilai, pelajaran, sehingga melahirkan inspirasi yang mengubah kehidupan seseorang. Apalagi berjumpa dengan Tuhan Yesus, banyak hal yang kita serap dan peroleh yang menuntun jalan hidup kita berubah. Kita dibaharui. Jika seseorang sudah sekian lama berjumpa dan bahkan bergaul intens dengan Tuhan Yesus, ternyata tidak berubah. Apa kata dunia?

Allah Sumber Pengharapan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Istirahat malam telah kita jalani, hari baru kita masuki. Pertolongan Allah tetap bersama kita, sehingga kita masih mengecap kehidupan yang terlindungi. Puji syukur kepada Allah akan hal ini.

Firman Tuhan yang menuntun kita memasuki hari baru, diambil dari Mazmur 13:2-3, “Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?”

Saudaraku. Problem besar manusia kini adalah tentang virus corona. Virus yang tidak kasat mata, namun berbahaya. Sungguh, di hadapan virus ini semua orang sama, berpotensi terinfeksi. Pejabat maupun rakyat jelata. Orang terkenal ataupun orang biasa saja. Termasuk tokoh agama dan penganut agama apapun yang dianutnya. Tidak pandang bulu. Oleh karena itu, kita semua harus berhati-hati jangan terpapar.

Virus ini makin berbahaya lagi lantaran penyebarannya yang cepat dan mendunia. Kini hampir setiap negara tidak bisa menolak kehadirannya. Sementara itu, meski ada korban yang bisa sembuh, pada kenyataannya belum ditemukan obat penangkalnya. Oleh karena itu, bagi korban terpapar virus ini begitu kena seakan melihat bayangan kematian sudah di depan pelupuk mata.

Ada dua sikap yang merespon situasi aktual ini. Pertama, menganggapnya fenomena biasa. Virus itu dianggap hal lazim karena di semesta ini virus-virus gentayangan. Sikap ini cenderung meremehkan, tak heran muncul ungkapan “ takut amat”. Bagi orang yang menyikapi situasi ini dengan enteng, maka saran dan imbauan yang jelas-jelas dilandasi dasar pengetahuan medis diabaikan. “Takut amat sampai tidak salaman”, “Takut amat sampai tidak cipika cipiki”. “ Takut amat bepergian”. Buat orang seperti itu, situasi kini dinilai berjalan biasa saja “ business as usual”. Apalagi ditambahi dengan kata-kata ‘saleh’, “ jika Tuhan mau kita mati, tidak ada virus ini juga akan mati. Orang beriman koq takut amat”

Sikap kedua, orang yang menyikapi situasi ini dengan suasana takut berlebihan. Panik. Dengan sigap pergi ke mall atau toko. Borong makanan, borong masker, borong sanitizer. Seolah-olah jika tidak memborong esok kebutuhan hidup akan tak terpenuhi. Orang seperti ini menyikapi situasi ini dengan “amat takut”. Bahkan cenderung parno, paranoid, virus rasa takut yang akut. Benak, emosi dan batinnya lebih didominasi imaginasi buruk. Orang yang demikian, mengkarantina dirinya sendiri secara berlebih. Virus seakan-akan serba ada di mana pun, disamakan laksana Tuhan ada di mana-mana.

Saudaraku, berkali- kali pemazmur dalam firman di atas menanyakan berulang-ulang kepada Tuhan dengan ucapan “ berapa lama lagi?”. Ada nada kegundahan. Menurut penafsir kitab Mazmur, memang Pemazmur sedang dilanda rasa takut. Dia takut meninggal dunia. Dia tengah bergumul apakah harapannya berakhir sia-sia. Ia tengah menanti-nantikan pertolongan Tuhan. Dan sebagai manusia ia tidak tahan terus menunggu dalam ketidak pastian.

Seorang ahli teologi, Choa Seng Song menyatakan bahwa kehidupan umat beragama bergerak di antara rasa takut yang mencekam dan harapan (agony and hope). Seperti kita lihat pada diri pemazmur tengah dicekam rasa takut. Takut karena masuk dalam wilayah ketidakpastian. Apakah ia akan sembuh dan terhindar dari kematian atau tidak? Ia telah menanti sekian lama seakan pertanyaan tak berjawab. Saudara, ketidakpastian selalu membuahkan hati yang kuatir. Kekuatiran selalu menghalangi selalu menghalangi untuk melangkah. Hati seperti itulah yang bergejolak pada diri pemazmur.

Saudaraku, menanti-nantikan pertolongan hingga empat kali ia menanyakan “berapa lama lagi Tuhan?”. Sekali lagi, menurut merujuk pandangan penafsir kitab Mazmur, sang pemazmur tengah menderita sakit parah. Ia takut meninggal dunia. Namun, di balik ketakutan itu ia meminta kepada Allah, karena hanya pada Allah satu-satunya tersimpan harapan. Saudara, di sini kita melihat di tengah kerapuhannya, ia menoleh pada Allah yang tetap menjadi sumber harapan. Hanya Allah saja alamat yang tepat untuk meminta mengatasi ketakutan dan kekuatirannya.

Di sinilah, di saat virus merebak dan kekuatiran bergerak dengan cepat menguasai kita secara pribadi. Bagi siapapun yang merasakan ancaman nyata virus korona, memang kuatir, takut dan cemas. Tampak, pemazmur jujur dengan dirinya. Ia memang takut atas ancaman kematian. Ia tidak pura-pura berani. Meski demikian, bukan berarti kehilangan harapan. Di saat kelemahanlah ia merasa kuat di dalam Allah.

Saudaraku, bagian dari kerapuhan manusia adalah ketakutan. Kita belum bebas dari kerapuhan maka kita pun belum bebas dari ketakutan, kecemasan dan kekuatiran yang terus menguntit kita. Inilah potret riil kita. Kita bisa memakai topeng menutupi ketakutan kita. Termasuk topeng berupa kata-kata ‘saleh’. Namun, hati, emosi dan pikiran kita tidak bisa berbohong bahwa ketakutan ada. Lalu, bagaimana? Apa langkah kita, terutama ketika berhadapan dengan fenomena virus korona?

Ada bagian lain dari Mazmur 13, yang perlu kita kutip, yaitu “kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.” Ya, Pemazmur lega dan bersuka cita. Ia tidak tenggelam dalam keputus asaan. Di sini digambarkan Allah datang menyelamatkannya. Pengharapan kepada Allah berujung pada suka cita. Ia ekspresikan dengan bersorak sorai.

Saudaraku, apakah kini kita takut. Terus-terang, dalam kerapuhan manusia saya takut melihat realitas sekarang. Tapi, kita harus tetap kuat dan berpengharapan bahwa Allah mendengar suara ketakutan kita. Ada ketegangan antara takut dan harapan. Namun, kita bersyukur Allah kita Maha Mendengar. Apapun yang Dia berikan baik, baik, dan baik adanya. Dan itu yang jadi Mata air pengharapan kita. Jangan panik atau bersikap pura-pura berani, akhirnya bersikap gegabah. Semoga Tuhan menolong kita dan semua insan ciptaan-Nya.

Himbauan Terkait Merebaknya Virus Corona (Covid 19)

Himbauan dari Majelis Sinode Gereja Kristen Pasundan:

Syalom rekan-rekan terkasih, selamat menyiapkan ibadah, kiranya kita dan seluruh jemaat dijaga dan dilindungi Tuhan yang Mahamurah, berkaitan dengan situasi terkini:

1. Kiranya kita bisa menyiapkan ibadah dengan baik dengan memperhatikan langkah preventif yang tepat seperti menyiapkan hand sanitizer di depan pintu masuk, pola pemberian persembahan yang dianggap tepat baik melalui kantong persembahan maupun maju kedepan, serta salaman sebaiknya salaman tradisional (nameste)

2. Agar MJ dapat menghimbau warga jemaat yang kondisi kesehatan tidak baik sebaiknya tidak ke gereja.

3. Melihat berbagai perkembangan dengan cermat yang kemudian menentukan pelaksanaan ibadah-ibadah kategorial maupun KRT/KTM dilaksanakan atau tidak dengan memperhatikan himbauan pemerintah

4. Mari terus berdoa utk penanganan virus covid-19 oleh pemerintah dan kesigapan menghadapi dampak-dampak yang timbul

5. Turut berdoa bagi seluruh Jemaat-jemaat kita agar dihindarkan dari virus covid-19

6. Surat himbauan resmi akan disampaikan Majelis Sinode, dengan melihat berbagai perkembangan yang ada.

Tuhan menolong kita.