Rapat Kerja Klasis GKP Wilayah Priangan Tahun 2020

Semangat kebersamaan segenap bagian GKP Klasis wilayah Priangan hadir dalam kegiatan Rapat Kerja Klasis GKP Wilayah Priangan 14 Maret 2020 bertempat di GKP Jemaat Cicalengka. Kemacetan di beberapa titik tidak menyurutkan para peserta utk hadir dalam Raker tersebut, dibuktikan dengan kehadiran seluruh GKP yg ada di wilayah Priangan sebanyak 15 jemaat dan terdapat perwakilan 76 orang hadir dalam raker ini.

Hadir pula dalam Raker GKP Klasis Priangan pendeta emiritus, pendeta pelum yang ada di wilayah Priangan serta para peserta yang mewakili badan-badan pelayanan serta yang mewakili Majelis Sinode GKP.

Dalam Raker ini telah dirumuskan gerak langkah bersama sebagai bagian Klasis Priangan melalui rekomendasi kelompok dengan semangat berbagi dan saling menopang atas pergumulan-pergumulan yang dihadapi oleh jemaat. Antara lain mendukung pengembangan pos-pos pelayanan dan pos kebaktian, melanjutkan aksi bakti sosial, serta upaya pengembangan diakonia transformatif.

Kriman: Bpk Imam Cahyo Wibowo – BP Klasis GKP Wil Priangan

https://www.facebook.com/mikgerejakristenpasundan/posts/664642214345815

Rapat Kerja Klasis GKP Wilayah Bekasi Tahun 2020

Sabtu, 14 Maret 2020 telah dilaksanakan Rapat Kerja Klasis GKP Wilayah Bekasi yang mengambil tempat di GKP Jemaat Bekasi. Seluruh perwakilan jemaat menghadiri rapat kerja tersebut. Bahkan rapat kerja kali ini juga dihadiri oleh perwakilan Pos Kebaktian di lingkungan Klasis GKP Wilayah Bekasi, yaitu Pos Kebaktian Cigelam dan Pos Kebaktian Tambun.

Selain dari perwakilan jemaat di Klasis GKP Wilayah Bekasi, rapat kerja ini juga dihadiri oleh perwakilan Majelis Sinode GKP, Pdt. Ferly David, selaku Sekretaris Umum Majelis Sinode GKP, dan juga Pdt. Dewi Agustina. Rapat kerja klasis ini juga dihadiri oleh perwakilan Badan/Yayasan yang ada di lingkungan GKP, yaitu Badan Penelitian dan Pembinaan GKP, Yayasan Badan Sosial Darma Kasih Gkp, dan Pasundan Durebang.

Dalam rapat kerja ini dibahas evaluasi program kerja tahun 2019/2020 dan juga menyusun program kerja tahun 2020/2021. Dan secara keseluruhan, peserta rapat menerima hasil evaluasi program kerja dan menetapkan program kerja tahun yang akan datang.

Selamat berkarya, Tuhan selalu menyertai.

https://www.facebook.com/mikgerejakristenpasundan/posts/664340947709275

Kesiapan Pelayan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi. Selamat memasuki akhir pekan, Saudara-saudaraku yang baik. Kita bersyukur kepada Allah, sepanjang pekan ini kita merasakan pertolongan-Nya. Kita ini sebagai manusia rentan, rapuh, namun perlindungan-Nya yang menjadikan kita kuat dan selamat.

Akhir pekan ini, dasar renungan kita diambil dari 1 Raja-raja 19:20b-21, “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.” (21) Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.

Saudaraku. Elia sebagai nabi perlu pengganti. Atau biasa kita sebut regenerasi. Suatu saat tugasnya sebagai nabi selesai. Maka perlu sosok yang meneruskan. Jabatan kenabian itu tidak boleh kosong atau vakuum. Sosok nabi sangat diperlukan. Sebagai penyambung lidah Tuhan, nabi jelas terus dibutuhkan guna menyampaikan kehendak Allah. Kekosongan nabi akan berdampak pada kehidupan iman dan keagamaan umat Israel.

Mencari calon nabi itu tidak gampang. Tidak boleh dianggap enteng. Perlu orang yang tepat. Harus orang pilihan. Seorang nabi musti memenuhi persyaratan yang ketat. Orangnya baik. Semangat. Rajin. Berjiwa pengabdian. Dan seluruh jiwanya siap dikonsentrasikan memikul tugas yang tidak ringan.

Kita kenal karakter nabi Elia. Tak lelah-lelahnya menyuarakan Allah yang hidup. Umat bukan hanya digiring mengakui itu secara teoritis, melainkan berdasarkan pengalaman nyata. Bahkan pengalamannya sendiri. Hidup pribadinya penuh pembuktian akan hal itu. kisah pengalamannya dengan janda miskin di Sarfat. Yang memberi sepotong roti dan cuma itu milik berharganya. Ternyata, janda itu dan anaknya tetap hidup meski roti itu telah diberikan kepada sang nabi. Juga, ketika nabi Elia berada di tempat persembunyian karena nyawanya diancam. Setiap hari umurnya tetap bertambah, karena burung gagak yang setiap hari membawa daging untuk makanannya.

Elia sudah saatnya menyiapkan tongkat estafet kenabian. Perjalanan hidup keagamaan umat Israel tidak boleh mandeg. Apalagi berpaling ke illah lain. Di sinilah, Nabi Elia menemukan orang yang cocok, yaitu ada pada diri Elisa. Ia menemukan Elisa sedang membajak. Elia terkesan dan ia menyatakan pilihannya dengan melemparkan jubahnya kepada Elisa. Tanda, Elisa adalah kelak yang menggantikannya. Ia meminta Elisa menggantikan posisi sebagai nabi. Berkaitan dengan itulah, Elisa menyatakan kesiapannya. Sebelum tugas itu dipikulnya, Elisa pamit pada orang tuanya. Dan melakukan acara perpisahan dengan orang-orangnya. Latar belakang Elisa, dia berasal dari keluarga kaya. Hidupnya tidak kekurangan. Pembantunya banyak.

Dengan menjadi nabi. Elia harus meninggalkan hidup yang berkecukupan. Ia harus terbiasa hidup sederhana. Termasuk ia tidak lagi dilayani para pembantunya. Ia pamit dari orang yang dikasihinya, yaitu orang tua. Ia merelakan juga meninggalkan hidup yang serba mudah.

Saudaraku. Jadi, menjadi nabi harus siap dengan pengorbanan. Bekerja bagi umat adalah memberi hati dan segenap konsentrasi bagi kepentingan Allah dan juga umat. Dengan menjadi nabi, Elisa lebih banyak memberi daripada menerima. Hidup nyaman dan berlimpah harus rela ditinggalkan. Onak dan duri juga menjadi bagian yang harus dihadapinya. Termasuk mengalami sakit keras, tergeletak di pembaringan tidak berdaya.

Sekarang beda, banyak orang ingin menjadi pelayan untuk kemudahan. Ingin hartanya segunung. Ingin serba dilayani. Lihat, banyak orang yang menyebut diri pelayan Tuhan, malah lebih kaya dari yang dilayaninya. Saya membaca sebuah tulisan bahwa di Indonesia ada 7 orang pendeta atau pelayan Tuhan, yang kekayaannya lebih dari 1 trilyun. Luar biasa. Apakah benar atau tidak, yang jelas amat mudah ditemui pendeta yang kendaraannya mobil mewah. Arlojinya ratusan juta. Harga tas istrinya bisa membuat mulut menganga. Dan jangan lupa, mengenakan jas yang harganya melebihi kesejahteraan pendeta pada umumnya. Belum lagi parfum yang dipakainya. Wow..

Saudaraku. Dengan bacaan ini, kita diingatkan arti pelayan yang sejati buat pekerjaan Tuhan. Pelayan sejati pada dirinya melekat kesediaan dan kesiapan suatu saat tugasnya selesai. Dan penggantinya siap menghadapi tuntutan buat berkorban. Hidupnya lebih mengutamakan Tuhan bukan dirinya. Tuhan Yesus berkata, “ terlebih berbahagia memberi daripada menerima.” Seharusnya, sikap itulah yang dimiliki pelayan Tuhan. Bukan tiap berkotbah cuma fasih berbicara perpuluhan. Sampai ayat Alkitab pun disiasati dengan penafsiran yang mendukung orientasi yang haus dunia material. Dengan hadirnya pelayan sejati, umat pun dimampukan hidup dalam iman. Dan sikap keagamaan yang berkenan kepada Tuhan.

Home Sweet Home

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Hari telah terang, malam yang gelap telah berlalu. Inilah hari baru yang disediakan Tuhan buat kita dan seluruh ciptaan-Nya. Semoga kasih-Nya yang baru telah menanti kita.

Petikan firman Tuhan yang hendak kita jadikan pijakan renungan pagi ini dari Roma 16:3,5, “Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus…Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.”

Saudaraku, rumah itu suka bikin kangen. Sejauh manapun kita pergi, seindah apapun tempat yang kita kunjungi, ada saatnya kita musti pulang. Itu berarti yang dimaksud pulang ke rumah. Sesederhana apapun rumah yang kita huni, ke sanalah hati kita berlabuh setelah pergi ke mana saja.

Rumah bukan sekedar bangunan fisik. Keberadaannya secara kasat memang selalu bersifat fisikal. Ada atap genteng, tembok, lantai, daun jendela, pintu dan tetek bengek benda fisik lain yang melekat sebagai bagian yang melengkapi sosok rumah. Rumah tidak sebatas itu. Di rumahlah tempat asuhan cinta kasih manusia ditemukan. Kata cinta diperkenalkan. Wujud kasih diresapi. Kehangatan persaudaraan dijumpai. Di sanalah keluarga mendapat sari pati terbaik kasih sayang.

Karena itu, di kalangan orang Inggris dibedakan antara rumah secara fisik dan hal suasana yang menyenangkan yang hadir dalam rumah. Secara fisik rumah disebut “house”, sedangkan yang menyangkut suasana rumah disebut “home”. Rumah yang penuh kasih dan sarat dengan sayang disebut “home sweet home”.

Saudaraku, secara fisik maupun suasananya, rumah itu memberi kita kehidupan yang lebih manusiawi. Keadaban manusia bisa tercermin lewat rumah. Rumah yang kecil tapi asri dan dilengkapi tegur sapa hangat penghuninya. Itu cukup menjadi penanda siapa penghuninya. Sedangkan di rumah yang kerap sumpah serapah kerap terdengar. Pukulan sering melayang. Jeritan kesakitan terus terjadi. Jelas, bukan keadaban yang kita temui dalam rumah itu, melainkan kebiadaban.

Saudaraku, di saat kekristenan masih tahap pertumbuhannya masih tunas. Rumah tidak semata buat dihuni. Rumah juga menjadi tempat dan nyaman bagi persekutuan orang beriman beribadah. Di rumah paduan suasana kekeluargaan dengan peagungan kepada Allah menyatu. Rumah menjadi tempat kasih persaudaraan lantaran kesamaan gen bersua dengan kasih persaudaraan karena iman. Tentu paduan sangat indah. Di sanalah tunas kekristenan makin memekar.

Salah satu rumah yang mewadahi persaudaraan karena darah berpadu kuat dengan persaudaraan karena iman, adalah rumah Priskila dan Akwila. Rumahnya menjadi rumah bersama. Iman dan kekeluargaan terikat erat. Akwila dan Priskila adalah pasangan suami istri. Mereka korban antisemitisme paling awal. Mereka diusir keluar dari negeri Roma sebab keyahudiannya. Antisemitisme adalah rasa benci yang muncul kepada orang asing, khususnya terhadap orang Semit. Sedangkan orang Yahudi termasuk rumpun semit. Hitler merupakan tokoh antisemit di era modern.

Saudaraku, rasul Paulus menyampaikan salam. Salam merupakan ungkapan harapan terbaik dan ungkapan rasa dekatnya kepada pasangan suami istri itu. Sekaligus salam rasul Paulus kepada Jemaat yang menghidupi imannya dengan menempatkan rumah sebagai tempat khas. Ya, khas. Di rumah Jemaat bersekutu dengan Allah yang penuh kasih sayang, dan di sana juga suka duka persaudaraan dan kekeluargaan dibagi.

Saudaraku, rumah tetap rumah buat manusia dan keluarga bertunas kasih sayang. Dulu maupun kini. Memang dalam konteks masyarakat kita, kini ada larangan rumah yang dijadikan tempat permanen Allah dipuja dan persekutuan dibangun. Labelnya disebut persekutuan liar. Tidak lagi dilihat sebagai tempat di sanalah insan beriman untuk mengasihi Allah, dan kasih kepada sesama dapat ditemui dalam suasana kekeluargaan. Meski demikian, tetap ada yang masih bisa kita lakukan. Yakni kita ambil spiritnya. Semangat atau rohnya yang dapat kita jelmakan adalah, mari rumah kita menjadi tempat doa dan spiritualitas tetap bertunas. Kemodernan mulai menempatkan rumah tempat transit semata. Cuma untuk tidur dan istirahat setelah menjalani hari yang penat. Kita sebaiknya tidak melangkah ke sana. Kita tetapkan pendirian agar rumah sebagai “home sweet home” tetap terpelihara. Di rumah kita ingin mencecap manisnya persaudaraan hidup dengan rukun. Sekaligus di rumah pula manisnya cinta Tuhan dirayakan dalam hidup keseharian. Semoga demikian.

Cerdik Kelola Konflik

Oleh Pdt. Supriatno

Pagi baru telah tiba. Pertanda Tuhan memberi kita kepercayaan untuk mengisi kehidupan hari ini. Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan sebab kita masih dipercaya untuk hidup.

Bacaan refleksi pagi ini, dipilih dari 1 Samuel 25:32-34, “Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: “Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; (33) terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. (34) Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing.”

Saudaraku, konflik adalah bagian dalam kehidupan masyarakat yang terus ada, bahkan sepanjang keberadaan hidup bersama antar manusia, konflik akan terus ada. Selama ada keperbedaan kepentingan konflik bisa meletup. Demikian pula, selama nilai yang dihayati manusia beraneka ragam, konflik tidak bisa dihindari. Dalam keluarga fakta adanya konflik itu kita bisa lihat. Adik dan kakak bisa berseteru. Dua pribadi yang telah dipersatukan Allah saja bisa bersilang sengketa. Tak terkecuali dalam wilayah keagamaan. Di situ pun konflik meletup. Barangkali tidak berlebihan, bila kita katakan bahwa selama ada manusia di situ konflik pun ada.

Konflik tidak bisa dihindari. Datang dan pergi. Kemampuan pengelolaan konflik lah yang sepatutnya harus kita miliki. Banyak orang takut konflik, oleh karena konflik tidak dikelola dengan baik sehingga banyak korban yang jatuh. Suami-istri yang terus-menerus konflik tanpa menemukan titik temu, berakhir dengan putusnya ikatan perkawinan. Kakak-adik yang tidak mau dirukunkan, kehangatan roh persaudaraannya mulai hilang.

Konflik itu beragam wujudnya. Dari keengganan berkomunikasi antar pihak yang berkonflik sampai ingin mengalahkan satu sama lain. Naluri yang bergejolak pada diri yang berkonflik adalah diri sendiri ingin menang sedangkan seterunya musti kalah. Di mana-mana fenomenanya begitu.

Konflik yang berkepanjangan kerap menakutkan, apalagi melibatkan dua atau lebih banyak pihak. Wajar menakutkan, karena ongkos yang dibayar selalu mahal. Siapa yang bisa menyangkali oleh sebab konflik keluarga bisa pecah. Satu negara bisa saling mengangkat senjata untuk ‘mengakhiri konflik’. Jangan lupa, di Indonesia sebuah Gereja terbelah bukan karena hasil pengembangan, namun gara-gara konflik.

Saudaraku, konflik bisa berlarut-larut atau berefek pada kerugian besar, bila melibatkan pihak yang ‘kuat’. Orang banyak bisa ikut ‘demam’ jika orang kuat saling berkonflik. Sebab dampaknya ke mana-mana. Dalam konteks bacaan kita ada dua orang kuat yang berkonflik, raja Daud dan Nabal. Satu penguasa, dan yang satu lagi pengusaha.

Jelas, mereka digolongkan orang kuat bukan mengada-ada. Meskipun, raja Daud sebagai raja, dia berada dalam pengungsian karena ancaman raja Saul. Daud tetap punya kekuatan riil. Pasukannya ribuan. Loyal. Dan efektif memberi pengamanan. Nabal pun sama orang kuat. Kekayaan yang berlimpah merupakan kekuatan riil juga. Bukankah kita tahu, uang atau materi bisa membeli pendirian orang. Banyak kisah, yang menceritakan bagaimana demi harta orang bisa meninggalkan iman. Iman saja bisa dibeli kekayaan, apalagi hal-hal lebih rendah daripada iman.

Dua orang sama-sama kuat. Sama-sama merasa hebat dan besar. Terbayangkan sulitnya meredakan konflik dan meretas jalan damai di antara mereka. Tiap-tiap pihak bisa mempertahankan harga diri. Jika sudah demikian, betapa susahnya mengalah demi sebuah kebaikan. Sama-sama menang itu bukan idaman bagi pihak yang merasa kuat dan benar dirinya musti menang, musuhnya harus tumbang.

Saudaraku, raja Daud merasa telah melindungi ternak kekayaan Nabal. Daud minta agar itu dihargai. Ia merasa kehadiran tentaranya memberi manfaat bagi Nabal. Sedangkan Nabal tidak merasa kenal, apalagi merasa menyewa jasa keamanan. Sehingga begitu Daud meminta makanan dan minuman buat kebutuhan tentaranya. Maka jawaban yang diberikannya adalah penolakan. Ketegangan segera memuncak. Suhu relasi menjadi panas. Saling ancam mulai terlontar.

Apa yang terjadi bilamana dua orang kuat berkonflik tak terjembatani? Konflik akan berubah menjadi pertumpahan darah. Dan itu kerugian besar bagi kedua belah pihak. Pada saat jalan buntu karena tiap-tiap pihak tidak mau bergeser dari pendirian dan egonya, di titik kritis itulah seorang perempuan tampil. Abigail, istri Nabal. Kemampuan membaca situasinya tajam dan luar biasa. Naluri dan sikap bijaknya kuat. Dialah yang menjembatani sehingga kedua belah pihak mengurangi ketegangan. Instruksinya kepada hamba-hambanya untuk menggelontorkan bantuan makanan kepada pihak raja Daud, terbukti mengurangi kerusakan akibat konflik. Betul, akhir cerita Nabal tewas. Tapi, keluarga dan hamba-hambanya tetap hidup. Kerugian akibat konflik terkurangi.

Saudaraku, di sekolah, di kekuarga, di gereja dan di jehidupan masyarakat tak luput dari konflik. Kita patutpunya kemampuan mengelola konflik. Agar di mana kita berada konflik bisa didamaikan dan kerugian bisa diminimalisir. Mengelola bukan diartikan konflik itu dipelihara. Bukan diawetkan. Melainkan, dari konflik itu kita mencari manfaat positifnya dan membuang efek negatifnya.