Nobody Menjadi Somebody

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Markus 5:12b-13a

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudara yang baik. Sungguh indah hidup dalam kasih Tuhan. Dia senantiasa mendampingi kita setiap waktu. Pagi ini pun Tuhan tetap beserta kita. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang menjadi pijakan renungan, ”Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” (13) Yesus mengabulkan permintaan mereka.”

Markus 5:12b-13a

Saudaraku, ada beberapa istilah yang dipakai untuk orang gila. Ada istilah kurang waras, atau juga hilang ingatan. Apapun istilah yang dilekatkan pada orang gila, intinya sama. Yaitu orang yang tidak mengenal dirinya dan mengontrol perilakunya. Tidak mengherankan orang gila bisa bertindak semaunya. Mereka kurang perduli reaksi orang lain atas tindakannya.

Hal sama kita bisa lihat pada diri orang gila di Gerasa. Perilakunya mengganggu ketertiban umum sebab suka berteriak-teriak semaunya. Hidup sehari-harinya lebih banyak di kuburan. Tanda ia tidak perduli pada lingkungan. Dan, masyarakat kewalahan menghadapi ulahnya. Dirantai, namun rantai itu dipatahkannya.

Kehadiran orang gila berefek pada diri si orang gila itu sendiri. Ia amat menderita. Selain itu, masyarakat hidup dengan keresahan. Karena merasa terganggu. Tak diduga, Tuhan Yesus bertemu dengan orang gila tersebut. Orang lain ia tidak kenali. Ternyata kepada Yesus, orang gila tersebut tahu namanya. Dia berkata, ”Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi?”

Selanjutnya terjadi percakapan antara Yesus dengan orang gila tersebut. Lebih tepat percakapan antara Yesus dengan roh-roh yang menguasai orang gila itu. Namanya “ Legion”, artinya banyak sekali roh yang menguasai orang gila tersebut. Ujung percakapan itu, roh-roh yang menguasai dan mengendalikan meminta jika Yesus mengeluarkan dari tubuh orang gila, diperkenankan masuk ke tubuh babi-babi tersebut. Jumlah babi 2.000 ekor.

Yesus memenuhi permintaan roh-roh itu. Maka babi-babi yang menjadi pilihan roh-roh itu terjun ke jurang dan mati. Tidak ada satu ekor pun yang tersisa masih hidup.

Saudaraku, aneh bukan? Bagaimana mungkin Yesus mau memenuhi permintaan roh itu? Sebab, dengan Yesus memberi ijin ada pihak yang dirugikan. Dan tingkat kerugiannya tinggi. Jika harga babi itu senilai 5 juta perekor, jelas ijin itu merugikan pemilik babi secara finansial. Kurang lebih 10 milyar. Fantastik. Pertanyaannya, mengapa Yesus tidak melakukan mukjizat saja. Tanpa mengeluarkan dana. Tanpa kerugian finansial.

Saudaraku. Kita bisa bertanya melihat keganjilan ini. Yesus pasti mampu mengeluarkan roh-roh tanoa harus membayar kerugian sebesar 10 milyar. Saya yakin, amat yakin Yesus mampu melakukannya. Lalu mengapa itu tidak dilakukannya? Sebuah cara tanpa kehilangan harta berharga.

Saudaraku. Pesan dari tindakannya pasti ada. Lalu apa? Bagi Yesus, nilai kewarasan dan orang gila itu lebih mahal dari sekian harga babi-babi. Manusia lebih bernilai dari binatang. Pembelajaran yang lain, perjumpaan dengan Yesus mengubah hidup seseorang. Dari nobody menjadi somebody. Dari hilang ingatan menjadi mengenali lagi lingkungannya. Dari ketidakwarasan menjadi hidup yang tertib. Tidak ada lagi sosok yang melukai diri sendiri dan merusak ketertiban.

Saudaraku, dengan Yesus yang menghargai kita, maka kita tidak diperkenankan menyepelekan orang lain. Kita patut respek atas sesama. Selain itu, kesehatan berharga dan tubuh kita pun berharga. Tubuh sehat itu mahal. Kenormalan itu tidak murah. Berarti panggilan kita menjaga tubuh tetap sehat. Dan mengisi hidup yang berharga ini, dengan perilaku yang mencerminkan kita menghargai tubuh dan kesehatan kita. Olah raga yang cukup. Pikiran yang tenang. Makanan yang sehat. Pola hidup yang tertib.

Mari kita berdoa, Tuhan ajarlah kami melindungi dan menjaga tubuh dan kesehatan sebaik-baiknya. Dan kami bisa mengontrol gaya hidup kami, sehingga nampaklah kami merawat dengan baik pemberian-Mu.

Seluruh doa kami naikkan dalam nama Yesus. Amin.

Allah Menopang Kita

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ibrani 12:3b

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Cinta kasih Tuhan senantiasa mengalir tanpa henti. Malam telah berlalu, pagi yang baru telah tiba. Kita berterima kasih kepada Tuhan.

Firman Tuhan yang direnungkan, ”supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.”

Ibrani 12:3b

Saudaraku. Manusia tentu saja selalu ingin kuat. Karena dengan kondisi kuat akan menopang segala aktivitas dan segala hal yang ingin dilakukan. Dia bisa bepergian kemana saja. Dia mampu melakukan apa saja dengan modal fisik yang kuat.

Bandingkan bedanya kalo tubuhnya lemah. Paling-paling dia hanya bisa mengerjakan hal-hal sederhana. Dia tidak bisa memanfaatkan tubuhnya buat melakukan berbagai aktivitas. Tidak heran seseorang ingin memilih lebih banyak sebagai orang yang kuat.

Tapi, kuat di sini, yang dimaksud firman Tuhan bukan berkenaan dengan fisik. Tapi soal mental. Soal iman dan soal pengharapan. Firman Tuhan mengajak bagi orang yang beriman, dia harus tetap bertekun di dalam imannya. Hanya dengan cara itulah, kita tidak terjatuh dalam kelemahan. Dan sekaligus kita tidak kehilangan harapan.

Selaku orang percaya, kita bersyukur, Allah yang kita kenal adalah Allah yang perduli. Allah yang menopang Anda dan saya. Allah yang tidak menutup mata-Nya. Sehingga Allah dalam sosok kehadiran seperti itulah, yang menurut firman Tuhan menjadi alasan supaya kita tidak menjadi lemah. Sekaligus tidak menjadi putus asa.

Orang bisa bertahan bila dalam dirinya tetap memiliki pengharapan. Kesulitan sebesar apapun. Tantangan seberat apapun. Selama seseorang mempunyai pengharapan bahwa besok atau lusa akan menjadi lebih baik. Maka, itu menjadi sumber yang menguatkan dirinya.

Tapi, jika seseorang mengalami putus asa, akan berdampak secara fisik. Dia akan lesu. Dia akan lemah. Dan merasa tidak berdaya, bahkan terpuruk.

Pagi ini, kita semua diingatkan Tuhan itu baik. Dia maha baik. Dia menopang Anda, saya dan kita semua. Dia terus mendampingi kita. Sehingga Tuhan mengerti harapan kita yang paling dalam. Termasuk harapan yang kita miliki hari ini.

Bagaimanapun kita rindu menjadi orang yang kuat. Siap mental dan iman menghadapi realitas sekarang ini. Dan sering itu menjadi ujian. Ujian yang akan bisa kita lewati. Tuhan menopang kita, sehingga kita tidak menjadi lemah dan putus asa. Kita tidak kehilangan pengharapan.

Kita berdoa, “ Tuhan, biarlah kami diingatkan agar kami menjadi sosok yang kuat, bukan yang lemah. Sosok yang menjaga api pengharapan tetap menyala di lubuk hati kami. Bukan orang yang kehilangan asa. Kami tidak mau putus harapan. Karena Engkau selalu bersama kami. Engkau tahu batas2 kemampuan dan kekuatan kami. Amin.”

Kami ikut bersyukur dengan saudara2 kami berulang tahun. Semoga sehat, sejahtera dan pertumbuhan iman yang baik. Kiranya keluarga ikut berbahagia.😇

Demikian juga kami memohon Tuhan menolong saudara seiman kami yang sakit. Berilah kesembuhan, kekuatan dan kesabaran.

Seluruh doa ini, kami mohon dalam nama Tuhan Yesus. Amin.😇

Luwes Tapi Tegas

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 18:32

Mentari telah terbit di Timur. Pertanda pagi baru telah tiba. Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Tuhan, kita telah melewati malam dan beristirahat dalam lindungan Tuhan.

Renungan pagi ini, ”Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.”

Kejadian 18:32

Saudaraku, miris juga jika di sebuah kota jumlah orang benar tidak mencapai sebanyak jumlah jari tangan kita. Sepuluh orang saja tidak ada, yang bisa menjadi dasar Allah membatalkan hukuman atas kota itu. Itu berarti cuma hanya ada dua keluarga di mata Allah yang benar. Keluarga Abraham dan keluarga Lot. Itu saja.

Kejahatan kota itu, yakni yang dimaksud adalah Sodom dan Gomora, sudah sangat memprihatinkan Allah. Bahkan utusan Allah yang menjadi tamu Abraham diperlakukan tidak senonoh. Tindakan mereka brengsek dan pikiran mereka kotor.

Meski kota itu sudah begitu jahat dan orang benar itu langka. Abraham sempat mengajukan permohonan belas kasihan Allah. Syaratnya ada sejumlah orang yang benar. Awalnya, ditawarkan angka 50 orang. Allah setuju, dan bersedia mengabulkan ‘penawaran’ Abraham. Ternyata setelah dihitung-hitung, tidak tersedia juga orang sebanyak itu. Bahkan meski angka-angka yang ditawarkan semakin turun, sampai akhirnya berhenti di angka 10 orang. Di angka itu, Allah masih bersedia mengurungkan niatnya menjatuhkan hukum. Sayangnya, di angka itu pun tidak ada orang benar di kota Sodom dan Gomora. Kita bisa terkejut dan melontarkan ucapan ,” masya Allah”. Atau, “Ya, Tuhan.”

Begitulah. kita tahu kisah selanjutnya. Sodom dan Gomora dihancurkan. Kota itu tidak terselamatkan dari kemurkaan Tuhan. Menyedihkan sepuluh orang saja tidak ada orang benar di kota itu. Tragis nian nasib kedua kota itu.

Menarik, mengenai proses ‘tawar-menawar’ antara Abraham dan Allah. Allah begitu terbuka dengan tawaran angka yang disodorkan Abraham. Dari mulai 50 orang hingga 10 orang. Sayangnya, angka terakhir pun tidak bisa dipenuhi.

Sungguh, Allah Maha Tinggi berkenan melakukan proses ‘tawar-menawar’. Status Allah sebagai Pencipta lebih tinggi daripada Abraham selaku ciptaan-Nya. Allah itu mulia sedangkan Abraham itu debu. Posisi Allah dan Abraham sungguh tidak setara dan sebanding.

Apa maknanya? Ada dua hal menonjol dari sikap Allah: keluwesan dan ketegasan. Dengan keluwesan Allah tetap memberi peluang keselamatan. Ia juga mau mendengar suara manusia. Suara Abraham. Sedangkan dengan ketegasan Allah tidak bisa dipermainkan.Saudaraku, demi ciptaan-Nya Allah tidak bersifat serta merta langsung menghukum. Namun juga, syarat minimal tidak terpenuhi Allah tidak menunda murka dan hukuman-Nya.

Allah tetap berusaha memberi peluang agar manusia bisa diselamatkan. Allah sebagai sumber kebenaran tidak bersifat kaku. Tertutup. Demikian juga, dengan setiap kali bersedia menerima angka tawaran baru, bukan berarti Allah tidak punya pendirian. Allah tetap bersikap luwes. Artinya, aturan atau hukum Allah tetap harus ditegakkan. Tapi, Allah tetap membuka tangan jika ada keinginan manusia untuk memperbaiki diri.

Setelah syarat paling minimal itu tetap tidak dapat dipenuhi kota Sodom dan Gomora, barulah Allah bertindak tegas. Tidak ada yang luput dari murka Allah. Termasuk istri Lot, menjadi tiang garam.

Kita sepatutnya ikut pola Allah yang luwes. Jika Allah kaku pada aturan dan kesepakatan, maka angka 50 jadi pegangan awal sampai akhir. Allah tidak mau bersedia menerima tawaran angka yang turun terus sampai sampai angka 10. Allah sungguh punya ketegasan tapi ketegasan itu tidak boleh menutup ruang seseorang atau sekelompok orang memperoleh keselamatan.

Saudaraku. Sebagai orang beriman dalam menyikapi realitas tertentu, kita luwes tapi tetap tegas. Bukan berarti kita tidak punya pendirian. Kita harus punya. Jika tidak kita diombang-ambingkan dunia. Lihatlah, jalur transjakarta. Dalam situasi normal kendaraan lain selain bus trans jakarta atau ambulance tidak boleh lewat. Tapi, perhatikan. Jika kemacetannya parah sekali dan berupaya mengurai kemacetan, petugas mengijinkan mobil biasa boleh lewat di jalur jalan transjakarta. Baru setelah situasi sudah normal kembali, ketentuan diberlakukan lagi. Sungguh, itu contoh keluwesan lahir dari pola pikir “out of the box”. Allah itu luwes, tapi tegas.

Mari kita berdoa, Tuhan terima kasih Engkau selalu terbuka untuk memberi pintu keselamatan. Sehingga untuk itu, Engkau berkenan mau mendengar harapan dan aspirasi manusia secara luwes.

Kami serahkan hidup kami, yang muda dan tua. Semoga kami dengan umur yang diberikan Tuhan bersyukur dan berterima kasih saat menemui kemudahan hidup. Sejalan dengan itu, diberi kesabaran dan ketahanan saat berhadapan dengan kesakitan.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

Pertemuan Ibadah Menyehatkan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ibrani 10:25

Selamat pagi, Mas-mbak, Opa-oma, bapak-ibu dan Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Puji syukur dan terima kasih kepada-Nya, atas pagi baru di tengah pekan yang kita masuki.

Firman Tuhan yang kita renungkan, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”.

Ibrani 10:25

Saudaraku, pohon yang baik atau tanaman berbuah subur tidak hanya karena bibitnya yang baik. Tetapi juga, ikut ditentukan lokasi penanamannya. Padi Cianjur terkenal dengan rasa khasnya yang enak, atau buah mangga gedong gincu dari Cirebon yang ranum warnanya, wangi dan tentu lezat rasanya, di tanam di luar daerahnya rasanya akan berbeda. Tanah asal mereka seakan memberi nutrisi tepat. Sedangkan di tanah yang punya karakter lain, tidak bisa memaksimalkan keunggulan kedua jenis tanaman itu.

Tempat itu ikut berpengaruh terhadap sebuah pertumbuhan ideal. Bagaimana dengan manusia dan kehidupan keagamaannya? Tentu, tumbuhan dan manusia keduanya berbeda. Berbeda segalanya. Taruhlah keduanya sama-sama ciptaan Allah. Jelas, manusia tetap mempunyai hal mendasar yang tidak ada pada tanaman. Manusia punya emosi, kepribadian, jiwa, roh, dsb.

Saudaraku, meskipun demikian. Pertumbuhan seseorang dan hidupnya ‘bisa berbuah’ juga dipengaruhi di mana ia hidup sehari-hari. Lingkungan atau habitatnya memberi andil pada pembentukan cara hidup, sifat, karakter dan gaya hidupnya. Seorang anak kecil yang lahir di Afrika dan satunya lahir di Bandung. Kelak, kita lihat sosok manusia yang satu sama lain berbeda.

Sadar akan hal itu, agar kita dan keluarga kita bisa tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang diidamkan. Betapa penting memperhatikan lingkungan hidup sehari-hari kita. Dan dalam kehidupan iman, lingkungan yang memberi nutrisi sehat bagi jiwa, emosi dan pembentukan karakter adalah pertemuan-pertemuan ibadah.

Saudaraku, tepat sekali pesan, ajakan dan nasihat firman Tuhan. Ya, pertemuan-pertemuan ibadah sungguh merupakan lingkungan yang menyehatkan cara hidup, pembentukan karakter dan sikap iman kita. Sebab, di sanalah, kita mendapat topangan dan kekuatan. Saat kita lesu, kita dikuatkan. Bila kita sedih, kita dihiburkan. Manakala jalan hidup yang kita tempuh keluar jalur, diluruskan ulang. Di sana terdapat proses sikap saling menasihati. Kehadiran Tuhan dan sesama menjadi penopang yang menyangga kesetiaan dan komitmen tetap ada.

Dengan demikian, pertemuan-pertemuan ibadah menjadi tempat yang bernutrisi baik, yang memaksimalkan potensi terbaik kita. Sebaik apapun potensi kita, jika tidak ditanam di tempat yang tepat dan disirami dengan baik, potensi itu tidak menghadirkan ‘buah-buah’ kehidupan. Saudaraku, semangat kita memasuki hari baru, di tengah pekan ini, kiranya menjadi momen kita berbuah.

Setelah kita menjadi bagian dalam pertemuan ibadah. Hidup sehari-hari menjadi momen untuk mempertautkannya dengan pekerjaan, studi, berbagai urusan bisnis, dsb. Kiranya pertemuan ibadah meski saat ini masih virtual atau online, tetap merupakan nutrisi bergizi yang menghadirkan efek positifnya buat Anda dan saya.

Kita berdoa, “ Tuhan Yang Maha Baik, kiranya Engkau berkenan kami berakar di tempat-tempat nama-Mu disebut dan Engkau hadir.”

Hari ini, kami pun berdoa untuk para anak-anak, remaja dan pemuda yang menekuni pelajaran dan kuliah atau bekerja. Semoga langkah mereka disertai Engkau, ya Tuhan. Hindarkan dari bahaya lalu lintas. Jauhkan dari niat dan aksi buruk manusia yang dikuasai amarah dan sikap tanpa etika. Berikan mereka semua kecintaan dan ketekunan atas kewajiban masing-masing.”

Tuhan, sertai mereka yang hari ini berjuang untuk menghadirkan kasih sayang di tengah keluarga, masyarakat dan di manapun. Berikan energi dan ketahanan atas mereka.

Inilah doa dan harapan kami, dalam Yesus kami berdoa.

Selamat beraktivitas beserta kasih Tuhan Yesus.

Mencintai Melalui Doa

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kolose 1:3-5

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik di dalam Tuhan. Saat kita bangun pagi, kita merasakan tubuh lebih segar. Tapi, ada kalanya begitu bangun kita merasa tubuh kita terasa agak lesu dan lelah. Meski demikian, dalam kondisi tubuh seperti apapun kita tetap bersyukur. Dengan bersyukur pada Allah, kita tetap semangat.

Firman Tuhan hari ini, “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, (4) karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, (5) oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga.”

Kolose 1:3-5

Saudaraku, siapakah pagi ini yang menjadi bagian doa kita? Anak-anak? Orang tua? Pasangan hidup? Sahabat? Nama-nama yang kita bawa dalam doa kita, pasti sosok yang punya tempat tersediri dalam hati kita. Mereka yang istimewa di hadapan kita. Karena doa itu, tidak hanya menjembatani diri dan hati dengan Allah. Mereka yang disebutkan dalam doa kita, sesungguhnya kita didekatkan dengannya oleh doa. Siapapun gerangan dia. Dengan kita mendoakannya, diri kita dihubungkan dengannya.

Rasul Paulus hidupnya lebih banyak tersita dalam pelayanan. Semua waktu terkonsentrasi ke sana. Sama sekali Alkitab tidak menyinggung siapa keluarganya. Karena itu, dia berdoa lebih banyak buat mereka yang dilayaninya. Mereka yang hidupnya penuh perjuangan dalam menghidupi imannya. Ia berdoa buat orang-orang yang tidak disebutkan namanya secara spesifik. Namun, mereka yang punya tempat tersendiri dan istimewa di dalam dirinya. Keistimewaan mereka tumbuh dalam hati Rasul Paulus, oleh sebab iman dan perbuatan terpujinya. Seperti kutipan firman hari ini, rasul Paulus mendoakan orang-orang secara anonim. Tidak ada nama-nama tertentu yang disebutkan. Karena yang didoakan sebuah persekutuan orang percaya di kota Kolose.

Bagi, rasul Paulus orang-orang beriman di kota Kolose telah memperlihatkan keberimanan yang membuat dia bersyukur kepada Allah. Dan sikap kewelas asihan mereka membantu orang-beriman di Yerusalem. Dan rute hidup mereka yang mengarah ke sorga. Itu semua mendorong rasul Paulus mendoakan mereka. Berdoa dengan rasa syukur. Itu berarti doa yang di dalamnya ada gejolak suka cita dan perasaan bangga.

Saudaraku, kita rindu didoakan oleh pihak lain. Kita kerap mendengar permohonan itu “ tolong doain, ya, supaya kami tetap sehat.” Hal itu memang wajar dan merupakan permohonan karena kita butuh topangan doa dan dukungan spiritual dari orang di luar kita. Asal jangan lupa, kita pun menempatkan orang lain dalam doa kita. Mereka yang seiman. Mereka yang murah hati. Mereka yang sama-sama berpengharapan bahwa ada hal indah diberikan Allah di sorga.

Seorang anak yang tahu bahwa ayah-ibunya menyebutnya dalam doa kepada Tuhan. Dia akan merasa betapa doa itu menjadi bukti ayah-ibunya mengasihi dia. Doa itu akan membentuk ingatan dan sekaligus karakter bahwa doa itu juga ungkapan cinta. Ya, doa itu ungkapan cinta. Sulit kita berdoa membawa sebuah nama dalam doa, karena kita tidak berkenan kepada nama itu. Tentu suara kita terbata-bata menyebutnya dalam doa. Jika akhirnya bisa menyebut nama itu, itu pun tanpa makna dan tanpa getaran cinta.

Saudara, saya ulang pertanyaan di atas, nama siapakah yang Anda masukkan dalam bagian doa pagi ini? Tentulah, yang Anda anggap layak menerima cinta Anda melalui bentuk doa. Bisa orang tua, pasangan hidup, anak, dll. Jangan kaget jika saya katakan, bahwa apabila seseorang mencintai pasangan hidupnya, tapi dia tidak mendoakannya. Benarkah orang itu mencintai pasangannya?

Mari, kita membagi cinta. Membaginya lewat doa-doa kita.

“Tuhan, dekatkanlah cinta kami kepada-Mu dengan doa kami. Dan kuatkan kami mewujudkan doa kepada sesama yang dinafasi dengan cinta.”

Kami ingin menaburkan cinta kami dengan mendoakan saudara kami, setiap orang yang beriman kepada-Mu. Semoga mereka berbahagia hari ini. Berikanlah dan genapilah, ya, Tuhan, cita-cita dan harapannya. Semoga tubuh yang sehat dan hati yang ceria akan menopang aktivitasnya.

Kami berdoa untuk orang-orang yang memerlukan perhatian dan pertolongan Tuhan. Mereka yang sedang sakit. Jamahlah dia dan berkatilah pengetahuan tenaga medis, supaya operasi berhasil hari ini.

Kiranya doa kami terus mendekatkan kami dan hati kami. Lindungi dan jagalah kami dan orang-orang yang kami kasihi dengan kasih sayang-Mu.

Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.