PERCAYA YANG SEPENUHNYA

Oleh Weinata Sairin

”Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Amsal 3:5

Istilah ”percaya” dalam konteks agama Kristen memiliki makna yang amat dalam dan fundamental. ”Percaya” dalam konteks agama berkonotasi vertikal-transenden, dalam arti dipergunakan untuk menyatakan adanya relasi dengan kuasa Transenden, kuasa Yang Di Atas.
Dalam ibadah hari Minggu, warga Gereja mengikrarkan Pengakuan Iman Rasuli yang dinyatakan dengan lantang, bahkan sambil berdiri tegak: ”Aku percaya …”.

Kata ”percaya” pada teks Pengakuan Iman dan banyak teks Alkitab tidak setara dengan ungkapan yang berbunyi ”Saya ’percaya’ bahwa Anda akan melakukan tugas de￾ngan jujur”. Dalam teks bahasa Inggris kita mengenal kata believe dan trust dalam mencoba memberi diferensiasi antara ”percaya untuk vertikal” dan ”percaya untuk horizontal”.

Dalam konteks manusia yang lemah, sering terjadi bahwa kata ”percaya” untuk yang vertikal tidak mewujud secara utuh. Kata tersebut hanya ungkapan biasa, verbal, dan tidak terbukti dalam kenyataan. Ini adalah problem semua agama, tatkala agama hanya menjadi sebuah status, penanda diri, pengisi kolom di KTP, tetapi tidak dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Korupsi yang terjadi secara serentak di seluruh negeri dan dilakukan oleh orang dari berbagai strata; pungli, suap, dan berbagai tindakan melawan hukum lainnya adalah bukti yang valid dan adekuat bahwa agama itu im￾poten dalam kehidupan manusia. Ungkapan Amsal di sini amat menarik. Secara positif ada imperatif ”percaya kepada Tuhan dengan segenap hati” dan secara negatif ditegaskan ”jangan bersandar pada pengertianmu”.

Ungkapan dalam bentuk kontradiktif dan antagonistik itu seakan memberi opsi bagi manusia untuk menetapkan pilihan secara cerdas dan bernas, demi sebuah kehidupan yang berkualitas dan bertanggung jawab. ”Percaya”; ”segenap hati”; ”jangan bersandar pada pengertianmu”, itulah kata kunci penting yang dapat memandu kita bersama menapaki hari-hari ke depan yang Ia anugerahkan.

Selamat Menyambut dan merayakan hari Minggu.
God bless!

Berani Menasihati

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Raja- Raja 17:5-6

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki akhir pekan ini. Dan kita patut memuji nama-Nya.

Firman Tuhan hari ini, “Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. (6) Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.”

1 Raja- Raja 17:5-6

Saudaraku, meluruskan yang bengkok dan mengkoreksi yang salah itulah tugas utama seorang nabi. Tuhan memberi mandat kepada seorang nabi agar mendampingi umat Allah, sehingga jalan hidup mereka lurus dan setia. Tugas mulia. Karena mengemban amanat dari Tuhan. Sekaligus terpuji karena bersifat membimbing agar umat hidupnya tidak tergelincir. Seorang nabi sungguh merupakan jabatan mulia dan terpuji.

Dalam menjalankan fungsi dan tugasnya, maka seorang nabi bisa menegur, mengingatkan bahkan mengecam. Tujuannya satu, semua itu diarahkan agar umat Tuhan sadar jika khilaf dan bertobat bila salah. Namun, sayangnya, ada sifat manusia yang meski berbuat salah tidak bersedia menerima nasihat, teguran atau pengingatan. Sudah berbuat salah malah protes bila diingatkan. Sudah jelas berbuat keliru tersinggung saat diajak berbenah diri. Niat baik, mulia dan terpuji dari seorang nabi bernama Elia disikapi dengan amarah dan ketersinggungan dari pihak raja Ahab.

Memang, seorang yang merasa punya jabatan dan kedudukan tinggi. Seolah-olah merasa hidupnya kebal kesalahan. Ada istilah, pimpinan tidak pernah salah. Tidak heran, ketika nabi Elia menjalankan tugas kenabiannya kepada Ahab, Elia malah terancam hidupnya. Ahab tidak terima bahkan bermaksud membunuhnya. Wow..Padahal, Elia hendak mengajak Ahab kembali ke jalan benar. Kesalahan Ahab teramat fatal. Dia melakukan perubahan keyakinan, tidak lagi beriman kepada Allah Israel. Justru Dewa Baal yang diimani dan dipuja.

Alih-alih mendapat apresiasi dari raja Ahab karena telah mengingatkannya untuk berbalik kembali kepada Allah yang benar. Yang terjadi adalah sebaliknya, Ahab tersinggung berat. Dia anti dinasihati. Dan dia berbalik mengancam nyawa nabi Elia. Kita tahu, sampai-sampai Allah menyembunyikan Elia di tepi sungai Kerit. Tujuannya agar terhindar dari niat busuk raja Ahab yang mau mencelakainya.

Teks kita menggambarkan, risiko yang harus dipikul karena menjalankan meluruskan yang bengkok. Yakni nabi Elia bersembunyi di tempat aman (safe place). Meskipun demikian, Allah tetap mengindahkan kebutuhannya. Burung gagak dengan setia datang. Burung itu membawa roti dan daging. Jelas, Allah memelihara kehidupan orang yang telah menjalankan tugasnya. Sang nabi tidak terlantar dan kelaparan. Allah mencukupi kebutuhan hidupnya.

Saudaraku, kita bukan nabi. Meski demikian tugas kenabian kini ada di pundak kita. Yakni, mengingatkan bahkan kita harus berani menasihati dan menegur saudara kita yang sedang tergelincir hidupnya dalam kesalahan. Mengapa harus berani? Karena memang, tidak semua orang siap diingatkan, dinasihati apalagi ditegur, walau sudah jelas-jelas berbuat keliru. Yang salah suka lebih galak daripada yang benar. Mereka salah persepsi atau keliru menduga. Bahwa pihak yang menasihati dan menegur itu dilihatnya berniat menelanjangi dirinya. Seakan-akan membeberkan noda kesalahannya. Padahal bukan.

Tugas kenabian itu justru bersifat menolong. Dosa itu membutakan mata nurani. Teguran dan nasihat ditujukan supaya mata nuraninya terbuka kembali. Walau tentu menegur dan menasihati ada etikanya. Misalnya, menegur dan mengingatkannya secara empat mata. Bukan sengaja dilakukan di hadapan orang banyak. Penyampaiannya dengan lemah lembut bukan dengan sikap kurang bersahabat. Perlu dihindari bermaksud mempermalukan secara pribadi di depan publik.

Saudaraku, bukan cuma kita dipanggil untuk mau menegur, menasihati dan mengingatkan orang lain yang salah. Sebenarnya, kita pun harus punya jiwa besar dan keterbukaan untuk diingatkan, dinasihati dan ditegur. Mengapa? Sebab, sebagai manusia kita pun rawan. Kita bisa khilaf. Kita pun punya potensi berbuat salah. Salah duga. Salah ucap. Salah mengambil keputusan dan salah bertindak. Secara sengaja atau tidak.

Kita bukan malaikat yang sempurna. Emosi kita masih suka meledak. Ucapan kita masih bisa melukai orang lain. Perbuatan kita masih bersifat egois. Semua itu, pertanda ada yang bengkok dan harus diluruskan dari diri kita. Semoga Roh Kudus memampukan kita, menjalankan tugas seperti Elia. Berat tapi mulia. Dan semoga jangan seperti Ahab, sudah salah tapi menolak keras saat diarahkan kembali ke jalan yang benar. Dan yakinlah, Tuhan perduli bagi Anda, saya, kita, yang menunaikan amanatnya.

Kita berdoa, Tuhan berilah kami hati dan kata-kata yang mencerminkan keperdulian kami. Terutama buat saudara kami yang terjatuh ke dalam kekeliruan hidup. Mereka bisa keluarga, teman, sesama kami sendiri. Berikan kami juga semangat keterbukaan untuk mendengar nasihat dan teguran dari Tuhan melalui sesama kami yang mempunyai perhatian.

Kami pun berdoa, Tuhan, ajar dan kuatkan tekad kami untuk membahagiakan sesama kami, entah orang tua, saudara, keluarga, istri/suami, anak atau siapapun. Kami ingin berjalan terus di jalan Tuhan walau ada rintangan yang mencoba menghalangi.

Hari ini, perkenankan kami berlindung di bawah kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Jauhkan kami dari mara bahaya dan kecelakaan. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.

Tidak Ditinggalkan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Roma 12:15

Selamat pagi, Saudara-saudaraku tercinta. Allah itu Baik, sungguh Maha Baik. Kita bersyukur atas penyertaan-Nya yang tak mengenal lelah dan henti hingga detik ini.

Pagi ini kita mengutip firman Allah, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! “

Roma 12:15

Saudara, suasana hati manusia selalu di antara dua keadaan: menangis dan tertawa. Menangis menandakan hati yang pedih, pilu, merana atau terharu. Sedangkan tertawa menandakan hati yang gembira, suka cita atau hidup terlepas dari tekanan hidup. Dua suasana hati ini tidak akan pernah tanggal dari keberadaan manusia. Dan manusia mengecap keadaan itu secara berganti-ganti. Hari ini menangis, esok bisa saja telah tertawa. Atau sebaliknya, hari ini kita tertawa, siapa tahu esok atau lusa, mungkin juga hari setelah itu, hati kita berubah dengan kepedihan.

Apa maksud firman di atas, kita menangis dengan yang menangis? Bersuka cita dengan yang bersuka cita? Tentu kita tahu orang yang sedih kerap memerlukan simpati dan perhatian orang lain. Ia ingin berbagi hal yang menyebabkan ia gundah. Agar dengan berbagi itu ia bisa merasa lebih lega. Plong. Ia butuh topangan orang di kuar dirinya, terlebih jika sumber yang membuat sedih adalah problematik yang berat.

Kehadiran dan kesediaan kita mengerti perasaannya sudah satu poin penguatan tersendiri. Dan aspek lain yang bisa kita gali dari himbauan firman Allah ini adalah agar kita bisa dipercaya, ya dipercaya untuk mengerti dan mendengar curahan hati dan batinnya. Ya, kita harus bisa menjadi orang yang dipercaya. Buat yang tengah sedih, tentu ia ingin berbagi perasaan dan kesesakan hatinya tidak kepada sembarang orang.

Bagaimana dengan yang bersuka cita, mengapa kita harus bersuka cita pula? Ya, kita pun harus bisa menempatkan diri. Jika dengan yang bersedih kita bersimpati dan berempati. Sedangkan dengan yang gembira kita pun menjadikan kita ikut gembira. Kita menikmati suasana kegembiraan sebagai bagian kebersamaan. Kita tidak ingin mereka bersuka cita dalam kesendirian tanpa teman.

Dengan kata lain, diungkapkan dalam satu kata, yaitu kita diminta firman Tuhan agar menjadi orang yang solider. Solider itu setia kawan. Saat kawan kita sedih kita setia menemaninya, demikin juga saat senang. Saat senang atau susah kita bisa hadir dan dirasakan dalam hidup seseorang. Secara praktis, jika anak, suami, istri, ayah atau ibu, mengeluh dan perlu mencurahkan hati, apakah kita mau mendengarkannya? Dengan solider, Kita diam sejenak di samping mereka. Mendengar. Menyimak. Dan mereka merasakan Anda sungguh-sungguh bersimpati. Jika mereka menangis, mereka merasa kehadiran kita memampukannya untuk menyeka air mata di pipinya. Mereka merasa ada yang memberi waktu dan perhatian.

Dalam dunia serba sibuk, orang asyik dengan dirinya. Kepentingan pribadi membawanya berkonsentrasi pada diri sendiri. Kita sadar bahwa banyak sekali urusan yang menyedot perhatian kita, dan sering sulit dihindarkan. Sebenarnya teknologi modern membantu kita. Jika secara fisik langsung kita tidak selalu bisa hadir, telpon, video call atau voice call sewaktu-waktu bisa membantu kita. Yang penting, kita merawat jiwa solidaritas kita. Dalam suasana apapun mereka tidak merasa ditinggalkan oleh Anda ataupun saya.

Kita berdoa, “Tuhan kiranya kami punya jiwa solidaritas, baik buat mereka yang sedang susah maupun yang riang gembira.”

Kami berdoa untuk hari ini Tuhan untuk saudara seiman yang bertambah dengan usia yang baru. Berkatilah hidupnya dalam keluarga, pelayanan dan pekerjaan. Semoga semua itu berjalan baik karena kesehatan, semangat dan suka cita yang Engkau selalu hadirkan atasnya. Semoga panjang umur Tuhan karuniakan.

Berkati aktivitas kami semua hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdia. Amin.

Sahabat Orang Beriman

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan Kisah Para Rasul 27: 23-24

Selamat pagi, selamat menyonsong hari baru, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak yang baik dan dikasihi Allah. Puji syukur dan terima kasih yang tulus kepada Tuhan, Allah kita. Kita masih diberi kepercayaan untuk menikmati kasih-Nya di hari baru ini.

Firman Tuhan hari ini, ”tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku, (24) dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.”

Kisah Para Rasul 27: 23-24

Saudaraku, apakah Anda sekalian pernah punya pengalaman naik kapal laut? Khususnya, naik kapal laut di lautan bebas menuju suatu kota atau pulau tertentu. Jika pernah, Anda tentu bisa merasakan pengalaman naik kapal itu dan membayangkannya. Kapal itu berjalan membelah laut dan membawa Anda dan penumpang lain menuju tempat tujuan. Saat laut tenang dan angin berhembus sepoi-sepoi, sungguh perjalanan naik kapal itu bisa sangat menyenangkan. Kita bisa menikmati laut biru yang bening. Melihat matahari terbenam. Dan menonton burung-burung camar yang terbang kesana kemari. Beruntung, bila bisa melihat ikan-ikan lumba berenang. Suatu pemandangan atraktif.

Sebaliknya, saat kita naik kapal dalam cuaca buruk, angin bertiup kencang disertai hujan lebat, ombak dan gelombang besar menerpa kapal serta udara sekeliling kapal gelap sekali. Saya yakin, perjalanan itu menjadi perjalanan yang menakutkan. Semua hati para penumpang merasa ciut ketakutan. Orang bisa tak putus-putus berdoa kepada Allah agar cuaca buruk cepat berubah. Semua berdoa supaya kapal bisa berlayar dengan aman.

Saudaraku, seperti itulah situasi kapal yang ditumpangi rasul Paulus menuju ke kota Roma. Nah, di tengah perjalanan itulah, kapal yang ditumpanginya diterpa ombak besar, angin puting-beliung. Saking besarnya ombak, sehingga kapal yang ditumpangi rasul Paulus diombang-ambing. Jelas, para penumpang jantungnya berdebar cepat. Hatinya gelisah. Dan bertanya-tanya, apakah mereka dapat tiba di kota Roma?

Saudaraku, angin dan ombak mempunyai kekuatan besar. Alam mempermainkan kapal dan seluruh penumpangnya. Kru dan seluruh penumpang tidak bisa berbuat apa-apa. Kapal tidak bisa dikendalikan. Akhirnya, kapal itu kandas. Kapal menabrak karang. Perjalanan terhenti. Putuslah harapan bisa selamat. Tubuh mereka lemah, selemah harapan hidup mereka. Maklum berhari-hari kapal itu terguncang dan mereka tidak bisa menyantap makanan sama sekali.

Di tengah suasana hati yang putus harapan, tampillah rasul Paulus. Dia berkata seperti firman Tuhan yang kita kutip tadi. Rasul Paulus menyatakan kapal mereka akan binasa. Tapi, hanya kapal itu saja yang binasa. Sedangkan seluruh penumpang lain akan selamat.

Rasul Paulus meyakinkan dan menjanjikan bahwa mereka semua akan selamat. Hal itu berdasarkan komunikasinya dengan malaikat. Malaikat sebagai utusan Allah menyatakan bahwa karena ada rasul Paulus di kapal itu, mereka beroleh karunia Allah. Allah akan menyelamatkan mereka. Jadi, karena faktor ada orang beriman di kapal itu. Rasul Paulus satu-satu orang beriman di atas kapal itu. Sehingga tidak ada satupun yang binasa.

Saudaraku, hidup itu kerap diumpamakan seperti perjalanan menggunakan perahu. Artinya, hidup kita bisa saja berlayar di laut yang tenang, tapi bisa juga diterpa ombak kehidupan yang keras. Gelombang hidup tidak kalah berat dan ganas dibanding gelombang lautan. Dan gelombang hidup itu juga menimbulkan rasa takut, cemas dan membuat kehilangan harapan. Saat kita mendapat hantaman gelombang hidup, kita pun bertanya, “apakah kita bisa bertahan?”

Saudaraku, gelombang hidup bisa macam-macam, bisa berbentuk: kesulitan ekonomi yang parah, sakit yang berkepanjangan, pudarnya kesetiaan atas perkawinan, anak yang terjerat narkoba, anak yang melupakan orang tua, menganggur tanpa penghasilan pasti, konflik tak kunjung rukun antar saudara, dikhianati kekasih, dicurangi mitra usaha, pertarungan keras mempertahankan jabatan, dan masih banyak lagi. Kita mengalami itu sebagai ombak besar kehidupan. Pengalaman yang melemahkan semangat hidup.

Tengoklah, firman tadi. Selama ada yang beriman di tengah keluarga kita, di tengah perkawinan kita, di tengah Jemaat kita, kita punya pengharapan dan optimisme. Kita dikuatkan. Hidup kita tidak tenggelam. Allah sendiri yang melakukannya. Allah hadir lantaran ada orang beriman. Karena itu, orang beriman perlu ada dan harus ada. Itulah modal kita. Tanpa ada orang beriman di tengah keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa kita, ganasnya ombak kehidupan bisa menenggelamkan perahu kita. Kita bisa binasa. Syukurlah, Allah sahabat orang beriman dan Allah selalu dekat dengannya. Semoga orang beriman itu adalah Anda, saya dan kita.

Kita berdoa, Tuhan Yang Maha Kuasa, lindungilah perahu kehidupan kami. Supaya kami terus berlayar bersama Tuhan menuju kota tujuan kehidupan.

Kami berdoa buat opa- oma yang sakit sudah lama dan para lansia. Kiranya Tuhan selalu di sisi mereka. Memberi suka cita dan kesabaran menjalani hidup ini. Kiranya tingkap berkat dibukakan buat mereka.

Kami ikut bersuka cita dan bersyukur, hari ini Tuhan karuniakan kepada mereka yang bertambah usianya. Semoga mereka selalu takut akan Engkau.

Tuhan, kiranya hari ini kami bersama-Mu, menikmati indahnya hidup bersama-Mu. Doa ini, kami panjatkan dalam nama Yesus Juru Selamat kami. Amin.

Selamat beraktivitas, Saudaraku yang baik. Salam sehat dan suka cita.

KAMBING HITAM ITU MENGHITAM KAN KEHIDUPAN

Oleh Weinata Sairin

“Not to fix blame for the past but to fix the course
for the future
”

John F. Kennedy

Ada banyak di antara kita yang suka membuat alasan atau mencari
kambing hitam. Seseorang yang tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk wawancara dan gagal dalam pencalonan menjadi direktur sebuah perusahaan mencari alasan atau kambing hitam. Ia mengatakan, pertanyaan dalam wawancara itu terlalu mengada-ada dan tak berkaitan
dengan tugas-tugas seorang pimpinan, atau ia beralasan ruangan tempat
wawancara terlalu dingin sehingga konsentrasinya buyar. Bisa juga ia mengatakan, ia sengaja diskenariokan tidak lulus dalam wawancara karena ia berasal dari etnis tertentu. Ia sama sekali tidak mau mengakui bahwa ia sebenarnya tidak siap menghadapi wawancara itu. Ia menganggap wawancara tersebut sekadar formalitas dan yakin lulus.

Mencari excuse (’alasan pemaafan’) atau menghidupkan ”kambing hitam” agaknya telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan umat manusia.
Realitas itu terjadi hampir di semua aspek kehidupan kita, bukan hanya di dunia politik. Yang dijadikan kambing hitam bisa apa saja: keadaan, zaman tertentu, orang per orang, benda-benda, dan sebagainya.

Uraian dalam Alkitab, tentang Hawa yang memakan buah yang
dilarang oleh Allah, memberikan afirmasi bahwa hal yang berkaitan dengan ”kambing hitam” itu adalah cerita yang sudah terjadi dalam awal sejarah manusia.

Dalam Alkitab diceritakan tatkala Allah mendesak Adam dengan pertanyaan, mengapa ia memakan buah yang dilarang itu, Adam tidak menjawab sportif. Adam mengatakan kepada Allah, ”Perempuan yang
Kautempatkan di sisiku itu yang memberikan kepadaku buah itu, maka kumakan!” Adam mencari alasan pembenar kesalahannya. Adam malah ”melahirkan” kambing hitam.

Kisah tentang excuse dan kambing hitam ini kemudian menjalari relung-relung sejarah kemanusiaan dari waktu ke waktu; menembus abad
dan zaman, bahkan tetap hadir dalam peradaban modern sekarang. Bagi Adam, di zaman itu, perempuan bernama Hawa itulah penyebab dia tergoda. Jika dielaborasi, kambing hitam dalam kasus buah terlarang itu bisa meluas. Tidak hanya berhenti pada Hawa. Dalam zaman modern, kambing hitam juga bisa amat luas dan menambah kerumitan dalam memahami esensi sebuah permasalahan.

Memang, kita harus berupaya untuk tidak membuat excuse atau menghidupkan kambing hitam, ataupun mempersalahkan sesuatu atau
seseorang apabila kita mengalami kegagalan. Kita harus merancang sebuah
program dengan lebih baik. Cermat perhitungannya. Jelas konsekuensi dan risikonya. Kita bisa membuat plan A, B, atau C dengan berbagai kalkulasinya. Jika sebuah program, dalam pelaksanaannya kurang berhasil atau gagal, tak usah kita membuat excuse atau mencari kambing hitam. Kita analisis saja penyebabnya dan kita cari jalan keluar lain.

Di zaman pandemi ini juga, kambing hitam banyak berkeliaran. Ada juga kelompok yang secara sadar membuat kambing hitam, sehingga pamor pemerintah bisa jatuh dimata rakyat. Pada semua level, anehnya ada kambing hitam. Ada keluarga yang sudah beberapa hari tidak bisa makan, tapi ia gagal mendapat bansos atau BLT. Peran kambing hitam? Nama warga itu tidak terdaftar di wilayah itu sehingga ia gagal menerima bantuan.

Pada sebuah dunia yang modern, berkeadaban, ketika profesionalisme, intelektualisme, moral, agama,makin mengemuka mewarnai kehidupan manusia, maka kambing hitam takboleh lagi dilahirkan. Kambinghitam itu menghitamkan kehidupan. Akhlak mulia manusia takboleh dicemari oleh kambing hitam.

Selamat Berjuang. God Bless!